“Kamu nggak usah bersikap seolah-olah aku ini istrimu yang sesungguhnya. Aku di sini cuma seorang karyawan, sama seperti yang lain. Bedanya cuma di tugas aja, itu pun jelas tertulis di kontrak kita. Jadi, tolong hentikan perlakuan seperti ini. Aku nggak suka,” ucap Mia, suaranya gemetar meski ia berusaha terlihat tegar. Bara menatapnya dengan tatapan datar, tetapi jelas ada sesuatu yang bergejolak di matanya. Ia tetap diam, seperti biasa, membiarkan Mia menyelesaikan keluhannya tanpa mencoba untuk membalas. “Aku pergi dulu,” lanjut Mia. Ia memutar tubuh dengan cepat, meninggalkan ruang tengah sebelum air matanya benar-benar jatuh. Di balik punggungnya, Bara masih berdiri di tempat. Bibirnya mengatup erat, sorot matanya tetap tertuju ke pintu tempat Mia menghilang dan memilih untuk tidak

