Alif duduk di tepi sisi ranjang Jihan, ia duduk sejenak terdiam menatap istrinya. Lalu ia memaut jemari Jihan. Alif menghembuskan napas panjang sebeum ia mengeluarkan suaranya. "Sayang.." Lirih Alif. Wanita itu meletakkan ponselnya di nakas sambil membenahi tubuhnya bersender diranjang. Tanpa terasa ricauan burung sudah terdengar menunjukkan hari sudah pagi. "Ada apa, Mas?" Sahut Jihan dengan lembut. Alif semakin erat mengenggam jemari Jihan, hatinya mulai berkecamuk. "Ji.. jihan maafkan a.. aku.. ka..karena kesa..salahan terbo..bodohku. Ki..kita kehi..kehilangan calon bayi kita." Timpal Alif terbata-bata, akhirnya ia bisa mengatakan kenyataan yang terjadi pada Jihan. Perempuan itu malah terkekeh, ia pikir Alif hanya bercandainnya. "Kamu pasti bercandakan, Mas. Jangan ngerjai aku." Se

