Stefanni sudah tidak merasa heran lagi, dengan sikap-sikap Varo yang penuh dengan kejutan. Jelas saja, hampir setiap hari Varo berulah, yang mana ulahnya itu selalu diluar pikiran Stefanni. “Besok temenin gue lihat rumah, ya?” pinta Varo, yang mana malam ini ia sedang berada di apartemen Stefanni. “Rumah kok dilihatin,” gerutu Stefanni yang sedang asik memasang pasta di dapur. “Susah ngajak lo ngobrol. Orang niatnya ke mana, elo nangkapnya ke mana,” sungut Varo. Memangnya apartemen aja enggak cukup, ya?” tanya Stefanni dengan serius. “Kalau apartemen, gue rasa akan terlalu sempit. Apalagi nanti bukan hanya ada kita berdua, Fan,” sahut Varo, lalu ia berjalan menghampiri Stefanni. “Lo tahu kalau gue akan susah untuk terbiasa dengan tempat baru. Kemarin saja, saat gue menginap di

