Puas menertawakan Erwin, Maya memilih duduk di ruang televisi. Sedang Erwin yang terlanjur kesal, memutuskan untuk langsung pergi ke kamarnya. "Keterlaluan sekali Maya! Apa dia tidak sedih, kalau kepala burungku dipotong? Apa yang harus aku banggakan lagi nanti? Kepala itu ibarat mahkota. Kalau kepalanya hilang, tidak ada artinya lagi. Menyebalkan!" umpat Erwin, gegas masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya, sekalian mengganti pakaiannya yang kotor. Baru saja Erwin berbaring setelah beres bersih-bersih. Perut Erwin yang dari siang tidak sempat terisi apapun, mulai mengeluarkan suara-suara aneh. Cacing-cacing di perutnya, memaksa sang pemilik tubuh untuk bangun dan mengisi perutnya. "Ah, ini lagi. Baru aku mau tidur, malah berdemo ria di dalam sini. Kapan aku bisa istirahatnya?

