Too much story
About you and I
That called memory
Setelah makan malam, Elia langsung pamit tidur pada orang tua Bea dan Radit, lalu menarik Bea ke atas. Tentu saja, tujuannya bukan untuk tidur, melainkan untuk menginterogasi Bea tentang masa lalunya bersama Radit, lagi.
“Jadi, Radit selalu menjagamu selama masa sekolahmu, benar?” Elia memulai interogasinya begitu ia sudah menutup pintu.
“Sayang sekali, benar,” sahut Bea ketus.
Elia tersenyum lebar seraya naik ke tempat tidur, menata bantal sedemikian rupa di sandaran tempat tidur, dan bersandar di sana dengan posisi senyaman mungkin.
“Apakah ada cerita kepahlawanan, seperti ketika kau dalam bahaya, lalu dia menolongmu, seperti dalam novel-novelmu itu?” Elia menatap Bea penuh minat.
Bea mendesis. “Tentu saja tidak ada. Meskipun aku tidak terlalu disukai karena kecuekanku, tapi tidak ada yang benar-benar memusuhiku. Oh, kecuali Ayu. Iya, dia itu teman SD-ku. Sejak SD, dia memang tidak suka padaku. Aku pintar, selalu juara kelas, guru-guru menyukaiku. Tentu saja dia iri. Dan, siapa sangka, kami kembali bertemu di SMA. Di SMA pun, dia tidak bisa mengejarku sampai ke kelas unggulan. Dia pasti semakin membenciku sejak saat itu,” ceritanya. “Sepertinya dia terobsesi padaku.”
“Ah, tokoh antagonis yang menyebalkan. Lalu, apa yang kau lakukan padanya?” Elia mulai tak sabar.
“Aku tidak melakukan apa pun, selain hanya membuatnya kesal. Ah, tidak juga. Aku hanya menanggapinya jika dia memulai lebih dulu. Tapi, aku tahu satu rahasianya yang menurutku paling lucu. Dia suka pada Radit.” Bea tertawa geli.
“Radit memang cukup populer. Dan salah satu murid perempuan yang menyukai Radit adalah Ayu. Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran gadis itu. Dia selalu berdandan setiap kali di sekolah. Membawa sisir, catok rambut, bedak, make up, dan benda-benda tidak penting lainnya. Pantas saja dia bahkan tidak bisa masuk kelas unggulan,” dengus Bea.
“Apa kau cemburu karena dia menyukai Radit, dan dia cantik?” goda Elia.
“Siapa yang cemburu? Lagipula, siapa yang bilang dia cantik?” sengit Bea.
Elia tertawa. “Kenapa kau jadi galak sekali? Jika memang itu tidak benar, tidak perlu marah-marah seperti itu.”
Bea melirik Elia dengan sebal, sebelum kemudian mengambil napas dalam untuk menenangkan diri. “Ayu selalu saja membuatku kesal. Dia itu … benar-benar rubah betina,” geram Bea.
“Separah itu?” Elia benar-benar tertarik.
Bea menganggup mantap.
***
“Wah, tumben Radit tidak mengawalmu.” Komentar itu datang dari murid perempuan yang sedang sibuk berdandan di sebelah Bea, di depan kaca di depan toilet guru.
Bea melirik sekilas gadis itu, lalu mengabaikannya dan melanjutkan acara cuci tangannya. Tangan Bea berlumur cat air warna biru. Ini semua karena Radit. Si bodoh itu benar-benar mengerjai Bea. Di akhir pelajaran Kesenian tadi, Radit sengaja menuangkan cat biru ke tissue Bea. Ketika Bea hendak membersihkan tangannya dari sedikit goresan cat di tangannya, bukannya bersih, tangannya malah berwarna biru. Seolah belum cukup sial, di toilet, ia masih harus bertemu dengan musuh abadinya, Ayu.
“Radit menunggu di belakang, karena jika dia ikut kemari, dia khawatir aku akan menyiramkan air ini padanya, yang pasti akan kulakukan dengan senang hati,” balas Bea santai.
Ayu mendengus kasar. “Aku tidak mengerti, kenapa dia mau dekat-dekat dengan gadis aneh sepertimu,” ucapnya jijik.
Bea mengepalkan tangan, keinginan untuk memukul wajah berpoles bedak dan make up itu memenuhi diri Bea. Tapi kemudian, dia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Bea tidak akan membuang waktunya untuk hal-hal konyol. Toh, ia tahu jika Ayu menyukai Radit. Dan Bea tahu, apa yang akan membuat Ayu kesal.
“Tentu saja karena dia menyukaiku,” Bea berkata dengan angkuhnya.
Ayu menyipitkan mata seraya menatap Bea. Mengabaikan Ayu, dengan santai Bea mengibaskan tangannya yang masih basah dengan air, membuat cipratan airnya ke mana-mana, dan sebagian mendarat di wajah bermake up Ayu. Gadis itu menggeram, tampak siap mengamuk. Dan Bea tak perlu menunggu bomnya meledak untuk kabur.
Radit mengerutkan kening ketika Bea berlari dari kran di samping toilet guru itu dengan tawa keras menyembur dari mulutnya.
“Apa kau kerasukan setan toilet?” Radit menatap Bea ngeri.
Bea menggeleng. “Ayo pergi. Sebentar lagi setannya akan keluar dan mengamuk,” katanya seraya menarik Radit pergi dari sana.
Radit menatap Bea tak mengerti, tapi ia mengikuti Bea dan berjalan pergi untuk kembali ke kelas mereka. Namun, di depan pintu kelas XI IA 2, atau tepatnya, kelas Ayu, gadis itu berteriak memanggil Radit. Bea mengerang, sementara Radit melirik Bea dengan bingung. Bea sudah menahannya dengan memegangi lengannya, tapi Radit tetap berbalik, sehingga Bea terpaksa berbalik juga. Bea berusaha mengabaikan bahwa semua teman-teman sekelas Ayu kini bisa melihat dia dan Radit.
Yah, jika Ayu berhasil mempermalukannya di sini, Bea tidak akan mau lewat kelas XI IA 2 lagi. Lebih baik ia berputar lewat koridor kelas sepuluh, atau lewat kantin, atau menerobos UKS dan koperasi, entahlah. Dan mungkin, dia akan mulai menggunakan toilet untuk murid, alih-alih toilet guru. Yang jelas, jika Ayu berhasil mempermalukannya di sini, Bea tidak mungkin bisa lewat sini lagi.
“Kenapa?” Suara dingin Radit membuat Ayu sedikit gentar, tapi tampaknya Ayu tidak akan menyerah sampai di situ.
“Kau tahu apa yang Bea katakan tentangmu?” Ayu memulai.
Suara keras Ayu tampaknya berhasil mengundang beberapa kepala melongok dari kelas masing-masing, termasuk dari kelas Bea, XI IA 1.
Radit menoleh untuk menatap Bea, tapi gadis itu hanya mengedikkan bahu.
Ayu tersenyum penuh kemenangan ketika melanjutkan, “Dia bilang, kau selalu mengikutinya, karena kau tergila-gila padanya. Karena kau menyukainya.”
Bea melirik Radit dengan cemas. Ketika Radit menoleh padanya, Bea menggigit bibir cemas. Dalam kepalanya, ia sudah membayangkan Radit akan menertawakannya.
“Dia memang pembual besar,” Ayu kembali berkata.
Bea mencelos mendengarnya. Namun, tak ada yang bisa dia lakukan untuk mendebatnya. Ketika ia akhirnya berani menatap Radit, pria itu menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. Baiklah, dia kalah. Bea sudah hendak berbalik, tapi Radit menahan lengannya. Dia lantas menggenggam tangan Bea, mengejutkan Bea, juga Ayu, dan tentu saja, para penonton mereka. Jam pergantian pelajaran memang adalah jam yang menyenangkan jika guru pelajarannya datang terlambat. Jika beruntung, selalu ada pertunjukan seru seperti yang dipertontonkan Bea saat ini.
“Dia bukan pembual. Jangan samakan dia denganmu. Daripada sibuk mengganggunya, lebih baik kau bersihkan cat-cat tidak jelas di wajahmu itu. Kau benar-benar mengerikan, kau tahu?” kata Radit kejam, sebelum kemudian, dia menggandeng Bea pergi dari sana, meninggalkan Ayu yang tampak shock dan tak sanggup berkata-kata. Dia benar-benar dipermalukan.
“Wow, kau menyelamatkanku.” Bea menatap tak percaya pada Radit. “Kupikir kau tadi akan menertawakanku di sana.”
Radit melirik Bea dan tersenyum geli. “Kau benar-benar tidak adil. Kenapa kau mengatakan bahwa aku menyukaimu dan tidak mengatakan bahwa kau juga menyukaiku?” protesnya.
Bea mendecak pelan. “Ah, benar juga. Aku tidak berpikir tentang itu tadi. Seharusnya tadi aku mengatakan bahwa kita berpacaran,” sesal Bea.
Radit tertawa. “Apa yang dia lakukan hingga membuatmu sekesal itu?”
“Yah, kau tahu kan, dia selalu saja membuatku kesal. Dan kau tahu dia menyukaimu. Aku nyaris saja meninju wajahnya tadi. Untung aku berhasil menenangkan diri di saat-saat terakhir. Dan tadi, dia mengatakan hal yang membuatku benar-benar kesal. Berani sekali dia berkata, kenapa kau mau dekat-dekat dengan gadis aneh sepertiku. Dia menyebutku aneh! Dia itu … benar-benar …”
Radit tertawa seraya merangkul Bea. “Aku kan, sudah membalasnya tadi. Ayo kita lupakan saja bahwa dia pernah ada,” saran Radit.
Bea mengangguk kuat. “Oh, dan tentang apa yang dia katakan tadi, dia juga berbohong. Aku tidak mengatakan bahwa kau tergila-gila padaku. Itu … terlalu ekstrim, kan? Aku hanya berkata bahwa kau menyukaiku. Sungguh,” ucap Bea, berusaha meyakinkannya.
Radit mendengus geli. “Sudah kuduga dia itu suka membual. Makanya, ayo kita lupakan saja bahwa dia …”
“Pernah ada,” sambung Bea cepat. “Setuju.”
Radit tertawa seraya mengacak rambut Bea.
***
“Wah, dia benar-benar keren,” desah Elia kagum.
“Ya, dia benar-benar menyelamatkanku saat itu. Jika dia mengelak dari pernyataanku itu dan malah mengatakan hal-hal buruk lainnya, atau bahkan menertawakanku, aku sudah bersumpah aku tidak akan mau lewat koridor itu lagi,” kata Bea sungguh-sungguh.
Elia tertawa mendengarnya. “Lalu, bagaimana dengan Ayu?”
“Yah, seperti yang sudah kami berdua sepakati, kami tidak pernah membicarakan dia lagi, atau bahkan melihatnya lagi ketika kami berpapasan dengannya. Dia benar-benar seolah tidak ada bagi kami,” jawab Bea riang.
Elia terbahak keras. “Kau benar-benar beruntung. Tapi, setelah kejadian itu, pasti Radit semakin dirugikan. Bukankah tadi kau bilang dia sangat populer? Pasti banyak gadis yang menyukainya, kan? Apakah dia … punya pacar?” Elia semakin tertarik dengan topik ini.
Bea merenung sebentar, memutar ulang kenangan masa lalu itu. “Benar. Dia sangat populer, memang. Banyak yang menyukainya, dan …”
“Apakah itu membuatmu kesulitan? Bersahabat dekat dengan pria sepopuler Radit?” goda Elia.
Bea mencibir. “Kenapa aku harus kesulitan? Aku tahu dia populer, tapi bukan berarti aku tidak populer. Kau tahu, aku pernah mencuri ponsel Radit dan membaca pesan-pesannya. Waktu itu kita masih menggunakan SMS. Ada beberapa SMS dari teman laki-laki, beberapa dari kelas lain, yang menanyakan apakah dia berpacaran denganku, dan apakah aku punya pacar. Ketika aku menunjukkan pesan itu pada Radit, Radit bilang dia tidak memberikan jawaban apa pun pada anak-anak itu. Dia bilang, jika pria itu cukup berani dan bisa melewati Radit, berarti dia pantas untukku.
“Tapi kenyataannya, tidak ada satu pun yang benar-benar berani menyatakan perasaan padaku. Itu semua karena Radit. Dia sangat populer. Dan dia rajin sekali menolak para gadis yang menyatakan cinta padanya. Parahnya, dia selalu menggunakan aku sebagai alasan. Ah, dia benar-benar menyebalkan …” gerutu Bea. “Dia menolak para gadis itu, dan otomatis semakin mengecilkan keberanian para pria yang ingin mendekatiku. Mereka pasti berpikir jika aku dan Radit benar-benar berpacaran. Ck, Radit adalah orang yang menghancurkan kisah cinta masa remajaku.”
Tawa Elia kembali memenuhi kamar Bea. Gadis itu lalu memperbaiki posisinya agar semakin nyaman. “Ceritakan padaku, bagaimana bisa begitu?”
Bea mendesah berat. “Itu adalah saat-saat yang melelahkan,” keluhnya.
***