~Bisa Jadi Orang Yang Tampak Bahagia.. Dia menyimpan banyak Luka di hatinya~
Jihan menatap anak perempuan yang tertidur pulas di ranjang kamar rumah orang tuanya. Ia melihat betada teduh wajah kecil itu. "Kasian anak ini. Ibu mana yang tega pada anak sekecil dia." Jihan mengelus lembut rambut anak itu.
Syukurnya Umi dan Abi tidak keberatan, jika Jihan membawa anak Adi ke rumahnya itu.
Tok..
Tok..
Tok..
Jihan menatap pintu yang tertutup, ia beranjak dari ranjangnya, Jihan membuka pintu. "Umi.. ada apa?"
"Umi mau bicara." Ucap Rena Umi dari Jihan.
Jihan mempersilakan Uminya untuk masuk, ia masih tetap tersenyum meski hatinya sangat sakit. "Masuk, Mi."
Rena mendarat duduk disisi ranjang Jihan. "Alif tahu kamu menolong Adi."
Jihan menggeleng kepalanya perlahan. Dia takut menyakiti perasaan Alif, walau tahu Alif terus menyakiti hatinya berulang kali.
"Lebih baik kamu katakan pada Alif. Kamu lagi gak ada masalah kan dengan suamimu."
Mana mungkin Jihan mengatakan sejujurnya pada Rena, apalagi sampai mengetahui suaminya itu menikah lagi. Dia tau Rena akan kecewa saat itu juga.
Lagi pula Jihan harus menutupi masalah rumah tangganya serapat mungkin, apapun terjadi ia tidak akan mengatakan apapun kejelekan suaminya pada orang lain, termasuk Uminya sendiri. "Gak ada Umi. Jihan dengan Mas Alif baik-baik aja."
"Syukurlah. Umi lega dengarnya, Jihan kamu harus bersikap baik dengan suamimu, sejelek apapun suamimu. Insya Allah kebaikan itu sendiri akan datang padamu."
"Makasih ya, Umi. Sudah malam lebih baik Umi tidur. Jihan juga mau telpon Mas Alif dulu."
Jihan mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya. Ia langsung menelpon Alif malam itu. Tak butuh lama juga Alif mengangkat telpon dari Jihan. "Halo.. Assalamualaikum." Jawab Alif dari seberang sana.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Maaf aku baru telpon."
"Enggak papa, sayang. Kabar Abi dan Umi gimana?"
"Alhamdulillah baik. Kamu sudah makan?"
"Belum." Jihan langsung melirik jam di nakas tak jauh darinya. Ini sudah sangat malam, tapi Alif belum juga makan membuat Jihan khawatir.
"Mas, ini sudah malam. Kenapa kamu belum makan? Ada Mawar kan, apa dia gak masak."
"Kamu yang selalu perhatiin makanan aku bukan Mawar." Jihan merasa bersalah, kalau saja dia tidak pergi. Suaminya pasti sudah makan. Tapi Jihan juga tidak tahan melihat Mawar selalu bermanja dengan suaminya, hatinya sangat sakit.
***
Setelah mendapat telpon dari Jihan Alif lebih tenang tapi ia tidak biasa tanpa Jihan dirumah. Dia keluar kamar melihat Mawar yang sudah tertidur pulas di kamar wanita itu.
Perlahan Alif pergi dengan mengendap, ia bahkan hanya menggunakan piyama, ia membawa mobil melaju ke Cirebon.
Tak perduli apa yang terjadi, yang dia tau rasanya sakit harus menjauh dari Jihan walau sehari. Ia memutuskan untuk menyusul Jihan.
Apalagi malam itu hujan begitu deras menyelimuti gelapnya malam. Alif tak perduli sejauh mana tujuan, jika dia masih mampu, dirinya akan lakukan.
Jihan baru selesai sholat tahajud, ia mendengar deruhan suara mobil seiring hujan yang deras. Tapi suaranya tak begitu jelas, hingga Jihan tak menghiraukannya.
Namun mendadak ia malah mendengar suara ketukan pintu dari pintu utama. Ia berpikir itu saudara laki-lakinya yang mungkin kehujanan untuk melanjutkan perjalanannya.
"Mungkin itu Mas Beno ya." Jihan pun hendak keluar membuka pintu, ia tahu pasti Umi dan Abinya sudah tertidur.
Jihan melangkah cepat, ia membuka perlahan. Ia kaget melihat suaminya yang tubuhnya setengah basah. "Astagfirullah.. Mas Alif. Kenapa Mas Alif bisa disini." Ujar Jihan khawatir.
"Maaf ya, sayang. Aku gak bisa tidur. Rumah terasa hampa tanpa kamu."
Jihan langsung membawa Alif masuk. "Ya ampun, Mas. Baju kamu basah, aku ambilkan baju Mas Beno dulu ya, nanti kamu masuk angin lagi tidur basah-basah." Gerutu Jihan.
Raut wajah Alif berubah ketika memasuki kamar Jihan yang terlihat anak kecil. Setaunya anak Beno sudah berumur empat tahun. Tapi ini seorang anak perempuan yang berusia anak kecil.
Jihan mengambil setelan piyama Beno dan handuk. Dia memberikan pada Alif. "Pakai ini, Mas. Nanti kamu masuk angin."
"Anak siapa?"
Jihan terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Jihan juga tak ingin terjadi salah paham, daripada ribut juga tengah malam, ia sepertinya harus berbohong dan mengatakan jujur pada Alif besoknya. "Itu anak teman aku, dia keluar kota. Anaknya lucu ya, coba aja aku cepat memiliki a---"
"Ssstttss... Jangan katakan apapun. Anak itu rezeki dari Allah, kita hanya belum di percaya. Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersama kamu." Alif mendekap pelan mulut Jihan.
Jihan tertunduk, sesaat ia kembali merasakan kepedihan. 'Tapi kamu telah menyakiti hati aku dengan menikahi Mawar, Mas.' Ucap Jihan dalam hati. "Kamu ngapain sih Mas kesini. Kalau Mawar sakit butuhin kamu gimana?"
"Tapi aku juga butuh kamu."
Andai Jihan bisa meluapkan isi hatinya pada Alif, mungkin saat ini mereka akan berdebat. Tapi sepertinya Jihan bukan istri yang sanggup menyakiti hati suaminya, walaupun terlalu sering disakiti. Jihan perempuan yang selalu berhati-hati dalam bertutur dan berusaha untuk terlihat kuat dihadapan siapaan meski hatinya teriris tanpa mengeluar setetes darah. "Aku mohon jangan seperti ini. Lagi pula aku dirumah orang tuaku."
Mendadak Alif bersendawa terus menerus membuat Jihan khawatir. "Kamu kenapa, Mas? Kamu pasti masuk angin." Khawatir Jihan, lalu ia mendudukkan Alif di sofa kecil kamarnya, lalu ia membuka baju Alif untuk memijitkan suaminya. "Aku pijitin ya."
"Makasih ya sayang. Aku kebayang deh kalau sakit gini gak ada kamu."
"Tapi kan ada Mawar, Mas. Dia kan istri kamu juga."
"Mana mau dia ngerawat aku sakit, dia mau enaknya aja."
Jihan terdiam sambil tangannya masih memijit pundak Alif. 'Kalau begitu kenapa kamu masih nikahi dia, Mas. Kenapa!' Gumam Jihan dalam hati seakan meneriaki dengan perasaannya yang kacau. "Bagaimana pun dia istrimu, sudah kewajibannya merawat suami."
'Andai kamu tau Jihan. Aku menikahinya karena terpaksa, ingin sekali rasanya aku mengonyak kenyataan jika aku tidak pernah menyentuh Mawar. Kalau saja kamu tahu, aku yakin kamu akan meninggalkan ku.' Gusar Alif dalam hatinya.
Dia tahu dia berada dalam perasaan yang ia sendiri tidak bisa mengaturnya. Jika ditanya siapa perempuan yang sangat di cintainya, tentunya ia menjawab dengan lantang JIHAN!
Lalu siapa Mawar baginya. Hanya orang asing yang berhasil merenggut kebahagiaannya dan Jihan. Yang telah berhasil membuatnya tak berkutik dengan membuktikan kehamilannya.
Ya.. Mawar hamil anaknya. Seperti mimpi buruk yang telah menghantam Alif. Siapapun ingin memiliki anak tapi bukan dari perempuan yang sama sekali tidak dia cintai, ia ingin anak yang lahir dari rahim Jihan.
Alif tau kepergian Jihan pasti karenanya, dia membutuhkan waktu untuk menenangkan perasaannya.
***