Chapter 06
Seumur hidup, baru kali ini Chan bertemu dengan orang yang sama lebih dari 5 kali tanpa disengaja. Rasanya aneh. Apalagi kalau mengingat Chan orang yang ditemuinya itu enggak seangkatan dan sejurusan dengannya.
Lino saja yang sama-sama anak HI dan seangkatan dalam sehari tidak pernah berpapasan dengan Chan lebih dari 5 kali. Jangankan Lino, berpapasan dengan Wildan yang satu kosan dengannya pun jarang.
Tapi Hana enggak, terhitung dari 4 hari kebelakang Chan berpapasan dengan Hana secara kebetulan, lebih dari 5 kali. Padahal Hana hanya satu kosan dengannya, selebihnya Chan dengan Hana hanya teman biasa, enggak memiliki hubungan apapun, beda tingkat dan jurusan pula.
Ah, ralat sedikit, Hana itu orang yang spesial untuk Chan, meskipun Chan merasa perasaannya terlalu terombang-ambing layaknya si kuning di kloset. Antara mau di lanjutkan atau menyerah begitu saja.
Masih karena masalah yang sama, perbedaan agama.
Terkadang jika berpikir dari sisi hak, menyukai Hana bukanlah hal yang salah, karena itu hak Chan. Dia bebas menyukai siapapun, bahkan orang yang agamanya beda sekalipun.
Tapi jika dilihat dari sisi yang lebih sensitif seperti agama, jelas itu hal yang salah. Nanti Ibunya pasti bakal bilang gini, "Emang yang seiman udah punah ya sampe kamu suka sama yang ga seiman?"
Ibunya Chan, Vannesa sangat sensitif dengan perbedaan agama. Apalagi islam. Karena dulu pernah terjadi suatu hal yang membuat keluarga Chan terpecah belah yang disebabkan oleh seseorang berhijab sehingga kini Vannesa membenci islam.
Chan sebenarnya juga dulu seperti ibunya, mereka sama-sama merasa menjadi korban. Hanya saja semenjak pindah ke Indonesia negara yang mayoritas agamanya islam dan Chan diajarkan toleransi, kebencian Chan kepada islam tidak separah dulu.
"Soree Kak Channdraa!" Chan yang sedang menggambar setengah sadar kini rerperanjat kaget mendengar suara Hana memanggilnya. Ia menolehkan kepala kesamping, melihat Hana berdiri dekat dengan mejanya.
Berati ini pertemuan keenamnya dengan Hana di kampus, yang tidak disengaja tentunya. Chan sendiri ga ngerti kenapa bisa berpapasan terus-terusan dengan Hana. Apa kah ini kebetulan atau takdir?
"Oh sore juga." kata Chan, tapi Hana malah melihat gambarannya dengan serius.
"Kak Chan gambar apa?" Hana menujuk gambaran Chan dengan telunjuk. "ulet?"
"Ini ular." jawab Chan sembari menatap lawan bicaranya. Wajah sepertinya Hana memiliki zat adiktif sehingga membuat Chan kecanduan untuk selalu menatapnya.
"Kok bantet?"
Lelaki yang memakai baju serba hitam itu langsung merubah wajahnya menjadi datar. "Sialan."
Dan Hana malah tertawa, sepertinya Hana terlalu stress belajar sosiologi sampai tingkat kerecehan dalam dirinya bertambah parah. Padahal apa lucunya coba?
"Malah ketawa. Kamu mau dikasih punishment ya?"
Mendengar pertanyaan Chan, otot tubuh Hana langsung mendadak tegang. Hana sedikit trauma dengan kata punishment, apalagi kan dulu Chan komdis. "Sorry."
Kali ini malah Chan yang tertawa keras. "Ahahah padahal gua cuman bercanda."
"Sialan." gantian Hana yang memaki Chan secara pelan.
"Eh lo anjir, gua nyariin ni bocah malah diem disini!" seorang lelaki tiba-tiba saja menarik telinga Hana, sepertinya tarikannya cukup keras sehingga cewek itu mengaduh.
Sebenarnya Chan kasian sama Hana, pengen misahin mereka tapi ntar takut disangka ada apa-apa sama Hana. Toh pasti cowok ini temennya Hana.
Setau Chan, Hana ga punya pacar kok.
"BANGSATT LO ICHSANN!" Hana memekik dengan keras lalu menendang tulang kering lelaki jangkung itu. "lepasin anjirr engke ceuli urang making rebing siga Chanyeon Exoh!"
"Ya elo sih, lo yang ngajak buat ngerjain artikel di kantin, pas gua dah memu tempat, lo malah pacaran disini!" cowok itu melepaskan jewerannya dan langsung memarahi Hana.
"KITA GA PACARAN!" sahut Hana dan Chan kompak, kemudian mereka saling pandang karena kaget. 'Eh kok bisa kompakan sih?' piker Chan bingung.
Cowok bernama Ichsan itu menatap keduanya curiga. "Amosok?"
"Enggak! Gua mah setia sama Bangchan Straykids!"
Hana langsung mendapat sentilan dari ketua kelompoknya itu. "Halu mulu!"
"Udah ah, ayo japok! Lo mah malu-maluin gua mulu." Hana ngedorong tubuh jangkung Ichsan, tapi sayangnya dorongan Hana tidak berpengaruh apa-apa. Tubuh Ichsan kan badag.
Ichsan sweatdrop. "Astagfirullah Yaman, elo yang malu-maluin diri lo sendiri, pake nyalahin gua lagi!"
"Udah Pedro udah!" telinga Hana makin memerah, antara marah pada Ichsan dan malu karena sudah berbuat sesuatu yang memalukan didepan Chan, mana kesannya kek caper banget. "dah kak Chann! Ayo minggat b*****t!" sekali lagi Hana mendorong tubuh Ichsan agar pergi dari kapan mantan komdis itu.
Chan melambaikan tangannya sembari tersenyum, namun perlahan senyumnya menghilang seiring menjauhnya punggung Hana. Diam-diam Chan ikut memaki lelaki tadi didalam hati.
'Ichsan bangsat.'
"Eh ada Hana."
Belum juga Hana mendudukan bokongnya di kursi kantin, lelaki yang duduk dihadapannya sudah menyapanya.
"Eh ada Kang Jeyhan." Disapa duluan, mau tak mau Hana membalas sapaan katingnya itu dengan senyuman cerah sebelum duduk disamping Januar.
"Kak Jeyhan mah, giliran Hana aja disapa duluan," protes Januar yang memang sudah datang duluan ketimbang Hana. "Januar mah enggak."
Hana langsung melotot, ia menatap Januar lekat-lekat dan bahkan memegang pundak Januar."Januar, lo belok?"
Ichsan lantas menjitak kepala Hana. "Astagfirullah Han, ga gitu!"
"Aw!" Hana berbalik ke arah Ichsan, menatap kawan lama satu sekolahnya dengan sebal. "jangan-jangan lo yang maho ya San? Padahal gua ngeledeknya Januar loh bukan elo."
"GA GITU TOLIL!" Januar ikutan emosi kan jadinya. Heran sama Hana dia tuh, anak sosiologi kok ga peka amat.
Padahal Januar tuh ngeledek Jeyhan yang excited sama kedatangan Hana, walaupun ngeledeknya secara tersirat. Tapi Hananya malah ngatain dia maho.
"Ayo ribut, kusuka keributan." celetuk Jeyhan dengan smirknya yang sukses membuat Ichsan dan Januar tutup mulut.
Kedua lelaki yang duduk disamping Hana itu merinding, seolah melihat aura tidak mengenakan dari Jeyhan.
Sepertinya Jeyhan enggak suka Hana dijitak atau dikatain.
"Eh-eh, makalahnya jadinya gimana?" untungnya Hana segera mencairkan suasana tegang dengan menanyakan prihal tugas. "kita mau bahas masalah sosial apa?"
Januar tampak berpikir sebentar. "Gimana kalau pengaruh gadget pada anak?"
"Udah diambil kelompok Alisa," jawab Ichsan. "coba yang agak antimaenstream temanya"
"Kemiskinan?" Januar memberikan usulan dan Ichsan menggeleng. "Itu mainstream, Januar."
"Ya apa?" Kini Januar menatap Hana yang sedang berpikir. "Han, mikir napa? Biasanya author kan banyak ide."
Hana langsung memutar matanya malas. "Jangan bongkar Aib, Januar."
"Emang jadi author aib itu ya?" tanya Jeyhan tiba-tiba. Oh syit, Hana lupa akan keberadaan Jeyhan. 'Kenapa ini Kang Jeyhan masih disini?'
"Aib kak, soalnya Hana nulis fanfiction yao—"
"ICHSAN BANGSATTTT!" lagi-lagi Hana mengumpat sembari membungkam mulut Ichsan dengan tangannya.
Hana tuh ga mau kalo sampe ada orang yang tau kalo dia penulis fanfiction, mana lagi dia nulis yaoi.
Habisnya Hana malu, toh dia yang di dunia nyata berbeda dengan dia yang ketika menulis fanfiction. Benar-benar berbeda.
"Yaoi? Homo? Boyslove?" tanya Jeyhan. Hana cepat-cepat menutup wajahnya sendiri. Jeyhan ternyata berhasil menebaknya. Kini Hana merasa sudah tidak punya muka lagi dihadapan Jeyhan semenjak rahasianya terbongkar. "emang kenapa? Emang kenapa kalo kamu mulis yaoi?"
"Eh?" Hana menatap Jeyhan bingung. "Kang Jeyhan ga jijik sama Hana?" Hana menunjuk wajahnya sendiri.
"Gua emang homophobic, tapi bukan berati gua musti jijik sama fujoshi," Jeyhan menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum manis didepan Hana, membuat Hana tertegun untuk pertama kalinya. "kan, setiap penulis itu diibaratkan Tuhan di cerita yang mereka buat. Penulis bebas menuliskan apapun selama itu fiksi bukan fakta. Tapi tetap, penulis ga bisa maksa pembaca menyukai semua tulisannya, pembaca juga punya hak memilih bacaan yang baik untuknya. Jadi yah menurut gua gua ga harus benci sama penulisnya sekalipun gua homophobic.”
Oh ayo lah, Hana hampir saja menangis terharu karena mendengar ucapan Jeyhan barusan. Dia tidak menyangka Jeyhan akan ada di pihak netral, tidak menjatuhkan ataupun mendukungnya. Jarang loh Hana nemuin orang kaya Jeyhan.
"Makasih loh Kak." Walaupun ucapannya barusan terdengar bercanda tapi sebetulnya Hana benar-benar berterimakasih pada Jeyhan.
Senyum lebar lagi-lagi menghiasi wajah Hana, hal ini seolah memaksa Jeyhan untuk melakukan hal yang sama dengannya.
Jeyhan ikhlas kok, dia seneng bisa jadi alasan dibalik doinya senyum. 'Semoga gua selalu bisa ngebuat lo senyum bahagia kaya gitu terus, Han.'
"Mereka cocok ya?"
Chan yang awalnya asik membenahi gambarannya menyahut. "Siapa?"
Lino, lelaki yang sedari tadi memegang kamera itu mengeser duduknya agar lebih dekat dengan Chan. Dia menunjukan hasil jepretannya pada Chan. "Ini?"
"Ini apa?" tanya Chan tanpa menoleh pada Lino, masih fokus memperbaiki gambarannya yang disangka ulat sama Hana. Padahal uler.
Tapi uler darimana coba ya, bantet gitu bentukannya.
Lino menarik kerah baju Chan, "Liat ini tolil, jan liat kertas karton mulu."
Akhirnya Chan menengok hasil jepretan paparazi kantin itu dengan sangat terpaksanya.
'Shit.'
Kenapa Lino harus memoto Hana dan Jeyhan yang sedang tertawa bareng sih? Mana hasil fotonya bagus banget. Hana dan Jeyhan keliatannya cocok.
Iya, Chan akui Lino emang phothografer profesional, kemampuan fotonya setara sama mba-mba fansite. Tapi, kok sakit ya liatnya?
"Gimana Chan, cocok kan mereka?"
Pertanyaan Lino hanya direspon oleh anggukan kecil Chan. "Ya."
"Jeyhan cakep, cewek itu juga."
Astaga Lino stop! Tanpa dijelaskan pun Chan udah tau, keduanya sama-sama cakep. Chan berasa cuman butiran atom.
"Cara senyum dan natapnya sama. Sama-sama lebar dan bahagia, ah cocok, gua suka ngeliatnya."
Lino stop, telinga Chan panas sekarang.
"Gua harap mereka jadian, gemes sih liatnya."
'Tidak Tuhan, jangan aminkan doa mahluk pengoleksi bokep ini,' jerit Chan dalam hati, rasanya pengen nangis aja ngedenger Lino ngomong gitu.
Emang sih, Lino ga tau Chan suka sama Hana, tapi ... Bisa kan ga usah ngeship doinya sama orang lain?
Chan melirik hasil jepretan Lino sekali lagi, setelah lima detik mengamati ia menelan ludahnya. 'Sial, kok beneran cocok? Apa ini artinya gua beneran bukan jodoh dia?'
Han.nndhk membalas cerita anda
Chan yang baru saja mau tidur setelah menyelesaikan keisengan dirinya yang membuat lampu tidur berbentuk ulat dan baru selesai pada pukul dua dini hari itu tercengang melihat notifikasi di ponselnya.
Kok Hana ngebales ceritanya? EH KOK HANA NGEBALES CERITANYA?!
Buka jangan ya? Buka jangan ya?
Mau buka tapi takut baper lagi, Chan kan udah berniat mau ngubur perasaannya sedalam mungkin.
Ga mau di buka, tapi kepo.
Tapi ...
"Udah ah, bobo aja."
Chan akhirnya mematikan ponselnya dan pergi tidur, mulai besok dia harus menghindari Hana.
'Ga boleh kepikiran Hana, ga boleh ketemu Hana. Inget dia bukan buat lo.'