-8- Memories

2097 Words
When you cried I’d wipe away all of your tears When you screamed I’d fade away all of your fears And I hold your hand through all of this years But you still have all of me My Immortal-Evanessence    “Radit!” Bea menerobos masuk ke kamar Radit ketika Radit belum juga muncul di meja makan meski jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Bea benar-benar kaget ketika melihat Radit masih tidur. Bea menghampiri tempat tidur Radit dan mengguncang tubuh Radit dengan kasar untuk membangunkannya. “Hei, bangunlah … ini sudah siang. Kita akan terlambat. Astaga … kau ini …” omel Bea seraya menepuk bahu Radit dengan keras. Radit mengerang. “Be, aku pusing,” keluhnya. “Apa maksudmu dengan kau pusing?” Bea benar-benar kaget. Radit akhirnya membuka mata dan menatap Bea. Dia mendecakkan lidah kesal seraya berusaha duduk. “Aku pusing. Saat ini, kau kelihatan dobel,” kata Radit lagi. Bea langsung panik seraya menyentuh kening Radit. “Sial, Radit … kenapa kau bisa demam di saat sepenting ini? Hari ini aku ada lomba pidato bahasa Inggris di kantor Dinas Pendidikan. Kau harus menemaniku ke sana. Ini adalah lomba pertamaku tahun ini. Aku tidak boleh gagal, kan? Ada kategori SMP juga. Di lomba itu nanti pasti ada murid SMP. Bagaimana jika ada Bu Anin di sana?” Bea semakin panik. Radit mengulurkan tangan, menepuk kepala Bea pelan. “Tidak perlu khawatir. Aku akan menemanimu,” katanya seraya menyibakkan selimut dan menurunkan kakinya ke lantai. Radit berdiri dengan limbung, sebelum kemudian dia berpegangan pada dinding. Bea menggigit bibir dengan cemas. Demamnya sangat tinggi. Seharusnya dia tidak boleh keluar rumah. Tapi … “Be, keluarlah. Aku akan bersiap-siap,” kata Radit pelan. “Aku … aku akan membantumu,” tawar Bea. Radit mendengus pelan. “Kau akan memakaikan seragamku?” Mendengar itu, Bea manyun. Ia lalu bangkit dari tempat tidur Radit. Ia menatap wajah Radit yang merah karena demam. “Kau tidak perlu ikut,” putus Bea kemudian. “Apa?” Radit menatap Bea seolah gadis itu sudah gila. Bea berusaha menguatkan tekad. “Kau tidak perlu ikut. Istirahat saja di rumah. Aku akan baik-baik saja.” Setelah berkata seperti itu, Bea berbalik, hendak pergi, tapi Radit menahannya. “Jangan coba-coba pergi tanpa aku. Tunggu di luar. Aku akan segera keluar. Sementara itu, hubungi Pak Mijo, katakan bahwa kau akan langsung menyusul ke tempat lomba,” tegas Radit, sebelum kemudian melepaskan tangan Bea dan berjalan ke lemari pakaiannya. Bea menatap Radit dengan cemas. Tapi, jika Radit sudah berkata seperti itu … *** “Jika Ibu tahu bahwa aku memaksamu pergi dalam keadaan seperti ini, Ibu pasti sudah mengomeliku habis-habisan,” keluh Bea ketika mereka sudah berada di dalam taksi menuju kantor Dinas Pendidikan Kota, tempat lomba diselenggarakan. “Oh, aku tidak melihat Tante tadi. Memangnya Tante pergi ke mana?” tanya Radit. “Ke pasar. Ibu sedang ingin berbelanja sendiri ke pasar,” sahut Bea. Radit hanya mengangguk-angguk, sebelum kemudian mengambil napas dalam. Lagi, dan lagi. “Kau mual?” Bea menatap Radit dengan cemas. “Sedikit,” Radit menjawab. Bea lalu meminta sopir taksi untuk berhenti di apotik di perempatan sebelum berbelok ke arah jalan menuju sekolah mereka. Bea membeli obat untuk Radit, lalu mampir ke warung kecil tak jauh dari apotik itu untuk membeli roti dan air mineral. Begitu Bea kembali ke taksi, dia meminta Radit memakan roti, lalu meminum obatnya. “Pahit,” keluh Radit ketika ia memakan rotinya. “Tapi, kau harus memakannya sebelum minum obatnya,” sahut Bea. “Kau kan, tadi belum makan apa pun.” Dan akhirnya, Radit kembali memakan roti itu, betapa pun pahit rasanya. Bea merasa bersalah karenanya. Namun, Radit tidak mengeluh dan hanya memakan roti itu hingga habis, sebelum kemudian meminum obatnya. Bea membantu Radit ketika mereka tiba di tempat lomba. Bea memapah Radit sampai ke ruangan tempat lomba dilaksanakan. Masih banyak kursi kosong, mengingat lomba baru akan dimulai jam setengah delapan nanti. Bea mengambil tempat di belakang, tepat di samping dinding, sehingga Radit bisa bersandar di sana. Sepuluh menit kemudian, ruangan itu sudah penuh dengan para peserta, dan kebanyakan peserta dari SMP. Perlombaan pertama memang adalah untuk kategori SMP, setelahnya baru SMA. Dan, seperti dugaan Bea, Bu Anin benar-benar datang bersama tiga murid binaannya. Bea bahkan bisa langsung merasakan kehadirannya sebelum melihatnya langsung. Radit yang menyadari ketegangan mendadak Bea langsung menoleh ke pintu masuk. Dilihatnya Bu Anin berdiri di depan meja pendaftaran, melakukan daftar ulang untuk mendapat nomor urut peserta. Radit lantas menoleh untuk menatap Bea yang sudah tertunduk dan tampak pucat. “Be, I’m here. Everything’s gonna be alright, okay?” Radit meraih tangan Bea dan menggenggamnya erat. Namun, itu tak membuat Bea mengangkat kepalanya. Radit benar-benar pusing dan ia sangat ingin tidur, mungkin pengaruh obat tadi. Namun, saat ini Bea membutuhkannya. Radit mendekat pada Bea, mengangkat dagu Bea. “Bea, look at me. Aku ada di sini, kau akan baik-baik saja. Dia tidak akan bisa membentakmu, berteriak padamu, ataupun menyalahkanmu, untuk apa pun. Kau dengar aku?” Radit menatap mata Bea yang memancarkan ketakutan. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah, lalu menggeleng. “Bea, kumohon, percayalah padaku. Aku tidak akan membiarkan dia menjatuhkanmu lagi. Percayalah padaku,” pinta Radit seraya mempererat genggaman tangannya. Dan akhirnya, Bea mengangguk. Radit tersenyum lembut padanya. Lalu, diusapnya rambut Bea dengan lembut. Perlahan, Bea mulai tenang dan bahkan sudah bisa tersenyum. “Kau benar-benar malaikat penolongku,” ucap Bea sungguh-sungguh. Radit mendengus seraya kembali bersandar ke dinding di sebelahnya. “Aku mengantuk. Ini pasti karena obatmu tadi. Kau yakin, ini bukan obat tidur?” Bea mendesis kesal pada Radit. “Seharusnya tadi aku membelikanmu obat cuci perut saja,” ucapnya penuh dendam. Radit tertawa seraya mengacak rambut Bea, membuat gadis itu berteriak protes padanya. Radit bahkan masih tertawa ketika Bea memukul lengannya dengan kesal. “Radit? Bea?” Suara itu membuat mereka seketika menoleh ke belakang Bea. Pak Mijo mengangkat alis melihat mereka sudah berada di sana. “Pak Mijo mengejutkan saya,” omel Bea. “Kenapa Pak Mijo baru datang?” Pak Mijo tersenyum geli. “Kalian yang membuat Bapak terkejut. Bukankah tadi kau bilang akan menyusul? Tapi, kenapa kau malah datang lebih dulu? Dengan Radit pula. Apa Radit membolos?” “Eh, itu …” Bea melirik Radit dengan panik. “Radit, wajahmu merah sekali. Kau kenapa?” Pak Mijo menatap Radit penasaran. Lalu, guru bahasa Inggris mereka itu menyentuh kening Radit dan menggumam kaget, “Astaga, kau demam!” Bea semakin merasa bersalah. Kehadiran Radit di sini adalah kesalahannya, padahal Radit sedang dalam keadaan demam tinggi. Bea menatap Pak Mijo penuh sesal. “Maaf, Pak, ini salah saya,” aku Bea. Pak Mijo menatap Bea bingung. “Apa yang sebenarnya terjadi, Bea?” “Bukan salah Bea, Pak,” Radit berkata. “Saya bisa menjelaskannya.” Pak Mijo lalu duduk di kursi tepat di belakang Radit. “Oke, jelaskan,” ucapnya. Bea menatap Pak Mijo dengan waswas. Ketika Radit hendak berbicara, Bea mencengkeram lengan Radit untuk menarik perhatiannya. Gadis itu menggeleng saat Radit menoleh padanya. “Tidak bisa seperti ini, Be. Pak Mijo sudah bersusah payah menumbuhkan kepercayaan dirimu dalam bahasa Inggris. Jika kau sendiri tidak berjuang untuk memerangi traumamu itu, usaha Pak Mijo akan sia-sia. Jangan egois di saat seperti ini.” Meskipun suara Radit terdengar begitu lemah, tapi ketegasan terdengar jelas di sana. “Radit benar. Apa kau tahu betapa sulitnya membuat murid yang tadinya begitu diam sepertimu hingga akhirnya begitu cerewet di kelasku?” sambut Pak Mijo. Maka, akhirnya Bea menarik tangannya dari lengan Radit. Radit benar. Pak Mijo adalah guru yang sangat baik. Dia tahu kemampuan Bea dalam bahasa Inggris. Dan sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, Pak Mijo membuat Bea kembali percaya diri dalam bahasa Inggris. Bea yang awalnya selalu paling diam dan pasif dalam pelajaran bahasa Inggris, mulai aktif dan semakin percaya diri karena Pak Mijo sering menunjuknya, melibatkannya dalam pelajaran, lalu memujinya untuk setiap keberhasilannya. Keberhasilan sekecil apa pun. Bahkan ketika Bea berhasil menyebutkan verb kedua dari kata write, Pak Mijo memujinya sepenuh hati. Pun ketika Bea berhasil mengeja namanya dengan alfabet bahasa Inggris dengan lancar, Pak Mijo tak pelit memberi pujian. Dan, dia juga begitu tulus dan peduli. Hingga akhirnya, Bea berhasil mendapatkan kepercayaan dirinya lagi dalam bahasa Inggris. Perlahan, Bea bangkit berkat Pak Mijo. Meskipun ia masih tertutup, dan semakin tertutup dari teman-temannya, tapi dia mulai aktif dalam pelajaran. Seperti kata Pak Mijo, Bea jadi begitu cerewet di kelas bahasa Inggris. Dan semua itu berkat Pak Mijo. Radit benar. Jika sampai Bea menghancurkan semua itu hanya karena trauma masa lalunya, ia tidak akan pernah berhasil dan hanya akan mengecewakan Pak Mijo dan Radit. Radit juga sudah bersusah payah untuk berada di sini. Bea hanya bisa pasrah mendengarkan Radit menceritakan tentang trauma Bea pada Pak Mijo. Begitu Radit mengakhiri ceritanya, Pak Mijo mengangguk-angguk. Gurunya itu menatap Bea simpati. Lalu, mengusap kepala Bea dengan penuh kasih. Dia tersenyum penuh pengertian pada Bea. “Radit sudah bersusah payah untuk berada di sini untuk mendukungmu. Kau tidak boleh gagal, kau mengerti, Bea? Jangan biarkan ketakutanmu menang. Kau harus menampilkan yang terbaik. Oke?” Pak Mijo memberi semangat pada Bea. Bea benar-benar terharu mendengarnya. Ia tersenyum seraya mengangguk. Ia merasa lebih kuat sekarang. “Kau begitu cerewet dalam pelajaranku di kelas, jika sampai kau gagal tampil hari ini, aku akan meledekmu sampai kau lulus,” ucap Pak Mijo. Bea mendesis kesal. Begitulah Pak Mijo. Guru yang selalu menempatkan dirinya sebagai teman untuk murid-muridnya. *** “I don’t understand why do people hate others. But I think, if someone hates you, it means she or he is envy of what you have. So let it be. Let them hate us as much as they want, while we’re busy enjoying our lives. There are people who hate me, but I prefer to think and care about people who love me. It was much better than the thought about the useless hatred of those who hate me. “Do you believe in miracle? Well, as long as you have people who love you, they are your miracle. They create miracles for us, whenever we need. Surprisingly, sometimes. But, that’s miracle. And I believe in it. “I think that’s all that I can delivered for this time. And I would like to thank my teacher, Mr. Mijo, who has taught me to be confidence, and be braver. Also, my best of bestfriend, who always strengthens me. And of course, for those who hate me, thanks for having time to care about me in your special way,” Bea mengedikkan bahu, membuat para juri dan penonton tertawa. “And finally, for the adjudicators, and all of the amazing audiences, thank you so much for your very nice attention. I’m Bea, let’s live happily!” Tepuk tangan menyambut akhir penampilan sempurna Bea. Pidato bertema motivasi yang dibawakannya tadi tampaknya membuat para juri puas. Bahkan Pak Mijo tampak sangat bangga. Ketika Bea duduk di tempat duduknya, teman-temannya yang lain menepuk pundaknya untuk memberi dukungan, sementara di sebelahnya, dengan mata terpejam, Radit berkomentar, “Nice speech, Bee.” Bea tak dapat menahan senyumnya. Jika bukan karena Radit, dia tidak akan bisa melakukannya. *** “Lalu, bagaimana hasil lombanya? Kau mendapat juara pertama?” Elia tampak bersemangat. Bea menggeleng. Elia mendesah kecewa. “Seharusnya kau menang, Be. Itu pidato yang benar-benar memotivasi. Kau tahu, banyak orang yang jatuh karena kritik pedas dari orang yang membencinya. Banyak orang menyerah karena ada begitu banyak orang yang menentangnya karena membencinya. Maksudku, para pembenci itu bahkan tidak mengenal orang itu dan mereka membencinya begitu saja.” Bea tersenyum. “Apa boleh buat? Sainganku adalah murid-murid dari SMA lain yang baru saja pulang dari pertukaran pelajaran di luar negeri. Astaga, mereka benar-benar sombong. Tapi, jika kau melihat mereka, kau tidak perlu bertanya untuk tahu bahwa mereka memang hebat dalam bahasa Inggris. Kau tahu? Aura mereka sangat kuat.” Elia mendecakkan lidah tak rela. “Kasihan Radit kalau begitu. Dia pasti sangat kecewa. Bahkan dia memaksakan diri untuk menemanimu ketika dia sakit.” “Kenapa dia harus kecewa?” debat Bea. “Aku memang tidak menang dan mendapat juara pertama, tapi aku menang sebagai favorite speaker, dan aku mempersembahkan kemenanganku untuk dia. Dia benar-benar senang hingga melupakan sakitnya.” Bea mencibir. Mata Elia melebar. “Benarkah?” Bea mengangguk, membuat Elia terbahak kemudian. “Kalian benar-benar menakjubkan,” kata Elia geli di sela tawanya. Bea hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ya, menakjubkan. Bahkan bagi Bea pun seperti itu. Sayangnya, itu hanyalah masa lalu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD