Keesokkan Pagi nya Di kediaman Luz tanggal 28 Januari.
"Kupikir setelah kejadian Kemarin Ia akan sedikit lega dan memberikan sedikit jeda waktu.. kenapa bisa secepat ini?" ujar Lilia yang melihat Keluarga Raiyen datang di rumah nya sembari membawa barang barang hadiah untuk melamar Lilia.
"Kyaaaaa! Kita jadi bessan!" Ujar Riang From Qin." Hohoho.. kan sudah ku katakan serahkan saja pada mereka, bukti nya bisa secepat ini." Saut Senang Vivia Luz sembari membalas pelukan From Qin." Woi Faton kita jadi bessan nih! Entar Cucu gua Pokok nya Gua yang Gendong!" Ujar Heboh Luziang Ayah Lilia." Mana ada! Entar pokok nya Lilia harus memberi Cucu Yang Adil!" Saut Faton Qin." Woeee.. woeeee.. Nikah aja Belom!" Fikiran Lilia yang sudah terkena tekanan Batin." Ini juga! Kenapa cepat banget sih!" fikiran Lilia yang sekarang menatap Raiyen dengan tatapan Tajam." Hahaha.. Rasakan sekarang kau tak bisa kemana mana! Hanya menjadi milik ku!" Fikiran senang Raiyen sembari menatap Lilia dengan senyumannya." Sialan! Muka nya nyebelin bangat! Sabarin Lilia! Gitu gituh Calon Suami mu nanti!" Fikiran Lilia sembari menghela Nafas nya.
"Hohoho.. From Seharusnya kau tidak perlu mambawa begitu banyak makanan! Dan barang seperti ini." Ujar Vivia Luz ibu Lilia." Heii.. putri mu itu Idaman Para pria! Jika anak ku tak memberikan Yang lebih bisa saja bagaikan burung yang terlepas dari sangkar nya! Nyoh! Terima saja! Dengan begini kan Kita hanya perlu memikirkan tanggal pernikahan mereka." ujar semangat From Qin yang kini menatap Raiyen Dan Lilia." Mmm.. soal itu biar kalian saja yang memutuskan Lilia akan mengikuti semua yang di katakan Ayah Ibu paman dan Bibi." Saut Ragu ragu Lilia." Huh.. ini kan pernikahan yang hanya kau lakukan satu kali dalam hidup mu tentu saja kau harus melakukannya sesuai dengan keinginan mu." saut From Qin." Tapi Lilia tak pandai dalam menentu.." ujar Lilia tiba tiba di sela Raiyen." Lilia.. 22 Febuari itu hari kelahiran mu kan?" ujar tiba tiba Raiyen." I.. iya, kenapa kau bisa tahu?" Saut gugup Lilia." Ibu Ayah! Aku juga berhak dalam menentukan Tanggal pernikahan kami kan? Kalau begitu aku ingin Hari pernikahan ku dan Lilia dilaksanakan pada tanggal 22 Febuari Yang Arti nya Sebulan lagi, kau setuju kan Lilia?" ujar Tiba tiba Raiyen seketika membuat Semua orang yang berada di sana terkejut." Ah.. Itu, Tentu saja aku setuju jika kau yang menentukannya." ujar Lilia Dengan wajah tersipu malu nya." Huft.. Akhirnya sampai di jenjang Ini." fikiran Haru Raiyen sembari melihat Lilia dengan senyum Kecil nya namun mengandung Banyak makna yang tersirat." Woahhh! Kau dengar sebulan lagi!" Kyaaaaa.. tak sabar menggendong cucu." Ayo kita fikirkan siapa saja yang di undang!" Jangan lupa teman SMA kita juga!" Ya! Pamerkan kita mendapat menantu yang luar biasa!" ujar Heboh Orang tua Lilia dan Raiyen."
Loveta" Huft.. aku tahu pasti akan seheboh ini! Jika kak Davit mendengar kabar ini kira kira apa yang terjadi! Aku harap Ia tak melakukan hal aneh." Fikiran Nya sembari bergegas pergi namun di hentikan Lilia.
"Mau kemana? Jangan Tinggal kan Kaka." ujar Lilia sembari memegang tangan Loveta. Tap.. tap.. tap.. Tuk! Suara langkah kaki Raiyen tiba tiba duduk di samping Lilia." Hehehe.. kaka kan sudah ada yang nemanin! Aku hanya sadar diri! Toh nggak enak juga jadi nyamuk terus! Bay kak!" ujar Loveta bergegas pergi. Hsssss.. hsss.. suara Nafas Raiyen yang terdengar oleh Lilia." kau.. bisa kah menjauh sedikit? Na.. nafas mu." ujar Lilia dengan wajah merona nya." kenapa? Hihihihi.. seperti nya fikiran di kepala mu sekarang sangat berbahaya." Saut Raiyen sembari berbisik di telinga Lilia." Mmmmm! Nggak tahan lagi!" Fikiran Lilia tak sengaja mendorong Raiyen dengan Siku nya." Ah! Ma.. maaf!" ujar gugup Lilia." Suatu tindakkan kekerasan harus dapat hukuman bukan? Ayo ikut aku!" bisikkan Raiyen sembari menarik Lilia ke Arah Taman." Sampai! Tempat ini cocok juga buat menghukum mu." Gumaman Raiyen seketika membuat Lilia takut." Apa kau benar benar akan menghukum ku? Kita belum saja menikah kau sudah melakukan KDRT!" Saut Lilia sembari Melepaskan pegangannya.
Raiyen" Kau pikir aku akan benar benar melakukannya? Aku hanya ingin mencari tempat di mana kita bisa berdua saja, Kemari.. duduk lah di Ayunan ini." ujar Raiyen sembari menepuk nepuk Ayunan Itu.
"Kan kau bisa bilang! Tak perlu menakut nakuti ku seperti ini." ujar Lilia sembari duduk Di Ayunan Itu." Iyaa.. maaf deh! Sebagai ganti nya aku akan memberikan hadiah! Tangan kanan ku atau tangan kiri ku?" ujar Raiyen sembari menunjukkan dua tangan nya yang mengepal." Isi nya bukan aneh aneh kan?" Saut curiga Lilia." Pikiran mu penuh dengan curiga an ya? Hitungan ke 2 jika kau belum menentukannya, aku akan mencium mu selama 30 menit! 1.. " ujar Raiyen yang kini mulai menghitung." Tu.. tunggu! Kau jahat! Aku pilih yang ini!" saut Lilia yang kini memegang tangan kanan Raiyen." Hehehe.. sebegitunya tidak ingin di cium ku ya?" ujar Raiyen." Tentu saja mau! Eh? Mak.. maksud ku kita bisa melakukannya saat sudah menikah nanti." ujar Lilia dengan wajah seri seri nya." Hahaha.. aku jadi ingin menikah besok saja! Agar bisa melakukan apa pun pada mu" Saut Raiyen yang membuat wajah Lilia semakin memerah." Hentikan.. buka saja apa yang ada di tangan mu sekarang." ujar Lilia yang mencoba mengalihkan pembicaraan." Benar juga ulurkan tangan kanan mu terlebih dahulu." ujar Raiyen sembari memasukkan Sebuah Cincin berlian laut lepas di jemari manis Lilia." I.. ini? " ujar terkejut Lilia ketika melihat Cicin Itu melingkar di Jemari nya." Dengan ini kau tak akan bisa ke mana mana lagi!" Ujar Raiyen sembari menyeringai.
Tringgg.. tringg.. suara Dering Telephone Loveta berbunyi." Huh! Nggak asik ku kira Kak Raiyen akan melakukan hal Panas! Jika hanya memakai cincin sangat membosankan!" ujar Loveta yang dari tadi bersembunyi di Balkon Lantai 2 agar bisa melihat Lilia dan Raiyen. Tringg.. trinngg suara Telephone Loveta kembali berbunyi." Akh! Berisik!" ujar kesal Loveta sembari mendorong Handphone nya menjauh." Lilia.. boleh kan?" ujar Raiyen sembari meremas Wajah Lilia." Aha! Yang di tunggu tunggu akhirnya di mulai! Lumayan buat jadi pengetahuan." ujar Riang Loveta tiba tiba terganggu karena dering Telephone nya yang terus berbunyi." Akh! Sialan! Pohon itu menghalangi!" Tringg.. tringg! Gilaa! Siapa sih!" ujar kesal Loveta langsung mengangkat Telephone itu." Woi! Masih hidup kan?" Ujar tiba tiba Davit." Suara ini? Kak Davit? Yak iya lah masih hidup!" Saut Loveta." Kukira Udah beda alam! Lama bangat sih ngangkat nya." ujar kesal Davit." Hissttt.. kecil kan suara mu! Apa kau tak tahu aku lagi menyamar?" ujar Bisik bisik Loveta." Hah? Apa kau masih menyelidiki di mana keberadaan Rara? Aku sudah tau mengenai itu makanya aku menelephone mu untuk membicarakan itu, cepat pergi dari tempat itu, jika kau lagi berada di suatu tempat bisa saja tempat itu berbahaya." ucap Davit." Huft! Masa sih jika aku mengatakan sedang mengintip Kak Raiyen dan Kak Lilia sedang berciuman? Jika Kak Davit mendengar hal itu Ia juga merasa Sesak bukan? Dan tentu Ia akan berfikiran Aku itu Aneh atau c***l! Hah! Nggak deh." fikiran Loveta." Iya aku akan segera pergi, Soal Rara seperti nya kita tak bisa membicarakan nya Lewat Telephone, aku akan mengabari mu nanti." Ujar Loveta." Ah.. begitu ya.. Mmm.. Loveta, ah tak jadi deh kalau begitu sampai bertemu nanti." ujar Davit langsung mematikan Telephonennya." Hah! Benar juga untuk apa aku melihat ini? Bisa saja Jiwa jomblo ku melunjak nanti! Beruntung lah kalian." ujar Loveta sembari melirik Lilia dan Raiyen sehabis itu bergegas pergi.
Kediaman Keluarga Dira di kota Beijing.
Davit" Dia ingin mengajak ku ketemuan ya? Jadii dia sudah tak menghindari ku? Syukur lah jika begitu.. aku juga akan mengatakan tentang perasaannya yang harus di hentikan." Fikiran Davit sembari melihat ke arah Luar jendela.
Clek!.. gyutt.. gyuttt! Suara Adonan Kue yang sedang Di aduk Rara." Ibu apa seperti ini?" Ujar Rara dengan wajah penuh Tepung." Hahahha.. kau itu anak Gadis kenapa bisa secemong ini si? Sini Ibu rapihkan, hehehe.. Dasar Anak ibu belum besar juga rupa nya." tertawaan Diana sembari mengelap gelepung yang berada di Wajah Rara.
"Hahaha.. maka besar kan aku dengan baik." Saut tertawaan Rara yang terlihat sangat bahagia." Tingg.. suara Oven berbunyi yang menandakan Kue sudah Matang." Kue nya matang! Mari kita cicipi." ujar Diana sembari mengeluarkan Kue dari Oven itu." Wahhhh.. kue nya cantik!" Ujar Riang Rara." Tentu saja putri ibu yang mengadoninya! Buka mulut mu Aaa.." ujar Diana sembari menyiapi Rara dengan sepotong Kue itu." Mmmm.. Enakk! Ibu cobaa lah juga!" Tentu jika Rara yang menyuapi!" Obrolan Hangat Diana dan Rara yang sedang Asik membuat Kue di Dapur.
Xuan" Aku tau.. Niat Diana baik dalam mengurusi Rara dengan sepenuh hati nya, namun Ia adalah Rara yang dari kecil sudah di latih sifat ke Mafiaan! Seberapa baik Diana mengurus nya Ia tidak akan berubah sedikit pun! Sebenar nya apa yang kau rencana kan Diana? Bagaimana pun juga aku akan selalu memantau gerak gerik mu, aku tak akan membiarkan kau berfikir untuk melukai Diana! Walau hanya segaris Luka satu pun!" fikiran Xuan Dira yang terus memantau Keadaan Di Dapur sembari meneguk Kopi nya." Ibu Kue nya biar ku taruh sini yaa? Ehh? Akkkkk!" ujar Rara yang terpeleset dan semua Kue yang berada di piring Jatuh dan pecah. Pranggg!" Ku.. kueh nya!" ujar panik Rara sembari merapihkan Dan mengambil Kue dan pecahan piring itu. Tak!" Jangan sentuh! Biar Ibu saja! Ouchh!" ujar Diana yang terkena pecahan piring itu." Dianaa!!" Drap.. drap.. drap suara langkah lari Xuan." Tangan mu berdarah? Marii biar ku lihat." Ujar khawatir Xuan sembari memapah Diana berdiri." Kau! Ini semua rencana kau kan? Kau mau menyelakai Diana? Dari awal sudah ku duga kau hanya berpura pura baik dengan Diana! Kau memang licik seperti ibu mu! Pantas saja kau tak memiliki Keluarga satu pun!" Teriakan Xuan dengan nada marah nya menatap tajam Rara yang sedang terduduk di lantai itu." Rara..? Xu.. Xuan! Hentikan perkataan kejam mu itu! Dia masih kecil tega nya kau mengatakan itu." ujar Diana sembari memegang bahu Rara." Drap.. drap.. drapp suara langkah lari Davit sehabis mendengar suara pecahan piring." Ibuu? Apa yang terjadi? Kenapa Tangan ibu Terluka? Apa ini gara gara wanita kotor ini? Dasar pembuat onar! Apa hidup mu hanya bisa berjalan sehabis melukai orang?" Teriakan Davit." Berhenti! Davit! Apa ibu mengajarkan kau untuk bersikap seperti ini?" Ujar Diana. Tak!" Kau dengar kan Ibu? Tidak ada yang menghargai perubahan ku disini! Bukan kah ibu terlihat seperti orang gila yang hanya mempercayai ku di keluarga ini? Jadi seperti mereka maka ibu akan aku sebut waras!" ujar ketus Rara sembari melepaskan pegangan Diana dan bergegas pergi ke kamar nya.
Diana" Kalian lihat itu? Dia adalah seorang anak yang tidak mempunyai keluarga satu pun! Akuu.. akuu tau perasaan nya! Karna aku pernah merasakannya! Hidup hampa! Kurang kasih sayang! Bahkan tempat berbagi pun tak ada! Sekarang yang Ia punya adalah aku! Dan apa yang kalian lakukan hah? Kalian telah menarik ku jauh dari nya! Mulai sekarang jangan berbicara pada ku! Anak dan Ayah sama saja!" Teriakan Diana dengan nada marah nya bergegas pergi.
Kamar Rara. Hiks.. hiks.. hiks!" Apa yang aku lakukan tadi sampai membuat mereka mengatakan hal buruk seperti itu? Aku hanya ingin berubah! Aku hanya ingin tulus menganggap Ibu Diana sebagai ibu ku! Kenapaa Ia membuat ku menjauh Dari ibu Diana! Hanya dia yang memperhatikan aku di Dunia ini! Hanya dia yang memberikan Cinta di Dunia ini! Dan bodoh ya aku mengatakan hal kasar pada Ibu Diana! Aku benci diri ku!" Isakkan Rara yang menangis Di samping kasur nya.