47. DNA

2395 Words
Cetakk.. bruk! Suara Ranting Duri pohon Bunga mawar yang patah Akibat Lilia pegang." Ah! Bagaimana Ini!" ucap Panik Lilia." Eh!" Drap.. drap.. drap! Suara langkah Lari cepat Davit ke arah Lilia. Taps!" Jangan pegang! Ini berduri bisa saja melukai tangan mu! Biar aku Saja, Aww!" ucap Davit yang terkena Duri Ranting Mawar Merah Itu. Xuan" Akhir nya Dapat!" Fikiran senang Xuan langsung menatap Bloson untuk Mengambil Ranting Yang terdapat Darah Davit. Xuan" Bagi seorang Pria seharus nya itu tidak menyakitkan Bukan.. mau ku ambil kan kotak obat?" ujar nya sembari tersenyum Davit" Tak perlu.. Jika telalu lama lagi Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Kami permisi." ucap nya sembari memegang Lilia dan bergegas pergi "Dia Cekatan juga.. sampai bertemu lagi Da.. vit!" Gumaman Xuan Dira. Sesampai di kediaman Luz." Bukan kah itu terlalu? Aku tau Sikap mu ini karena Kejadian Beberapa Hari lalu Namun Tuan Xuan Itu sangat baik tidak seperti yang kau pikirkan." ujar Lilia." Maaf jika sifat ku tadi membuat Mu malu, aku hanya tak Ingin seseorang melukai mu lagi." Saut Davit dengan wajah melas nya. Srett.. srett" Aku tak merasa malu.. namun kurangi Rasa Curiga mu itu, mengerti?" ujar Halus Lilia sembari mengelus kepala Davit." Memang nya Dia kucing sampai Kau harus mengelusnya?" ujar Tiba tiba Raiyen." Eh? Raiyen? Sedang apa disini?" ujar Tekejut Lilia." Tentu saja Raiyen dateng kesini karena mengajari Ayah Membuat tumpeng tepat sekali kalian datang dan Tumpeng pun matang Ayoo masukk belum pada makan kan?" ujar Tiba tiba Luziang. Di ruang makan Keluarga Luz yang berdekatan dengan Dapur." Lilia bisa Tolong ambilkan Aku itu?" ujar Davit sembari menunjuk ke arah Ayam Goreng." Ahh Okeee." saut Lilia. Tak! Tak! Tak! Suara Gertakan Pisau Yang kini Raiyen Gunakan Untuk memotong Timun." E.. eh! Kaget! Inih." ujar Lilia sembari menaruh Ayam goreng itu di Piring Davit Yang membuat Raiyen makin cemburu dan terus menatap Davit dengan tatapan Seram nya. Nyamm.. nyamm suara Lilia yang sedang mengunyah makanan nya Namun terdapat Nasi yang menempel pada Pipi sebelah kanan nya." Tunggu! ada Yang menempel di pipi mu." ujar Davit Yang ingin mengambil sebutir nasi dari pipi Lilia namun Tiba tiba Raiyen menaruh piring mentimun di depan Lilia. brak!" Lalapan sudah datang, eh? Apa ini? Biar ku ambil, ternyata kau suka menyisa kan makanan mu untuk besok ya?" ujar Raiyen Langsung mengambil Sebutir nasi itu dari pipi Lilia seketika membuat Davit Kesal." Lilia aku keselak bisa tolong ambilkan minum." ujar Davit." Lilia seperti nya Nasi ku kurang belakangan ini aku suka makan bisa tolong ambilkan nasi untuk ku?" ujar Cepat Raiyen." Memang nya kau tidak punya tangan? Kau bisa mengambil itu sendiri." saut kesal Davit." Kau sendiri malah menyuruh Lilia padahal Teko nya ada di depan Mu!" Saut cepat Raiyen. Brak! Suara bentrokkan Sendok Lilia ke meja seketika membuat Ibu Ayah Davit dan Raiyen terkejut!" Bisa kah kalian tidak berkelahi jika Bertemu! Katakan Jika kalian Ingin berkelahi sekarang aku akan menyiap kan tempat nya! Di kolam Renang! Siapa yang masih ingin berkelahi Hah?" Teriakan Kesal Lilia dengan wajah penuh marah nya yang membuat Davit Dan Raiyen duduk tenang dan kembali menyantap Makanan nya." Begitu kan Bagus, Oh Ya dimana Loveta? Biasa nya Ia akan Gercep jika mencium aroma makanan." ucap Lilia." Hehehehe.. Cinta segitiga toh." Fikiran Vivia Luz dengan senyum kecil nya." Entah lah Ia pergi Setelah melihat mobil mu datang. Ibu mengira kalian sedang marahan." Saut Vivia Luz." Mana ada aku dan Loveta tidak pernah marah sama sekali, Apa sih yang sedang Ia pikirkan." ujar Lilia seketika membuat Davit Melamun." Mungkin kah Ia mengingat Malam itu dan merasa Malu bertemu dengan ku? Tidak bisa seperti ini lain kali aku akan berbicara dan meluruskan Soal perasaannya pada ku itu." fikiran Davit. Sementara itu di Cafe Samdu. Cinta" Huft! Seperti tikus yang melihat Kucing! Itu lah aku! Masa sih harus terus seperti ini? Dan aneh nya kenapa aku mengatakan perasaan ku saat itu juga! Kenapa aku baru mengingat nya Tadi Pagi setelah bangun tidur!" Ujar nya. "Entah lah! Aku serasa ingin benar benar menghilang!" Gumaman Loveta yang tak sengaja melihat Ibu Davit dengan seorang Pria berbadan Kekar sekaligus tinggi." Bukan kah itu Bibi Diana? Dengan siapa?". 10 menit yang lalu" kudengar Roti di sini sangat Enak lumayan lah buat ngemil Davit nanti malam." ujar Diana sembari membawa Kantong pelastik yang berisi Cake. Bruk! Tak!" Ah! Maaf! Anda baik baik saja? Ini Hanphome mu. Eh?" ujar Diana yang tak sengaja menabrak seseorang pria sampai Handphone Pria itu terjatuh." Di.. diana?" ujar Xuan dengan wajah Tekejut nya." Xuan? Dia benar benar Xuan! Aku tak bisa bertemu dengan nya!" Fikiran Panik Diana." Maaf seperti nya kau salah orang." ujar Diana Ingin pergi namun di halang oleh Xuan." Kau benar Diana.. walaupun mata ku buta aku akan tetap mengetahui itu kau." Saut Xuan." Lalu? Apa perduli ku tentang Itu? Minggir aku harus Pergi." ujar ketus Diana." Kau pikir aku akan membiarkan kau pergi untuk ke 2 kali nya? Kumohon Diana maaf kan Aku Saat itu aku benar benar.." ujar Xuan Dira sembari memegang tangan Diana." Seperti nya kau masih terlarut dalam kenangan masa lalu Xuan! Kejadian itu sudah lama berlalu kuharap kau melupakannya beserta diri ku! Karena itu hanya lah kenangan buruk yang sama sekali tak pantas di ingat dan di bicarakan, minggir!" Tak! Ucap ketus Diana Sembari melepas pegangan Xuan Dira. Taps!" Tidaakkk! Semua momen yang kita ciptakan bersama adalah kenangan indah yang Abadi Cinta yang tak akan pernah Sirna! Sampai kapan pun Itu kumohon Jangan Pergi dan kembali lah pada ku." ujar Xuan kembali memegang Erat Pergelangan tangan Diana. Drap.. drapp.. drap! Tak! Suara Lari Loveta menuju ke arah Diana Dan melepas kan pegangan Xuan Dira Dari Diana." Maaf Tuan! Prilaku Tuan sangat lah lancang Saya bisa saja melaporkan ini kepada Kepolisian. Saya tidak tahu apa urusan Tuan dengan Bibi Diana tapi saya tidak suka melihat prilaku Tuan yang terlihat menggangu, Ayo Bibi Kita Harus pergi." ujar Loveta dengan tegas sembari menarik Diana pergi." Cih! Anak jaman sekarang memang sangat berani dengan Orang Tua! Apa dia bilang Polisi? Hehehe.. siapa yang berani Mempenjarai ku? Hanya kau saja seperti nya, sayang sekali mungkin aku akan berbicara dengan Diana Nanti." ujar Xuan Dira." Huft! Hampir saja apa Bibi terluka dan merasa takut Tadi? Hah! ya ampun pergelangan tangan Bibi sampai memerah! Lihat saja orang itu aku akan menyelidikinya dan membuat nya." ujar kesal Loveta tiba tiba di sela." Stttttt.. lebih baik jangan menyelidiki tentang nya, mau janji?" ujar Diana." Ng? Seterah perkataan Bibi saja lah!" Saut Loveta." Hehe.. ngomong ngomong kau sangat Berani ya, kau mirip seperti ku ketika muda! Mau ikut ke rumah Bibi? Bibi mau mengajak mu makan bersama?" ujar Diana dengan wajah penuh harapannya." So.. soal itu, tidak bisa Loveta belakangan ini Sibuk dengan pekerjaan Lain kali saja Ya Bi.. Maaf" saut cepat Loveta." Hehehe.. Tak apa Kemarikan Hanphone mu." ujar Diana." I.. ini." sudah selesai.. Ini Bibi kembalikan." i.. ini apa?" ujar Loveta." Tentu saja Nomer Bibi lah.. nanti Chat Bibi oke, bibi kan jadi Gampang jika mau menghubungi mu, sudah ya Davit sudah menelephone Bibi, Sampai jumpa Lovetaa!" ujar Diana dengan Senyum lebar nya bergegas pergi dengan Mobil nya." Hah! Kali ini bisa di cegah! Seterus nya harus bikin Alasan apa? Mmm.. ngomong ngomong Pria yang tadi berbicara dengan Bibi siapa ya? Sekilas mirip Davit jika Dari Samping hanya berbeda Davit lebih tinggi dari nya." Gumaman Loveta. Apartemen Primus Residence Hongqiao." Kenapa bisa bertemu dengan nya si! Huft jika begini pasti Ia akan selalu mencari ku! kira kira kenapa Ia ke Shanghai? Lalu anak dan Istri nya Di Beijing Gimana? Walaupun aku tak suka mengatakan ini Aku berharap mereka hidup bahagia! Raiva Aku ingin sekali bertemu dengan mu dan menanyakan Kenapa kau melakukan Itu." fikiran Diana sembari melamun di Depan Televisi. Taps!" Ibuuuu.. kenapa melamun terus? Masa Davit Dari tadi Di Diemin!" ucap manja Davit sembari memeluk Diana Dari belakang." Hehe.. Maaf ya, sini mau ibu pijat?" ujar Diana Sembari menepuk Nepuk pahanya. Hap!" Hehe.. Disini! Pijat Yang enak Ya agar Davit bisa tertidur pulas." ujar Davit sembari menunjukkan Dimana Diana harus memijat kepalanya." Tentu saja sekarang pejam kan mata mu." ucap Halus Diana langsung memijat Kepala Davit sampai membuat Davit terlelap." Ibu pernah berfikir apa kah kau merindukan Seorang Ayah Davit? aku tau sampai sekarang kau tak mau bertanya karena takut membuat ibu mu sedih namun atas Diam nya diri mu ini ibu malah mengetahui Kau merindukan Seorang Ayah, dari sejak umur mu 5 tahun kau tak pernah menanyakan Siapa ayah mu bahkan saat Lomba di Sd Dimana semua anak Di Gendong dengan Ayah nya kau tetap Diam dan lebih memilih Duduk bersama Ibu menikmati Eskrim dengan senyum manis mu.. ibu tau kau anak yang baik dan tak suka melihat ibu mu sedih namun setidak nya sesekalilah bertanya tentang Siapa Ayah mu Agar Ibu bisa mejelaskan Dan tidak merasa bersalah seperti ini." Fikiran Diana sembari Mengelus Kepala Davit yang kini tertidur Lelap di pangkuan Diana. Sementara itu di Apartemen Riverdale Residence Xintiandi." Tuan Stempel DNA nya Sudah Selesai apa perlu saya tunjukkan sekarang?" ujar Bloson." Ya.. Bawa kemari." ucap Xuan langsung membaca Hasil Tes DNA Davit dan ternyata 100 persen Hubungan antara Ayah dan Anak seketika membuat nya Terkejut dan tidak bisa berkata kata." I.. ini!" Kami sudah memeriksa nya bahkan sampai Tiga kali namun hasil nya Sama Davit Adalah Anak Kandung Tuan." Saut Bloson. Tes!.. tes!.. tes! Suara Air mata Xuan yang terjatuh di Atas kertas itu." Huhuhu.. Davit! Maaf kan Ayah yang baru mengetahui keberadaan mu! Ayah sungguh bodoh! Saat itu membiarkan Kau telantar dengan ibu mu! Akan kah kau memaaf kan Ayah mu ini nantinya." Ujar Xuan Dira sembari menatap Kertas DNA itu. Keesokan Hari nya Di Kantor Pusat Makeup Luz." Hehehe.. Apa ada yang terlewat kan Kemarin? Maksud ku kanapa Tuan Datang di saat jam makam siang?" Ujar Lilia yang agak kesal dengan kedatangan Xuan Dira di saat jam makan Siang nya." Waktu nya kurang tepat Ya? Aku hanya ingin mengasih kompensasi untuk Davit yang terluka karena Bunga ku kemarin." Saut Xuan." Ah! Davit ya, 20 menit yang lalu Davit baru saja Pergi untuk mengecek merek Baru di produk kami yang akan Tuan tanda tangani Kontrak jika Tuan mau saya akan Menelephonenya." Ujar Lilia."Huft.. Tak bisa hari ini ya?" fikiran sedih Xuan. Ceklek.. suara pintu Ruangan Lilia terbuka. Loveta" Kaka.. Aku membawa makanan Yang di masak ibu, katanya Kaka mulai sekarang harus memperhatikan makanan Kaka! Tadi malam kaka ketawan Sakit perut kan?" ujar Tiba tiba Loveta. Lilia" Heh! Dasar anak ini Dia tidak melihat lagi ada tamu penting apa! Ehhh! Kenapa isi nya Sayuran semua? Mana Daging Sapi ku!" ujar nya sehabis membuka bekal yang di bawa Loveta. "Yaa.. begitulah siapa suruh kau ketahuan Sakit perut Itu Si DL!" Saut Cepat Loveta." Ini si ibu ingin membuat ku diet! Bukannya sehat!" ucap kesal Loveta." Hehehe.. Ternyata Nona Lilia suka Dengan Daging Sapi, lain kali aku akan meneraktir." Ucap Xuan dengan senyum kecil nya." Mampus! Lupa kalo masih ada Tuan Xuan! Karisma ku pasto Hilang tadi" fikiran Unyel unyel Lilia." Haha.. Maaf jika Tuan Harus melihat ini." Saut Lilia." Tak apa santai saja.. kalau begitu Saya permisih dulu, tolong ucapkan salam Saya untuk Davit." ujar Xuan Dira bergegas pergi." Eh? Orang itu.. bukan kah pria yang kemarin berbicara dengan Bibi Diana?" Fikiran Loveta masih menatap Xuan Dira." Dia sekilas mirip Davit ya?" Gumaman Lilia." Eh? Kaka juga berfikir seperti itu?" Saut Loveta." Ya.. mungkin dari sudut mana pun terlihat mirip hanya tinggi badan dan bentuk bibir nya saja yang berbeda." ujar Cepat Lilia." Mmmm.. begitu ya, ngomong ngomong aku tak pernah melihat Ayah kak Davit Apa ayah nya sudah meninggal?" ujar Loveta dengan wajah penasarannya." Soal Ayah nya meninggal atau tidak aku tidak mengetahui itu Namun Yang jelas Ia pernah berkata Bahwa Ia Merindukan Seorang Ayah, Yahh walaupun Ia mengatakan Itu ketika Mabuk, Davit itu orang nya suka memendam perasaan dan terlihat dingin jika kita padang Dari Luar Namun Ia orang yang baik dan peduli terhadap Apa pun, Aku pun tak mau menannyakan tentang Ayah nya, semua Orang pasti memiliki masalah nya sendiri bukan? Jika kaka bertanya bukan kah Kaka terlihat ingin mencampuri urusan nya?" ujar Lilia." Jadi Selama Ini Davit hidup tanpa seorang Ayah? Sebesar apa pun kita pasti akan merasa Iri terhadap keluarga yang Utuh.. Apa itu yang membuat nya Sering bolos Sekolah dan lebih baik bekerja?" Fikiran Loveta mengingat ketika Di perancis Davit sering bolos sekolah Dan lebih memilih kerja di Cafe. Malam Hari di Apartemen Primus Residence Shanghai Hongqiao. Ting! Nong! Ting! Nong! Suara bel di apartemen Diana yang Ia tinggali." Ya.. sebentar, Pasti Davit! Ia kan bisa langsung masuk dengan kode! Dasar anak ini suka sekali membuat Ibu nya susah!" Ceklek.. suara pintu terbuka." Anak nakal kau kan bi..sa? Xuan!" ujar Tekejut Diana ketika melihat Xuan Dira lah yang memencet bel Itu." Diana.. Akhir nya kau membuka kan pintu Ya? Apa aku boleh masuk?" ujar Xuan Yang kini terlihat mabuk." Tak bisa! Aku tak menerima orang mabuk seperti kau! cepat pergi! Aku tak mau Davit melihat kau nanti!" ujar Diana ingin menutup pintu namun di halang Xuan." Davit?" ucap Xuan." Bukan apa apa! Cepat pergi dan lepaskan pintu ini." ujar Diana. Ceklek! Bruuk! Suara Xuan Dira mendorong Diana kedalam Rumah nya dan tak menyadari pintu nya masih terbuka." Jadi kau masih ingin menyembunyikannya? Dia kan anak kita! Anak kita bersama Diana." ujar Xuan yang kini berada sangat Dekat dengan Diana." Ternyata kau sudah menyelidikki nya ya, apa tadi Anak kita? Kau baru menganggap nya sebagai anak? Anak mu hanya lah Yang terlahir dari rahim Raiva!" Teriakan Diana sembari mendorong Xuan dengan kencang." Maksud mu Rara? Dia bukan lah Anak ku Diana! Wanita! Wanita licik itu membohongi ku! Ia bilang bahwa Anak yang di kandungannya adalah anak dari ku! Namun anak itu adalah anak nya dengan Supir nya! Raiva menyalahkan aku karena Ia takut Ayah nya akan menggugurkan Janin itu dan Membunuh supir nya itu." Ujar Xuan Dira." Dan kau masih diam saja? Padahal kau mengetahui itu? Dimana Raiva sekarang?" Ujar kesal Diana." Aku baru mengetahui nya sejak Rara Lahir! Saat itu DNA nya dan diri ku berbeda Dan aku menyelidiki Itu dan akhir nya aku mengetahui kebenarannya! Dan soal Raiva Sayang nya Ia meninggal setelah melahirkan Rara." ucap Xuan." Tidakkk! Bisa bisa nya Ia meninggal tanpa seijin ku! Bahkan aku belum mengatakan kenapa Ia merebut kebahagian ku! Kenapa kau sudah mati! Huhuhuhu.. kenapa!" Tangisan Diana di pelukkan Xuan. Kreekkk.. suara pintu terbuka." Ibu!" ujar Davit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD