-6- Dia

1409 Words
I’ll be by your side No matter what I’ll stand by you   “Kenapa kau tidak mengatakan pada Elia tentang traumamu itu?” tanya Radit lembut tak lama setelah mobilnya melaju meninggalkan gedung SMP mereka dan Bea tampak lebih tenang. Bea menarik napas dalam, untuk kesekian kalinya, sebelum menjawab, “Aku tidak tahu jika akan separah ini. Aku tidak ingin dia melihatku … lemah.” Radit mendesah pelan. “Aku sudah menceritakan semuanya padanya. Mulai sekarang, semua hal yang berhubungan dengan traumamu, fobiamu, kecemasanmu, ceritakanlah padanya agar tidak terjadi hal-hal seperti ini lagi,” pesannya tegas. “Aku hanya tidak ingin dia khawatir,” Bea membela diri. Itulah kenapa ia selalu malas keluar dari kamar, ataupun apartemennya. “Dia sahabat baikku, dia sangat peduli padaku, dan terkadang terlalu mengkhawatirkanku, seperti Ibu. Aku tidak mau dia khawatir.” “Dan kau masih menyebutnya sahabat?” balas Radit sarkatis. “Apa kau tahu bahaya apa yang bisa terjadi padamu di sana tadi?” Radit mendadak merasa emosi. “Kenapa kau jadi  marah-marah padaku!” Bea terdengar kesal. “Apa kau bahkan sadar apa yang nyaris terjadi tadi?” “Kau pikir aku juga menginginkan itu?” balas Bea. Radit mengernyit. “Kau baik-baik saja?” tanya Radit akhirnya. Bea mendengus kasar. “Sekarang baru kau bertanya.” Radit berdehem. “Tapi, tentang sahabatmu itu,” singgung Radit. “Kurasa dia tidak akan tinggal diam setelah tahu semua itu. Itu pun, dariku, bukan darimu.” “Argh … dia pasti akan mencincangku setelah ini,” erang Bea putus asa. Radit berusaha menahan senyumnya mendengar itu. Sepertinya, apa pun yang terjadi, sampai kapan pun, Bea tetaplah Bea. *** Begitu mereka tiba di kafe tak jauh dari SMP mereka tadi, Radit langsung meninggalkan Bea bersama Elia dengan alasan mengantri memesan. Cih, pria itu sengaja memberi waktu dan tempat pada Elia untuk membantai Bea. Lihat saja cara Elia menatap Bea saat ini, seolah dia siap mencincang Bea di sini sekarang juga. Bea berdehem. “Kau sudah mendengar sedikit tentangku, kan, dari Radit?” Bea memulai. “Sedikit?” sinis Elia. Bea berdehem lagi. “Sedikit banyak, maksudku.” Elia mendengus kasar. “Kita akan melanjutkan itu nanti. Sekarang, aku harus memastikan beberapa hal,” ucapnya. Bea hanya manggut-manggut. “Jadi, kau pernah terkunci di gudang sekolah dan itu membuatmu trauma pada tempat sempit, pengap, dan kotor. Kau benci sekolah karena trauma. Kau benci teman-teman karena trauma. Kau nyaris membenci semua hal hanya karena trauma. Dan, kurasa itulah alasannya kau tidak punya teman selain aku,” Elia mengonfirmasi. Bea mengangguk, mengakui. “Tapi, di kampus kau tampak baik-baik saja. Yah, kau memang tampak tertutup, tapi selebihnya, kau tampak baik-baik saja,” tuntut Elia. “Itu karena mereka semua orang baru yang tidak asal menghakimiku. Mereka juga tampak tak acuh padaku. Itu … membuatku merasa sedikit aman. Lagipula, sejak awal aku sudah berjanji, aku harus menjadi lebih kuat agar tidak membuat Radit khawatir lagi. “Di kampus, aku sangat menyukai apa yang kulakukan. Aku terlalu sibuk dengan tugas kuliahku, sampai aku bahkan tidak peduli meskipun aku tidak punya teman. Sampai aku bertemu denganmu. Dan kau … tampak begitu tulus untuk berteman denganku. Kau … mengingatkanku pada …” Bea menggantungkan kalimatnya. “Ara pasti gadis yang sangat baik,” Elia mengisi kekosongan kalimat Bea itu. “Dia juga sudah sangat bersabar menghadapimu, bukan begitu?” Bea tersenyum sendu seraya mengangguk. “Aku tidak bermaksud membandingkanmu dengan Ara, atau berteman denganmu karena kau mengingatkanku pada Ara. Kenyataannya, Ara tidak secerewet dirimu. Dia lebih sabar dan tidak sefrontal dirimu. Dia juga tidak membuat daftar keanehanku.” Elia tertawa mendengar kalimat terakhir itu. “Good point, Be.” “Tapi, aku melihat ketulusan yang sama di matamu,” Bea melanjutkan. “Ketulusan yang sama seperti yang kulihat di mata Ara. Karena itu, aku … mencoba membuka diri …” “Meski belum sepenuhnya membuka diri,” Elia menambahkan. Bea tersenyum menyesal, tapi ia mengangguk. “Aku tahu, kau marah padaku. Tapi, kali ini jangan terlalu keras padaku. Aku bahkan pingsan di depanmu tadi.” Elia mendesis kesal dan memukul lengan Bea. “Aku rasanya nyaris ikut pingsan di sana tadi.” Bea meringis. “Maaf.”   Elia menghela napas. “Yah, setelah mendengar cerita Radit, aku bisa sedikit memahamimu. Setiap orang butuh waktu dan kekuatan untuk mengungkapkan kebenaran,” ucapnya.   “Dan kau memberiku keduanya, Li,” ucap Bea penuh syukur. “Terima kasih.” “Kau harusnya berterima kasih pada Radit,” ucap Elia sembari mengedik ke belakang Bea. Bea menoleh dan melihat Radit yang tampaknya sedang menunggu pesanan mereka. Bahkan setelah selama ini … Bea masih berutang terima kasih pada pria itu. Bea kembali menatap Elia ketika sahabatnya itu menjentikkan jari di depan wajahnya. “Kau masih belum menceritakan tentang dia,” kata Elia tajam. Bea berdehem seraya mengusap tengkuknya dengan canggung. Mendadak, Bea menjadi sangat tertarik dengan pola langit-langit kafe itu, meski tidak ada yang istimewa di sana. Namun, Bea terus menatap ke sana hanya untuk mencegah menanggapi Elia tentang topik itu. “Jika kau tidak mau memberitahuku, aku akan memberitahu Radit bahwa kau masih menyukainya,” ancam Elia tiba-tiba. Bea melotot panik pada gadis itu. “Memberitahunya apa? Jangan gila kau! Siapa yang menyukainya? Siapa yang masih menyukainya? Memangnya dia itu mantan pacarku?” “Memangnya bukan?” Elia mengerutkan kening. “Tentu saja bukan,” tukas Bea. “Kami tidak pernah berkencan ataupun menjadi pasangan kekasih. Kami hanya … berteman.” “Tapi, kau menyukainya,” tandas Elia tak terima. “Memangnya aku mengatakannya?” Bea mendelik galak. “Kau tidak perlu mengatakannya untuk membuatku tahu,” sengit Elia. “Kau bahkan tak berkedip ketika melihatnya tadi sampai aku menyadarkanmu.”   Kontan Bea panik. Apalagi ketika Radit sudah kembali ke meja mereka dengan nampan berisi beberapa gelas minuman dan burger. “Kurasa kau masih suka es cokelat, kan?” Radit menatap Bea ketika mengangsurkan es cokelat di depan Bea. “Tidak,” Bea menjawab, bersamaan dengan Elia yang menjawab sebaliknya, “Masih.” Radit menatap mereka berdua bergantian dengan bingung. “Jadi, yang mana jawabannya?” tanya pria itu. “Dia masih menyukainya,” Elia mengulangi, seraya menatap Bea penuh arti. Bea berdehem sebelum berkata, “Oh, iya. Maksudku, iya, aku suka es cokelat. Aku … sama sekali tak menduga kau masih ingat.” Radit tak mengatakan apa pun ketika memberikan gelas berisi jus jeruk di depan Elia. “Aku tidak tahu apa kau suka, tapi …” “Aku suka jus,” sela Elia. “Terima kasih, Radit.” Radit mengangguk ketika menyusul membagikan burger. “Cheese burger tanpa selada dan tomat,” Radit berkata seraya memberikannya pada Bea. Elia mengangkat alis pada Bea. “Dia benar-benar pembenci sayur yang parah,” komentarnya. Selama ini, Bea memang selalu anti-sayur. Sepertinya, Radit juga tahu tentang fakta itu. “Ketika masih SD, dia pernah tersedak sayur dan menangis karenanya. Dan, dia pernah memakan sawi yang rasanya pahit. Juga, dia pernah hampir memakan sayur yang ada … maaf, ada belatungnya,” Radit menjelaskan dengan lancar seraya memberikan burger Elia. “Kuharap kau tidak punya trauma dengan sayur,” katanya pada Elia. Elia tertawa seraya menggeleng. “I love it,” katanya mantap. Bea memutar bola mata menanggapi kerdipan jail Elia ke arahnya. Untuk mengalihkan pembicaraan seputar dirinya, Bea melemparkan pertanyaan pada Radit, “Bagaimana pekerjaanmu?” Radit terdiam sejenak sebelum menjawab, “Baik-baik saja sejauh ini.” “Bagus,” sahut Bea pendek. Elia menatap kedua orang yang kini tampak canggung dan kaku itu. Apa Bea tidak tahu bahwa Radit mencintainya? Dan, apa Radit juga tidak melihat salah tingkah Bea karena ada dirinya? “Kukira, kalian pernah menjadi sepasang kekasih,” celetuk Elia, mengejutkan kedua orang itu. “Tidak,” jawab mereka kompak. “Tidak pernah,” kompak, lagi. Lalu, suasana semakin canggung. Elia mengerutkan kening bingung. Jika mereka tidak pernah berpacaran, lalu apa ini? Kenapa sikap mereka seaneh ini? Masa lalu apa yang sedang mereka coba tutupi, atau hindari? “Elia,” panggil Bea kemudian. “Ya?” Elia menatap Bea heran. “Kurasa aku berutang satu cerita lagi padamu,” ucap Bea penuh janji. Elia tak dapat menahan senyumnya. Bea sudah menyerah. “Tentu saja. Kau punya sepanjang malam untuk bercerita,” sahutnya riang. Bea tak dapat menahan erangan pelannya ketika ia menunduk lesu. Oh, dia benar-benar benci masa lalu. Dan, yang paling dia benci dari semua itu, adalah yang tidak dapat ia lupakan. Tidak pernah bisa ia lupakan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD