-15- Masa Lalu dan Kau

1105 Words
Tanpa masa lalu, tak akan ada hari ini Tapi masa laluku, adalah kau Semua tentangmu   “Jadi, kita akan mulai dari mana?” tanya Radit yang menyetir seraya melirik Elia dari kaca spion tengah. “Ke SMA kalian, tentu saja,” jawab Elia tanpa ragu, sedikit terlalu riang. Bea menoleh ke belakang untuk menatap Elia penuh dendam. Elia berkata bahwa dia akan mengatakan apa yang dikatakan Bea dalam tidurnya semalam jika Bea menjadi anak baik sepanjang hari ini. Itulah yang membuat Bea terpaksa mau menuruti paksaan Elia agar duduk di depan, di sebelah Radit yang menyetir. Entah apa yang Elia rencanakan, tapi sejak Bea turun untuk sarapan tadi, hingga saat ini, ia belum sekali pun menatap wajah Radit. Ia tidak sanggup. Radit mengemudikan mobilnya melewati jalan belakang menuju SMA mereka. Bea ingat, dulu mereka pernah berlari melewati jalan ini saat jam olahraga. Bea sudah kelelahan berlari, sementara Radit menjajari larinya yang semakin pelan. Padahal, jika mereka tidak sampai ke sekolah di batas waktu yang ditentukan guru olahraga mereka, mereka akan dihukum. Namun, saat itu Radit tidak meninggalkan Bea. Saat itu … semuanya masih baik-baik saja. *** “Bee, kau mau berlomba denganku?” tantang Radit tiba-tiba. “Tidak,” tolak Bea tanpa ragu. “Aku pasti akan kalah darimu jika berlari. Kau pikir aku bodoh?” Radit tergelak. “Aku akan berlari dengan selisih sepuluh langkah di belakangmu,” ucap Radit. Bea mulai tertarik. “Kalau begitu, yang kalah akan mentraktir makan sepuasnya saat jam istirahat nanti,” Bea mengusulkan.  “Tentu,” jawab Radit. Bea tersenyum. “Oke. Aku tidak akan kalah kali ini,” ucapnya penuh tekad. “Aku akan mulai dari sini, kalau begitu,” ucap Radit sembari berhenti. Bea tersenyum menang dan berlari, lalu berhenti di langkah ke … sebelas. Bea menoleh pada Radit dan menghitung keras, “Satu … dua … tiga!” Bea menatap ke depan dan berlari dengan sisa tenaganya yang tersisa. Toh jaraknya ke sekolah sudah tidak begitu jauh. Hanya sekitar dua ratus meter. Atau seratus lima puluh meter jika Bea memotong dari gerbang samping. Bea sudah yakin dia akan menang, tapi tepat di depan gerbang, Radit melewatinya. Bea yang shock sampai menghentikan larinya begitu saja di depan gerbang. Radit juga ikut berhenti dan menoleh pada Bea. “Jangan lupa janjimu untuk mentraktirku,” ucap Radit dengan santainya. Bea mendesis kesal. “Kau ini tidak gentleman sekali! Bagaimana bisa kau menantang perempuan berlomba lari, hah?” Radit hanya tertawa menanggapi itu. Mereka akhirnya kembali berlari hingga ke halaman tengah sekolah yang biasa dijadikan lapangan upacara. Tampak hampir semua murid kelas Bea sudah ada di sana. Tiga murid yang ada di belakang Bea harus menjalani hukuman karena terlambat tiba di sekolah sesuai waktu yang ditentukan. Ketiga murid itu dihukum berlari mengelilingi halaman sekolah sebanyak tiga kali, sementara murid lain bisa beristirahat sebentar. “Wah … hampir saja kita dihukum seperti itu,” bisik Bea pada Radit. “Aku pasti akan pingsan jika sampai dihukum.”  Radit tersenyum geli. “Aku pasti akan menertawakanmu jika kau pingsan.” Bea mendesis kesal menanggapinya. *** Bibir Bea terangkat membentuk senyum ketika mengingat saat-saat itu. Saat itu, Bea bahkan tak sadar apa yang dilakukan Radit untuknya. Radit tidak pernah kehabisan akal membuat alasan untuk menjaga Bea, dengan cara apa pun. Seandainya semua itu tidak perlu berubah … seandainya … “Be.” Suara Radit itu menyentakkan Bea. “Kita sudah sampai.” Bea menoleh ke samping dengan gelagapan. Radit menghentikan mobilnya di gerbang samping. Bea menatap gerbang bercat hijau itu dengan kening berkerut. Sekolah ini sudah berubah. Gerbang ini dulu tidak seperti ini. Catnya pun sudah diperbarui. Bea melepaskan seatbelt dan turun. Gadis itu menghampiri gerbang samping dan menelusuri gerbang besinya dengan tangan. “Kau sudah berubah menjadi seperti ini selama aku tidak kemari, ya?” Bea bergumam pelan seraya tersenyum sendu. Di belakang Bea, Radit dan Elia memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengar kata-kata Bea itu. Namun, baik Radit maupun Elia tak dapat menahan senyum geli mereka. Bea menatap melewati gerbang, tampak penasaran, tapi juga sedikit cemas. Kemarin di SMP-nya, dia masih mengalami trauma mengerikan itu. Bagaimana jika di sini nanti …? “Kau mau masuk atau hanya berdiri di situ sepanjang hari?” Lagi-lagi suara Radit menyentak Bea. Bea menoleh dengan kalut. “Aku … kurasa aku …” “Elia mengajakku ikut bukan tanpa alasan, Bea,” kata Radit seraya menghampiri Bea, menggandeng tangan Bea, lalu membuka gerbang samping dan membawa Bea masuk. Elia tersenyum seraya mengekori di belakang mereka. Ketika langkah Bea terhenti di hall kecil di depan gerbang samping itu, Radit juga menghentikan langkahnya. Ia tahu apa yang membuat Bea berhenti. Gadis itu pasti teringat kegiatan ekskulnya. Di tempat inilah terkadang mereka menghabiskan waktu di kegiatan ekskul. Dan di sini jugalah Radit sering menghabiskan waktunya untuk menemani Bea. Kenangan masa lalu itu seolah tergambar jelas dalam kepalanya. Bea bisa melihat sosoknya yang bersandar di bahu Radit, mengantuk dan bosan menunggu kegiatan ekskul dimulai. “Benar-benar membosankan. Apa kau tidak bosan?” Bea bertanya pada Radit kala itu. Radit mendengus pelan. “Bee, apa kau masih merasa bosan meski ada aku di sini?” “Kau benar-benar tidak bosan menunggu selama ini?” Bea bertanya lagi dengan nada heran. “Ketika ini bahkan bukan ekskul yang kau minati?” Radit mendesah pelan seraya menoleh untuk menatap wajah Bea. “Tidak, selama aku bersamamu.” Kenangan itu membuat Bea otomatis menarik tangannya dari genggaman Radit. Radit tampak kaget ketika menatap Bea. Gadis itu tampak salah tingkah, tapi kemudian, ia berjalan ke gerbang depan. Radit mengernyitkan kening, menunggu. Apakah Bea sudah bisa mengatasi traumanya? Padahal kemarin sepertinya dia masih tak bisa melupakan kenangan buruknya semasa SMP. Bea menghentikan langkah ketika ia sampai di depan taman kecil di depan gerbang depan. Tatapannya terhenti pada pohon di dekat gerbang. Bea meringis ketika merasakan mual. Perutnya seolah kembali jungkir balik. Tapi ia tahu, Radit ada di sini, dan dia akan baik-baik saja. Bea mengambil napas dalam beberapa kali. Radit ada di sini, tidak akan ada hal buruk terjadi. “Kau baik-baik saja?” Suara Radit itu diikuti tangan Radit yang kembali menggenggam tangan Bea. Bea menoleh pada Radit, lalu mengangguk pelan. “Kau masih belum benar-benar mengatasi traumamu,” ucap Radit. Pernyataan. Bea kembali mengangguk. Radit tersenyum kecil. “Tapi setidaknya, ini tidak separah kemarin, kan?” Bea mengangguk lagi. Ia lalu menunduk, menatap tangan Radit yang menggenggam tangannya. “Ini karena kau. Tidak separah kemarin karena aku tahu kau ada di sini,” ucapnya tanpa menatap Radit. Selama beberapa saat, tak ada yang berbicara. Radit tampak terkejut dengan pengakuan Bea itu, sementara Bea terlalu malu untuk menatap Radit saat ini. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD