Bab 2

1021 Words
~Ikhlas adalah hal yang sulit untuk dilakukan.Dimana hati tak sanggup untuk menyimpan luka lebih lama~ Ikhlas ternyata sulit, Jihan mungkin bisa sabar. Tapi untuk ikhlas Jihan harus lebih belajar. Dimana adil itu tidak di dapatkannya. Bahkan seharusnya Alif malam ini sudah seharusnya untuk tidur bersama Jihan tapi seperti dia kembali mengalah. "Apa yang harus aku lakukan, dikala aku tak mendapat keadilan dari suamiku." Tutur Jihan berbaring sambil mengelus bantal yang biasa Alif gunakan. Jihan tak bisa tidur ia lebih memilih keluar kamar untuk mencari angin di luar. Tapi saat mendengar suara dari luar kamar hatinya kembali teriris. "Ya Allah sakit sekali mendengar suamiku bercanda dengan maduku." Lirih Jihan melanjutkan jalannya. Dia duduk di teras belakang rumahnya. "Tega kamu sama aku, Mas." Alif keluar kamar Mawar, setelah perempuan itu tertidur. Ia memasuki kamarnya tapi tidak melihat Jihan disana. Ada rasa khawatir. "Kemana Jihan." Alif melirik jam dinding di kamarmya, lalu kembali keluar. Dia melihat Jihan duduk termenung di teras belakang. Alif menghampiri Jihan. "Jihan... Kenapa disini?" "Kamu sendiri ngapain disini, Mas?" "Aku cari kamu." Alif duduk disamping Jihan. "Kita ke kamar yuk." Jihan pikir dia bisa menghabiskan malam bersama Alif, tapi Mawar datang seperti tamu yang tak di undang. "Mas Alif.. kamu ngapain disini? Kamu janji mau temani aku, aku lagi sakit loh." Gerutu Mawar yang datang dengan muka masamnya. Jihan mendengus lelah, ia tampak memandang lesu pada Alif. Lagi dan lagi dia harus mengalah. "Mas, aku ke kamar. Kamu urus Mawar aja. Aku mau tidur dulu." Alif sebenarnya tak tega melihat wajah sedih Jihan, ia ingin sekali menemani Jihan malam ini. Tapi Mawar juga tengah sakit. Dia pasrah mau tidak mau harus menemani Mawar. *** Pagi harinya seperti biasa Jihan menyiapkan pakaian, dan sarapan untuk Alif. Ia enggan untuk bertemu dengan Mawar maupun Alif. Hati Jihan hancur bagaikan butiran pasir yang tak berteman dengan lautan. Dia butuh waktu untuk menata kepingan hatinya yang hancur. Sebelum Alif keluar Mawar, Jihan sudah lebih dulu pergi tanpa pamit. Dia lelah dengan sikap tidak adil yang Alif berikan. Jihan kini sudah berada di butik. Ia berkutat dengan gambar desain gaun yang ingin dia rancang. "Pagi Mbak Jihan. Di depan ada tamu yang ingin bertemu." Ucap Ines salah satu pekerja Jihan. "Siapa?" Sahut Jihan. "Gak tahu, Mbak. Laki-laki.." "Apa suami saya?" "Bukan, Mbak. Kalau suami Mbak Jihan pasti langsung masuk ke ruangan Mbak Jihan." Jihan bersyukur, jika itu bukan Alif suaminya. Jihan keluar dari ruangannya. Perlahan ia melihat seorang pria yang menunggunya. Jihan kaget melihat Adi mencari. "Mas Adi." "Jihan, apa kabar? Maaf saya menganggu." Ucap Adi tampak ragu. Adi dan Jihan dulu hampir menikah, tapi Adi meninggalkan Jihan di hari pernikahan mereka. Hati Jihan memang sangat baik, dia tidak dendam atau pun benci pada Adi. Ia tetap bisa bersikap baik pada Adi yang sudah jelas meninggalkan dulu demi perempuan lain. "Alhamdulillah saya baik. Mas Adi, ada perlu apa?" "Sebenarnya saya mau minta tolong." "Tolong apa ya?" "Aku baru bercerai dengan istriku. Kalau kamu tidak keberatan aku ingin minta tolong menitipkan anakku. Usahaku lagi menurun, aku harus ke luar kota dua hari ini. Aku tidak tau harus minta tolong siapa. Mantan istriku sudah menikah lagi, dia tidak mungkin menjaga anaknya." Adi belum lama bercerai, mantan istrinya meninggalkan dia karena perusahaan Adi merosot. Padahal anaknya mengindam lemah jantung. Adi tidak bisa percaya siapapun. Dia tahu, tidak seharusnya menitikan anaknya pada Jihan. Tapi ia tidak punya pilihan lain lagi. Untuk sesaat Jihan terdiam, ia berpikir mungkin kehadiran anak Adi bisa membantunya melupakan beban di pundak saat ini. "Bisa, Mas. Anak kamu dimana." "Ada di mobil, dia tengah tidur." "Kalau begitu bawa kemari saja." Jihan berniat untuk kerumah orang tuanya. Ia tidak ingin Alif mengetahui dia menjaga anak Adi. Tepatnya Jihan tidak ingin terjadi kesalah pahaman. Lagi pula dia butuh ketenangan. Sebelum pergi, Jihan sudah memberi pesan pada Alif untuk pergi ke rumah orang tuanya yang berada di Cirebon. *** Alif tidak berhenti memikirkan Jihan, untuk pertama kalinya Jihan pergi tanpa pamit padanya. Padahal biasanya Jihan selalu menemani dirinya sarapan. Alif merasa kehilangan kehangatan yang Jihan berikan padanya selama ini. Ting... Notifikasi ponselnya berbunyi, ia mengambil ponselnya itu dari nakas, Alif tersenyum melihat nama Jihan dilayar ponselnya. JIHAN Assalamualaikum.. Mas, aku ke rumah orang tuaku ya. Mungkin dua atau tiga baru pulang. ALIF Wa'alaikumsalam sayang.. Aku antar ya. JIHAN Enggak perlu, Mawar pasti membutuhkanmu. Hati Alif tersayat membaca pesan Jihan, seolah ia bisa merasakan hancurnya hati Jihan saat ini. Sadar tidak sadar Alif memang telah menyakiti hati Jihan, ia tidak berlaku adil pada istrinya sendiri. "Maafkan aku, Jihan." Lirihnya menatap ponsel, Alif kembali mengetik pesan untuk Jihan. ALIF Hati-hati ya. Salam dengan Umi dan Abi, kalau sudah sampai beritahu aku. Entahlah apa masih pantas dia menghancurkan hati Jihan sekali lagi. Sebenarnya Alif juga tidak ingin menodai cinta mereka dengan orang ke tiga dalam rumah tangga mereka. Tapi Alif tidak punya pilihan lain, ia harus menikahi Mawar yang telah hamil anaknya menurut Mawar, padahal Alif yakin dia tidak pernah sama sekali menyentuh Mawar. Entah bagaimana caranya saat itu Alif bisa tidur tanpa sehelai pakaian dengan Mawar. Ia memang kagum dengan Mawar yang pintar dan cekatan sebagai sekretarisnya. Tapi dia lebih kagum pada istrinya yang pandai mengurus butik di sela waktu sibuk melayaninya sebagai istri. "Seandainya malam itu tidak terjadi, aku tidak perlu menyakitimu." "Oh.. jadi kamu menyesal menikahiku." Mawar masuk tanpa mengetuk pintu ruangan Alif. Alif berbalik menatap Mawar. "Tolong jangan semenanya. Ini perusahaanku, aku sudah bertanggung jawab apa belum cukup untuk kamu, Mawar." "Seharusnya kamu pikirkan bayi kita, bukan istrimu yang mandul itu." "Cukup Mawar! Jihan tidak mandul, hanya Allah belum percaya untuk memberi keturunan." Alif meninggikan suaranya, ia paling tidak bisa mendengar siapa pun menghina jihan, termasuk Mawar yang sudah menjadi istrinya. "Benarkah itu?" Mawar berkata dengan raut malas. "Kalau begitu buktikan kalau dia tidak mandul." Alif mengerjapkan mata, sembari menghembuskan napas panjangnya. "Aku bilang cukup! Sudah cukup kamu menghina Jihan. Dia istriku." Geram Alif membentak. "Aku rasa kamu lupa, kalau aku juga istrimu." Desis Mawar memiringkan bibirnya. Alif menggepal tangannya, ia menahan amarah saat itu. Bari beberapa hari dia menjadi suami Mawar, tapi Alif sudah merasa lelah dan muak dengan semua ini. Ingin sekali ia mengakhirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD