-12- Unforgettable Memories

2010 Words
Trying to forget it was just like Trying to remember something I never knew And remembering it was just as easy as Remembering lyric of my favorite song   Bea menangis di kamarnya begitu ia tahu bahwa besok orang tuanya akan mengajak dia dan Radit berlibur ke Singapore. Dan alasan Bea menangis malam itu, adalah karena dia sedang sakit, dan kemungkinan dia tidak akan bisa pergi. Itu berarti, dia akan ditinggal di rumah dengan Bi Sum, sementara Radit bersama orang tuanya akan berlibur ke Singapore. “Kenapa mereka tidak mengatakan ini padaku sejak berhari-hari sebelumnya? Jika tahu begini, kan tadi siang aku tidak perlu lama-lama berendam di kolam renang sampai keriput dan sakit begini,” tangis Bea pada Radit. “Mereka kan, ingin memberikan surprise untuk merayakan keberhasilanmu menembus universitas yang kau inginkan itu. Lagipula, sebenarnya mereka sudah merencanakannya sejak beberapa bulan lalu. Kita kan, mengurus paspor bersama beberapa bulan lalu. Kau saja yang tidak peka,” sebut Radit. “Kau sudah tahu tentang ini?” kaget Bea. Radit mengangguk. “Kau saja yang bodoh dan tidak peka. Kau bahkan tadi berendam begitu lama, memasukkan air kolam yang kotor itu sebanyak mungkin ke dalam tubuhmu. Berapa banyak yang kau minum tadi?” Radit sama sekali tak berusaha menghibur. “Aku tidak meminumnya, tapi terminum sendiri,” Bea berkata di sela tangisnya. “Kau ini benar-benar bodoh dan menjijikkan. Aku meludah di kolam renang tadi.” Radit benar-benar bersenang-senang di atas penderitaan Bea. Dan akibatnya, Bea menangis semakin keras. Radit tertawa seraya menarik gadis itu dalam pelukannya. “Kita bisa pergi lain kali. Aku juga tidak akan ikut jika kau tidak bisa ikut,” ucap Radit akhirnya, berusaha menghibur Bea. Bea menggeleng. “Kau harus pergi. Kau sudah bekerja keras selama enam tahun terakhir ini, dan kau harus bersenang-senang.” Radit tertawa. “Bicaramu sudah seperti orang dewasa, Bee,” ledeknya seraya melepaskan pelukannya. Masih sesenggukan, Bea merengut. Radit tersenyum geli melihat ekspresi Bea itu. Ia lalu menata bantal Bea dan memaksa Bea berbaring. “Kau sudah meminum obat?” tanya Radit. Bea mengangguk, masih merengut. “Kau harus istirahat,” Radit berkata. Bea tidak menjawab, tetap merengut. Radit mendesah lelah. “Sebenarnya, ada satu cara yang bisa membuatmu sembuh dengan cepat,” katanya. Mata Bea melebar tertarik ketika ia menatap Radit penuh harap. “Benarkah?” Radit mengangguk. “Bagaimana?” Bea tampak bersemangat, bahkan kini ia tersenyum. “Aku pernah mendengar, demam bisa ditransfer lewat ciuman. Jadi, jika seseorang demam, demam itu bisa berpindah ke orang lain yang menciumnya,” Radit memberitahu. Bea kembali merengut mendengarnya. “Itu hanya mitos! Di komik juga banyak seperti itu,” kesalnya. Radit tertawa. “Aku juga tahu itu dari salah satu komikmu,” katanya geli. Bea menatap Radit kesal sebelum kemudian memejamkan matanya. “Kau menyebalkan,” desisnya dengan mata terpejam. Bea mendengar tawa geli Radit, membuat Bea mendesah kesal. Ah, seandainya Bea tahu bahwa besok dia akan … Bea terkesiap ketika tiba-tiba ia merasakan bibir seseorang mendarat di bibirnya. Ketika Bea membuka mata, wajah Radit begitu dekat dengannya. Lalu perlahan, Radit yang membungkuk di atas Bea mengangkat kepalanya, menjauhkan bibirnya dari bibir Bea. Bea tak tahu harus berkata apa. Ciuman sekilas Radit tadi benar-benar membungkam Bea seketika. Itu … ciuman pertamanya. Radit menciumnya. Radit … menciumnya? Radit tersenyum. “Besok kau pasti akan sembuh,” katanya yakin. Ketika akhirnya Bea tersadar dari keterkejutannya, dia mendengus, “Tidak mungkin.” “Aku sudah menciummu. Besok kau pasti akan sembuh. Kau percaya padaku, kan?” desak Radit. Bea menggigit bibir ragu, lalu teringat bibir Radit yang berada di bibirnya beberapa saat lalu. Wajah Bea memerah karenanya. Tapi kemudian, dia mengangguk. “Baguslah,” Radit tersenyum. “Besok kau pasti akan sembuh, dan besok kau akan terbang ke Singapore. Sekarang beristirahatlah,” katanya seraya merapikan selimut Bea. Gadis itu hanya mengangguk. Desir aneh mendarat di dadanya ketika Radit mengusap lembut kepalanya, sebelum meninggalkan kamar Bea. *** Ketika ibunya menanyakan kenapa Radit belum bangun juga padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh, Bea bergegas berlari ke kamar Radit, menerobos kamar Radit, seperti biasanya, lalu melompat ke atas tempat tidur Radit untuk mengguncang tubuh Radit dengan kasar. “Astaga, Bea … jangan ganggu aku …” erang Radit kesal seraya berusaha menyingkirkan tangan Bea, sebelum kemudian menarik selimut hingga menutupi kepalanya. “Hei, bangunlah! Aku sudah sembuh! Aku benar-benar sudah sembuh!” seru Bea riang. “Kita akan terbang ke Singapore, kita akan berlibur di sana selama tiga hari!” sorak Bea seraya melompat-lompat di atas tempat tidur Radit. “Bea, hentikan itu dan pergilah. Aku tidak mau ikut, aku sedang malas,” Radit berkata dari balik selimutnya, menghentikan kegirangan Bea seketika. “Eh, kenapa?” Bea mengerutkan kening bingung ketika kembali duduk di atas tempat tidur Radit. “Radit …” Bea kembali mengguncang tubuh Radit yang tertutup selimut. “Bea, pergilah … katakan pada ibumu aku tidak ingin pergi. Aku ingin menghabiskan waktu liburanku di rumah sebelum berangkat ke Jakarta bulan depan,” Radit berkata, masih dari balik selimutnya. Bea mulai curiga. Ia teringat akan apa yang dilakukan Radit padanya semalam. Jangan-jangan … “Hei, apa yang …” Radit benar-benar tak siap ketika tiba-tiba Bea menarik selimutnya. “Apa kau sakit?” panik Bea. Radit mendesis kesal pada sahabatnya itu. “Aku baik-baik saja,” katanya kasar. Namun, Bea tahu Radit berbohong. Wajah Radit merah. “Bea, keluarlah,” usir Radit sebelum kemudian dia berbaring memunggungi Bea. Namun, alih-alih menuruti kata-kata Radit, Bea malah mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Radit. Bea terkesiap ketika mendapati demam tinggi Radit. “Kau … sakit …” gumam Bea tak percaya. Akhirnya, Radit menyerah untuk menghindar. Ia beranjak duduk dan bersandar di sandaran tempat tidurnya. “Aku sembuh … tapi kau sakit …” Bea masih tampak tak percaya. “Jadi … ciuman itu …” “Bea, sudahlah. Lupakan saja apa yang terjadi kemarin. Yang terpenting, kau sembuh dan kau bisa berlibur ke Singapore sesuai keinginanmu. Bersenang-senanglah,” kata Radit santai, tak sedikit pun tampak kesal ataupun marah. “Kau sakit dan kau berusaha menyembunyikannya dariku,” ucap Bea sambil cemberut. “Aku benci melihatmu merasa bersalah. Kau selalu tampak bodoh karenanya,” dengus Radit. Bea menatap Radit. “Kau tidak marah padaku?” “Aku tidak benar-benar ingin berlibur ke luar negeri, sungguh. Jadi, itu bukan masalah untukku,” ucap Radit dengan meyakinkannya. Bea menatap Radit dengan bibir mencebik. “Bea, jangan menangis, tidak, jangan menangis lagi. Ini tidak apa-apa, aku tidak apa-apa, sungguh. Jadi, jangan …” Tangis keras Bea memaksa Radit mendekat pada gadis itu untuk memeluknya. “Kau sakit karena aku …” tangis Bea. “Tidak, aku sakit karena kemarin aku tidak meminum air kolam,” jawab Radit asal, membuat tangis Bea semakin keras. “Bee, dengarkan aku, Bea …” Radit melepaskan pelukannya untuk menahan wajah Bea dengan kedua tangannya. “Beatrice Alexandra, dengarkan aku. Aku baik-baik saja dengan ini. Aku tidak sakit karenamu. Tapi bahkan meskipun aku memang sakit karenamu, aku tidak keberatan. Aku sudah berjanji untuk menjagamu, bukan? Jadi setidaknya, aku masih harus melakukannya sampai kau benar-benar bisa mandiri.” Radit menghapus air mata Bea. “Tidak apa-apa jika aku tidak pergi ke luar negeri, aku tidak tertarik. Setidaknya saat ini, aku tidak tertarik. Aku justru lega karena sekarang aku punya alasan untuk tidak pergi. Aku sedang butuh istirahat. Aku butuh istirahat dari gerutuanmu, teriakanmu, dan sikap menyebalkanmu. Jadi, pergi dan bersenang-senanglah,” ucapnya sungguh-sungguh. Bea masih sesenggukan, tapi sudah bisa tersenyum. Ia mengangguk, lalu memeluk Radit. “Aku akan membawakan banyak oleh-oleh untukmu,” janjinya. Radit tertawa kecil. “Belikan aku oleh-oleh yang keren,” katanya. Bea mengangguk di bahu Radit. *** “Tunggu, tunggu, kenapa Ibu membelikanmu kaos sekeren ini, sedangkan untukku, dia hanya membelikan kaos yang sangat sederhana?” protes Bea ketika ia membongkar-bongkar oleh-oleh untuk Radit di kamar Radit. “Kau mau kaos ini?” tawar Radit. Bea mengangguk penuh semangat. Radit menyingkirkan kaos itu untuk Bea. Lalu, ia mengambil sebuah jaket keren berwarna abu-abu. “Wah, kenapa jaketmu besar? Punyaku kecil, jadi sempit sekali,” keluh Bea. Radit tertawa. “Mungkin karena itu jaket perempuan. Kau hanya tidak terbiasa memakai jaket perempuan, kan? Selama ini, kau tidak pernah mau memakai jaket yang dibelikan ibumu untukmu dan malah memakai jaketku,” cibir Radit. Bea mengangguk-angguk. “Sepertinya Ibu membelikan jaket anak-anak untukku.” Radit tergelak mendengar itu. Masuk akal. Ketika Radit mengeluarkan sepatu keds putih, Bea kembali mengerang. “Kenapa barang-barangmu lebih bagus dari punyaku? Ini menyebalkan,” keluhnya seraya berbaring sembarangan di atas tempat tidur Radit. Radit mendengus geli seraya memberesi oleh-oleh yang dibawa Bea itu. Ia menatap Bea penasaran. “Apakah kemarin kau tidak bersenang-senang?” tanyanya. “Kenapa kau bertanya seperti itu?” sinis Bea. “Karena kau menjadi sangat menyebalkan,” cuek Radit. Bea menendang kaki Radit karena kesal. Radit hanya tertawa menanggapinya. “Aku bosan. Setelah bersenang-senang selama beberapa hari di sana, aku merasa bosan begitu pulang.” Bea menghela napas dramatis. “Tapi, kenapa Ayah dan Ibu harus pergi lagi? Kami baru saja sampai tadi sore dan sekarang mereka sudah harus pergi lagi,” keluh Bea. “Mereka harus menghadiri pemakaman salah satu rekan kerja ayahmu, Bee,” Radit berusaha membuat Bea mengerti, entah untuk yang keberapa kalinya. “Tapi, kenapa mereka harus menginap?” Bea masih tak terima. “Apa mereka pergi ke tempat liburan yang lebih bagus tanpaku?” Radit tersenyum geli melihat rengekan Bea. “Karena mereka pasti sudah sangat lelah sekembalinya dari Singapore. Jadi, mereka harus beristirahat,” Radit menjelaskan dengan sabar. “Dan mungkin mereka memang pergi berlibur tanpamu mengingat betapa berisiknya kau.” Bea mendesis kesal. “Aku benar-benar bosan,” gerutunya seraya mengacak-acak tempat tidur Radit dengan tangannya. Radit mendesah lelah, “Bee, kau benar-benar menyebalkan.” Bea menghentikan kegiatannya dan menatap Radit tajam. “Kemarilah, aku punya cerita seru untukmu selama aku di rumah sendiri kemarin,” kata Radit kemudian. Bea tampak kembali bersemangat. Gadis itu beranjak duduk. “Kau tidak sendirian, ada Bi Sum,” ralat Bea. Radit mengangguk. “Iya, ada Bi Sum,” ulangnya. “Kau tahu, apa yang kudengar dari kamar sebelah saat tengah malam?” tanyanya. Bea mengerutkan kening, lalu menggeleng. “Kamar sebelah? Kamar ini?” Bea menunjuk ke sebelah kanan. Radit mengangguk. “Apa yang kau dengar di sana?” Bea tampak tertarik. “Aku mendengar … suara tangis yang mengerikan,” Radit berkata dramatis. Bea terkesiap. “Benarkah? Sangat mengerikan?” Radit kembali mengangguk. “Seperti tangisanmu,” katanya iseng. “Itu pasti sangat mengerikan,” balas Bea tak sadar. Radit harus berusaha menahan tawanya jika tidak ingin gadis itu menyadari apa yang baru saja ia katakan. “Benar, sangat mengerikan,” tandas Radit. Bea menatap Radit dengan ngeri, lalu menunjuk kamar yang terletak di sebelah kanan Radit. “Kamar itu …” Bea terkesiap ketika akhirnya menyadari satu poin penting tentang kamar itu, “adalah kamarku …” Bea menatap Radit dengan tatapan horor. Radit benar-benar harus berusaha lebih keras untuk menahan tawanya. Radit mengangguk. Bea menelan ludah dengan susah payah. “Tidak, kau pasti berbohong,” tepis Bea seraya turun dari tempat tidur Radit. Radit menggeleng. “Aku juga mendengar suara debum keras dari kamar orang tuamu. Lalu, di belakang sana, ada suara-suara aneh dan …” “Hentikan!” sela Bea. “Aku tidak percaya,” ketusnya sebelum kemudian ia berbalik dan berjalan ke pintu. “Tidak masalah jika kau tidak percaya. Nanti juga akan mendengar suara tangisan itu. Toh suara itu datang dari kamarmu.” Kalimat Radit itu menghentikan langkah Bea di depan pintu. Gadis itu menoleh ke belakang untuk melempar tatapan benci pada Radit, sebelum kemudian membuka pintu, tapi ia berhenti ketika Radit memanggilnya. Ketika Bea menoleh ke belakang, Radit mengangkat kaos dan jaket oleh-oleh untuknya tadi. “Kau tidak mau ini?” tanyanya. “Tidak. Aku tidak mau, itu semua untukmu, dan aku tidak mau itu,” ketus Bea sebelum kemudian dia benar-benar keluar dari kamar Radit, dan bahkan membanting pintu kamar Radit. Begitu Bea pergi, Radit terbahak puas. Mengusili Bea selalu mudah. Dan menyenangkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD