Mendadak Waras

1243 Words
Seusai pesta, Nancy tidak langsung pulang. Ia memutuskan untuk menginap di rumah Elvrince. Keberadaannya di London mungkin tidak akan lama lagi,hanya tinggal beberapa bulan saja. Setelahnya ia melanjutkan pendidikan di Italia. “Kenapa kau belum tidur?” tanya Elvrince yang baru saja keluar dari walk in closet. Nancy menoleh ke arah Elvrince lalu mengganti posisinya dengan berbaring miring sambil menyangga kepala menggunakan satu tangan, “Belum mengantuk,” jawab Nancy singkat. “Baiklah. Ayo kita nonton film saja. Kau mau nonton aksi atau romansa?” tanya Elvrince sambil berjalan ke arah tv untuk mengambil remote kontrol yang berada di meja kaca bawah TV. “Apa saja,” jawab Nancy. Ia menarik tubuhnya untuk duduk. Malam itu, mereka menikmati film sampai tertidur. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, tapi ponsel Nancy tidak berhenti untuk bergetar. Mata yang masih sangat mengantuk, dan kepala terasa sangat berat untuk diangkat. Ia menjulurkan tangan ke nakas sampingnya untuk meraih ponsel yang tidak mau diam. Tanpa melihat siapa yang menghubungi, ia menggeser tombo hijau asal lalu menempelkan di samping telinga tanpa mau membuka mata terlebih dahulu. [Nancy! Cepat terbang ke Italia, sekarang!] Suara tegas dan dingin penuh perintah mutlak masuk ke telinga Nancy, sontak Nancy membuka mata lebar lalu menjauhkan ponsel dari telinga. Tapi sedetik kemudian ia menempelkan kembali setelah melihat siapa yang menghubungi, “Kakak, ini masih malam. Ada apa denganmu? Tidak bisakah kau membiarkan aku bebas dulu,” ucap Nancy dengan suara serak khas bangun tidur. [Huh, malam. Hey! Gadis pemalas. Ini sudah pagi. 3 jam lagi, kau harus sampai Italia] “Tidak bi..... arrghhh sial!” ucapan Nancy terpotong karena sambungan diputus sepihak. Nancy menoleh ke samping, El sedang tidur pulas. Ingin berpamitan tapi ia tidak ingin mengganggu Elvrince. Ia pikir akan menjelaskan nanti saat pulang kembali. Akhirnya ia menyibak selimut dan mengganti pakaian saja. Tidak ada waktu lagi untuk mandi, karena sang kakak yang super on time akan menceramahi heboh jika ia telat meski satu menit saja. Ia segera turun dan menuju rooftop, sepanjang lorong dan ruangan masih sangat sepi karena semua masih tidur. Hanya para pekerja rumah saja yang mulai sibuk membersihkan seisi rumah. “Jackson! Antar aku sampai bandara!” teriak Nancy kepada salah satu pengawal. “Siap! Nona,” jawab si pengawal. Helikopter itupun melayang melewati ladang pinus yang sangat luas, tak lama mulai memasuki kawasan kota. Ia mengetik pesan untuk seseorang agar menyiapkan penerbangan ke Italia, agar saat ia sampai sudah siap menaiki. Helikopter yang di tumpangi Nancy mendarat di landasan pacu, ia segera turun dan naik ke pesawat. Tidak ada hal yang perlu ia lakukan, ia masuk ke dalam kamar yang ada di pesawat pribadinya untuk melanjutkan mimpi yang sempat dirusak sang kakak. 2 jam 30 menit, Nancy telah sampai di mansion sang kakak. Kini ia sudah berada di ruang kerja sang kakak mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut sang kakak sambil meringkuk di sofa besar. “Bagaimana menurutmu?” tanya Neilh kepada Nancy. “Oke” jawab Nancy dengan mata terpejam. Mendengar jawaban Nancy yang tidak menyambung, Neilh memutar tubuh. Kedua matanya melotot dan rahangnya mengeras karena menahan amarah. “Nancy!” bentak Neilh. Tubuh Nancy tersentak namun hanya sekejap. Ia membuka mata dan menatap Neilh tajam. Apa yang salah dengan dirinya, pagi buta disuruh terbang ke Italia, sudah ia jalankan. Setelah sampai langsung disambut dan disuruh mendengarkan. Ia benar-benar mengantuk karena baru tidur jam 5 pagi. Tanpa sepatah kata yang keluar dari bibirnya, Nancy beranjak dari sofa dan meninggalkan ruangan Neilh. Kesehatannya lebih penting dari ocehan sang kakak. Teriakan Neilh yang memanggil namanya tidak ia hiraukan. Ia terus berjalan ke arah kamar pribadinya dan mengunci pintu dari dalam. Ia juga mengganti pin pengunci pintu otomatis agar ag kakak tidak bisa masuk sembarangan. “Hey! Aku belum selesai bicara!” teriak Neilh “Kau juga belum memberikan pendapat untukku!” teriak Neilh lagi. Tapi sang adik sudah menjauh dari hadapannya. Neilh mengusap wajah kasar. lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Sebenarnya ia hanya meminta pendapat tentang sesuatu yang disukai oleh wanita. Selama ini ia tidak pernah serius dengan seorang wanita, jadi wajar saja jika ia tidak tahu apapun apa yang disukai wanita. Wanita yang ia temui di California beberapa hari lalu sukses menarik perhatian Neilh. Ia memberi mobil sport keluaran terbaru kepada wanita itu, tapi ditolak mentah-mentah. Tidak hanya itu saja, wanita itu juga memaki dirinya dan mengatakan jika dirinya sudah gila. Neilh memijat pelipis pelan, menimbang dengan seksama. Kedua adiknya perempuan, mereka akan bersorak bahagia ketika dirinya memberi hadiah sebuah mobil atau kartu unlimited. Ia juga sudah mencoba memberikan karangan bunga yang sangat besar dengan 25 jenis bunga seperti yang ia lihat di pencarian, tapi wanita itu mengatakan jika dirinya memberikan malaikat maut. Ia pun akhirnya melanjutkan pekerjaan dan menyiapkan diri untuk menghadiri pesta nanti malam. Mungkin, ia akan mendapat masukan dari istri temannya. Seorang gadis menggeliat dan perlahan membuka kelopak mata. ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menyapa penglihatan. Setelah benar-benar terbuka, ia melirik jam yang berada di atas nakas. Jam 3.30 sore, ia bangun lalu menyibak selimut yang tadi membungkus tubuhnya. Tubuhnya yang masih lesu akan lebih nyaman jika berendam di air hangat. Ia melangkah ke arah kamar mandi dan menceburkan diri ke bathup. Sedangkan di ruang tengah, Neihl mondar-mandir seperti setrika karena menunggu Nancy keluar kamar. “Tidak bisakah kau duduk dulu!” ucap Migael tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel karena asik bermain game online. “Kau tidak akan mengerti tentang diriku,” jawab Neilh. “Tidak ada yang tidak ku mengerti tentang dirimu. Apa kau butuh wanita untuk pelepasan?” ucap Migael santai. Detik selanjutnya ia mendapat pukulan di perut. “Aagghh” rintih Migael sambil memegang perutnya. “Aku tidak butuh jalang!” desis Neilh tajam. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Sejak kapan otakmu waras?” tanya Migael heran. “Sejak bertemu dosen itu,” jawab Neilh lemah. “Dosen? Kau mendapat terapi dari seorang dosen?” tanya Migael yang masih tidak mengerti dengan bahasa ambigu Neilh. Buugh Neilh menghantam Migael dengan bantal kecil yang ada di sampingnya. Ia sedang pusing untuk menaklukkan wanita, tapi sahabatnya malah menambah level pusingnya. “Ku rasa kau butuh dokter Neilh. Kau. Gila!” seru Migael dengan suara tinggi. Tap tap tap “Ada apa dengan kalian?” seru Nancy dari belakang. Awalnya ia turun hanya lapar dan mencari makanan. Tapi suara berisik dari ruang tengah mengalihkan dirinya dan berputar ke ruang itu. “kakakmu sudah gila!” jawab Migael. Setelah mengatakan hal itu, ia beranjak pergi sebelum tubuhnya di aniaya kembali. “Hey! Kau mau kemana?” tanya Neilh. “Ke Surga!” jawab Migael lantang, tanpa perlu memutar badan. Nancy memandang punggung Migael sambil mengangkat sebelah alisnya heran, lalu mengalihkan tatapannya ke arah sang kakak. “Ada apa denganmu?” tanya Nancy tak mengerti dengan perubahan sikap sang kakak yang aneh. “Entahlah. Aku sendiri juga tidak bisa menerjemahkan apa yang kini sedang melanda diriku,” jawab Neilh. Nancy melangkah mendekat dan ikut duduk disamping sang kakak untuk mendenarkan apa yang sedang kakaknya tengah alami. Ia menduga jika sang kakak mengalami hal baru, karena tidak mungkin jika karena pekerjaan atau tander yang ia incar. Tanpa harus mencari, para investor akan berlomba-lomba menawarkan proyek kepada Neilh. "Intinya saja,” “Wanita, dosen,cantik dan galak.” Jawab Neilh. “huahahaha.... sejak kapan kakakku peduli dengan wanita. Apa kepalamu terbentur tebing? Atau.. kerasukan jin penunggu makan?” tawa Nancy pecah memenuhi ruangan. Ia tidak menyangka jika ada seorang wanita yang mampu membuat kakaknya mendadak waras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD