Dengan ringan, Danisa melangkah keluar dari mobil Adrian yang mengantarnya hingga ke depan gerbang rumah kos. Ia sempat berucap terima kasih sekali lagi dan melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu pagar. Moodnya pun telah sepenuhnya kembali baik. Tidak lagi ambil pusing dengan ocehan Gunawan atau penasaran dengan Ketut Jack. Juga tentang Adrian, ia yakin mereka akan tetap bisa bersahabat baik. Perut terisi penuh, hati riang, apa lagi yang diinginkannya selain mandi dan rebahan? Sudah jam sebelas malam juga. Tapi ternyata masih ada adegan lain yang disiapkan sutradara kehidupan untuknya. Erik berdiri bersandar pajero di halaman dalam, tangannya bersedekap, wajahnya mengeras menatap Danisa lekat melalui bola mata setajam mata elang. Ia tersadar, cerita hari itu ternyata belu

