Time flies
But memories stay
“Wah, ada banyak lomba, seminar, workshop …” Bea benar-benar terpesona dengan kertas-kertas pengumuman di mading berisi pengumuman di calon universitasnya itu.
Radit yang menemani Bea ke calon kampusnya itu tersenyum geli melihat reaksi Bea. “Yah, kau akan terlalu sibuk menikmati kesibukanmu untuk mengkhawatirkan yang lainnya. Kau akan terlalu mencintai kuliahmu untuk meringkuk ketakutan di pojok kelas, bukan begitu?”
Bea tersenyum lebar pada Radit seraya mengangguk. “Aku akan melakukan apa yang kuinginkan, aku akan belajar giat dan mewujudkan impianku,” urai Bea dengan ceria.
Radit tersenyum dan mengusap lembut kepala Bea. “Aku juga akan melakukan itu,” balasnya.
“Lalu, kita nanti akan sama-sama menjadi apa yang kita inginkan, menjadi apa yang kita impikan,” celoteh Bea. “Ah, aku senang sekali membayangkannya.”
Radit lagi-lagi tersenyum. “Syukurlah jika kau nanti bisa bersenang-senang, Be. Aku akan selalu mendukungmu.”
Bea tersenyum lebar. “Aku juga akan selalu mendukungmu, Radit. Aku akan menjadi pendukung nomor satumu,” tandas Bea. “Kau ingat, kan? Guru bahasa Indonesia kita pernah berkata jika dalam mewujudkan impian, akan ada banyak orang yang menentang. Tapi, aku tidak akan melakukan itu padamu. Meski kau punya impian paling tidak masuk akal sekalipun, aku akan mendukungmu.”
Radit tertawa pelan. “Apa pun impianku, kau akan mendukungku?”
Bea mengangguk tanpa ragu. Namun kemudian, gadis itu tampak muram.
“Kenapa, Be? Kau berubah pikiran tentang menjadi pendukung nomor satuku?” canda Radit
Bea menatap Radit dengan muram. “Apa kau sadar, ini nanti adalah pertama kalinya kita tidak akan satu sekolah, kan? Kau mendaftar di universitas yang lain,” keluhnya kemudian.
Radit tertegun. Benar juga. Namun, Radit kembali tersenyum untuk menenangkan Bea.
“Tidak masalah, kan? Toh kita sama-sama di Jakarta. Aku akan menemuimu sesering mungkin,” janji Radit.
“Tapi kudengar, kuliah di Hukum itu sangat berat. Kau tidak akan punya banyak waktu luang untuk bersenang-senang. Kau akan sibuk menghafalkan buku-buku yang tebalnya mengerikan itu, menghafalkan ribuan pasal, membaca ribuan buku, mengerjakan ribuan tugas …”
Radit tertawa mendengar ocehan Bea itu. “Kenapa terdengar begitu mengerikan, eh?”
Bea mengerucutkan bibirnya. “Aku tidak mengerti, kenapa kau tidak memilih bahasa Inggris saja sama sepertiku? Kemarin kau mendapat nilai tertinggi di mata pelajaran bahasa Inggris, kan? Dulu di SMA kau bahkan belajar bahasa Inggris dengan cepat hingga kau sering ikut lomba bersamaku.”
Radit kembali tersenyum. “Aku memberi kesempatan padamu. Jika aku ikut mendaftar di universitas ini, aku takut kau tidak akan lolos karenaku,” jawabnya usil.
Bea memukul lengan Radit dengan kesal. “Nilai bahasa Inggrisku hanya beda tipis darimu, tahu? Kita hanya selisih nol koma nol satu. Sombong sekali,” desisnya.
Radit tertawa seraya merangkul Bea. “Aku ingin menjadi pengacara, Be. Agar kelak, aku bisa terus melindungimu,” katanya kemudian.
“Tapi kurasa, sekarang kau tidak perlu sekhawatir itu lagi padaku. Sejauh ini, aku baik-baik saja di universitas ini. Aku tidak mual ketika kemarin aku pergi ke sini sendirian. Butuh usaha keras, memang. Tapi, aku berkata pada diriku sendiri bahwa kau tidak bisa selalu ada di sampingku, dan aku tidak ingin membuatmu khawatir, aku tidak ingin terus merepotkan dan menyulitkanmu, karena itu aku harus kuat. Jadi, kemarin aku sudah berkeliling universitas, dan aku baik-baik saja. Malah, aku cukup menyukainya,” sombong Bea.
Radit menatap Bea terkejut mendengar itu. “Benarkah? Tapi kemarin, bukankah kau …”
“Aku berkata aku hanya ingin tidur seharian kemarin agar kau bisa melihat calon universitasmu, tanpa mengkhawatirkanku. Tapi kemarin, setelah kau pergi, aku juga pergi. Jadi mulai sekarang, kau tidak perlu khawatir lagi. Aku akan baik-baik saja di sini nanti,” Bea berkata riang.
Radit mendengus geli. “Jangan khawatir, jika keadaan memburuk nanti, aku mungkin tidak akan keberatan jika harus transfer ke universitas ini,” katanya.
Bea menggeleng seketika. “Tidak, kau tidak perlu melakukannya. Di sini, aku akan berjuang untuk impianku. Dan kau pun harus begitu,” tegasnya.
Radit tersenyum. “Baiklah. Ayo kita lihat, siapa yang paling berhasil nanti,” tantang Radit.
Bea mengangguk mantap. “Aku tidak akan kalah!” serunya bersemangat.
***
“Yah, seperti yang dikatakannya waktu itu, dia tampaknya sudah berhasil meraih apa yang diimpikannya. Aku pernah mencari tahu tentangnya di internet, dan aku benar-benar terkejut melihat reputasinya sebagai pengacara. Dia sering membantu kasus orang-orang yang tidak mampu membayar pengacara, seperti itu.” Bea tersenyum teringat itu.
“Wah, dia benar-benar hebat,” ucap Elia kagum.
Bea mengangguk setuju.
“Dan aku tak percaya, kau melepaskan orang hebat itu begitu saja,” dumel Elia. “Di mana lagi kau bisa menemukan pria sebaik Radit, yang mau menerima keanehan dan kegilaanmu, Be?”
“Kau bicara seolah aku ini tak ada apa-apanya dibanding dirinya,” kesal Bea. “Kau lupa? Aku sekarang sudah menjadi lebih kuat dan bisa menghadapi duniaku sendiri.”
Elia manggut-manggut, tapi berkomentar, “Meski kau masih sering putus asa ketika naskahmu ditolak, atau harus revisi.
Bea mendesis kesal. “Jika kau begitu menyukai Radit, kenapa tidak kau saja yang menjadi sahabatnya?” dumel Bea.
Elia tersenyum geli. “Kurasa, tidak. Dia baik-baik saja sendirian. Tapi, apa yang akan kau lakukan tanpaku, Be?” Elia mengakhiri kalimat angkuhnya itu dengan menguap.
Bea menghela napas dan termenung selama beberapa saat. “Kau adalah orang yang pertama mengulurkan tanganmu padaku saat itu, Li.” Bea tersenyum mengingat saat-saat awal ia bertemu dengan Elia. “Waktu berlalu begitu cepat, iya, kan?”
Bea tersenyum sendu mengenang saat-saat itu, lalu mengakui, “Ya, kau benar. Apa yang akan kulakukan tanpamu? Kau lihat sendiri aku terkadang masih suka mengeluh. Aku aneh dan gila, tapi kau selalu menyemangatiku dan bertahan dengan keanehan dan kegilaanku. Karena ada kau, Li, aku jadi lebih kuat. Kau tahu itu, kan?”
Bea tersenyum ketika menoleh untuk menatap Elia, tapi senyumnya lenyap seketika ketika melihat sahabatnya itu sudah tertidur dengan posisi bersandar di kepala ranjang, bertumpu pada bantal.
“Kau ini … benar-benar menyebalkan,” desis Bea kesal. “Rasakan saja nanti ketika kau bangun, lehermu pasti sakit,” ucap Bea penuh dendam sebelum kemudian dia turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya.
Bea masih mendengar suara ayahnya mengobrol di bawah. Itu berarti, Radit belum pulang. Bea melirik jam di depan kamarnya. Jam sembilan. Mungkin nanti Radit menginap. Bea mengedikkan bahu cuek seraya berjalan ke pintu menuju balkon. Masa bodoh, Radit mau menginap atau bahkan tinggal di rumah ini pun, tak masalah. Toh, Bea tidak akan terus berada di sini. Bea memutar kunci pintu balkon, lalu membuka pintu itu lebar-lebar.
Angin malam yang langsung menyapa Bea, membuat Bea bergidik kedinginan. Namun, itu tak menghentikannya untuk berjalan ke balkon. Bea menatap lapangan rumput yang luas di seberang jalan rumahnya. Gelap. Ia menatap sekitarnya yang juga sama gelapnya. Hanya ada lampu jalan yang menerangi jalan beraspal di depan rumah Bea. Berbeda sekali dengan pemandangan dari apartemennya yang bertebaran dengan lampu jalan dan gedung-gedung tinggi.
Bea mendesah lelah seraya duduk di bangku panjang di balkon itu. Bea mendongak dan menatap langit malam. Bintang. Akhirnya, setelah sekian lama, Bea bisa melihat bintang yang jarang ia lihat dari apartemennya. Bea tersenyum seraya berbaring di bangku panjang itu. Ia menatap langit di atas rumah-rumah di sekitarnya, menghitung bintang.
Bea mengulangi hitungannya ketika merasa ia telah melewatkan satu bintang, lalu mengulanginya lagi ketika merasa ia menghitung dobel untuk bintang yang sama. Dan ia terus mengulanginya, lagi dan lagi. Sama seperti kenangan masa lalunya yang terus berputar dalam kepalanya. Lagi, dan lagi.
***