Hari Rabu di Rumah sakit Lintang7 kamar Pasien Davit. Yang kini terlihat kedua pria Sedang berada di posisi yang sangat Aneh. krkkkkkkk.. suara pintu kamar yang terbuka." Ng..? Kalian sedang apa?" ujar Bingung Lilia yang melihat Raiyen dan Davit tergeletak dilantai sembari saling berhadapan satu sama Lain." Ka.. kami bisa jelaskan!" ujar panik bersamaan Raiyen dan Davit.
20 menit sebelum nya.
"Kau benar kan tentang ingin menyerah itu?" ucap Raiyen." Kenapa kau takut ya? Selagi kau berjanji tidak akan menyakiti Lilia aku akan tetap mematuhi janji itu." ucap cepat Davit." Kau pikir aku bisa menyakiti Lilia? Nggg.. Apa kau baik baik saja? Maksud ku, kau belum pernah menyatakan perasaan itu namun kau sudah menyerah begitu saja." ujar Raiyen." Lebih baik tidak usah menyatakan perasaan ini dari awal aku memang memiliki perasaan sepihak saja.. Dann aku tak ingin membuat hubungan ku dan Lilia menjadi Renggang walau hanya bisa menjadi teman Itu sudah cukup bagi ku." Ujar Davit dengan senyum miris nya." Pikiran mu cukup bijak.. namun jika kau ingin mengatakan perasaan itu pada Lilia Aku akan memberimu kesempatan." Saut Raiyen." Entah lah.. aku memang ingin mengatakan itu, tapi jika hasil sudah di ketahui dari awal bukan kah akan sia sia? Jangan mencoba menarikku kedalam Situasi itu lagi Raiyen Atau bisa saja aku akan berubah Fikiran." ujar Davit." Hah!.. seterah lah! Memang tak asik jika kita sudah mengetahui Hasil dari sebuah perjuangan, karena ini aku berhutang budi pada mu, aku akan membalas nya saat kau butuh nanti." ujar santai Raiyen." Tak perlu nanti, bisa kah kau bantu aku sekarang?" ucap Davit yang kini terlihat tidak tenang." Apa!.. Kau ingin aku membantu membuka kan celana mu! Tidak tidak! Suruh perawat saja." ujar Raiyen menolak keras permintaan Davit." Itu akan sangat memalukan! Apa kau tau betapa jatuh nya harga diri ku beberapa hari ini! Jika bukan karena jaitan di perut ku ini aku tak mungkin meminta bantuan mu." Saut Kesal Davit." Bisa bisa nya kau memperhatikan Harga diri saat keadaan tubuh mu sedang lemah!" Ucap Raiyen dengan nada menghina nya." Entah kenapa belakangan ini Aku sering membuang Air kecil tanpa aku sadari! Ayolah apa kau tau betapa malu nya aku jika Lilia Tau ini dia pasti akan mengeledekku habis habisan." teriakan Davit." Sebesar ini masih mengompol! Kalau begitu biar saja Lilia mengetahui nya, Hehehe.. bagus juga." ucap Raiyen sembari menyeringai." Kau gila Ya! Jika kau tak ingin membantu ku aku menggagalkan Janji ku tadi!" Saut Davit dengan nada kesal nya seketika membuat Raiyen tergerak." Hah! Membagongkan! Cepat lah bediri!" ujar Raiyen sembari membantu menurunkan Dan membuka celana Davit untuk di ganti yang baru." Hah! Merepotkan." Ucap kesal Raiyen." Aku tau! Makanya cepetan!" Saut Davit." Kenapa kau tak memakai popok saja si!" ucap Raiyen tanpa berfikir Panjang." Itu akan merusak Citra ku Sialan!" ucap Kesal Davit." Kau bisa naik kan kaki mu tidak!" Gerutuan kesal Raiyen sembari memasukkan Kaki Davit ke celana." Sabar Sialan! Susah tau!" ucap kesal Davit tiba tiba tidak seimbang karena Tiang Infus nya Terhatuh" Eeees??" Bruk! Suara Raiyen dan Davit yang terjatuh bersamaan. Tap.. tap.. tap.." Hahaha.. Wanita tadi sangat Lucu ya memakaikan popok pada seekor Anjing." ujar tertawaan Lilia Sembari membuka pintu Kamar pasien Davit.. Ceklek!" Ngggg..? Kalian sedang apa?" ujar Lilia yang melihat Posisi Aneh Raiyen dan Davit." Ha.. ha.. ha.. anggap saja kami tak melihat, Ayoo.." ucap Aneh Loveta bergegas manarik Lilia dan kembali menutup pintu." Tunggu! Kami bisa jelaskan!" Teriakan Raiyen dan Davit yang sangat menggelegar.
5 menit kemudian" Seharusnya kalian Bilang jika ada sesuatu.. Kami hampir saja mengira kalian itu Homo." ucap Lilia sehabis mendengar Cerita Raiyen." Yaa.. benar kami yang salah." ujar tegang Raiyen." Terus gimana? Apa Kau masih sering mengompol? Apa aku perlu membicara kan itu pada Dokter Haris?" ucap Lilia sembari menatap Davit namun Wajah Davit kini memperlihat kan wajah ketegangan tercampur Aduk dengan Rasa malu dan hanya bisa menggelengkan wajah nya saja.
Lilia" Walaupun kau tak mau! Loveta cepat panggil Dokter Haris! Ini adalah masalah yang sangat penting!" Ujar Lilia yang kini membuat Wajah Davit semakin Aneh.
"Baik! Aku akan segera kembali!" Ujar semangat Loveta bergegas Pergi" ma.. maaf Davit! Jika aku tak memberi tahu sebenar nya kita akan di bilang Homo!" Fikiran Raiyen tiba tiba merasa bersalah karena membocorkan Rahasia itu ke Lilia. Jelang 3 menit Dokter Haris pun datang dan mengatakan." Kalau seperti ini Kau bisa memakai Popok Dewasa saja." Ujar santai Dokter Haris." Jleb!!.. Apa dia nggak Ada otak? Otak nya di mana? Woi tulung! Huhuhu.. aku malu." Fikiran Davit yang kini terlihat tambah malu." Popok? Hahaha.. memang Agak aneh jika kau memakai nya, namun kau sedang sakit itu tak akan jadi masalah!" saut Lilia mencoba menenangkan Davit yang kini seluruh Wajah nya di penuhi dengan Keringat." Tulungg! Harga diri hancur berkeping keping!" Fikiran Davit yang masih memendung Rasa Malu nya.
3 hari pun berlalu bergitu cepat dan saat nya Davit pulang Dari Rumah sakit. Kediaman Keluarga Luz Hari sabtu pada Siang Hari. " Hah.. Akhir nya kembali di kasur ini! Kau rindu aku kan?" Ujar Davit sembari mencium Kasur nya. Tringgg.. tringgg suara Handphone Davit berbunyi." Halo.. Bagai mana kabar mu ibu?" ujar Davit yang mendapat Telephone dari Ibu nya yang sekarang berada Di singapur." Ibu baik baik saja! Bagaimana kabar mu kau sehat kan? Hah tentu saja ada Lilia di samping mu, kau pasti sangat sehat sekarang." ujar Ibu Davit yang tidak mengetahui Jika Davit habis tertusuk." Ibu tidak perlu mengetahui jika aku habis tertusuk kan? Jika ibu tau pasti Ia akan sangat khawatir!" fikiran Davit." Tentu saja Davit sehat kok.. Ibu bagaimana? Bunga bunga nya tidak layu kan?" ucap Davit sengaja meledek Ibu nya karena Ibu nya tidak pandai dalam merawat Tanaman." Anak nyebelin Gini nih.. apa kau tau nak? Setelah kepergian mu Ibu mandiri merawat Bunga bunga ini bahkan Ibu sekarang membuka Toko bunga." saut Ibu Davit." Benar kah? Wow.. hebat Lalu?" Ujar penasaran Davit." Wahh.. Kalian sedang membicara kan apa?" Ucap tiba tiba Lilia." Lilia? Ahhh.. putri Bibi apa kau tau Bibi sangat merindukan mu!" ucap Riang Ibu Davit." Hahaha.. Bibi Lilia juga sangat merindukan Bibi kok, dan juga Kue salju buatan Bibi." Saut Lilia sembari duduj di sebelah Davit." Kemari dong, Bibi akan membuat kan nya! Bisa juga jika Lilia menjadi Calon menantu mungkin kita akan sering memakan Kue salju bersama." ucap Ibu Davit sengaja memancing Lilia." Bibi ini bisa saja.. bagaimana aku bisa menikah dengan Davit yang sudah ku anggap sodara Karib! Benar kan Davit?" ucap Lilia dengan senyum Lebar nya." DHEG!! Benar.. Ibu berbicara apa sih! Berhenti beromong kosong." ucap tegas Davit sehabis mendengar perkataan Lilia." Hohoho.. Iya iya Bibi bercanda Lilia jangan di masukkan ke hati." Iyaa Bibi.. Lilia nggak akan memasukkan kehati hati Lilia sekarang sedang penuh!" saut cepat Lilia." Jika ingin pamer jangan Di depan ku!" ujar Davit." Penuh kenapa tuh? Boleh Bibi Tahu?" Ucap penasaran Ibu Davit." Itu hanya salah bicara Ibu enggak usah kepo ini urusan anak muda." Saut Davit." Kau pikir ibu tak pernah muda?" Pokok nya ini tentang anak muda" ucap Davit yang kini Asik mengobrol dengan Ibu nya sembari di temani dengan Lilia, sampai tak menyadari kalau pintu Kamar nya terbuka.
Loveta" Itu Ibu nya? Mereka terdengar sangat Akrab! Seperti nya Ibu Davit sangat Baik! Irinya.." Gumaman Loveta yang mendengar percakapan Lilia Davit Dan ibu nya bergegas pergi.
Hari minggu, Diperjalanan ke Arah Bandara Taoxian China." Hah! Ini semua karena Lilia! Dasar comel!" Gerutuan Davit. Kemarin Siang masih saat Ibu Davit menelepohone." Bibi sangat berterimakasih pada mu Lilia.. karena sudah menjaga Davit dengan benar." ujar Ibu Davit." Tak perlu berterimakasih Bibi.. seharusnya Lilia yang berterimakasih karena Davit menggantikan Lilia yang ingin di tusuk pisau oleh seseorang." Saut Lilia seketika membuat Ibu Davit beserta Davit terdiam." Apa! Davit tertusuk?" ucap kaget Ibu Davit.
" Iya.. Apa Davit belum mengatakan nya? Baru saja Ia pulang dari rumah, Benarkan Davit?" ucap polos Lilia yang kini menatap Davit namun Davit terlihat sedikit panik." Davittt!.. jadi kau tak mau mengatakannya pada ibu Ya? Kau ingin bermain Rahasia?" ujar Ibu Davit dengan nada Marah nya." NGGG.. Lilia ini salah mu! I.. ibu Davit merasa Ibu tidak perlu mengetahui ini karena." Saut Davit dengan nada Takut nya." Karena kau sudah Dewasa! Dengar ya sebesar apa pun seorang Anak nanti nya Ia akan tetap di pandang kecil dengan orang tua nya! Katakan bagian mana Yang tertusuk!" Teriakan Ibu Davit yang sangat menggelegar, Tep... tep.. tep" aku.. pergi dulu." ujar Lilia bergegas pergi." Kemari kau Sialan!!" Gumaman Davit yang terdengar Ibu nya." Kau mengatai Ibu mu sialan! Lihat saja Ibu akan kesana Besok! Jemput Ibu di bandara! Ibu akan memakai kan kau popok Lagi agar kau merasa masih kecil!" Tuttt.. ucap marah Ibu Davit langsung mematikan Telephone." Mampus!" Gumaman Davit sembari belengong dan berteriak." Liliaaaaaaa!.. kemari kauuu!" Drap.. drapp.. " Harus kaburrr! Yuhuuuuu.." ujar Lilia sembari berlari dan menaiki mobil nya bergegas pergi.
Bandara Taoxian China Pukul 07:10 pagi.
"Sepuluh menit lagi pesawat Akan mendarat Harap tetap di tempat duduk masing masing dan jangan lupa membawa barang barang Anda." Ucap pramugari di pesawat yang di naiki Ibu Davit Yaitu Diana Morgan." Huft.. Sepuluh menit lagi aku akan kembali ke tempat Asal ku.. aku harap tidak ada satu orang pun yang mengenal ku." Gumaman Diana Morgan sembari melihat ke Arah Luar jendela Pesawatnya. 19 tahun yang lalu." Selamat Atas Kenaikan Pangkatmu Xuan Dira." ujar Diana sembari menuangkan Bir ke cangkir Xuan." Terimakasih.. Glek.. glek!" ujar Xuan langsung meminum Bir itu." Kenapa aku saja Yang minum? Ini tak adil bagi mu bukan." ucap Xuan Dira sembari memegang pinggul Diana." Tak apaa.. ini kan perayaan mu." saut Diana kembali merangkul Xuan." Tapi aku ingin kau juga meminumnya.. boleh kan?" saut Xuan Dira sembari memegang Bibir Cantik Diana." Cups!" Lebih baik jangan bertanya dan langsung saja lakukan!" ucap Diana tanpa menunggu waktu langsung mencium Xuan dan Xuan pun membalas nya 30 menit kemudian" Aku mencintai mu Diana! Sangat sangat mencintai mu." ujar Xuan Yang kini berada di Atas Diana." Aku tau.. makanya Sampai tahap ini bukan." saut Diana. Aku pun mulai melalui malam Hangat yang panjang bersama Xuan Dira cinta pertama ku, saat itu Kupikir Aku akan melalui hari hari yang sangat Bahagia aku mulai mengajak nya bermain dengan keponakan ku Raiyen dia pria kecil yang baik namun setelah Hari dimana Keluarga nya Dalam masalah dan datang lah masalah bagi ku juga." Haha!.. Aku hamil! Raiyen akan mendapatkan Teman nanti, apa aku harus menemui Xuan?" ujar Riang Diana sehabis mengetahui kalau Ia sedang mengandung Anak Dari Xuan Dira dan bergegas pergi ceklek!.. suara pintu Terbuka." Xuan pasti akan senang! Eh? Xuan?" Ujar Diana tiba tiba melihat Xuan Dira berdiri di depan pintu Rumah nya." Xuan.. Aku ingin mengatakan Sesuatu Hahaha.. Aku, enggak deh coba tebak dulu." ujar Riang Diana. Bruk! Suara Xuan tiba tiba membungkuk di depan Diana." Loh? kau kenapa? Cepat bangunn." Ujar panik Diana." Maaf.. Ini semua salah ku Diana! Aku lalay! Maaf jika aku tak bisa menikahi mu." ucap Tiba tiba Xuan yang masih membungkuk didepan Diana." Deg!.. Ah, tidak apa jika kita tak bisa menikah sekarang, Namun soal anak yang kita bicara kan." ujar Diana Mencoba membangunkan Xuan Dira." Kita tak akan bisa menikah Diana! Aku sudah menikahi Raiva Ia sudah mengandung Anak ku! Maaf.. maaf atas kelalaian ku ini Huhuhu.. Aku sungguh menyesal!" ujar Xuan sembari meneteskan Air mata nya." Dheg!!!.. Menikah? Anak? Lalu apa kah yang kau katakan selama ini hanya Omong kosong belaka!" Teriakan Diana kembali berdiri." Aku tidak berbohong aku sungguh mencintai mu! Hanya saja Aku juga tak bisa meninggal kan Raiva Ia sekarang sedang mengandung Anak ku! Dan Keluarga ku akan Terkena masalah jika Aku mengabaikan Raiva." saut Xuan Dira.
" Hehe!.. memang Identitas keluarga mu lebih penting dari ku! Bodoh nya aku tak menyadari ini!" Saut Diana dengan senyum mirisnya." Tidakk! Bukan seperti itu! Itu adalah tanggung jawab ku! Jika aku tak menikahi Raiva bukan kah Aku bukan seorang pria!" Teriak Xuan." Kalau begitu selamat atas pernikahan Mu Tuan Xuan Semoga Kau hidup Bahagia." ujar Diana Sembari membuka pintu Rumah nya." Tunggu! Kita bisa saja menikah Diana dengan sembunyi sembunyi Aku berjanji akan menghabiskan Hari hari ku hanya bersama mu bukan dengan Raiva." Saut Xuan sembari memegang Tangan Diana." Kau pikir aku akan melakukan Itu Tuan Xuan?" Taps!.. Kita akhiri saja hubungan ini! Ceklek!." ujar Diana Melepas pegangan Xuan dan langsung menutup pintu rumah nya." Tunggu Diana! Buka pintu nya! Aku tak mau mengakhiri hubungan kita! Bukaa Diana! Kumohon!" Teriakan Xuan sembari menggedor gedor Pintu rumah Diana.
Bruk! Hiks.. hikss.. hiks suara Tangisan Diana yang kini duduk di depan Pintu rumah nya." Itu adalah tanggung jawab ku! Jika aku tak menikahi Raiva bukan kah Aku bukan seorang pria!" Apa Anak yang ada di kandungan ku ini tak Harus di tanggung jawab kan? Hiks.. bagaimana Ia bisa menikah dengan Wanita Lain? Sakit.. sakit.. hati ku sakit seperti terkena pisau berkarat! Aku membencin mu Xuan! Sangat sangat membenci mu!" Fikiran Diana Yang kini menangis masih di depan Pintu Rumah nya setelah itu jelang 2 hari Xuan Dira masih berada di depan Ruang Diana untuk meminta maaf tanpa Xuan Sadari Diana sudah pergi dari satu Hari yang Lalu ke luar Negri, Kota Bordeaux Di Perancis. Tap.. tap.. tap!" Suara langkah Kaki Diana yang berjalan di Bandara sembari menggerek Koper nya." Sekarang Negara ini akan menjadi Rumah mu Sayang, Ibu akan mengurus mu dan membesar kan mu disini." ujar Diana Sembari mengelus perut nya.
"Pesawat akan segera mendarat." ucap salah satu pramugari." Hah! Sampai juga.. aku ingin cepat cepat bertemu putra ku!" ujar Diana. Drkkkkk.. drkkkkkkk.. suara Koper Diana Yang sedang Ia Gerek." Haloo..? Ibu dimana? Bisa Angkat tangan ibu sekarang? Disini sangat Ramai." ujar Davit sembari menelephone Diana yang tak menyadari kalau Diana ada di belakang nya." Ibu akan kesana Feling ibu mengetahui kau Ada di mana tunggu ibu dan jangan matikan telephone nya." ujar Diana bergegas ke Arah Davit yang kini berdiri Tegak sembari memegang telephone. Tuk!.. tuk!" Putra ku? Hehehe." Ujar Diana dengan senyum lebar nya mengetuk etuk Pundak Davit." Ibu! Davit sangat merindukan Ibu!" ujar Davit langsung memeluk Diana.
"Tuan, saya sudah mencari di Bagian selatan namun saya masih tidak menemukannya!" ujar Bloson Mafia terpercaya Xuan Dira yang kini di tugas kan mengikuti Davit dan membunuh nya namun dengan kejelian Davit ia mengetahui Ada yang sedang mengikuti Ia pun bermain Taktik dan berhasil mengelabui Bloson." Hah! Dasar Kadal! Cepat sekali Dia! Kau Cari lah di segala Arah cepat!" Saut kesal Xuan langsung mematikan Telephonenya." Aku harus menemukan Anak itu! Bagaimana pun! Ia bermarga Morgan! entah ini benar Atau salah! Aku harus menemukan Anak itu dan menanyakan mengapa Ia bermarga Morgan!" ucap penasaran Xuan yang kini berada Di bandara Taoxian.