-16- Back to the Past

1206 Words
You can’t break the past Doesn’t mean the past can break you You can’t change the world Doesn’t mean the world can change you  “Sepertinya sekolah kalian ini baru direnovasi,” komentar Elia sembari memperhatikan penampilan depan sekolah Bea dan Radit. Bea dan Radit menoleh ke gedung sekolah mereka untuk melihat maksud Elia. Benar. Cat hijaunya masih baru. Penampilannya kini tampak lebih sejuk. “Apa kita bisa masuk ke dalam?” tanya Elia lagi seraya berjalan ke pintu masuk menuju lobi, yang terkunci. “Kita bisa lewat samping,” beritahu Radit. Ia menggandeng Bea dan setengah menariknya ke arah hall samping tadi. Namun, mereka tidak berhenti di situ dan melewati lahan yang sepertinya pelataran parkir. Di ujung pelataran parkir, mereka berbelok ke kanan, dan mereka pun tiba di halaman luas sekolah itu. “Wow …” gumam Elia seraya menatap setiap penjuru sekolah itu. “Wah, lihat pohon itu … sudah berapa umurnya?” Elia menghampiri sebuah pohon trembesi besar di tengah lapangan. Pohon itu sangat besar dan tinggi, setinggi gedung sekolah berlantai dua itu. Bea dan Radit memutuskan bahwa menunggu di sini lebih baik. Mereka memiliki kenangan tentang pohon itu. Dan baik Radit maupun Bea, tampaknya tak ingin menyentuh kenangan itu lagi. Embusan angin menjatuhkan daun-daunnya. Bea mendongak dan senyum terukir di bibirnya tatkala ia mengingat bola voli yang pernah ia sangkutkan di dahan tinggi pohon itu. *** Bea langsung berlari menghindar ketika bola voli yang dilemparnya ke atas, nyaris mendarat di kepalanya sendiri. Bola yang berbahaya. Pada dasarnya, Bea memang tak begitu bagus dalam olahraga. Terutama voli. Voli adalah musuh bebuyutan Bea. Bea mengambil bolanya yang sudah mendarat di halaman, lalu mencoba berlatih memukul bolanya agar melewati net, tapi kali ini bola itu terbang ke belakang. Ketika Bea berbalik, ia meringis mendapati bola itu mendarat di belakang kepala Radit yang sedang berlatih di sisi lain halaman dengan para murid laki-laki. Radit berbalik dan langsung melotot kesal ketika melihat Bea melambaikan tangan. “Maaf, aku tak sengaja,” aku Bea. “Tidak mungkin.” Radit menyipitkan mata. Dia mengambil bola yang sudah jatuh di kakinya dan membawanya kembali pada Bea. “Aku serius! Bahkan aku tadi nyaris menghantam kepalaku sendiri dengan bola itu!” Bea berusaha meyakinkan Radit. Radit menghela napas. “Kau belum bisa melempar bolanya melewati net?” “Kau pikir semudah itu?” sengit Bea. “Apa sulitnya?” balas Radit sembari mempraktekannya dengan melakukan serve. Dengan mudah, bola itu melewati netnya. Bea merengut kesal. “Kenapa aku tidak bisa?” Radit mengambil bola lain, lalu memberikannya pada Bea. “Cobalah.” “Kali ini, lebih baik kau melindungi kepalamu,” Bea memperingatkan Radit. Radit mendengus geli, tapi dia tak melakukan apa pun dan tetap berdiri di sebelah Bea. Bea pun bersiap untuk melakukan serve. Kali ini, dia memukul bola volinya dengan sekuat tenaga, bola itu terbang begitu tinggi dan … tersangkut di dahan pohon trembesi. Bea langsung menoleh pada Radit yang tampak melongo menatap ke bola yang tersangkut itu. “Bee, kau benar-benar … menakjubkan …” Bea merengut dan memukul lengan Radit, membuat Radit mengaduh pelan dan menatap Bea sambil tertawa geli. Bahkan, teman-teman mereka yang melihat itu sudah mulai ikut tertawa dan bertanya-tanya bagaimana bisa bola itu tersangkut di sana. “Radit … lakukan sesuatu!” Bea menarik lengan kaus seragam olahraga Radit. Radit tersenyum geli, tapi dia mengambil bola voli lain, lalu meminta Bea menepi. Setelahnya, Radit melemparkan bola itu ke atas, menghantam dahan tempat bola Bea tadi tersangkut, seketika membebaskan bola Bea yang tersangkut. Ketika dua bola itu mendarat di halaman, Radit menoleh pada Bea dengan tawa tertahan. Bea? Jangan ditanya. Antara kesal, tapi malu juga. *** “Apa kau masih seburuk dulu dalam voli?” Pertanyaan tiba-tiba Radit itu membuat Bea menoleh kaget. Bea bisa merasakan wajahnya memerah. “Sudah membaik. Aku tidak lagi membuat bolaku melayang ke belakang dan menghantam penonton,” jawabnya malu. Radit tertawa pelan. “Baguslah. Itu pasti mengurangi jumlah pasien gegar otak.” Bea menyikut lengan Radit. “Aku tidak separah itu,” kesalnya. Radit kembali tertawa menanggapinya. Ia lalu memanggil Elia dan menawarkan tur keliling sekolah yang disambut riang oleh Elia. Mereka memulai tur dari gedung kelas sepuluh. Radit melepaskan tangan Bea untuk membuka pintu kelas X-8, kelas mereka dulu, dan membawa mereka masuk. “Wah, lihat itu, sekarang mereka sudah memasang televisi di sana,” protes Radit seraya berjalan ke depan kelas, di mana ada sebuah televisi yang terletak di atas papan tulis. “Apa karena ini kelas unggulan? Tempat duduk kalian berbeda dari kelas lain,” komentar Elia seraya duduk di salah satu kursi. “Kursi kalian sudah seperti kursi di kampus,” ucapnya seraya menepuk-nepuk kursi yang didudukinya. “Kami juga sudah diberi pandangan tentang kampus tujuan kami sejak kelas sepuluh. Kami sering mengadakan kunjungan ke kampus-kampus itu,” terang Radit sembari membaca daftar susunan organisasi kelas di depan. “Sepertinya SMA kalian menyenangkan. Tapi aku penasaran, kenapa di SMA kau masih trauma dengan sekolah?” Elia menatap Bea yang sedari tadi masih berdiri di pintu. “Eh?” Bea menatap Elia, lalu menatap Radit. “Karena semua kenangan buruk Bea ada di sana.” Radit menoleh pada Bea. “Benar, kan?” Bea bahkan tak bisa menjawab itu. “Tapi sejujurnya, menurutku, masalah murid-murid di sekolah itu bukan hanya nilai pelajaran. Mungkin dulu orang-orang belum seterbuka sekarang tentang mental health, tapi menurutku, itu justru harus diperhatikan dari anak-anak usia sekolah. Begitu banyak tekanan yang mereka rasakan, tapi orang dewasa tidak bisa memahami dan hanya menuntut.” Elia menghela napas sedih. “Ironis, ya? Masa sekolah yang disebut sebagai masa paling indah, tapi justru menjadi tempat yang menimbulkan trauma berkepanjangan.” “Benar juga,” gumam Radit dengan nada sedih. “Ada banyak hal terjadi … dan orang-orang dewasa tak bisa mengerti.” Bea teringat kondisi Radit dan keluarganya. Radit sendiri … juga korban broken home. Tapi, akhirnya dia tumbuh menjadi pria yang hebat. “Tapi, Bea beruntung karena memiliki sahabat sepertimu,” celetuk Elia. “Benar kan, Be?” Elia menoleh pada Bea. Bea tak tahu harus berkata apa, atau menanggapi bagaimana. “Tapi, kurasa Bea mulai bisa menghadapi itu semua meski tanpaku,” ucap Radit. Bea menoleh pada Radit yang menghampirinya. “Kau gadis yang hebat, Bea, jadi jangan biarkan masa lalu membuatmu kembali menjadi gadis yang gemetar ketakutan setiap kali memikirkan sekolah. Kau sudah lebih kuat sekarang. Hancurkan masa lalu itu, mereka tidak bisa menyakitimu lagi sekarang. Kau adalah kau, dengan pilihan hidupmu, menjadi kau yang sekarang. Dan masa lalu tidak akan bisa mengubah itu. Karena itu, tak ada lagi yang perlu kau takutkan.” Bea berusaha mencerna kata-kata Radit. Ya. Benar. Sudah cukup Bea hancur oleh orang-orang itu di masa lalu. Sekarang, tidak lagi. Dia tidak boleh lagi. Dia tidak akan jatuh hanya karena masa lalu, atau orang-orang dari masa lalu itu. “Kau benar,” Bea akhirnya berbicara. “They won’t break me down. Not now, nor later. Not again. Never.” Radit tersenyum seraya mengusap kepala Bea. “Good girl.” Setelah mengatakan itu, Radit berjalan keluar. Bea masih membeku di tempatnya karena apa yang dilakukan Radit barusan, sampai Elia datang padanya dan menariknya menyusul Radit. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD