You can’t turn back the time
But memories can turn back anytime
Radit dan Elia berjalan bersisian melewati koridor kantin dalam perjalanan menuju kelas koridor kelas IPA. Radit menjelaskan pada Elia bahwa koridor ini adalah koridor kelas jurusan IPA, sementara di koridor sebelum kelas sepuluh tadi, adalah koridor kelas IPS. Sekolah itu didominasi warna hijau. Bahkan di depan koridor kelas IPA itu, ada taman kecil di sepanjang koridor.
“Pasti menyenangkan sekali belajar di sini,” gumam Elia kagum. “Meskipun dijejali dengan materi IPA yang berat, kalian bisa menyegarkan pikiran dengan adanya taman ini.”
Radit mengangguk. “Koridor ini jadi spot favorit murid-murid IPA. Benar kan, Be?” Radit menoleh ke belakang untuk menatap Bea. Radit menghentikan langkah ketika tidak menemukan Bea di belakangnya. “Bea?” Radit menatap sekelilingnya, tapi tak juga menemukan Bea.
“Tadi dia … bukannya di belakang kita?” tanya Elia bingung.
Radit mengangguk. Seharusnya begitu. Ia mulai panik. Teringat bagaimana Bea tampak pucat ketika ia berdiri sendiri di dekat gerbang depan tadi. Radit menyusuri koridor IPA sambil meneriakkan nama Bea. Di kantin tidak ada, di lapangan samping kantin tidak ada, di lapangan parkir belakang gedung kelas IPA juga tidak ada.
“Bea … kau di mana?” tanya Radit putus asa.
***
Bea mendongak menatap pohon trembesi yang masih berdiri kokoh di tengah halaman sekolahnya. Bea tak tahu kenapa kakinya membawanya ke tempat ini. Ia bahkan tidak berpikir ketika kakinya membawanya berbelok di jalan kecil di antara perpustakaan dan laboratorium komputer, lalu menuju pada pohon trembesi besar ini.
Bea seolah bisa melihat masa lalunya; Bea tujuh belas tahun yang duduk di bawah pohon besar itu, tampak pucat, panik, takut, dan ingin menangis, sementara orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya.
Bea melangkah semakin dekat, lalu duduk di tempat Bea tujuh belas tahun duduk sepuluh tahun lalu. Dan Bea, seolah kembali ke masa lalu …
***
“Ramai sekali hari ini,” desah Bea seraya mengusap keringatnya. Ia lelah karena sepanjang pagi ini berlarian ke sana-kemari untuk wawancara para peserta lomba, sebagai tugasnya sebagai anggota klub ekskul jurnalistik.
Hari ini, adalah hari ulang tahun sekolah Bea. Perayaannya diadakan selama dua hari. Hari pertama dilaksanakan di sekolah, dengan mengadakan lomba antar kelas, dari kategori dance, musik, English telling story, menyanyi, cheerleader, dan yang lain. Ada pun hasilnya akan diumumkan besok, di hari kedua perayaan ulang tahun sekolah yang akan diadakan di gedung serbaguna di kawasan Jalan Pahlawan.
Bea baru saja selesai mewawancarai salah satu peserta lomba menyanyi dan hendak mengajak Radit beristirahat. Bea membawa Radit melewati halaman untuk ke kantin. Langkah Bea terhenti ketika melihat penampilan musik band dari kakak kelas. Bea berhenti dan menatap seorang kakak kelas yang terkenal di kelasnya. Setidaknya, ada tiga orang teman sekelasnya yang menyukai kakak kelasnya itu.
“Kau tahu, vokalisnya itu? Banyak sekali yang menyukainya. Aku tak tahu apa yang mereka lihat dari dia. Memang suaranya bagus, dia juga tampak cukup keren ketika tampil seperti itu. Tapi entah kenapa, aku tidak menyukainya. Aku tidak tertarik padanya. Dia tampak biasa saja, bagaimana menurutmu, Radit?” Bea menoleh ke samping, meminta pendapat Radit, tapi Radit tidak ada di sana.
Bea menoleh ke belakang, tapi Radit juga tidak ada. Bea menatap sekelilingnya dengan kalut. Radit tidak ada. Sementara ada semakin banyak orang yang datang ke halaman itu untuk melihat penampilan kakak kelasnya itu. Bea mendadak mual. Ia menunduk seraya berjalan ke arah pohon trembesi. Ia lalu duduk di bawah pohon itu, memeluk lutut dan menatap sekitarnya dengan panik.
“Radit …” Bea menggumam memanggil Radit seraya berusaha menenangkan diri. Namun, usahanya gagal. Ia semakin merasa mual. Bea ingin menangis. Ia bisa merasakan orang-orang mulai menatapnya dan tak ada yang bisa dia lakukan. Bea menunduk, menatap kaki-kaki yang berhenti di sekitarnya. Dan itu membuatnya semakin panik.
***
Radit mengerutkan kening melihat kerumunan di sekitar pohon trembesi itu. Tapi, ia mengabaikan kerumunan itu dan pergi ke tempat ia meninggalkan Bea tak jauh dari pohon yang sekarang jadi pusat tontonan itu. Tadi Bea tampak kelelahan, jadi sementara Bea asyik menikmati penampilan salah satu kontestan band, Radit memutuskan untuk membeli minum untuk mereka. Tapi ketika ia kembali, ia tak menemukan Bea di sana.
Radit menoleh ke arah kerumunan tak jauh darinya itu dan ia mengumpat ketika menyadari sesuatu. Dua kaleng minuman di tangan Radit dilepasnya begitu saja ketika ia berlari menerobos kerumunan sambil berteriak memanggil Bea.
“Bea!” Radit berteriak seraya menerobos kerumunan itu. Radit tercekat tatkala melihat keadaan Bea kemudian.
Gadis itu duduk di bawah pohon, memeluk lutut, dengan wajah menunduk, pucat ketakutan, napasnya memburu.
“Astaga, Bea …” desah Radit sedih seraya berlutut di samping gadis itu dan menarik Bea dalam pelukannya.
“Radit …” Suara Bea hanya berupa bisikan.
“Aku di sini, Bea, aku di sini,” ucap Radit seraya mengelus rambut Bea.
“Kau … meninggalkanku …” Suara gadis itu begitu terpukul, tak percaya.
Radit mencelos. “Maafkan aku, aku hanya ingin membelikan minum untukmu tadi. Kau tampak asyik menonton pertunjukannya, jadi kupikir …”
“Kau pergi …” Suara Bea begitu memilukan.
“Maafkan aku, Bea. Maafkan aku …” Radit mengeratkan pelukannya.
“Kau pergi …” ucap Bea lagi, kali ini ia terisak.
“Aku memang bersalah, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal dan aku minta maaf, Bea. Maaf …” Radit tak lagi memedulikan para penonton yang semakin banyak menonton mereka karena kemudian, Bea menangis keras. Radit tidak peduli bahkan jika seluruh dunia melihatnya. Saat ini, ia hanya harus meyakinkan Bea bahwa Radit tidak meninggalkannya, dan bahwa gadis itu baik-baik saja.
“Bea, maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Maafkan aku, Bea …” Radit berusaha meyakinkan Bea. “Maafkan aku …” sesal Radit seraya mendaratkan kecupan lembut di rambut Bea.
***
Radit seolah kembali ke kejadian sepuluh tahun lalu ketika akhirnya ia menemukan Bea duduk di bawah pohon trembesi di tengah halaman sekolah mereka. Gadis itu menatap ke depan dengan tatapan kosong. Radit mengatur napasnya yang tersengal akibat berlari mencari Bea tadi ketika ia melangkah menghampiri Bea.
Bea duduk persis di tempat ketika gadis itu duduk di sana sepuluh tahun lalu. Dan Radit juga mengambil tempat di samping Bea, sama seperti dulu. Hanya saja, kali ini Radit ikut duduk di sebelah Bea.
“Bea?” panggil Radit pelan.
Bea tersentak kecil mendengar suara Radit itu. Ia tampak terkejut ketika menemukan Radit di sebelahnya. “Oh, kau …”
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Radit.
Bea mengangguk, lalu kembali menatap ke depan. “Aku hanya … entahlah, tadi kakiku yang membawaku kemari. Kakiku seolah bekerja di luar kendali otakku, membawaku kemari. Lalu … yah, di sinilah aku.” Bea mengedikkan bahu pasrah.
“Mengenang masa lalu?” tebak Radit.
Bea meringis. Bagaimanapun, kejadian saat itu sangatlah sensitif bagi Bea, mungkin bagi Radit juga. Karena saat itu, Radit berkata bahwa dia tidak akan meninggalkan Bea. Tapi, yang terjadi pada mereka delapan tahun terakhir ini justru sebaliknya.
“Aku tidak pergi,” tiba-tiba Radit berkata. “Kau yang meninggalkanku, ingat?” Radit menoleh untuk menatap Bea, yang juga menatapnya dengan kaget.
***