saat anak anak sudah tidur, aku langsung menyiapkan pesanan untuk besok, memarinasi ayam, dan membuat sambal , setelah selesai aku mulai mencuci baju, dan menyapu dam mengepel lantai, saat ku lihat jam menunjukan pukul 2 dini hari, setelah selesai aku segera tidur
jam 4 pagi aku sudah bangun, mulai membakar ayam ayam yang sudah ku marinasi, untung saja untuk packing aku di bantu ibu, 50 pesanan di hari pertama sudah alhamdulilah sekali, ada sebagian yang di ambil di rumah,
setelah selesai semua aku memandikan anak anak yang sudah bangun bersiap siap berangkat bekerja sekalian mengantar beberapa pesanan
termasuk pesanan dari pak amir,
kebetulan rumah pak amir dan perumahan tempat oma tinggal hanya memakan waktu 15 menit
"duh jangan sampai bertemu mantan ibu mertua sama mas dimas deh bisa panjang lagi urusan pagi pagi"
tok tok tok "assalamualaikum bu suti mau antar pesanan" ku ketok ketok beberapa kali tak ada jawaban
"hanaa!!!" seru seseorang agak keras, aku berbalik badan rupanya bu suti sedang ada di warung sayur depan ,kebetulan rumah ibu mertua berjejeran dengan rumah bu suti, "hanaa kok bengong, sini hann"
" seru mereka yang ada di sana aku beegegas ke sana
"ini bu pesanannya,"
dia tersenyum mengambil pesanan dan meletakannya lalu memeluku
"han, kamu sehat kan apakabar anak anak ibu sangat rindu mereka"
semua ibu ibu yang di sana juga bersedih
"baik bu, kita sehat. hana juga bekerja sekarang anak anak bersama ibu dan keluarga hana di sana, jika ibu dan pak amir senggang main kesana bu"
ucapku
"wah sopan sekali hana, kesini tidak mampir nengok mantan mertua yang sakit karna syok malah sibuk beegosip di warung. dosa loh hana gosip" ucap ibu mertua di teras rumah
"ya ampun siapa yang gosip sii jengg"timpal mba ratini
"ibu ibu saya pamit dulu ya sudah siang, tidak enak jika terlambat sampai kerjaan" aku buru buru pamit dan ke depan rumah pak amir untuk mengambil motor, karna tadi ku parkir di sana aku tidak menghiraukan gerutu gerutuan ibu mertua, langsung saja ku berlalu dari sana
"maafkan hana bu, bukan bermaksud kurang ajar tapi jika hana meladeni ucapan ibu hari ini, takut persoalan akan makin panjang" ucapku dalam hati
***
sampai di rumah oma, aku melihat orang asing yang sedang duduk di bangku taman, "mungkin saja itu mas arka cucu oma maria" lalu aku mengucap salam "assalamualaikum"
"waalaikumsalam, hana ya?"laki laki itu beranjak dari kursi
"iya, ini mas arka? cucu oma maria?"
"iya aku arka" balas dia sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman
setelah menyapa mas arka aku bergegas masuk ke dalam, dan seperti biasa memasak sarapan dan membersihkan rumah,
"pagi hana"
"pagi oma, ayo sarapan oma"ajaku
"baiklah, panggil arka kemari hana, mungkin dia ada di kamarnya,"
saat sedang memasak tadi aku memang melihat pria itu masuk ke dalam rumah, mungkin di kamarnya
"baik oma"
aku segera berlalu mengetuk kamar mas arka "mas arka di panggil oma untuk sarapan bersama"
"oke hana"ucapnya dari dalam aku segera berlalu
***
setelah selesai semua aku menghampiri oma yang sedang duduk di teras belakang
"oma sedang apa?"
"melamun hana, sini duduk temani oma mengobrol"lalu aku duduk d samping oma
"hana, oma sudah tua dan anak oma hanya widi satu satunya, tapi dia enggan untuk menikah lagi, oma ingin bermain bersama anak anak sebelum oma tiada"
"ah oma ini berkata apa, mungkin belum oma, mas arka dan pak widi kan masih sibuk bekerja"jawabku
"apa kamu ada niat untuk menikah lagi hana"
aku terbelalak
"belum oma, hana mau fokus buat jualan dulu, sama kerja karna anak anak hana masih kecil. lagi pula siapa laki laki yang mau dengan janda beranak 2" gurau ku
"hana, kamu masih sangat cantik bahkan walau tidak berdandan wajahmu sudah sangat berseri seri menurut oma,, pasti banyak laki laki yang mengincar kamu,
kamu berjualan apa hana?"tanya oma lagi
"nasi bakar, ayam bakar, sama kueh kueh kebetulan dulu sebelum menikah dengan mas dimas, hana sudah berjualan sambil bekerja, tapi setelah menikah sudah tak di izinkan untukbekerja dan berjualan online lagi sama mas dimas dengan ganti hana di beri amanat untuk berjualan jenis konter di ruko ibu mertua"
"kamu jualan makanan hana? kapan jualannya? bukannya pulang dari sini selalu sudah sore? "
"iya oma sepulang dari sini hana mampir ke tempat tukang ayam, kalau bumbu bumbu dan lalapan hana beli pagi hari di pasar dan di masak pada malam hari setelah orang rumah tidur semua, untuk saat ini hana hanya menerima pengantaran pesanan untuk pagi hari oma karna harus berangkat kemari kalau yang di ambil agak siang nantu bertemu ibu. untuk saat ini hanya ayam bakar, goreng, dan saja oma,"aku menjelaskan
"hana, kamu tangguh sekali, "
"ah oma bisa aja,"jawabku lagi
"sebaiknya oma beriatirahat di dalan oma, sudah sore hana juga mau siap siap beberes rumah habis itu pulang"
"baiklah hana, kamu juga jangan terlalu cape ya jangan sampai sakit anak anak sangat membutuhkan kamu, kamu harus tangguh dan tegar"
"tenang saja omaa, hana sudah tahan banting"ucapku terkekeh,
aku segera masak untuk makan malam mereka nanti,
setelah semua selesai aku menunggu oma sambil meneruskan novel yang kemarin kemarin tidak sempat ku lanjutkan,novelku cukup ramai di bicarakan di sosial media apalagi di kalangan anak muda, iseng iseng menulis saat anak anak sudah tidur waktu masih bersama mas dimas 4 bulanterakhir malah alhamdulilah menghasilkan uang walaupun tidak begitu banyak, bisa ku tabung, saat ku lihat dikolom pendapatan "wah sudah 1000$" wah bukankah ini cukup banyak, aku akan mencairkannya 250$ untuk di berikan pada ibu separuh dan separuhnya untuk mentlaktir bulik dan mba puput karna sudah sering membantuku menjaga anak anak, serta membeli stok s**u, dan cemilan zahra dan zifa
"mas hidupku jauh lebih baik baik saja sekarang, aku bisa membelikan anak anak apa yang mereka mau tanpa ada sindiran sindiran dari bapak kamu mas, di samping rasa sakitku aku masih ingin melihat kamu, ibu dan bapak bahagia" tidak sadar aku menitikan air mata lagi
"hana, apa kamu menangis? kamu baik baik saja hana, hari sudah sore kenapa kamu belum pulang kasian anak anak"
suara seseorang membangunkan ku dari lamunan,
"ah tidak pak widi, hana hanya membaca novel sedih setelah bekerja tadi,"
jawabku smbil mengusap air mataku
"baiklah jika ada apa apa yang bisa saya bantu bilang saja hana, kita sudah seperti keluarga" ucap pak widi lagi
"moduss teruuuss"
kami menengok secara bersamaan
pak widi mengabaikan lelucon mas arka,
"saya pamit mau bersiap siap pulang pak "
"baiklah, jangan dengarkan ucapan arka tadi ya. dia memang sedikit kurang ajar" aku menanggapinya dengan tersenyum kemudian pamit bersiap siap pulang