Aku menatap Genta tanpa berkedip, bagaimana caranya aku menjelaskan jika seseorang telah berjanji akan mengantarku pulang ke rumah. “Tunggu apa lagi,” ujarnya karena aku masih duduk dan tak bergerak. “Apa kamu butuh bantuan?” Suaranya melembut dan tatapan matanya juga tidak sedingin tadi. Aku menggeleng dan berusaha untuk bangun dari dudukku. “Sudah ada seseorang yang akan menjemputku nanti,” sahutku. Sekilas aku melihat mata Genta berkilat marah. “Orang yang sama dengan saat tadi siang?” tanyanya. Aku mengernyit, tahu dari mana jika tadi siang aku makan bersama Arga. “Kamu nggak perlu tahu,” balasku kesal. “Apa kamu yakin akan pulang dengan terpincang-pincang seperti ini,” ucapnya dengan wajah meremehkan. “Apa pedulimu,” ucapku dan dengan keras kepalanya memaksa berjalan seolah ngg

