-5- Yang Ingin Dilupakan

2129 Words
Ada hal-hal yang tak bisa kita lupakan Sekeras apa pun kita berusaha   Bea melangkahkan kakinya yang terasa berat. Ia bahkan sudah menarik hoodie birunya hingga menutupi kepala. Namun tetap saja, mual itu seolah mengacaukan isi perutnya seiring langkah yang ia ambil. Bea bisa merasakan keringat dingin menetes di pelipisnya. Padahal ini baru satu koridor, belum koridor yang lain, dan belum lantai dua. Bea menarik napas dalam-dalam, tak lagi mendengarkan ocehan Elia tentang gedung sekolahnya ini. “Kudengar dari ibumu, kelasmu ada di lantai dua, kan?” tanyanya seraya melangkah riang ke arah tangga. Bea bisa merasakan darah seolah lenyap dari tubuhnya. Tidak, jangan ke sana. Jangan ke ruangan itu. Namun, Elia tidak menoleh pada Bea dan sudah menaiki tangga itu. Bea menatap tangga itu dengan pucat. Ia melangkahkan kaki di anak tangga pertama, dan ia bisa merasakan tubuhnya gemetar. Biasanya, Radit berdiri di sebelahnya, menggenggam tangannya, atau bahkan merangkulnya. Namun, kali ini … Bea benar-benar mual dan nyaris muntah ketika menaiki anak tangga kedua. Dan Bea terus naik ke anak tangga berikutnya. Lalu di anak tangga keempat, Bea benar-benar sudah kehilangan kekuatannya. Tubuhnya mendadak lemas. Bea berusaha berpegangan pada susuran tangga, tapi terlewat. Bea bisa merasakan tubuhnya limbung ke belakang. Dipejamkannya matanya, menunggu rasa sakit di tubuhnya. Samar, ia mendengar suara teriakan panik Elia. Lalu, dirasakannya sepasang lengan menangkap tubuhnya, dan tanpa kesulitan, mengangkatnya. Tidak mungkin ini Elia. Bea membuka matanya dan dia melihat wajah Radit yang tampak … marah? “Ra … dit …” gumam Bea pelan. “Dasar bodoh,” balas Radit tanpa menatapnya. “Kenapa kau masih juga datang ke tempat ini jika keadaanmu masih seperti ini?” Bea tak tahu harus menjawab apa. Ia juga tidak tahu kenapa ia tidak mengatakan yang sebenarnya pada Elia. Ia tidak tahu … Dan, semuanya pun gelap. *** “Astaga, apa yang terjadi padanya?” panik Elia seraya menghampiri Radit yang sudah menggendong Bea yang tak sadarkan diri. “Oh, apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus membawanya ke rumah sakit?” “Tidak perlu. Dia hanya pingsan,” jawab Radit seraya menoleh pada Elia. “Tapi … apa Bea tidak mengatakan padamu tentang sekolah ini? Apa dia tidak pernah menceritakan apa pun padamu tentang masa lalunya?” Elia menggeleng bingung. “Dia tidak pernah membicarakan keluarganya, atau teman masa sekolahnya. Dia selalu menghindarinya setiap kali aku ingin membahasnya. Dia … apa yang sebenarnya terjadi?” Elia menatap Bea cemas. “Astaga, gadis ini …” geram Radit seraya membawa Bea ke gerbang depan. Radit mendudukkan Bea di tempat duduk di dekat gerbang dan menyandarkan tubuhnya ke tubuh Radit. “Dia … punya traumatis, apa kau tahu itu?” Elia mengerutkan kening. “Trauma? Yang aku tahu, dia hanya … terkadang terlalu perfeksionis akan beberapa hal,” sahut Elia. “Apa itu berhubungan dengan traumanya?” Radit menghela napas dan mengangguk. “Dia bukan perfeksionis. Itu hanya efek dari trauma dan sepertinya dia mulai mengalami gangguan kecemasan dan fobia. Dia selalu mengecek semua barang yang akan dipakainya, barang spele seperti gelas dan piring sekalipun, sebelum memakainya, itu bukan tanpa alasan. Dia punya trauma tentang itu,” terang Radit. Elia terkesiap. “Separah itu?” tanyanya tak percaya. Seorang Bea yang tampak selalu kuat dan tidak membutuhkan orang lain, Bea yang bahkan bisa bertahan jauh dari orang tuanya dan menghadapi hidupnya seorang diri, ternyata dia punya alasan sendiri untuk itu? Radit mengangguk. “Dia juga benci tempat berdebu, dia benci ruangan sempit dan pengap, dia benci tempat asing. Dia punya alasan tentang itu. Ketika masih SD, dia pernah terkunci di gudang sekolah yang sempit, pengap dan kotor, saat bermain bersama teman-temannya. Semalaman dia di tempat itu, sendirian, hingga besok paginya penjaga sekolah mendengar suara tangisannya dan menyelamatkannya. Dia punya trauma dengan itu, sepertinya hingga saat ini. Bahkan ibu Bea selalu membersihkan kamarnya meski Bea tak ada di sana.” “Astaga, Bea …” Elia tampak merasa bersalah ketika menatap Bea. “Aku bahkan tak tahu apa pun tentang itu dan selalu mengomelinya dan menyebutkan perfeksionis menyebalkan.” “Itu bukan salahmu, toh Bea sepertinya sengaja tak mau menceritakan itu.” Radit menatap wajah Bea. “Dan tentang sekolah ini … dia juga punya trauma dengan sekolah ini. Ada yang dia takuti di sini.” “Di sekolah ini? Tapi … bagaimana mungkin? Ini hanya sekolah, kan?” Elia tampak tak percaya. “Tapi, itulah kenyataannya. Padahal dulu, ketika masih SD, dia sangat suka pergi ke sekolah. Dia bercerita padaku bahwa dia selalu bersemangat, selalu menjadi murid paling rajin dan percaya diri di kelasnya. Tapi ketika di SMP, dia berubah. Ada salah satu guru bahasa Inggris yang sepertinya tidak menyukainya dan selalu menunjukkannya dengan jelas di depan murid lain.” Radit  teringat bagaimana dulu Bea kesulitan melewati hari-hari sekolahnya karena itu. “Saat itu, aku belum mengenal Bea. Tapi, melihat bagaimana guru itu terus menyalahkan Bea, bahkan bersikap sinis padanya, aku jadi merasa kasihan pada Bea. Kudengar, itu karena masalah pribadi guru itu. Dia punya murid kesayangan yang prestasinya kalah dari Bea. Karena itu dia memperlakukan Bea dengan buruk dan membuat Bea kehilangan kepercayaan dirinya.” “Itu sangat tidak adil untuk Bea!” kesal Elia.   Radit mengangguk setuju. “Awalnya, aku dan Bea tidak terlalu dekat. Dia sempat punya sahabat kala itu. Satu-satunya sahabat Bea saat itu, Ara. Dia juga tahu tentang masalah Bea dan traumanya. Suatu waktu, aku pernah membela Bea ketika guru kami itu menyalahkannya.” “Setelah kejadian itu, Ara mengajakku berteman, memperkenalkanku dengan Bea. Aku tidak tahu alasan Ara melakukan itu. Sampai dua bulan kemudian.” Radit menghela napas. “Kejadian itu sangat membuat Bea terpukul. Ara adalah satu-satunya sahabat yang mengerti dia, yang selalu menjaga dan menguatkannya. Tapi, Ara pergi. Untuk selamanya. Ara tidak pernah mengatakan bahwa dia menderita kanker otak. Itulah alasannya mengajakku berteman dan mengenalkanku pada Bea. Dia berharap … aku bisa berada di samping Bea setelah dia pergi.” Elia menarik napas dalam. “Lalu, bagaimana dengan Bea?” Radit tersenyum getir. “Bagaimana lagi, menurutmu? Dia sangat terpukul hingga semakin menutup diri.  Bahkan selama beberapa hari setelah kepergian Ara, Bea terus saja menghindariku, tapi akhirnya aku berhasil memaksanya untuk menerimaku kembali. Kelihatannya seperti aku sangat tergila-gila padanya, huh?” canda Radit. Elia tersenyum seraya menyusut air mata di sudut matanya. Ia sama sekali tidak tahu jika Bea memiliki masa lalu sepedih itu. Elia selalu berpikir, masa lalu Bea sempurna. “Setelah Ara pergi, Bea memang menerimaku, tapi dia masih menjaga jarak, membuat batasan. Sampai pada suatu hari, di tahun kedua kami, ibuku jatuh sakit, dan meninggal,” Radit melanjutkan. Elia terkesiap. “Astaga, aku turut berduka. Aku … tahu bagaimana rasanya,” ungkapnya tulus. Radit tersenyum penuh terima kasih seraya mengangguk. “Kau juga kehilangan ibumu saat kau masih kuliah, kan? Ibu Bea memberitahuku.” Elia mengangguk. “Aku turut berduka untuk ibumu,” ucap Radit tulus. Elia tersenyum. “Kau … pasti sangat terpukul karena kehilangan itu, kan?” Radit mengangguk mengakui. “Aku sangat dekat dengan ibuku. Jadi, ketika ibuku pergi, aku … yah, aku berusaha untuk tetap kuat, tapi … selama ini, ibuku adalah kekuatanku. Darinya, aku mengenal hidup, mengenal dunia. Ibuku … adalah duniaku.” Radit menunduk menatap Bea. “Ketika kupikir duniaku hancur, Bea ada di sana. Gadis keras kepala ini menyusulku ke makam ibuku dan tidak mau pulang jika aku juga tidak pulang. Kami menangis bersama di depan makam ibuku.” Radit mendengus geli teringat kejadian itu. “Bea bingung ketika aku mulai menangis dan dia ikut menangis, katanya.” Elia tersenyum geli. “Bea … dulu sepolos itu, ternyata.” Radit mengangguk. Bahkan mungkin hingga saat ini. “Kami jadi semakin dekat sejak saat itu. Dia juga tahu tentang buruknya hubunganku dengan ayahku. Ayahku menikah lagi dua bulan setelah ibuku meninggal. Dan ibu tiriku yang tidak menyukaiku, selalu mengatakan hal-hal buruk tentangku, yang bahkan tidak kulakukan. “Karena itu, aku bersyukur ketika akhirnya bisa mengenal orang tua Bea. Mereka sangat baik padaku. Mereka menyayangiku dengan tulus, meskipun aku hanyalah orang asing. Bahkan ketika aku SMA, ketika aku mengatakan pada ayahku bahwa aku ingin keluar rumah dan kos sendiri, orang tua Bea yang justru melarangku. Mereka menawariku tinggal di rumah mereka. “Awalnya aku tidak mau, tapi Bea menggodaku dengan mengatakan bahwa aku tidak mau tinggal serumah dengannya karena takut jatuh cinta padanya,” Radit lagi-lagi mendengus geli mengingat masa-masa itu. “Dan dia mengalahkanmu dengan itu?” sebut Elia geli. Radit lagi-lagi harus mengangguk mengakui. “Jadi akhirnya, aku menghabiskan masa SMA-ku seperti putra angkat di keluarga Bea. Dan, otomatis, aku dan Bea selalu bertengkar setiap hari. Tapi ternyata, trauma Bea masih berlanjut hingga di SMA. Dia selalu merasa takut dan cemas berlebihan setiap kali jam pelajaran bahasa Inggris. Untungnya, guru bahasa Inggris kami sangat baik padanya. Seandainya semua guru di sekolah sepertinya, sekolah pasti akan sangat menyenangkan.” Radit tersenyum. “Kau tampaknya sangat mengagumi gurumu itu,” komentar Elia.   Radit mengangguk. “Berkat guruku itu, Pak Mijo, Bea berusaha bangkit dan melawan ketakutannya. Berkat Pak Mijo, Bea jadi mendapatkan kepercayaan dirinya lagi. Namun, dia masih tertutup pada teman-teman yang lain. Dia tidak punya teman selain aku di SMA. Dia benar-benar menutup diri dari hubungan dengan orang lain. Selama tiga tahun di SMA, dia hanya punya satu teman, yaitu aku.” Elia mengernyit kecil. “Kenapa dia melakukan itu?” “Bea masih sulit menerima orang baru setelah kehilangan Ara. Dan kenyataan bahwa ketika di SMP tidak ada seorang pun teman yang membelanya selain Ara dan aku setiap kali dia disalahkan oleh guru bahasa Inggris kami waktu itu, membuatnya hilang kepercayaan pada teman-temannya.” Radit menatap Elia. “Karena itu, aku agak terkejut ketika dia pulang membawa temannya.” Radit tersenyum kecil. “Dan aku lega, karena dia tidak sendirian.” “Jika Bea tak punya teman selain dirimu, apa itu berarti, dulu kalian selalu bersama-sama ketika di sekolah?” tanya Elia. Radit mengangguk. “Aku bahkan menemaninya di semua kegiatan ekskul dan kegiatan di luar jam sekolah lainnya.” “Dan kau … tidak keberatan dengan semua itu?” heran Elia. Radit tersenyum dan menggeleng. “Sama sekali tidak. Saat itu, ketika aku harus hidup tanpa keluargaku, aku menemukan keluarga baru yang menerima dan menyayangiku dengan tulus.” Radit menatap Bea dengan lembut seraya mengusap kepala Bea. Elia mengamati cara Radit menatap Bea dan keningnya berkerut. Perjuangan Radit untuk menjaga Bea itu, bukankah itu sedikit terlalu berlebihan? “Radit, aku penasaran. Apakah kau … mencintai Bea?” tembak Elia saking penasarannya. Tangan Radit yang sedang mengusap kepala Bea, terhenti di udara. Tubuhnya langsung tegang. Radit tidak menoleh pada Elia ketika menjawab, “Aku pernah mencintainya.” Elia menyipitkan mata. Pernah? Apakah sekarang tidak lagi? Elia tidak mengatakan apa pun lagi, sementara Radit menurunkan tangannya. Keduanya saling diam selama beberapa saat kemudian, sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga Bea mulai sadar. “Lia … astaga … aku bermimpi buruk …” erang Bea seraya mengangkat kepala dari bahu Radit. Matanya masih terpejam sementara dia memijat pelipis. “Aku tidak tahu bagaimana bisa …” Kalimat Bea terputus ketika dia membuka mata dan melihat Radit, Elia, lalu menatap sekelilingnya. Wajahnya memucat dengan cepat, lalu Radit kembali menarik Bea ke dekatnya. “Tidak apa-apa, Bea. Semuanya baik-baik saja. Aku di sini, tidak ada yang perlu kau khawatirkan,” Radit berkata seraya mengusap lengan Bea, berusaha menenangkan gadis itu. Tatapan Bea tampak kosong ketika dia mengangguk. Lalu, Radit melepaskan rangkulannya, menyentuh wajah Bea dan memaksa Bea menatapnya. “Sudah kubilang, tidak apa-apa, Bea. Aku di sini, oke? Kau akan baik-baik saja,” Radit menekankan. Tatapan kosong Bea lenyap, lalu gadis itu mengangguk. “Ayo kita pergi dari sini,” ucap Radit seraya membantu Bea berdiri. Bea tidak mengatakan apa pun, dan hanya mengangguk. “Be, katakan sesuatu,” desak Radit. “Aku … aku … masih terkejut, aku tidak … kau …” Bea tergagap, lalu ia menggelengkan kepalanya, menarik napas dalam, dan berkata dengan lebih yakin, “Iya, kau ada di sini. Kau ada di sini dan semuanya akan baik-baik saja.” Radit tersenyum lega. Ia lalu menoleh pada Elia untuk berkata, “Aku akan membawanya dengan mobilku. Kau ikuti mobilku, oke?” Elia mengangguk seraya mengikuti Radit yang sudah merangkul Bea dan membawa gadis itu ke mobilnya. Ketika Radit sudah berputar ke sisi kemudi dan hendak membuka pintu mobilnya, Elia berkata, “Masih. Kau masih mencintainya.” Pernyataan. Radit membeku di tempatnya, sementara Elia berbalik untuk menghampiri penjaga sekolah yang menyapu di tepi jalan di depan sekolah, mengucapkan terima kasih, dan masuk ke mobilnya. Klakson mobil Elialah yang akhirnya menyadarkan Radit. Dan Elia bisa melihat Radit mengumpat pelan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Elia tak dapat menahan senyum ketika mulai melajukan mobilnya mengikuti mobil Radit. Ini benar-benar menarik, dan semakin menarik. Radit, bukan sekadar orang asing dari masa lalu Bea. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD