Dua hari sudah berlalu sejak kedatangan Erwin ke desa tempat Maya tinggal, yang membuat geger warga desa. Kini, sesuai rencana yang sudah disusun oleh Erwin. Erwin membawa beberapa orang kepercayaannya dan dua orang perias pengantin, bertolak menuju desa Maya untuk mengadakan pernikahan.
Maya yang sadar, sebentar lagi status gadisnya akan berganti menjadi seorang istri , menjadi gugup. Dua hari ini, Maya tidak karuan tidur ataupun makan. Dirinya terus teringat dengan perkataan warga desa. Hatinya sempat membenarkan kata-kata warga desa, tidak mungkin kan, seorang pria tampan yang datang dari kota. Malah datang ke desa terpencil, hanya untuk mempersunting dirinya, tanpa ada sesuatu dibaliknya. Apalagi melihat wajah Erwin yang usianya sudah bisa Maya tebak. Persaingan di kota besar sangat lah rumit. Pria tampan biasanya akan bersanding dengan wanita cantik juga, begitu pula dengan kekayaan. Keduanya harus terlihat sepadan. Begitulah cerita yang Maya dengar dari beberapa temannya yang beberapa kali pergi ke kota besar.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Maya. Bibi Titin beberapa kali mengetuk pintu rumah Maya, karena Erwin dan rombongan sudah tiba di kediamannya.
"May, cepat keluar! Calon suami kamu sudah datang!" Panggil Bibi Titin, mengeraskan volume suaranya agar didengar oleh warga desa.
Dengan malasnya Maya beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju pintu rumahnya. Wajah Maya tidak seperti wajah kebanyakan wanita yang harusnya berbahagia karena dipersunting oleh pria kaya. Melihat pemandangan yang tidak mengenakkan, Bibi Titin langsung menarik Maya masuk ke dalam rumah.
"Kenapa murung seperti itu? Kamu sudah mandi atau belum May?" tanya bibi Titin, setengah berbisik.
"Ini baru mau mandi, Bi," sahut Maya, dengan malasnya.
"Jam segini kamu masih belum mandi May? Kamu kan tau, hari ini hari pernikahan kalian? Kenapa tidak bersiap dari tadi? Itu pak Erwin dan rombongan sudah bersiap di rumah Bibi. Kamu malah enak-enak bersantai di sini. Buruan mandi! Bibi tunggu di sini, kita harus bergegas, acara sudah mau dimulai," desak bibi Titin, mendorong pelan tubuh Maya.
Dengan sangat terpaksa Maya melangkah menuju kamar mandi yang letaknya di bagian belakang rumah. Sepuluh menit berlalu, Maya sudah selesai dengan sesi mandinya. Bibi Titin langsung memanggil dua perias yang memang dibawa oleh Erwin dari ibu kota. Di rumah sederhana peninggalan mendiang orang tuanya kini Maya dihias. Riasan tipis namun elegan, merubah drastis penampilan Maya. Apalagi ditambah dengan kebaya berwarna putih yang sengaja Erwin belikan untuknya. Terlihat sangat pas dan cocok, di tubuh langsing dan tinggi semampai Maya.
"Wah, ternyata kamu cantik juga kalau berdandan seperti ini May. Calon suami kamu pasti pangling melihat kamu," puji Bibi Titin, bergegas menghampiri Maya.
"Kamu sudah siapkan? Ayo kita ke rumah Bibi. Pernikahan akan di adakan di sana," ajak bibi Titin, menggandeng lengan Maya.
"Apa tamu undangannya banyak Bi?" tanya Maya, wajahnya terlihat gugup.
"Tidak banyak, hanya beberapa orang saja, dua orang saksi dan penghulu. Maklumlah May, ini kan hanya pernikahan siri saja," sahut bibi Titin dengan santainya.
Maya terkejut mendengar, jika dirinya hanya dinikahi secara siri saja. Semuanya berbeda jauh dari ekspetasinya dua hari yang lalu. Harapan bisa menikah secara sah menurut agama dan negara sirna sudah. Kartu nikah yang Maya harapkan juga tidak akan terwujud.
"Kenapa hanya nikah siri Bi? Dua hari yang lalu, Bibi atau pria itu tidak bilang begini. Kenapa sekarang malah nikah siri? Nikah siri itu bukan pernikahan yang bisa di pertanggung jawabkan jika terjadi apa-apa di dalamnya Bi. Maya tidak mau menikah," Maya menolaknya dengan tegas.
Bukan tanpa sebab Maya menolak pernikahan itu. Selain anti dengan pernikahan siri, Maya juga sudah beberapa kali mendengar dan melihat sendiri, bagaimana nasib teman-temannya yang dinikahi secara siri oleh pasangan mereka. Tidak diberi nafkah, bahkan ditinggalkan begitu saja, tanpa bisa menuntutnya ke pengadilan atau hukum yang berlaku. Maya tidak mau nasibnya akan berakhir seperti itu juga.
"Ya, mana Bibi tau May. Kamu tanyakan saja langsung dengan calon suami kamu. Sebentar Bibi panggilkan," Bibi Titin bergegas menuju rumahnya memanggil Erwin.
"Maaf Pak Erwin, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya bibi Titin, bicara dengan penuh kehati-hatian.
"Mau bicara apa Bu? Apa ada yang penting?" bisik paman Arman--suami bibi Titin.
"Bapak diam saja!" ketus bibi Titin, mencubit perut sang suami.
"Iya, ada apa Bu?" tanya Erwin, mendekati bibi dari calon istrinya.
"Maya katanya mau bicara, dia menolak menikah, jika hanya pernikahan siri. Saya bingung menjelaskannya seperti apa," sahut bibi Titin, setengah berbisik.
Ekspresi wajah Erwin langsung masam mendengar penolakan Maya. Dalam hatinya terus saja mengumpat dan mencaci calon istrinya itu.
"Baiklah, saya akan menemuinya dan menjelaskan semuanya," ucap Erwin, bergegas menuju rumah Maya.
Sesampainya Erwin di rumah Maya, Maya ternyata sudah menunggunya di dalam kamar berukuran kecil. Erwin masuk perlahan ke dalam kamar itu. Kamar yang begitu sederhana, membuat Erwin tidak betah jika harus berlama-lama di dalam sana.
"Kamu menolak pernikahan ini hem?" Suara bariton Erwin, membuat Maya terkejut.
"Eh, iya. Maaf saya menolaknya. Saya tidak bisa menikah hanya dengan pernikahan siri seperti ini saja," ucap Maya tegas.
Erwin terperangah mendengar penolakan langsung dari Maya. Gadis desa yang awalnya dia kira lugu dan bodoh, ternyata berani juga menolak keinginannya. Wajahnya sempat memerah karena penolakan itu. Namun, demi ambisinya, Erwin kembali menetralkan ekspresinya dengan mencari alasan yang cocok untuk meyakinkan gadis desa di depannya.
"Pernikahan siri ini hanya sementara. Lagipula, pernikahan kita ini diadakan terlalu mendadak. Desa tempat kamu tinggal ini juga jauh dari ibu kota. Kantor agama di kota sana, tidak mungkin bisa menikahkan resmi kita dalam kurun waktu yang singkat. Harus jauh-jauh hari dulu kita mendaftar, untuk bisa mendapatkan nomor antrian menikah secara resmi dan sah. Setelah kita keluar dari desa ini, aku akan menikahi kamu secara resmi di kota nanti. Asistenku sudah mengurus semuanya. Ini hanya sementara, kamu mau kan?" Erwin meyakinkan Maya, dengan bicara selembut mungkin.
Maya terhenyak mendengar penjelasan Erwin. Dalam lubuk hatinya, ada keraguan dari setiap kata yang diucapkan pria kota di depannya. Namun, akalnya membenarkan alasan yang disampaikan Erwin tadi. Jarak desa yang terbilang jauh dari kota, dan ribetnya urusan pernikahan secara sah. Akhirnya membuat Maya setuju dengan janji manis Erwin.
Erwin menyeringai licik menatap gadis desa yang ada di depannya. Di dalam hati pria itu, sempat memuji kecantikannya sekarang ini. Namun, pujian itu hanya sebentar, sebelum berganti dengan cibiran.
Dasar gadis bodoh, percaya saja kamu dengan kata-kataku. Setelah 40 hari pernikahan kita, lihat saja apa yang akan terjadi nanti, batin Erwin.