People said, the good memories stay forever
But, the bad one would never be erased
“Ayo kita pergi ke sekolahmu,” ajak Elia riang seraya mengemudikan mobil ayah Bea meninggalkan rumah Bea.
“Kau … kau tahu sekolahku?” panik Bea.
Elia mengangguk. “Aku bertanya pada orang tuamu. Kita ke SMP-mu dulu, oke?” putus Elia.
Elia tak menunggu jawaban ataupun persetujuan Bea ketika ia melajukan mobil di jalan raya. Elia bahkan tidak perlu bertanya pada Bea tentang jalanan itu. Tampaknya dia sudah benar-benar mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah Bea. Di depan salah satu SMA di kota Madiun, Elia menoleh dengan penasaran.
“Itu SMA-mu kan, Be?” tanya sahabatnya itu.
Bea hanya mengangguk.
“Nanti setelah dari SMP-mu, kita mampir ke situ, ya?” ajak Elia sembari melajukan mobilnya, menuju sekolah yang menjadi awal petaka Bea itu.
Ketika mereka melewati jalan DR. Sutomo, Bea semakin tegang. Biasanya, Radit yang menenangkannya. Hanya saja, saat ini tidak ada Radit. Dan tidak akan ada lagi Radit di sini. Pikiran itu membuat Bea semakin takut, kalut. Bea menarik napas dalam sembari meremas kedua tangannya, berusaha menenangkan diri. Melihat sikap Bea itu, Elia melirik Bea curiga.
“Be, kau baik-baik saja?” tanya Elia.
Bea menggeleng, berusaha menjaga kepalanya tetap jernih. “Aku baik-baik saja,” Bea menjawab pelan. “Kau … benar-benar sudah hafal jalannya?”
Elia mengangguk bangga. “Aku ini punya ingatan yang kuat, kau tahu?” sombongnya.
Bea tertawa gugup. Ya, ia tahu itu. Bea sendiri untuk beberapa hal, ingatannya bisa bertahan dengan sangat baik. Terutama yang berhubungan dengan kenangan buruk. Entah bagaimana, masa lalu itu terus saja hidup dalam ingatannya, dalam dirinya, dalam hidupnya.
***
Di depan gerbang sebuah gedung SMP bernuansa cokelat, akhirnya Elia menghentikan mobil. Bea melirik panik gerbang yang dikunci itu. Diam-diam, dia mendesah lega.
“Li, gerbangnya terkunci. Ayo kita pergi ke tempat lain saja. Kita bisa …”
“Tunggu, ada penjaga sekolahnya,” sela Elia bersemangat. Ia pun melompat turun dari mobil dan menghampiri penjaga sekolah yang sedang membersihkan halaman sekolah dari luar pagar.
Bea berdoa dalam hati, semoga penjaga sekolah itu tidak mengizinkan mereka masuk. Namun Bea teringat, dulu ketika buku tugas Bea tertinggal di sekolah dan sekolah sudah tutup, ibunya juga pergi ke sekolah untuk mengambilkan buku itu untuk Bea. Dan ibunya kembali ke rumah dengan membawa buku tugasnya. Dengan kata lain, penjaga sekolah itu masih membiarkan orang luar masuk meski jam sekolah sudah berakhir. Bea semakin panik. Ia pun lantas turun, hendak meminta Elia agar tidak mengganggu penjaga sekolah itu, tapi ia terlambat.
“Ayo, Be!” ajak Elia riang seraya berjalan ke gerbang.
Bea tergugu, selama beberapa saat kehilangan kemampuan bergerak dan berbicara, sampai ketika Elia kembali berteriak memanggilnya. Dengan langkah lemas, Bea mengikutinya dengan kepala tertunduk.
***
“Halo, Tante, aku sedang dalam perjalanan ke rumah Tante. Aku baru saja membeli terang bulan kesukaan Tante dan Om. Coklat kacang dan coklat keju, kan?” Radit menelepon ibu Bea.
“Wah, Radit, kenapa kau jadi repot-repot begitu?” sahut ibu Bea seraya tertawa. “Baiklah, cepatlah kemari. Tadi pagi kau buru-buru sekali pergi.”
“Iya. Oh, tapi … apakah Bea ada?” tanya Radit hati-hati..
“Tidak, tidak ada. Dia sedang jalan-jalan dengan Elia, temannya tadi,” sahut ibu Bea.
Radit mendesah lega. Meski sedikit janggal karena akhirnya Bea mau jalan-jalan di kota ini, tapi ia tetap bersyukur karena absennya Bea di rumah itu saat ini. “Baiklah, aku akan segera ke sana,” ucapnya lega, terlalu lega.
Radit mempercepat laju mobilnya. Dia harus datang, dan pergi, sebelum Bea kembali. Begitu mobilnya tiba di rumah bernomor delapan itu, bergegas Radit turun dari mobilnya dengan plastik berisi dua kotak terang bulan. Ketika ia tiba di rumah itu, seperti biasanya, orang tua Bea menyambutnya hangat. Dia selalu merasa pulang setiap datang ke rumah ini. Satu-satunya tempatnya untuk pulang.
“Ini, Radit bawakan terang bulan kesukaan Om dan Tante.” Radit meletakkan plastik putih itu di meja depan televisi, lalu duduk.
Ibu Bea tersenyum seraya membawa plastik itu ke dapur dan memindahkannya ke piring.
“Kau ini, kenapa selalu repot-repot seperti ini?” tegur ayah Bea.
“Aku sudah menganggap Om dan Tante sebagai orang tuaku. Kenapa masih bertanya?” sahut Radit, berpura-pura kesal.
Ayah Bea tertawa. “Bea saja tidak pernah melakukan ini,” katanya.
Radit mendesah diam-diam. Radit tahu, betapa kesepiannya orang tua Bea selama ini. Memang, Bea membangun rumah ini untuk orang tuanya. Namun, rumah berlangit-langit tinggi ini, tampak begitu besar dan kosong karena hanya ditinggali pasangan itu, dan seorang asisten rumah tangga.
“Tapi, dia sangat memperhatikan Om dan Tante. Dia membuatkan orang tuanya rumah, apa Om dan Tante tidak bahagia?” goda Radit.
Ayah Bea tersenyum. “Benar. Tapi, rumah ini tampak sangat kosong, kan? Aku tidak tahu, kenapa dia membangun rumah sebesar ini jika dia tidak pernah pulang,” ucapnya.
Diam-diam Radit mendesah. Mungkin dia harus membicarakan masalah ini dengan Bea. Mungkin …
“Oh iya, Dit, tadi Elia mengajak Bea ke sekolahnya. Ke SMP dan SMA-nya,” beritahu ibu Bea ketika ia kembali dengan piring berisi kue terang bulan. “Kenapa kau tidak ikut dengan mereka sekalian mengunjungi sekolahmu itu? Kau juga sudah lama kan, tidak ke sana?”
Radit mengerutkan kening. “Ke … sekolah? SMP dan … SMA?” tanya Radit ragu. Bea tidak mungkin mau menginjakkan kaki ke dua tempat itu lagi. Lalu, apa yang membawanya ke sana?
“Iya. Tadi Elia melihat-lihat foto masa kecil Bea. Anak itu benar-benar baik. Dia sangat dewasa. Tidak seperti Bea. Orang tua Elia pasti tidak perlu khawatir padanya. Ayahnya sibuk di Australia dan pulang ke Jakarta setiap dua minggu sekali, sementara ibunya sudah meninggal ketika dia kuliah. Tapi, dia tampak baik-baik saja. Seandainya Bea bisa seperti Elia, mungkin kami tidak perlu mengkhawatirkannya setiap kali dia jauh dari kami,” cerita ibu Bea. “Elia penasaran dengan sekolah Bea ketika kami menceritakan bahwa kau dan Bea bertemu di SMP, dan bersahabat sejak saat itu, meski sekarang kalian jarang bertemu.”
Radit mengumpat dalam hati, seraya berdiri tiba-tiba. “Om, Tante, aku akan menyusul Bea dulu,” katanya cepat. Lalu, tanpa menunggu jawaban orang tua Bea, Radit bergegas keluar, meninggalkan orang tua Bea saling menatap bingung.
Radit mengemudikan mobilnya secepat mungkin. Namun, mobilnya tertahan di lampu merah. Sialnya, Radit kembali terhenti di lampu merah kedua. Radit mulai kehabisan kesabaran ketika mobilnya terhenti di lampu merah ketiga, menuju jalan tikungan ke arah sekolah mereka.
Radit menghentikan mobil di depan gedung SMA mereka. Tampak pintu gerbangnya sedikit terbuka. Radit bergegas masuk ke sana dan masuk lewat pintu samping menuju halaman. Namun, tak ada tanda kehadiran seorang pun di sana.
“Bea!” Radit berseru memanggil nama Bea, tapi tak ada jawaban selain gaung suaranya sendiri. Radit lantas teringat kata-kata ibu Bea tadi. SMA dan SMA. Jangan-jangan …
Sial! Radit berlari kembali ke mobilnya dan melajukan mobilnya secepat mungkin menuju SMP-nya dengan Bea dulu. Ia harus segera menemukan Bea. Sebelum semuanya terlambat.
***