Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela kaca kediaman Alaric terasa lebih tajam, seolah-olah alam sendiri ikut menajamkan indranya untuk menyambut hari yang penuh dengan intrik. Suasana di ruang makan utama terasa sunyi, hanya diinterupsi oleh denting halus sendok perak yang beradu dengan porselen mahal. Alaric duduk di kursi kebesarannya, mengenakan kemeja biru tua yang disetrika sempurna, namun wajahnya tetap menyimpan ketenangan yang mematikan. Di hadapannya, Elara duduk dengan tatapan yang sedikit menerawang, sesekali menyesap teh melatinya yang masih mengepulkan uap tipis. Kehangatan yang mereka bagi di paviliun kaca dan di galeri kemarin masih terasa seperti gema yang menenangkan di tengah ketegangan yang kian menebal. Silas melangkah masuk ke ruangan dengan langkah yang tera

