Rui termenung dengan kedua tangan terjulur di meja. Ingatan saat Ara mulai menangis karena ucapannya terus menghantui dirinya. Ditambah kenyataan bahwa ia menyukai gadis itu sejak SMA membuat perasaannya semakin kacau balau. Ia tidak mengerti. Meski ia sendiri nyaris tak percaya Ara adalah gadis yang mau menikahi seseorang karena harta, lantas karena alasan apa lagi? Mau dilihat dari sisi mana pun ia jelas-jelas tidak terlihat seperti mencintai Gil. Lantas apa? Tetapi raut sedih dan menyakitkan yang muncul pada wajah gadis itu kemarin jelas bukan kebohongan juga. Sebenarnya apa yang membuat Ara mau menikahi Gil? Apakah mungkin Gil mengancamnya? Tidak... Meski tak suka tetapi Rui tahu ayahnya bukan orang semacam itu. Ah, kenangan yang tak pernah ingin Rui ingat seumur hidupnya muncul lagi

