Gadis sombong

1158 Words
Arsha tersenyum ramah pada setiap teman perempuan yang menyapanya pagi ini, bukan karena terlalu percaya diri tapi Arsha cukup menghargai mereka yang ingin menyapa dirinya. Biasanya, Arsha tidak perlu repot-repot tersenyum tapi di semester baru ini Arsha ingin merubah pandangan orang orang terhadap dirinya termasuk Rania. Hampir satu bulan, mereka satu kelas tapi anehnya gadis itu tidak pernah menyapa ataupun melihatnya walaupun hanya sekilas. Entah apa yang aneh dalam diri Arsha, sehingga gadis itu sama sekali tidak meliriknya. "Hai kak Arsha." Sapaan itu berasal dari gadis cantik yang berada di depan pintu kelas, itu jelas bukan teman sekelasnya karena memanggilnya dengan sebutan kak. Arsha tersenyum, walaupun sudah lelah tersenyum sejak pagi tapi Arsha tidak mungkin bersikap dingin pada gadis cantik ini. "Hai," "Enak ya jadi teman sekelas kakak, bisa liatin kak Arsha terus tiap hari." "Lo juga bisa kok liatin gue tiap hari," jiwa playboy Arsha sudah kembali, itu normal bukan? Mata sang gadis berbinar, seolah mendapat lampu hijau dari idolanya. Ya, Arsha memang idola para gadis di sekolah. Kecuali, Rania. Bahkan, mereka sudah berada dalam satu kelas yang sama gadis itu tidak peduli. Ambisi Rania untuk belajar dan mendapatkan nilai terbaik sangatlah tinggi, sehingga tidak ada waktu untuk mencari perhatian dari Arsha ataupun orang lain. "Serius kak? Tapi kita kan beda kelas." Arsha mengangguk. "Lo bisa kesini tiap hari." Gadis itu langsung tersenyum, senang sekali mendapat respon yang baik dari Arsha. Memang benar, Arsha adalah sosok idola yang baik dan ramah. Selain itu, Arsha juga pintar buktinya masuk ke dalam kelas unggulan. "Tapi enggak ada yang marah kan kak kalau aku kesini? Di kelas ini, enggak ada pacar kak Arsha kan?" Walaupun begitu mengidolakan Arsha, tapi sebagai sesama perempuan harus bisa menjaga perasaan perempuan lain. Arsha menggeleng, meksipun terkenal playboy tapi saat ini belum ada gadis yang benar-benar menarik selain Rania. Itupun, Arsha belum yakin jika menyukai Rania atau hanya sebatas kagum dengan kepintaran gadis itu. Atau yang lebih parahnya, hanya rasa penasaran semata. "Enggak ada kok, orang ganteng mah bebas ya kan? Ini bukan kelas gue aja, kalau ada yang marah mungkin mereka enggak suka liat orang bahagia." "Ekhem, misi kalau mau pacaran jangan di pintu. Gue mau masuk," Keduanya menoleh, ada Rania yang ternyata sudah stay di depan pintu. Gadis itu sepertinya baru saja berangkat, jika tadi Arsha sempat memikirkan gadis ini tapi sekarang Rania benar benar ada di depan matanya. Seperti biasa, selalu terlihat natural. Arghh, bisa gila jika selalu terlihat menggemaskan seperti ini pikir Arsha. "Eh, kak Rania. Maaf ya kak, aku sampai enggak nyadar kalau berdiri di depan pintu." Ucap gadis itu tidak enak, sementara Rania hanya mengangkat bahu acuh. "Kak Arsha, kak Rania. Aku balik ke kelas dulu ya. Bye kak Arsha," Arsha mengangguk dan tersenyum, lalu kembali memperhatikan Rania. "Lo, sensitif banget sama gue. Kenapa lo? Cemburu?" Sial, kenapa Arsha tidak bisa mengontrol diri untuk tidak memancing keributan dengan Rania? Seharusnya jangan pernah mengatakan cemburu atau hal yang berhubungan dengan perasaan karena Rania tidak suka. Ingin sekali Rania tertawa mendengar ucapan Arsha yang tidak beralaskan, apa yang membuat laki laki itu berfikir jika dirinya cemburu? Seingat Rania, selama ini mereka tidak pernah berbicara walaupun hanya sedikit basa basi. "Gue cemburu? Enggak sama sekali. Minggir deh, lo berdiri di depan pintu makanya gue suruh minggir." Jelas Rania, bahkan gadis itu tidak pernah mempunyai pemikiran cemburu sedikitpun. Atau lebih tepatnya, Rania belum pernah merasakan cemburu karena selama ini gadis itu benar-benar menutup mata jika ada yang mengungkapkan perasaannya. Arsha berdecak, dari semua teman di kelas hanya Rania yang bersifat acuh tak acuh padanya. "Masuk sana, ribet banget dah hidup lo." Tanpa mengatakan apapun, Rania benar benar masuk ke dalam kelas. Hal ini tentu membuat Arsha kesal, kenapa gadis itu tidak mau berdebat dulu dengannya? Apa tidak ada rasa ketertarikan sedikitpun untuk Arsha? Apa di mata Rania, seorang Arsha tidak cukup tampan jika di jadikan teman? Arsha menggeleng, kenapa dirinya begitu kesal karena merasa di abaikan oleh bintang kelas? Jika Arsha mau, pasti bisa mendapatkan gadis yang lebih cantik dari Rania. Tapi bukan itu masalahnya, kabarnya gadis yang selalu menang olimpiade SAINS itu belum pernah berpacaran. Jelas saja Arsha ingin melihat seberapa kuat Rania menjaga hatinya saat dirinya mendekati gadis itu. Arsha kembali berjalan menuju bangkunya, kelas sudah cukup ramai banyak teman perempuan yang langsung menyapa dirinya. Gadis gadis itu tidak bosan melihat Arsha atau bahkan malah semakin menyukai Arsha. "SELAMAT PAGI EVERY BODY, BIAN YANG GANTENG UDAH DATANG." "Huuuuuuuu." Semua teman teman Arsha menyoraki tingkah absurd Fabian, meski begitu mereka juga mengakui jika Fabian memang tampan. Namun, jika di bandingkan dengan Arsha masih kelas lebih tampan Arsha bagi mereka. "Busett, fans gue banyak banget." Fabian berjalan menuju bangkunya, ada Rania di bangku paling depan sedang membaca buku paket bahasa Indonesia. Gadis itu sempat memperhatikan tingkah Fabian, tapi Rania hanya diam. Tidak peduli sama sekali, biarkan saja Fabian hidup dengan segala kekonyolannya. "Pagi sayangku, mau nasi goreng enggak. Emak gue bikin dua nih, katanya yang satu buat calon mantu. Nah, karena lo pacar gue nih buat lo kalau lo mau." Rania menghela nafas, ini tingkah Fabian yang paling menyebalkan menurut Rania karena sudah berani memanggilnya sayang. "Ribet banget emak lo, sana kasih yang lain. Gue udah makan, jangan panggil gue sayang. Jijik tau enggak," omel Rania, pagi ini akan di adakan kuis bahasa Indonesia untuk itu Rania harus belajar terlebih dahulu sehingga tidak ada waktu meladeni ocehan Fabian yang selalu membuang waktunya. "Terima dong Ran, ini emang buat lo kata emak gue. Soalnya kemaren lo udah ajarin gue soal fisika, nah gara gara lo ajarin gue akhirnya gue dapet A. Makanya ini sebagai ucapan terimakasih dari emak gue buat lo," jelas Fabian, menurut Rania itu sangat berlebihan. Tapi karena Rania menghargai pemberian ibu Fabian, jadi gadis itu menerima nasi goreng buatan ibu Fabian. "Iya gue terima, thanks. By the way, lain kali enggak perlu kasih gue makanan karena gue udah bantuin lo. Gue ikhlas kok," Fabian tersenyum, di balik sikap cuek Rania masih ada ketulusan yang tidak banyak orang tahu. Fabian merasa beruntung karena menjadi teman Rania, meksipun harus mendapatkan kata kata pedas setiap kali bertemu. "Buat ayang mah, apa sih yang enggak." Ucap Fabian sambil mengedipkan sebelah matanya, hal itu membuat Rania bergidik ngeri. "Gila lo, sana duduk bentar lagi masuk. Hari ini ada kuis," "Ya ampun ayang, perhatian banget sih sama pacarnya. Makin sayang deh kalau gini." Puji Fabian, jika di tanya apa ada rasa untuk Rania tentu saja ada tapi Fabian hanya menyayangi gadis itu sebagai teman dan Fabian juga merasa bersyukur karena menjadi satu satunya teman laki laki untuk Rania. Oleh karena itu, Fabian sangat menjaga gadis itu dan tidak akan membiarkan Rania salah pergaulan. "Fabian stop, gue jijik dengernya sumpah." Mendengar ocehan Rania, bukannya takut Fabian malah tertawa. Sementara itu, ada Arsha yang diam diam memperhatikan semuanya. Kenapa mereka bisa akrab? Itu yang menjadi pertanyaan Fabian. "Hari ini lo boleh cuekin gue, tapi ingat Ran. Suatu hari, lo yang bakal dateng ke gue minta gue jadi pacar lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD