Setengah jam kemudian. Adam dan Arina sama-sama tidur dengan menghadap ke plafon kamar. Keduanya masih belum mengatupkan matanya. Ada bantal guling di tengah-tengah mereka. Arina yang taruh. Katanya untuk pembatas agar Adam tidak khilaf. Suasana kamar redup karena lampu kamar dimatikan. Hanya lampu tidur yang menyala. "Kamu sebelum menikah dengan kakak, biasa tidur jam berapa?" "Malam kak. Sering di atas jam dua belas." "Kenapa semalam itu?" "Karena aku sering ke klub dan pulangnya malam, jadi ya...aku tidur malam juga." "Itu kebiasaan yang buruk. Jangan dilakukan lagi ya?" Arina melirik Adam kesal. "Tapi aku masih ingin main ke klub kak. Aku happy di sana." "Kalau kamu memang ngebet banget ingin ke sana, biar kakak yang temani. Kamu tidak boleh pergi dengan teman-teman atau pacar k

