Bab 1

1050 Words
~Aku Mencoba Menepis Rasa Sakit Yang Tidak Tahu Ujungnya~ Pagi harinya Mata Jihan masih tampak bengkak, pipi sembab. Ia tidak bisa tidur semalaman memikirkan suaminya menyentuh wanita lain selain dirinya. Tapi Jihan tetap bersikap baik-baiknya seolah tidak terjadi suatu, ia menyiapkan sarapan dan pakaian untuk suaminya. Setelah itu Jihan kembali ke kamarnya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Pada saat Alif sudah mengambil pakaian yang dia siapkan. Rasanya Jihan masih belum siap dengan semua kenyataan pahit dalam hidupnya. Alif turun bersama Mawar, seperti pengantin baru kebanyakan. Mawar bermanja dengan Alif. Suara manja seakan mengisyaratkan jika Alif telah menjadi miliknya. Alif menuju meja makan yang hanya ada Bi Surti assisten rumah tangganya yang menata rapi meja makan. "Jihan mana, Bi. Biasanya sudah turun." "Tadi setelah menyiapkan sarapan Non Jihan kembali ke kamarnya." Jawab Bi Surti apa adanya. Sebenarnya Bi Surti juga merasa kasian pada majikannya. Padahal ia tahu betul Jihan sangat mencintai Alif. 'Heran punya istri cantik dan baik selangit kok dimadu. Kasian Non Jihan.' Gerutu Bi Surti dalam hati. "Sayang.. tunggu sebentar ya. Aku temui Jihan dulu." Ujar Alif mengenggam tangan Mawar. "Astaga Mbak Jihan itu sudah besar. Enggak usahlah disusuli segala." Balas Mawar dengan nada tak suka. Ia tampak ingin memiliki Alif seutuhnya. "Tapi, Mawar.." "Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan palingan juga dia mau siap-siap ke butik. Pagi ini kamu ada metting penting, lagi pula aku masih sekretaris kamu loh." Gerutu Mawar bergeledotan di pundak Alif. Alif sebenarnya ingin sekali melihat keadaam Jihan. Tapi Mawar malah melarangnya. Alif tahu Jihan tidak pernah bersikap seperti ini. Alif berpikir mungkin hati Jihan terluka karena pernikahannya dengan Mawar. Dia menatap pintu rapat kearah kamarnya. "Bi Surti, tolong ingatkan Jihan untuk makan. Kalau ada apa-apa hubungi saya." "Baik, Pak." Jihan mendengar suara deruhan mobil Alif. Dia semakin kecewa dengan semua itu. Karena Alif tidak berpamitan dengannya. "Mas Alif tidak berpamitan denganku." Tok... Tok... Tok... "Masuk." Jihan tahu itu pasti Bi Surti yang sudah dia anggap seperti ibu sendiri. Bi Surti masuk dengan membawa sarapan pada Jihan. Perempuan paruh payah itu, meletakkan makanan di nakas samping ranjang Jihan. "Makan dulu, Non. Non Jihan ada penyakit lambung." "Jihan gak lapar, Bi." "Bibi tahu non Jihan kecewa dengan Pak Alif. Kalau non Jihan gak bisa nerima, kenapa mengijinkan Pak Alif nikah lagi." Bi Surti mengelus lembut pucuk kepala Jihan. "Karena Jihan mencintai Mas Alif. Allah sedang rindu dengan Jihan, Dia mau Jihan selalu berserah diri pada-Nya." "Non Jihan memang sangat baik, beruntung Pak Alif memiliki istri seperti Non Jihan." "Jihan mau istirahat dulu, Bi. Kalau ada yang cari bilang aja Jihan gak mau diganggu. *** Tak terasa sore menjelang. Jihan masih merasa sedih hatinya. Walaupun ada rasa lega setelah dia sholat ashar, tapi hatinya masih tak menghilangkan luka yang dia pendam sendiri. Lebih-lebih Jihan melihat suaminya sangat mesra dengan Mawar, ketika keluar dari mobil. Hatinya kembali teriris. "Ya Allah sakit sekali hatiku. Aku gak sanggup hadapi mereka." Istri mana yang tidak patah hatinya, Jihan memang memberi ijin Alif untuk menikah lagi. Itu karena ingin membuat Alif bahagia. Jihan menyadari ia belum bisa memberikan kebahagiaan pada Alif, dia belum dapat memberi keturunan pada Alif. Tapi ternyata tidak semudah itu dijalaninya, rasanya hati Jihan seakan tersayat silent yang tidak mampu mengeluarkan darahnya sendiri. Suara deritan pintu kamar membuat Jihan berbalik kearah pintu kamar, dengan cepat Jihan menyeka air mata membasahi pipinya. "Kata Bibi kamu enggak ke butik. Kamu sakit ya." Alif mendekat menunjukkan rasa khawatir dari kerutan wajahnya. "Aku gak papa, Mas. Hanya ingin dirumah aja hari ini." "Yakin." Jihan mengangguk pelan sambil membantu suaminya membukakan jas dan dasi yang di kenakan Alif. "Kamu mau mandi dulu atau makan." Tanya Jihan, walau ngerasa hatinya sakit. Tapi dia tetap bersikap seperti biasa pada Alif. "Mandi aja dulu. Gerah banyak kerjaan tadi di kantor." "Ya udah, aku siapin air hangat untuk Mas Alif ya." Jihan mengelus lembut lengan besar Alif, membuat lelaki itu merasa ada kehangatan dari Jihan. Inilah yang tak pernah Alif bisa Alif dapatkan bersama Mawar. Rasa hangat dan kelembutan Jihan yang selalu dirindunya. "Gak usah sayang. Kamu ke bawah aja siapkan makanan, habis ini aku mau makan." "Baiklah." Jihan turun, dia melewati kamar Mawar. Ia melihat Mawar yang sepertinya bicara di telpon dengan seseorang. Tapi Jihan melanjutkan langkahnya, lagi pula itu bukan urusannya. Saat di dapur Jihan langsung berkutat dengan alat masaknya, ia memang selalu baik untuk melayani suaminya. Rasa cintanya telah ternoda, tidak pernah dibalas dengan kebencian. "Non Jihan. Ngapain? Biar Bibi bantu ya." "Gak usah, Bi. Jihan bisa sendiri kok. Jihan mau masakin untuk Mas Alif." "Tapi Non Jihan lemes badannya, makan aja belum dari pagi." "Jihan gak papa kok, Bi. Bibi mendingan lanjut pekerjaan Bibi aja." Lirih Jihan memasukkan potongan sayuran yang ingin dimasaknya. Sebenarnya tubuh Jihan lemes, kepalanya juga pusing. Apalagi dia belum makan dari pagi. Tapi ia tetap menguatkan dirinya demi isi perut suaminya. Usai masak, Jihan langsung menyuguh makanan yang masih hangat di atas meja makan. Yang kebetulan sekali Alif dan Mawar baru saja turun. "Mba Jihan baik sekali masakin aku." Kata Mawar dengan tangan melingkari dilengan Alif, sepertinya Mawar sengaja ingin memanasi hati Jihan. "Aku masak untuk Mas Alif bukan kamu. Jangan kepedean." Balas Jihan dengan raut muka datarnya. Oh tidak.. perkataan Jihan berhasil membuat Mawar tampak tak terima, dia merasa direndahkan. "Kamu tu seharusnya bantu Jihan. Bukannya malah dikamar tadi. Kamu kan juga istri disini." "Jadi kamu pikir nikahi aku untuk jadi pembantu." Sungut Mawar tak terima. "Bukan itu maksud aku. Ya tugas is--" "Cukup! Cukup peghinaan ini. Aku gak mau makan masakan Mba Jihan." Mawar pergi meninggalkan meja makan kembali ke kamar. "Mawar.. Mawar.. Mawar jangan seperti anak kecil." Alif berteriak Mawar yang berburu menuju kamarnya. "Mas, kamu makan dulu. Biar aku yang bicara sama Mawar." Alif menahan tangan Jihan yang hendak menyusul Mawar. "Tapi---" Jihan tersenyum, ia melepaskan tangan Alif perlahan. "Gak papa, Mas." Jihan melangkah pelan ke kamar Mawar. Ia hanya tak ingin melihat Alif sedih karena kemarahan Mawar. Jihan mengetuk pintu kamar Mawar. "Boleh aku masuk." Mawar berbalik melontarkan wajah tidak suka pada Jihan. "Mau apa Mbak Jihan kesini? Mau hina aku lagi, belum puas." "Aku cuma mau minta maaf kalau kamu ngerasa tersinggung dengan perkataanku. Kalau kamu gak suka masakkan aku enggak papa, biar Bibi Surti yang masak. Tapi tolong temani Mas Alif makan. Aku akan minta Bi Surti untuk masak. Permisi." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD