45. Siapa Dia

2408 Words
"Aku harus menemukan Anak itu dan menanyakan mengapa Ia bermarga Morgan!" ucap penasaran Xuan yang kini berada Di bandara Taoxian. Kemarin malam Di Ruang pribadi Xuan Dira." Ini semua Informasi yang kami tentukan tentang Anak Itu Tuan." ujar Bloson sembari meletakkan selembar kertas yang berisi Informasi tentang Davit." Ng.. Dia di lahir kan Di perancis 24 tahun yang lalu.. mendapat Biaya mahasiswa Dan pergi ke Singapur bersama Ibu nya Anak yang pintar dan patut di banggakan sayang sekali jika aku harus melenyapkan manusia Satu ini.. Hah! Siapa suruh Kau mencari urusan dengan orang yang salah! Ambil kembali Sungguh membosan kan." ujar Xuan Dira melempar kertas itu ke arah Bloson." Apa Tuan tak Ingin melihat informasi di belakang kertas itu?" ujar Bloson." Memang nya apa? Dia hanya bisa membuat ku iri! Kenapa anak ku tidak seperti dia." ucap Santai Xuan Dira sembari menaikkan Kaki nya di Atas meja." Nama dan marga nya, Ia sering di Kenal Davit Luz Karena Ia sekarang di Asuh oleh keluarga Luz Namun setelah kuselidiki lebih dalam nama marga nya yang asli Adalah Morgan! Davit Morgan Yang lahir 24 tahun yang Lalu." ucap Tegas Bloson." Morgan.. Davit Morgan? Mmm..! Apa? Davit Morgan! Jadi Ia bermarga Morgan?" ujar Tekejut Xuan Dira." Yaa.. ku duga pasti anda akan terkejut karena nama belakang nya terdapat nama marga Kekasih Tuan yang menghilang Dulu" saut Bloson." Davit Morgan.. Yang memiliki Marga Morgan adalah keluarga Dari Ibu Raiyen Yaitu Diana Morgan Adik Kandung From Qin! Kenapa Ia memiliki marga Morgan! Jangan jangan! Bloson! Cepat cari tahu Tentang kelahirannya Dan Siapa Ibu nya dan cari tahu tempat dimana Ia lahir!" ucap Xuan Dira." Baik! Lalu.. soal membunuh Anak itu apa kita jadi membunuh nya?" ujar Bloson." Jika Ia benar dengan ada yang di fikiranku mana mungkin aku membunuh nya siapkan penerbangan ke Shenyang besok sementara Kita menculik nya dulu dan menannyakan yang lebih pasti!" Saut Xuan Dira. Kembali di Bandara Taoxian China. Diana Morgan" Di bagian mana yang tertusuk? Coba ibu Lihat!" ujar tidak sabar Diana Yang ingin membuk baju Putra nya di tengah keramaian." Berhenti meraba Ibu! Lihat lah di sini banyak Orang!" ucap malu Davit" kau pikir ibu perduli? Bagaimana pun kau tetap seorang anak kecil di mata ibu!" ujar Diana Masih memaksa membuka Baju Davit." Hah! Tapi kan di depan Ibu! Di depan orang lain beda! Ayolah Davit mohon berhenti!" ujar Davit dengan nada melas nya." Diam! Jangan berontak! Ibu hanya ingin Lihat! Jangam malu malu kepada ibu mu sendiri!" ujar nya masih memaksa." Hahaha.. Lagi Apa bu?" ujar salah satu Nenek nenek yang melihat Prilaku Davit dan Diana." Ah.. ini Jeng anak saya malu! Padahal saya hanya ingin melihat perut mungil nya." Saut Diana." Mmm.. Perut mungil? Wahh udah enggak Waras nih anak segede Itu perit nya mungil! Isinya ABS semua itu mah!" Fikiran Ibu ibu tadi." Begitu ya.. Haha saya permisih dulu kalau begitu." ucap Ibu ibu itu bergegas pergi. Srkkkk suara Baju Davit yang terbuka hanya setengah badan nya saja." Ohhhh.. Kok enggak ada bekas Luka nya?" saut Diana Yang melihat Perut Depan Davit." Kan Davit tertusuk nya di belakang." Oh Gitu.. Balik lah! Ahhh.. ternyata kecil! Palingan Pisau Dapur Ini mah! Badan anak ku tak akan mati jika terkena ini." Gumaman Diana yang seenak nya membuka Baju Davit." Hah! Seterah Ibu saja lah!.. Aku sudah tak punya Rasa malu sekian dan Terimakasih." fikiran Davit Yang kini terlihat pasrah. "Ewow!.. pemandangan Roti sobek Gratis!." Eh itu Mama nya Atau bukan Dah?" Eh gila kurang Naik tuh baju! Naikin lagi lah! Ahayy." Masa sih Istri nya?" Walaupun Nggak wajar di lihat lumayan lah Cuci mata sama yang beningan." ucap para Gadis gadis yang melihat prilaku Diana Dan Davit." Ahhh! Apa sih nggak kelihatan! Cewek cewek Agak minggir!" ujar Xuan mencoba Menyelip di Kerumunan Para wanita." Ayo Ibuu.. Kita lanjutkan saja di Rumah Davit sudah cukup menahan Rasa malu." ujar Davit langsung menggandeng tangan Diana." Hohoho.. maaf Ya putra ku! Tapi karena ibu Wanita wanita itu berkumpul loh! Lumayan lah menyenangkan Mereka." Saut Diana. Davit" Tapi ibu merugikan ku! Bagaimana calon nasib Istri ku nanti!" ucap sembrono Davit. Diana" Ya nasib nggak bisa lihat yang pertama Hahaha.. Makanya Cari dong." ujar Nya dengan nada ngeledek. "Ta.. Tawa Ini? Diana? Itu benar kau!" ujar tekejut Xuan langsung ingin mengejar Diana Dan Davit namun di halangi Bloson." Jangan mengambil Langkah gegabah Tuan!" ujar Bloson." Benar! Aku hampir saja melaKukan kesalahan! Ayo bloson Kita harus membuat Rencana." ujar Xuan Bergegas pergi." Tak menyangka Itu benar kau Diana! Tapi siapa Davit itu? Apa dia benar Anak mu? Jadi kau sudah menikah dengan Pria lain? mengapa?" Fikiran Resah Xuan Dira. Apartemen Primus Residence Shanghai Hongqiao." Kenapa Ibu tinggal di sini? Ibu kan ingin tinggal bersama mu dan Lilia." ujar Diana yang tidak suka tinggal di Apartemen mewah itu." Ibu.. Itu kan Rumah Lilia dan Keluarga Luz Dia itu keluarga Luz Bu yang sangat di Hormati di kota ini mana mungkin ibu seenak nya tinggal di sana?" saut Davit." Huh! Percuma Ibu nekad ke sini!" Gumaman kesal Diana." Bibirnya Biasa Aja dong! Davit akan tinggal bersama Ibu di sini tapi sementara itu Davit mengambil barang barang dulu oke? Jangan ngambek gitu dong jan jadi jelek." ujar Davit." Setuju! Dan jangan Lupa membawa Lilia! Ibu sudah janji membuatkannya kue putri salju loh." Teriakan Diana. Ceklek.. suara pintu tertutup." Hmmm.. kalau ingat." ujar Davit bergegas pergi." Huh! Dasar menyebalkan Dia mewariskan Sifat Ayah nya! Mmm.. bukan! Ia tidak mempunyai Ayah! Hanya Aku Ibu nya! Hah! Ngomong ngomong Aku tidak membawa Bahan bahan apa pun untuk membuat kue! Beli saja deh toh ada Maps!" ucap Diana segera pergi mencari bahan bahan pembuat kue. Dikediaman keluarga Luz. Lilia" Davitt.. jangan pergi! Jangan.. pergi wahai Anak ku!" Ujar konyol Lilia sembari membantu merapihkan baju Davit dan menaruh nya di koper." Hidup mu sangat Bahagia Ya! Berhenti bersikap konyol begitu! Aku tau kau senang dengan kepergian ku!" Saut kesal Davit." Hehe.. siapa bilang aku senang? Apa kau tidak Lihat melihat Air mata ku ini?" ujar Lilia sembari menunjukkan Mata nya." Cih! Apa? Hanya pupil mata mu saja yang terlihat senang! Sudah lah sana pergi! Mengganggu!" ujar kesal Davit melempar wajah Lilia dengan Baju." Hahaha.. bercanda kok! Eh? Kau masih menyimpan baju ini Ya?" ujar Lilia yang melihat Baju Couple berwarna putih dan terdapat tanda tangan Lilia dan Davit di belakang baju itu." Eh? Baju itu ya.. aku masih menyimpannya karena masih bagus! Sini kembalikan." Ucap Davit segera mengambil baju itu dari Lilia." Apa nya yang tidak Rusak! Baju itu bahkan sudah bolong dan terlihat kumuh! Kenapa dia masih menyimpan nya? Baju itu saja sudah ku buang! Apa dia sangat menghargai persahabatan kami? Ngomong ngomong memang Ia sangat sering memakai baju itu ketika dulu sampai aku mengira Ia tak memiliki baju." 3 tahun Yang Lalu." Apa sih! Kau ingin membawa ku kemana? Sudah lah tak perlu menutup mata begini! Jangan jangan kau ingin membunuh ku ya!" ujar Davit." Sudah lah jangan Banyak bicara ini Rahasia! Ikuti saja kita sampai! Tadaaaaaa!! Jeng.. jeng.. jrengg!" ujar Riang Lilia yang membawa Davit ke toko baju." Baju? Jadi kau sedang memoroti ku ya? Mentang mentang aku ulang tahun! Apa makanan tadi tidak cukup?" ucap terkejut Davit yang melihat Lilia membawa nya ke tempat Toko baju." Huft! Kupikir Ia ingin memberi Hadiah apa! Kau jahat mempermainkan perasaan pria." fikiran kesal Davit." Jangan berbicara jika kau belum tentu mengetahui dengan benar! Aku sedang ingin memberikan kau Hadiah Tau! Cepat pilih warna baju polos ini." ujar Lilia sembari menunjuk Kaos polos itu." Pelit sekali! Jika kaos pun aku bisa beli!" Gerutuan Davit." Banyak bicara! Cepat pilih!" teriakan kesal Lilia." Huh! Iya.. Iyaa! Ini saja aku suka warna putih." ujar Davit." Pak saya beli Dua yang warna putih." ucap Lilia. Taman Siak di singapura." Huh! Kenapa kita harus memakai baju ini sih! Baju yang aku pakai tadi Bagus tau cocok untuk style ku!" saut Davit Sehabis mengganti baju nya dengan Yang Lilia Beli. " Bagaimana dengan Ini?" ucap Lilia menunjukkan Dua sepidol berwarna hitam dan merah." Untuk apa? Spidol itu?" ucap penasaran Davit." Balik saja badan mu!" ujar Lilia langsung Menuliskan Tanda tangannya di belakang baju Itu dengan gradasi hitam dan Merah." Tunggu! Kau mencoret apa!" Ucap panik Davit." Itu tanda tangan kok cepat tulis juga di belakang baju ku! Ini.." ujar Lilia langsung membalikkan badan nya Dan davit pun langsung menandatangani Baju Lilia." Sudah! Ini untuk apa? Bukan kah sayang baju di coret coret seperti ini?" ucap Davit." Tentu saja ini baju Couple untuk kita berdua sebagai tanda persahabatan! Sini biar ku tuliskan Nama mu di baju depan mu." ujar Lilia langsung mengambil Sepidol berwarna Hitam dan menuliskan Nama Davit di depan baju Davit." Nah.. selesai sudah baguskan? Hehehe.." ucap Lilia dengan senyum manis nya." Sini biar ku tulis juga nama mu! Ng..? Kau saja yang tulis sendiri." ujar Davit tiba tiba menyadari Ia salah berbicara." Hahaha.. kau punya Rasa begitu juga ternyata!" saut Lilia." Kau pikir aku bukan pria ya! Sudah lah ganti topik pembicaraan!" Saut malu Davit. Dan setelah itu ketika kami bertemu Davit selalu memakai baju itu padahal aku tak menyuruh nya Bahkan Saat makan bareng saat Ia di rumah dan pergi belanja Atau kesehariannya Ia terus memakai baju itu Aku sampai mengira Ia tak memiliki baju lain selain Itu, Namun sekarang aku menyadari bahwa Ia sangat Menghargai Pertemanan ku dengannya! Aku sangat beruntung memiliki seseorang seperti mu Davit. Drkkkk.. drkkkk suara koper Yang di gerek Davit." Loh? Kak Davit mau kemana?" ujar Loveta yang melihat Davit membawa koper baju nya." Ah.. mulai hari ini aku akan tinggal bersama ibu ku." saut Davit." Begitu ya? Sepertinya mulai hari ini kita akan Jarang bertemu." ujar Loveta dengan senyum kecilnya" Siapa yang bilang memang nya Davit akan pergi ke Mars! Oh ya Kau mau ikut tidak? Ibu Davit berencana mengundang ku untuk membuat Kue salju bersama." Hahaha.. Aku tak begitu akrab dengan Ibu kak Davit aku takut mengganggu Kalian Nanti." ujar Loveta yang merasa enggan." kau pikir ibu ku perduli dengan hal itu? Sudah Ayoo.. Ibu ku bisa marah nanti." ujar Sinis Davit Sembari menggandeng tangan Loveta. Sementara itu." Hmmm.. semua nya sudah ada! Aku pun sudah beli Soju dan Ayam Bakar! Hah! Tak sabar ingin bersenang senang dengan Lilia." ujar Riang Diana Yang kini berjalan menuju Apartemen yang Ia Tinggali." Duk! Tiba tiba seseorang tak sengaja menabrak nya." Aw! Eh? Dompet ku! Malinggg!" Teriakan Diana yang kini terjatuh karena Tabrakan Tadi. Drap.. drapp.. drap Suara Langkah kaki Seseorang pria berbaju Hitam dengan Yang wajah nya tertutup Topi dan masker." Huft! Sudah lah di copet berapa kali pun tak apa, Duit putra ku kan masih banyak! Huh, Yang sayang nya tuh Ada Foto masa kecil Davit." Ujar Santui Diana sembari menepuk nepuk debu yang ada pada lengannya. Tuk!" Dompet mu!" ujar Seorang pria yang memakai baju serba hitam itu sembari menodongkan Dompet Itu." Eh? Dompet ku? Cepat sekali kau mengambil Dompet ini dari maling itu? Ngomong ngomong..? Loh mana orang nya?" ujar Diana yang yang hanya Fokus memperhatikan Isi Dompet nya sampai tak menyadari orang itu pergi." Sudah lah! Inti nya makasih!" ucap Diana Langsung bergegas pergi." Diana.. kau benar Diana! Dan apa foto Anak kecil yang berusia 5 tahun itu benar Anak mu?" Gumaman Xuan. 28 menit yang lalu di toko pembelanjaan Serba Ada." Bahan sudah Ada semua, apa lagi? Ah.. mungkin butuh cemilan.. Bir 4 botol lah! Mungkin juga harus belanja ini ini dan ini aku kan perlu makan selama tinggal Di sini." ucap plin plan Diana yang dari tadi sibuk berbelanja." Duakk!! Suara Terjatuh nya Cemilan Dari Ruang Depan Diana." Eh? Biar saya bantu.. Ini!" ujar Diana memberikan Cemilan yang terjatuh itu namun Orang itu buru buru Menghilang." Loh? Setidak nya Ucap terimakasih kek! Ngomong ngomong Cemilan itu Sama dengan Yang ku suka." ujar Diana Langsung menuju tempat Pembayaran." Hos.. hos.. tuk! Sialan! Hampir saja ketahuan untung deh langsung kabur!" Ucap terengah engah Xuan Dira. Diana" Hah! Segar nya! Udara di kota Ini memang sangat Enakk! Haloo kucing kau lapar ya? Makan ini untuk menjaga mu dari kejam nya Dunia." ujar Diana sembari memberikan Sosis kepada seekor kucing Yang berada di depan Restoran Ayam bakar. "Kau masih suka kucing ternyata, Hehe.. kau memang tak pernah berubah Diana." Gumaman Xuan Yang dari tadi terus mengikuti Diana."Hmmm.. semua nya sudah ada! Aku pun sudah beli Soju dan Ayam Bakar! Hah! Tak sabar ingin bersenang senang dengan Lilia." ujar Riang Diana Yang kini berjalan menuju Apartemen yang Ia Tinggali." Duk! Tiba tiba seseorang tak sengaja menabrak nya." Aw! Eh? Dompet ku! Malinggg!" Teriakan Diana yang kini terjatuh karena Tabrakan Tadi. Drap.. drapp.. drap..! Suara Langkah kaki Seseorang pria berbaju Hitam dengan wajah nya yang tertutup Topi dan masker." Hehehe.. Lumayan Juga uang nya! Tak sia sia aku mengikuti nya dari Apartemen." ujar Si pencuri yang kini membuka dan melihat isi dompet Diana." Jadi selain diri ku ada juga yang sedang membututinya." ujar Xuan Dira yang kini berada tepat di depan si pencuri itu." ..! Jadi kau juga ingin mencopet nya Ya? Maaf ya namun aku yang mendapat kan Duluan." ucap sombong si pencuri itu" Hehehehe.. untung lah kau sudah mencuri nya berikan kepada ku atau aku rebut dengan paksa." ucap tegas Xuan." Cih! Rupanya ingin bermain kotor! Maaf aku tak Ingin memberikan ini lewati saja Mayat ku dulu!" ucap sombong si pencuri." Sesuai keinginan mu.." saut Xuan sembari menyeringai dan tanpa butuh waktu lama Ia pun berhasil membuat si pencuri itu babak belur dan tak kuat berdiri." Kau! Kau berani memukul ku Lihat saja Aku akan mengatakan pada Tuan Xuan! Apa kau tau! Aku Itu Mafia kesayangannya!" ucap si pencuri itu yang tidak mengetahui Siapa yang baru Memukuli nya." Kau bilang Mafia Kesayangannya? Lalu kenapa aku sama sekali tak mengetahui siapa diri mu? Hehehe.. aku tak suka ada yang mengaku ngaku tentang orang ku, Ingin mati Ya? Atau hidup dalam keadaan Cacat?" ujar Xuan Dira sembari membuka masker nya sampai membuat Si pencuri itu tercengang dan Bersujud kepada nya." Tu.. tuan Xuan! Ma.. maaf kan saya! Saya sungguh buta sampai tidak menyadari kalau Di depan saya Adalah Tuan Xuan." ucap panik se pencuri itu." Kau memang buta! Aku maaf kan untuk kelancangan mu kali ini namun kau harus menjaga Wanita Tadi! Kau orang yang menjaga wilayah ini kan? Ingat jangan sampai wanita itu terluka atau pun di copet dengan orang mu! Jika itu sampai terjadi Kau tau tempat pemakaman kan?" ujar ketus Xuan dira bergegas pergi." Sa.. saya akan mematuhi perintah Tuan dan benar benar menjaga Wanita Tadi." ucap gemetaran Si pencuri itu masih Bersujud di tanah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD