part 8

1039 Words
"oma stok ayam di kulkas habis," "ah benarkah hana? belilah ke pasar pakai uang yang ada di saku kulkas ya sekalian beli sayur dan buah untuk stok kita" jawab oma baiklah oma, lekas ku pakai sweeter untuk pergi ke pasar karna hari ini cukup panas "pakai mobil saja hana, nanti oma telponkan supir" hari ini cukup panas "ah tidak oma, hana pergi sendiri saja dengan motor, biar lebih cepat" jawabku "hana pergi duluu omaa" "oke bye bye" etelah itu ku lajukan motor ke pasar, ku langkahkan kakiku ke tempat pak amir, tetanggaku dulu waktu masih bersama mas dimas, kebetulan aku juga selalu blanja ke pasar ini kalau tukang sayur depan rumah tutup, "pak amir ayam 2,5kg ya potong biasa, yang setengah kg potong kecil untuk sop" sapaku pada laki laki yang mungkin seusia bapak mertuaku itu "hana, benarkah itu kamu nak?" tanya pak amir dengan mata berkaca kaca "bagaimana kabarmu hana, dimana anak anak? " "aku sangat baik pak, anak anak juga sehat, bapak dan ibu suti apakabar?" "bapak sehat hana, bapak kira tidak akan bertemu denganmu lagi, ibu mertuamu bercerita kepada istriku katanya kamu berselingkuh dari dimas dan pergi bersama laki laki lain tapi kami sekeluarga tidak percaya hana, karna kami percaya kamu anak yang baik, justru dimaslah yang sering berjalan bersama wanita lain. apa akhirnya kamu tau? sehingga kamu pergi dari rumah itu? maafkan kami hana, maafkan saya dan ibu karna tidak berani mengatakannya padamu lebih awal" kata pak amir sambil berlinang air mata "ah tidak apa apa pak amir semua sudah berlalu, hana sudah baik baik saja, syukurlah jika pak amir tidak percaya. hana tidak menyangka pak ibu mertua bisa berbuat seperti itu. sudahlah pak jangan sedih nanti hana ikut sedih loh" jawabku menenangkan pak amir "sehat selalu hana, semoga bahumu selalu di kuatkan ya" "yaa pak terimakasih, ayamnya jangan lupa ya pak hana mau membeli sedikit sayur dan buah nanti hana balik ke sini lagi"pamitku pak amir dan keluarganya memang orang yang sangat baik, mereka bahkan sering membantuku menjaga zahra saat kecil, karna waktu itu ibu mertua masih ada di luar negri, "apa benar ibu mertua tega memfitnahku untuk menutupi kesalahan anaknya" tanyaku dalam hati, setelah selesai berbelanja sayur ikan dan mengambil ayam di tempat pak amir aku lekas buru buru pulang ke rumah oma,kemudian memasak biar tidak terlalu sore selesainya, setelah membuat ayam goreng ,sayur capcay dan ku tambah memasak mie goreng, aku memotong buah dan menghidangkannya di meja makan setelah selesai memasak, rupanya pak widi belum pulang ke rumah jadi ku ke taman untuk menyiram tanaman dan menyapu halaman samping,"hana kamu belum pulang? hari sudah sore, kasian anak anak kamu menunggu" tanya pak widi , entah kapan beliau pulang. "iya pak tadi menunggu bapak agar oma tak sendirian di rumah, beliau mungkin sedang merapikan kamar untuk mas arka yang katanya akan pulang malam nanti." jelasku "arka? pulang? benarkah anak itu akan pulang?"tanya pak widi seperti tidak percaya "betul pak, oma sendiri yang mengatakanya" "yasudah karna bapak sudah pulang pekerjaan hana juga sudah selesai hana pamit pulang dulu ya pak" "ah baiklah,"jawab pak widi aku bergegas masuk bebersih mengambil sweeter dan tas di dalam "hanaa ini oma titip untuk anak anak kamu ya, untuk jajan"kata oma terburu buru "wah apa ini oma? hana kan baru bekerja 2 hari" jawabku "ini hadiah oma karna kamu sangat baik pada oma dan pekerjaanmu bagus sekali,kalau masalah gaji itu urusan widi. ini hadiah dari oma jangan lupa sampaikan yaa"kata oma lembut "ah baiklah oma, hana pulang dulu oma assalamualaikum" "waalaikumsalam hana" "wah ibu sepertinya mulai dekat dengan hana," gumam pak widi setelah kepergian hana "wid apa kamu tidak ada keinginan untuk menikah lagi?" "tidak bu,lagi pula apa ibu mau menjodohkan hana dengan pak tua sepertiku ada ada saja" jawab pak widi terkekeh geli "dasar ke PDan" gumam oma sambil berlalu *** sepulang bekerja aku mampir ke tempat pemotongan ayam, agar bisa beli ayam yg lebih segar untuk membuat pesanan besok pagi, untuk bahan sambal dan lalapan sudah ku beli tadi pagi sekalian dan ku taro di kulkas. saat sampai ke depan ku dengar tampak ramai di rumah sepertinya ada tamu di rumah "assalamualaikum" "waalaikumsalam hana, kamu sudah pulang nak bebersihlah dulu lalu kemari ya" ucap ibu "astaga ada keluarga mas dimas kemari, ada apa lagi ini"aku terlalu takut jika bapak mertua berkata yang kurang enak lagi karna ada zahra di rumah, takut mengganggu kesehatan mentalnya, walaubagaimanapun ada mas dimas dalam tubuh hana lekas aku membersihkan diri lalu keluar menemuii mereka "ada apa ya pak, bu, mas dimas dan bulik suci kemari"tanyaku ,aku ingin semua lekas berlalu "begini han, setelah ibu pikir mungkim alangkah baiknya zifa dan zahra kami yang mengurus lagipula kami cukup mapan dan bisa memberikan apapun yang mereka inginkan" ucap ibu mertua "tidak!, aku mengizinkan kalian menjenguk anak anakku tapi jangan coba walau sekalipun mencoba merebut mereka dariku!"kali ini aku benar benar tersulut emosi. aku tidak tau apa yang ada di pikiran mereka "apa selingkuhanmu tidak bisa hamil mas? atau tidak mau hamil? kenapa kalian mau mengambil anakku setelah menuduhku selingkuh untuk menutupi kesalahan anak kalian!, kalian bukan hanya merebut duniaku, tapi juga anak anak" "hana!! jaga sopan santunmu!"bentak dimas "kenapa? apa kamu pikir hanya kamu yang bisa mengumpat, yang bisa berteriak, kenapa kau bicara soal sopan santun? apa kau di ajari sopan santun? kamu bahkan terus memukuli ku saat kita bertengkar tapi tidak sekalipun aku mengadu pada ibuku!" "dan untuk bapak mertua yang terhormat, dengarkan! orang yang kamu sebut janda miskin bahkan derajatnya jauh lebih tinggi di banding kalian yang punya tahta tapi tak punya hati!!! orang tua macam apa yang mendukung anak lelakinya berselingkuh dan membiarkan dia meninggalkan anak dan istrinya"aku sudah tidak bisa membendung air mataku lagi "dasar wanita gila, kampungan makanya tidak punya attitude" "maka pergilah kalian dari sini!" "ayo dimas kita pergi susah memang berbicara dengan wanita kampung dan tidak berpendidikan!!" ucap ibu mertua sambil menggandeng tangan dimas mereka bahkan membanting pintu saat keluar rumah tubuhku melorot, sakit, sakit sekali rasanya, aku menangis sejadi jadinya "mama, jangan nangis ma . zahra di sini, zahra tidak akan ninggalin mama dan dede zifa" ucapan itu benar benar menenangkan, lekas ku peluk zahra kuat kuat, bahkan setelah menyakiti aku, mengambil kebahagiaanku kamu masih tidak bisa membiarkan aku bahagia dengan anak anaku mas dimas ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD