Pagi hari di London City terasa seperti medan perang yang dipenuhi kepulan asap digital. Layar-layar raksasa di fasad gedung Sterling Global masih menunjukkan angka merah yang menyala-nyala. Indeks saham STG telah merosot hingga 12% sejak pembukaan pasar kemarin. Media massa—yang sebagian besar telah "disuapi" informasi miring oleh humas bayaran Caspian Thorne—mulai menuliskan nisan bagi kejayaan Alaric Sterling. The Financial Times menurunkan tajuk utama yang sangat tajam: "Sterling’s Suicide: Is This the End of an Era?" Namun, di dalam kantornya yang kedap suara, Alaric Sterling justru terlihat seperti seorang konduktor yang sedang menunggu momen crescendo. Ia berdiri di depan jendela, menatap ke arah kerumunan jurnalis yang berkumpul di lobi bawah seperti kawanan burung pemakan bangkai

