Rania menghela nafas lega saat kuis bahasa Indonesia sudah terlewati, dari semua pelajaran yang ada di sekolah ini bahasa Indonesia memang menjadi salah satu pelajaran yang paling Rania hindari. Entah apa alasannya, tapi gadis itu tidak suka dengan pelajar tersebut. Namun, tidak menyukai pelajaran bahasa Indonesia bukan berarti nilai Rania tidak maksimal. Justru, Rania yang mendapat nilai paling tinggi. Teman temannya sudah tidak heran kenapa gadis itu mendapat nilai paling tinggi, karena kecerdasan Rania yang hampir di setiap mata pelajaran. Bahkan ada yang tidak mengerti apa kekurangan Rania si bintang kelas, karena selama ini gadis itu selalu tampil dengan semua kelebihannya.
"Dapet nilai 98, tapi muka lo lesu amat Ran?"
Fania duduk bersebelahan dengan Rania, gadis itu cukup senang karena mendapat nilai 90 kali ini. Biasanya, hanya 85 itu sudah paling tinggi. Tapi ada yang aneh, kenapa Rania malah terlihat lesu?
"Badmood gue," lirih Rania. Tadi pagi harapannya mendapatkan nilai sempurna bahasa Indonesia sangatlah tinggi, tapi ternyata itu hanya harapan semata. Ini pasti karena Rania kurang suka dengan pelajaran tersebut.
"Badmood kenapa lo? Abis putus? Kan lo bilang jomblo."
Ternyata berbicara dengan Fania tidak merubah moodnya sama sekali, justru malah memperburuk situasi. Memang siapa yang mengatakan jika Rania memiliki pacar? Sepertinya, Rania harus segera memperbaiki cara berfikir temannya itu.
"Yang bilang gue punya pacar siapa? Itu kan hasil imajinasi lo sendiri Fan, gue badmood karena nilai gue turun."
"What? Turun lo bilang? Hello Rania, lo itu dapat nilai paling tinggi di kelas kita. Bisa bisanya nilai paling tinggi buat lo badmood astaga!" Pekik Fania, tidak habis pikir kenapa Rania sangat terobsesi dengan nilai sempurna. Padahal masih banyak teman temannya yang mendapat nilai di bawah Rania, mungkin karena posisi juara kelas yang membuat gadis itu harus selalu mendapat nilai sempurna.
Rania menghela nafas panjang, temannya itu tidak akan pernah mengerti apa yang Rania alami. Terbiasa mendapatkan nilai sempurna, dan hari ini hampir sempurna rasanya sangat menyesakkan d**a.
"Lo enggak bakal ngerti,"
"Gue ngerti Ran, lo udah terbiasa dapetin nilai tinggi. Cuma ya, sekali ini aja nggak apa apa kali Ran."
"Tau ah, pusing gue."
"Segitunya lo ambis di sekolah?" Fania menoleh, saat Arsha tiba tiba ikut berbicara perihal nilai Rania. Tumben sekali Arsha ikut campur urusan Rania, biasanya jam istirahat seperti ini Arsha sibuk meladeni fans fansnya yang datang ke kelas.
"Eh ada Arsha." Fania tersenyum tipis saat menyadari tatapan mata Rania mulai tidak bersahabat.
"Bukan urusan lo." Sahut Rania cepat, memang apa urusannya dengan Arsha jika gadis itu begitu berambisi mendapatkan nilai terbaik setiap semester? Bukankah itu hak Rania.
Arsha mengangguk, itu memang bukan urusannya tapi sebagai teman satu kelas yang diam diam memperhatikan Rania membawa buku paket di kantin rasanya sangat aneh. Ya, Arsha memang tahu jika setiap semester gadis itu selalu mendapatkan nilai terbaik tapi apakah terlalu ambisius itu baik? Bahkan Rania sampai tidak mau berpacaran demi mempertahankan prestasinya di sekolah. Sangat konyol bagi Arsha, padahal gadis itu bisa belajar sewajarnya tapi masih bisa berpacaran seperti teman seumurannya.
"Emang bukan urusan gue, cuma gue heran aja. Seambis itu sampai lo belum pernah pacaran sampai sekarang?" tanya Arsha, ingin mendengar apa jawaban gadis itu. Alasan seperti apa yang sudah Rania siapkan?
Kali ini Rania menoleh, mau berpacaran atau tidak itu bukan urusan Arsha. Tapi kenapa laki laki itu selalu bertanya hal yang sama? Apa Arsha ingin mendapatkan jawabannya?
"Gue enggak mau pacaran karena itu cuma buang buang waktu, enggak penting."
"Yakin?"
"Gue lebih milih belajar daripada minta maaf setiap waktu karena lupa kasih kabar. Males banget gue minta maaf sama orang yang bisa aja buat gue kecewa,"
"Dan lo lebih milih pacaran sama buku buku paket? Gokil juga lo jadi cewek."
Di saat Arsha dan Rania berdebat, ada Fania yang terlihat bingung kenapa mereka sampai bertengkar hanya karena Rania belum memiliki pacar sampai saat ini.
"Kepo banget lo, enggak ada kerjaan ya ngurusin hidup gue? Gabut lo?"
"Berani taruhan?"
"Gue enggak pernah mau ikut taruhan, apalagi sama lo dih enggak penting." Ucap Rania, gadis itu dengan sangat terpaksa menutup buku paketnya. Mood belajarnya sudah benar benar buruk karena nilai yang turun dan karena Arsha.
"Gue mau ajak lo taruhan, minggu depan kita ada kuis matematika. Antara gue sama lo, siapa nilai paling tinggi dia boleh minta apapun. Dan gue cuma minta lo jadi pacar gue sehari," tawaran dari Arsha terdengar saat mengiurkan bagi gadis lain, tapi bagi Rania terdengar sangat menjijikkan.
"Gimana? Kalau lo nolak, itu artinya lo udah suka sama gue dari lama."
Rania tersenyum tipis, " jangan terlalu percaya diri, karena gue enggak akan pernah kalah saing sama lo. Dan satu hal yang perlu lo ingat, gue dari awal tau kalau lo temen sekelas gue sampai detik ini gue enggak pernah suka sama lo. Gue enggak takut bersaing, tapi dengan cara taruhan biar gue jadi pacar lo bisa di lihat kan siapa yang suka sama gue dan terobsesi jadi pacar gue?"
Rania berdiri di depan Arsha, gadis itu tidak takut sama sekali jika harus berurusan dengan laki laki seperti ini. Bagi Rania, selama dirinya tidak bersalah gadis itu akan tetap pada pendiriannya.
"Sorry Arsha, cara lo terlalu rendah buat dapetin gue yang berkelas. Gue enggak mau taruhan karena gue yang bakal jadi pemenang, enggak lucu kalau idola anak anak kayak lo kalah taruhan kuis matematika sama gue. Lain kali, kalau mau ngajak gue taruhan yang bermutu dikit." Setelah mengatakan itu, Rania pergi meninggalkan Arsha yang tersenyum remeh, jadi Rania tidak mau menjadi pacarnya karena taruhan? Fine, Arsha yang pintar selalu memiliki banyak cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Setelah kepergian Rania keluar kelas, banyak teman temannya yang langsung membicarakan sikap gadis itu pada idolanya. Mereka bahkan iri dengan Rania yang di ajak taruhan, jika mereka ada di posisi Rania mungkin mereka tidak akan mau repot belajar jika nantinya akan menjadi kekasih Arsha walaupun hanya satu hari saja.
"Berani banget Rania tolak ajakan Arsha, ih kalau gue ya mau banget. Kapan lagi coba kalah taruhan dapetin cogan."
"Lah itu kalau gue, langsung gue terima. Emang bener bener si Rania, Arsha yang gantengnya enggak ke tolong aja di tolak. Heran gue, selera dia setinggi apa sih?"
--
Fabian sejak tadi membuntuti Arsha kemampuan laki laki itu pergi, pasalnya rumor jika Arsha sudah di tolak mentah-mentah oleh Rania sudah tersebar luas. Fabian hanya ingin memastikan bahwa kabar itu memang benar, supaya Fabian bisa melihat Arsha di tolak walaupun tidak secara langsung. Lagipula, sejak awal masuk sekolah sudah pernah Fabian ingatkan jangan pernah bermain main dengan Rania, tapi sepertinya Arsha tidak percaya hal itu. Dan yang lebih parah, perkara taruhan kuis matematika minggu depan. Fabian yakin, siapa yang akan menjadi pemenang dengan mendapatkan nilai tertinggi. Sudah pasti Rania, dan pilihan Rania untuk tidak mengikuti permainan gila Arsha adalah pilihan yang tepat.
"Lo enggak ada kerjaan? Dari tadi ngikutin gue. Gue enggak mau di ikutin sama lo karena gue mau ke kamar mandi."
Menurut Arsha, Fabian ini memang terlalu absurd. Sampai sampai dengan tanggal tidak sadar mengikutinya sampai di kamar mandi, pasti ada sesuatu yang ingin Fabian tanyakan. Berteman sejak kecil dengan Fabian, Arsha sudah paham dengan sifat laki laki itu.
Fabian menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, "yaudah sana, jangan lama lama."
Arsha mengernyit heran, semakin aneh sikap Fabian hari ini. Tapi tak urung Arsha mengangguk, untuk apa berada di kamar mandi terlalu lama?
Tanpa perlu mengatakan apapun, Arsha kembali berjalan menuju kamar mandi. Bodo amat dengan Fabian yang rela menunggunya, toh Arsha tidak menyuruhnya menunggu itu murni kemauan Fabian sendiri.
Hampir sepuluh menit, akhirnya Arsha keluar. Bukan di sengaja lama di kamar mandi, tapi Fabian bertemu dengan adik kelas yang ingin mengajaknya bermain game nanti malam. Karena besok adalah hari minggu, akhirnya Arsha menyetujui ajakan adik kelasnya.
"Buset, di kamar mandi lama banget. Sekalian jualan lo?" Fabian merasa kesal dengan Arsha, jika bukan karena rasa penasarannya begitu besar mana mungkin Fabian rela menunggu. Buang buang waktu!
Arsha menghela nafas sebentar, sempat lupa jika ada sahabat yang terlalu absurd hingga mau menunggunya seperti ini.
"Sorry, gue lupa." Ucap Arsha, lalu mendahului jalan Fabian.
"Ar, gue mau tanya."
Sesuai dugaan Arsha, pasti ada sesuatu yang ingin Fabian ketahui.
"Apaan? Penting banget?"
"Penting lah, lebih penting daripada nilai bahasa Indonesia Rania."
Langkah Arsha terhenti saat mendengar nama gadis itu, gadis yang tadi pagi sempat menolaknya untuk taruhan. Arsha yakin, bisa mengalahkan Rania di kuis matematika minggu depan. Sayangnya, gadis itu terang terangan menolak ajakan Arsha. Jika di tanya, kenapa memilih taruhan dengan Rania? Banyak alasan yang cukup kuat, salah satunya Arsha ingin meruntuhkan tembok besar dalam diri Rania. Bahwa dia juga bisa tetap belajar, walaupun memiliki pacar. Bukankah sangat membosankan jika selama masa remaja hanya selalu tentang belajar? Arsha ingin gadis itu merasakan indahnya cinta semasa SMA. Ya, belajar dengan ambis memang benar. Tapi sedikit menghibur diri juga tidak ada salahnya.
"Berisik banget tuh mulut lo, kayak cewek."
Mereka duduk di bangku kantin yang kosong, jam istirahat kedua masih berlangsung beberapa menit lagi masih ada waktu bagi Fabian untuk mengintrogasi sahabatnya itu.
"Ar." Panggil Fabian saat ini, Arsha sedang membalas chat dari fansnya di i********:. Tidak di pungkiri, banyak gadis yang mendambakan Arsha sebagai kekasihnya.
"Hm."
"Emang, kabar yang gue denger itu beneran?" tanya Fabian pelan, meskipun rasa penasarannya sudah di ujung tanduk tapi menurutnya ini terlalu privasi bagi Rania. Jangan lupakan, jika gadis itu sudah pernah menolak banyak laki laki yang ingin menjadi pacar gadis itu. Dan alasan yang Rania berikan selalu sama, tidak mau membuang waktu hanya untuk berpacaran dan bagi Rania berteman saja sudah lebih dari cukup.
"Kabar? Kabar apaan sih."
"Kabar kalau lo di tolak mentah-mentah sama Rania."
Deg
Darimana Fabian tahu? Padahal tadi di kelas hanya ada beberapa teman temannya. Tidak mungkin jika gadis itu bercerita pada Fabian karena sudah menolak taruhan tersebut.
"Gue cuma ngajak dia taruhan."
"Tapi kenapa kalau dia kalah lo mau jadiin dia pacar? Sehat otak lo?" jadi benar kabar yang beredar, Arsha memang ingin menjadikan Rania sebagai pacar. Disini, tidak ada rasa cemburu sama sekali tapi Fabian tidak ingin mereka berdua menjalani hubungan tanpa adanya cinta. Apalagi Arsha sudah terkenal playboy di sekolah, sementara Rania belum pernah memiliki pengalaman berpacaran sama sekali.
"Kenapa sih, lo cemburu?" tanya Arsha, masih teringat jelas sebelum kuis di mulai Fabian memanggil Rania dengan panggilan pacar.
"Gue enggak cemburu Ar, tapi gue penasaran aja. Segabut itu, sampai lo berani ajak dia taruhan."
Arsha mengangkat bahu acuh, " lo enggak perlu tahu, yang jelas gue cuma mau ajak dia taruhan aja. Eh dia malah enggak mau, sial banget enggak tuh."
Fabian menggeleng, entah berasal dari mana sifat Playboy Arsha itu berasal.
"Gue bukannya mau ikut campur urusan lo, tapi kalau mau main main jangan sama Rania. Gue ngomong kayak gini bukan karena gue suka sama dia, atau gue cemburu. Tapi karena dia gadis baik, dia belum pernah pacaran sekalipun. Jangan sampai lo udah dapetin dia, lo perlakuan dia like a quen tapi setelah dia suka sama lo berubah." Ucap Fabian, Arsha dan Rania adalah teman yang paling dekat dengannya di kelas.
Arsha mengangguk, tidak ada niatan untuk mempermainkan siapapun.
"Tenang aja, gue enggak sejahat itu. Kalau nantinya dia jadi pacar gue, ya itu udah pilihan dia."