Chapter 05
Chan menangahkan kepalanya keatas, menatap langit berwarna kelabu di jam empat sore ini.
Bertanya dalam hati: apakah langit menangis untuk nasibnya yang menyedihkan?
Pertanyaan Chan tidak dijawab oleh siapapun. Hanya saja rintik air yang turun ke bumi bertambah deras saja.
Lelaki itu menghela napasnya, menghirup aroma tanah yang terasa keunikannya ketika hujan. Berusaha tidak memaki atas kesialan yang dialaminya.
Mulai dari; ia yang berusaha akan melupakan Hana tapi malah sekosan sama gebetannya itu, lalu ada fakta menyakitkan karenaternyata yang naksir Hana bukan cuman Chan, tadi juga Chan, bertindak memalukan didepan mantan, presentasi dadakan tanpa persiapan sama sekali, dan dosennya ga jadi masuk cuman gara-gara istrinya ngidam dan minta dibeliin rujak.
Hah, betapa sialnya Chan hari ini. Akan kah semua kesialannya akan bersambung terus seperti sinetron Cinta Fitri? Chan harap enggak. Menjadi manusia setengah kura-kura—kuliah rapat-kuliah rapat—saja udah sangat melelahkan untuknya, apalagi jika kesialannya berlanjut.
Lelaki yang sedang duduk diarea fakultas ekonomi itu mencoba menikmati dua jam tenangnya sendirian sebelum ditarik kembali untuk rapat. Sebenarnya Chan bukan penyendiri, tapi sendirian seperti ini adalah obat terbaik untuknya, dengan harapan menjadi lebih tenang tentu saja.
Setidaknya begitu sebelum akhirnya mata sipit Chan melihat Hana yang berlari ke arahnya, menembus hujan.
"Anjir basah," setelah sampai di tempat kering bukannya menyapa, Hana malah mengumpati dirinya sendiri. "kayanya malam ini gua musti nyuci dah."
Mendengar ocehan Hana barusan Chan langsung terkekeh pelan. Dia lalu menyahut. "Ya makannya nyuci dong, jangan males."
Mata Hana langsung melotot, dia kaget pake banget. "Anjir!" tangan Hana mengusap dadanya sendiri setelah melihat oknum yang membuatnya kaget itu. "gua kira ada hantu jir yang tiba-tiba ngomong gitu, eh ternyata kak Chandra."
Chan melipat kedua tangannya didepan d**a. "Lah daritadi juga gua disini, emang ga keliatan?"
Hana menggekengkan kepalanya. "Enggak."
"Segini gedenya ga keliatan?"
"Enggak kan gua ga pake kacamata, Kak," Hana lalu menghampiri Chan dan mendudukan tubuhnya disamping Chan. "numpang duduk disini yaa."
Chan mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia ingin menetralkan degup jantungnya yang seperti sedang lari marathon dari Anyer sampe Panarukan. Deg-degan parah Chan tuh cuman gara-gara Hana yang duduk disampingnya. "Sok aja, toh gua ga punya hak buat ngelarang lo."
"Yah takutnya Kak Chan nungguin pacar atau doi gitu, ntar gua ganggu dong."
Chan menggeleng dengan cepat. "Enggak kok, gua ga punya pacar."
Hana menganggukan kepalanya pelan. "Ohh dikirain punya."
Chan akhirnya menolehkan kepalanya, memberanikan diri menatap lawan bicaranya. "Kenapa lo ngiranya punya?"
"Kak Chan ganteng soalnya." jawab Hana dengan entengnya. Itu mulut ga dijaga banget astaga.
Jahat, dia ga tau sih efek jawaban itu buat jantung dan pipinya Chan.
"H-ha?" Chan mendadak ganteng, ganguan telinga, ga percaya sama yang barusan dia denger dari gebetannya. "ganteng?"
"Iya ganteng. Emang Kak Chan ga ngerasa ganteng?"
Chan menggelengkan kepalanya pelan dengan mulut yang setengah terbuka. "Ga, gua ga pernah ngerasa ganteng meskipun orang lain bilang gitu. Soalnya banyak yang lebih 'layak' disebut ganteng ketimbang gua," kata Chan menjawab pertanyaan Hana barusan tanpa menatap lawan bicaranya. Terlalu deg-degan dia tuh. "aneh ya?"
"Enggak kok, soalnya gua juga gitu sih, Kak. Ga ngerasa cantik." respon Hana.
Chan agak terkejut mendengarnya. Aneh, toh biasanya cewek mengaku dengan pedenya kalau dirinya itu cantik, tanpa sadar akan kenyataan wajahnya yang kadang lebih mirip logo kumon ketimbang standar cantik sesungguhnya. "Kenapa?"
Kenapa Hana ga ngerasa cantik? Padahal Chan rasa wajah Hana masih termasuk ke list orang yang cantiknya diatas rata-rata.
"Soalnya kadang gua pikir orang yang bilang gua cantik cuman pengen ngehibur gua aja. Padahal gua ga ngerasa cantik sama sekali, kecuali kalo gua lagi sendirian terus ngaca. Kalo lagi bareng orang mah kecantikan gua ilang."
"Enggak ah, lo tetep cantik kok."
Hana yang semula melihat langit pun menolehkan kepalanya. Kini matanya tertuju pada Chan, seolah meminta penjelasan dari ucapan Chan sebelumnya. "Lah Kak, jangan bilang lo cuman pengen ngehibur gua karena tadi gua bilang lo ganteng."
Chan menggelengkan kepalanya. "Serius, lo emang cantik kok," katanya. "kalo ga cantik mana mungkin tadi pagi si Jeyhan ngeliatin lo mulu." sebenarnya agak sakit sih bilang begitu, tapi mau gimana lagi ... Kenyataannya emang gitu.
"Lah gua kira itu hereuy doang," sahut Hana tak percaya. Chan bengong, dia ga tau arti heureuy. Sadar akan hal itu, Hana berkata lagi. "maksud gua bercanda. Ya you know lah cowok gimana."
"Telinga dia merah tau, emang lo ga sadar?"
"Gua ga merhatiin dia, Kak."
Chan pengen salto aja pas ngedenger ucapan Hana barusan saking bahagianya. Iya lah, abisnya seorang Jeyhan yang jadi manusia most wanted di kampus, ganteng dan idola banget tapi malah ga diperhatiin sama gebetannya sendiri.
Mungkin itu azab karena terlalu sering tebar pesona kali ya.
"Lah kenapa?" Chan pura-pura bingung. "Jeyhan kan termasuknya orang ganteng di kampus. Emang lo ga tertarik sama dia?"
Hana menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya sendiri. "Hm kayanya buat sekarang enggak. Enggak tau tuh kalo dia ngebeliin gua album Straykids sama tiket nonton konsernya yang vip, mungkin aja bisa."
Chan terkekeh sampai cacat pipinya terlihat jelas. "Astaga jujur banget lo. Ga takut kalo misalnya gua bilangin ke Jeyhan?"
"Ngapain takut, orang sama-sana manusia ini."
"Weh kerad juga lo ya."
"No kerad no lyf."
Kedua anak manusia itu lantas mentertawakan obrolan unfaedah mereka. "Wahaha—"
"ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR ..."
Namun sayang sekali tawa mereka harus terhenti ketika Adzan ashar berkumandang. Hana pun otomatis terdiam, seperti yang dilakukan umat muslim lainnya ketika adzan.
Kadang Chan heran, kenapa umat muslim harus melakukan itu? Untuk apa? Padahal yang Chan tahu Adzan bukan salah satu bentuk ibadah orang muslim. Tapi kenapa orang muslim selalu diam ketika mendengarkan adzan? Dan bahkan setelah adzan berhenti, mulut Hana berkomat-kamit dengan bahasa yang tidak Chan mengerti, lalu dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dia bingung tau ga mau nanya, takut salah.
"Mau Shalat?" tanya Chan—yang sebenarnya dia sendiri ga ngerti kenapa malah bertanya begitu.
Hana mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Chan. "Iya, kalo ada mushola dideket sini."
"Ada kok, tiap gedung ada musholanya," Chan lalu berdiri dari duduknya dan membawa tas hitamnya. "ayo, gua anter."
"Oke."
Mereka lalu berjalan ke mushola secara beriringan, bahkan diperjalanan Chan dan Hana sempat-sempatnya mengobrol tentang Awkarin yang leave instajaram. Dasar duo lambe.
"Ini musholanya." Chan menunjukan mushola yang ada digedung fakuktas Ekonomi pada Hana.
Musholanya tampak sepi sore ini, mungkin karena faktor hujan dan beberapa masih belum keluar kelas.
"Oke," Hana mencopot sepatu dan kaus kakinya terlebih dahulu. Namun dia tak langsung masuk, karena bingung. "kak Chan ga sholat?"
"Chan nonis, Han." Bukan Chan yang membalas pertanyaan Hana barusan, melainkan Jeyhan yang entah muncul dari mana.
Hana menatap Chan takut-takut, dia lalu menyatukan kedua telapak tangannya didepan wajah. "Sorry Kak Channn, gua kira kak Chan muslim juga," Hana nyengir awkward sembari menggaruk pipinya. "soalnya kak Fathur yang awalnya gua kira Kristen, malah muslim."
Chan menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "No problem. Lagian lo ga tau."
"Yaudah Han, ayo sholat," ajak Jeyhan diiringi senyuman manisnya. Kan harus manis didepan gebetan mah. "sholatnya berjamaah sama gua ya?"
"Oke," Hana menganggukan kepalanya dan membalas senyuman Jeyhan. "oh iya, Kak Chan masih mau disini?"
Chan terdiam sebentar. Tentu saja dia masih mau diam menunggu Hana disini, tapi ngapain juga? Sekarang udah ada Jeyhan. Dia ga punya alasan buat tetap disini.
"Hm kayanya enggak, gua mau cari Fathur, Han," balas Chan. "soalnya bentar lagi mau rapat."
"Oh oke. Semangat rapatnyaaa."
Chan auto sesak napas, ga ngerti lagi kenapa gebetannya manis baner. "I-iyaa."
Hana dan Jeyhan lantas masuk ke tempat wudhu yang tentu saja berbeda, meninggalkan Chan yang sebenarnya bingung mau kemana lagi.
Chan ga bohong soal rapat, toh dia kesini karena ada rapat di sekitaran gedung fakultas ekonomi. Hanya saja ga sekarang. Rapat dimulai abis ashar.
Lelaki itu menghela napasnya, mau pergi tapi bingung harus kemana, mau tetap disini tapi rasanya terlalu menyiksa ketika melihat Hana dan Jeyhan melakukan sholat berjamaah.
Jujur saja Chan iri pada Jeyhan yang berdiri didepan Hana dan gadis itu mengikuti setiap gerakan yang Jeyhan lakukan. Kalau bisa sih, Chan ingin ada di posisi Jeyhan sekarang, namun lagi-lagi dia ingat hal itu sangat tidak mungkin terjadi karena perbedaan antara Hana dan Chan.
'Aku juga ingin berdiri didepannya, memimpinnya untuk lebih dekat dengan Tuhan. Tapi caraku dan caranya beribadah berbeda. Dengan perbedaan ini, apa aku masih layak berharap menjadi Imam masa depannya?'
...