Belum menyadari

1599 Words
Fabian keluar dari mobilnya, seperti biasa jika ada adik kelas laki laki itu selalu tebar pesona terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kelas. Beruntung hari ini Fabian membawa mobil, biasanya selalu motor kesayangannya yang menemaninya pergi ke sekolah. "Pagi kak," sapa seorang gadis yang menggunakan kaos olahraga dan kaca mata yang menghiasi kedua mata indahnya. Cantik. Itulah yang pertama kali Fabian lihat dari gadis itu, meksipun menggunakan kaca mata tapi tidak bisa menyembunyikan aura kecantikannya. Polos, sepertinya juga gadis itu masih sangat polos sehingga tidak mungkin Fabian akan membuatnya baper pasti tidak akan terjadi. "Pagi." Fabian merasa aneh, gadis itu malah berhenti tepat di hadapannya. Entah apa yang salah pada diri Fabian, tapi sepertinya memang ada yang salah sehingga gadis itu langsung berhenti di depan Fabian begitu saja. "Kenapa? Ada yang salah?" tanya Fabian was was, jangan sampai ada sesuatu yang membuatnya malu pagi ini. Namun, gadis itu menggeleng membuat Fabian sedikit bernafas lega. "Enggak ada kok kak, maaf ya udah ganggu pagi pagi." Gadis itu tersenyum ramah lalu pergi meninggalkan Fabian setelah meminta maaf, padahal gadis itu tidak ada salah sama sekali. Aneh pikir Fabian, biasanya perempuan selalu menerapkan prinsip tidak mau salah dan ingin selalu terlihat benar tapi gadis itu berbeda. "Aneh banget deh, udahlah capek masih pagi di suruh mikir. Kenal juga enggak," ucap Fabian, lalu melangkah pergi menuju kelasnya bodo amat dengan gadis aneh berkacamata itu. Baru saja Fabian ingin masuk kedalam kelas, ada Arsha yang sibuk menahan Rania di depan pintu. Segabut itukah Arsha? Sampai menganggu anak orang sepagi ini? "Ngapain sih lo ha? Minggir, gue mau masuk." Arsha berdehem pelan, gadis bar bar yang sayangnya sangat pintar ini menjadi irit bicara padanya. Padahal, saat bersama Fabian tidak begitu ketus saat berbicara. Tapi entahlah, saat berhadapan dengan Arsha malah menjadi pendiam. "Jawab pertanyaan gue dulu." "Pertanyaan apa sih? Dari tadi, lo itu enggak nanya apapun ke gue. Ah elah, ribet banget sih." Ujar Rania, gadis sudah merasa kesal dengan tingkah Arsha pagi ini. Tanpa mereka sadari, ada Fabian yang berjalan semakin mendekat. Kedua sahabatnya itu sibuk berdebat, hingga mungkin tidak sadar menjadi pusat perhatian teman teman sekelasnya. "Kenapa chat gue belum lo bales? Sombong banget astaga! Itu chat udah dari semalem, lo enggak punya kuota apa gimana? Sini gue beliin." "Tunggu, lo punya nomor gue dari mana? Kayaknya, gue enggak pernah kasih nomor ke siapapun." Kedua mata Rania menyipit, gadis itu curiga dengan dua orang yang kemungkinan besar sudah memberikan nomornya pada Arsha. "Enggak perlu tahu, cepetan jawab. Kenapa Chat gue enggak lo bales?" tanya Arsha ulang, bukan hanya sekedar tidak di balas Rania juga tidak online sejak kemarin siang. Apa gadis itu tidak membuka ponselnya? Biasanya, gadis lain akan cenderung bergantung pada ponsel dimana pun selalu membawa ponsel tapi kenapa Rania berbeda? Rania mendengus kesal, bahkan untuk membuka ponsel saja Rania tidak sempat apalagi harus membalas chat Arsha yang tidak seberapa penting. "Karena lo enggak penting, emang lo siapa harus gue balas chatnya? Asal lo tau ya, gue jarang main ponsel. Lagipula, dari kemarin gue enggak buka atau balas chat sama sekali." Diam diam, Fabian sibuk menutup mulutnya sendiri. Antara kasihan dan ingin tertawa, memang malang sekali nasib Arsha. Gadis lain memang sibuk mencari perhatian darinya, tapi itu tidak berlaku bagi Rania. Gadis mandiri, pintar, cantik dan berasal dari keluarga kaya membuat Rania tidak perlu mencari perhatian dari siapapun. Nyatanya, walaupun kedua orang tuanya sibuk bekerja mereka masih menyempatkan waktu untuk sang anak. "Emang harus jadi siapa biar chat gue lo bales? Pacar?" "Sorry, gue anti pacaran. Minggir, gue mau masuk." Arsha mengalah, tidak ada gunanya berdebat dengan Rania pagi ini. Gadis itu akan semakin menjauh darinya jika terus menerus di ajak berbicara. "Masuk sana, males gue liat lo." Fabian merasa aneh, jika Arsha malas melihat Rania lalu kenapa temannya itu sejak tadi menahan agar gadis itu tidak masuk kedalam kelas? Perkiraan Fabian tidak akan salah, Arsha pasti menyukai Rania. Dan yang pasti, Rania tidak mungkin mau menerima Arsha karena gadis pintar itu memang tidak mau berpacaran selama ini. Akan sulit untuk Arsha, mendapatkan Rania. "Sumpah ya, lo masih pagi udah nyebelin banget. Gue harap, ini terakhir kali lo cari masalah sama gue." Ujar Rania, lalu masuk kedalam kelas, teman temannya tahu jika dari gelagat Arsha pasti memiliki perasaan yang spesial untuk Rania. Tapi karena Rania pintar, untuk saat ini gadis itu masih berambisi menjadi murid berprestasi di sekolah bukan malah sibuk berpacaran. Setelah memastikan Rania masuk ke dalam kelas, barulah Fabian melanjutkan langkahnya. Ingin sekali Fabian bertanya langsung pada Arsha, apa temannya itu menyukai Rania tapi dengan seribu alasan pasti Arsha akan mengelak. "Suka kok jahil, suka bilang dong. Itu baru namanya laki laki." Ucap Fabian tepat di depan Arsha, sengaja tidak berhenti agar dirinya lolos dari amukan Arsha pagi ini. Merasa di sindir, Arsha menarik tangan Fabian kencang. "Ngomong apa lo barusan? Coba ulang." Fabian menoleh dan tersenyum bodoh, "yang mana?" "Yang barusan." Ulang Arsha, dirinya tidak suka jika ada yang mengatakan bahwa dirinya menyukai gadis sombong itu "Kok lo bisa denger sih Ar, kan gue ngomongnya pakai bahasa kalbu?" "Sinting emang lo, gue enggak suka sama siapa siapa." "Lah, gue emang bilang apa? Gue enggak pernah bilang lo suka sama siapapun." "Telinga gue masih normal Ian, lo tadi ngomong gitu di depan gue kan?" Desak Arsha, dirinya hanya senang menjahili Rania hanya itu. Tidak ada rasa suka sedikitpun, dan menurut Arsha itu wajar karena mereka adalah teman. Fabian menggeleng, walaupun apa yang di katakan Arsha memang benar tapi tujuan Fabian hanya ingin menyadarkan hati Arsha. Sikap yang di tunjukan selama ini pada Rania berbeda, jika di perhatikan Arsha memang terlihat menyukai Rania akan sangat terlihat bodoh jika sampai Arsha tidak menyadari sikapnya pada gadis itu. "Gue enggak ngomong apa apa Ar, kok lo sensitif banget sih. Atau jangan jangan, emang lo lagi demen sama seseorang. Patut di abadikan, Arsha dharma dirgantara akhirnya berhenti jadi playboy." Arsha memang banyak terlibat dalam hubungan asmara dengan gadis gadis cantik di sekolah ini, tapi itu hanya teman. Sebanyak apapun perempuan yang pernah hadir di kehidupan Arsha, nyatanya hati Arsha hanya singgah dan tidak pernah menetap. Mereka yang pernah dekat dengan Arsha, akan mengaku sebagai mantan kekasih Arsha tapi bagi Arsha itu tidak masalah itu hak mereka yang paling penting Arsha tidak pernah memiliki hubungan lebih dari seorang teman pada umumnya. "Sialan lo, gue bukan playboy." Ucap Arsha tidak terima saat gelar playboy tersemat begitu manis dalam diri Arsha, karena selama ini banyak yang mengira bahwa dirinya sering berganti pasangan padahal tidak pernah sekalipun. "Inget omongan lo satu tahun yang lalu, lo bakal berhenti bermain saat lo ketemu orang yang tepat. Tapi Ar, gue cuma mau bilang sekali ini. Orang yang tepat, enggak akan datang dalam waktu yang cepat dan singkat. Dan orang yang tepat, akan selalu menerima segala kekurangan dalam diri lo." Tukas Fabian, lalu melepaskan cekalan tangan Arsha dan kembali melanjutkan langkahnya. Di bangku pertama, ada Rania yang sibuk membaca buku paket. Padahal tadi Arsha mengatakan agar gadis itu membaca dan membalas chat dari laki laki itu, tetapi lihatlah apa yang di lakukan gadis pintar itu. Bukannya malah membuka ponsel walaupun sebentar malah sibuk berpacaran dengan buku buku paketnya. "Hai sayang, rajin banget ya masih pagi udah belajar." Sapa Fabian, sengaja menggunakan kata sayang agar Rania menoleh. Dan benar, gadis itu melayangkan tatapan matanya yang tajam. Sepertinya mulai tidak nyaman dengan sapaan Fabian. "Berisik." Sahut Fania, ternyata ada manusia lain yang mendengar suaranya padahal Fabian sudah mengecilkan suaranya. Hm, pendengaran gadis itu cukup bagus ternyata. "Diem aja deh lo gue enggak ngomong sama lo ya," "Terus? Walaupun lo enggak ngomong sama gue tapi gue denger ya. Males banget gue denger suara lo," ucap Fania, gadis itu tetap berbicara walaupun pandangannya tertuju pada ponsel. "Bukan salah gue dong, copot aja telinga lo urusan selesai." "Gila." "Ya, emang lo gila. Kemana aja lo selama ini kok baru sadar." "Bian, lo kebiasaan banget deh enggak mau ngalah sama cewek." Akhirnya Rania membuka suara, jengah mendengar percekcokan antara Fabian dan Fania yang hampir setiap bertemu jarang sekali terlihat akur. Ekspresi Fabian langsung berubah menjadi lembut saat menoleh pada Rania, gadis itu sudah terganggu ternyata. Dan mengganggu Rania adalah hobi Fabian yang paling menyenangkan. "Tapi khusus buat lo gue selalu ngalah kok Ran," Mendengar gombalan maut Fabian, baik Rania ataupun Fania sama sama menggeleng. Tanpa Fabian sadari, ada Arsha yang sudah memperhatikan kelakuannya sejak tadi. Satu hal yang sudah Arsha ketahui, Rania suka laki laki yang tidak selalu ingin merasa senang berdebat tapi lebih menyukai laki laki yang mau mengalah dengan perempuan. Arsha yang notabenenya anak tunggal di rumah, selalu di manja mau mengalah rasanya sangat sulit karena hampir semua apa yang di inginkan selalu di dapatkan. Untuk Arsha, tidak akan ada yang bisa membuatnya mengalah seperti Fabian. "Yaudah, sekarang lo duduk diam. Gue mau belajar, jangan ganggu siapapun yang enggak mau di ganggu, jangan ngobrol sana sini. Diam dan buka buku pas jam pelajaran," titah Rania, kesempatan bagi gadis itu untuk membuat Fabian menurut. Sementara itu, Fabian cukup tercengang mendengar perintah Rania. Ingin menolak, tapi pak Malik sudah datang. Fabian merasa tenang karena tidak ada tugas dari pak Malik kemarin, tapi jika harus diam dan memperhatikan pelajaran pasti akan terasa membosankan bukan? Fabian sedikit menunduk di depan Rania, membisikan sesuatu pada gadis itu. "Gue bakalan diam, tapi lo harus janji jam istirahat ke kantin berdua sama gue gimana?" "Deall." Fabian kembali ke tempat duduknya, setelah mendapat persetujuan dari Rania. Tentunya dengan senyum mengembang, senyuman itu tidak luput dari perhatian Arsha. "Awas aja kalau Fabian bisa akrab sama Rania, sementara Rania galak banget sama gue." Batin Arsha, bahkan laki laki itu belum juga menyadari perasaannya sendiri untuk Rania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD