Hukuman

1005 Words
Sepanjang perjalanan, Rania hanya diam. Tidak lagi memperhatikan hujan yang masih belum juga reda, gadis itu tidak lagi antusias melihat hujan. Ini semua karena sang ayah yang terus menerus membicarakan Arsha, selama ini teman laki laki yang berani datang ke rumah hanyalah Fabian. Dan tadi, Raka ayah Rania memperhatikan gerak-gerik Arsha yang terus memperhatikan sang anak dari jauh. Mungkin jika Raka belum datang, Arsha sudah mengantarkan putrinya pulang. "Dari tadi ayah tanya, kok kamu cuma diam? Kenapa? Kamu sakit?" Rania menggeleng, " aku enggak apa-apa." Jawab Rania, moodnya sedang buruk diam adalah jalan terbaik daripada berbicara semakin memperkeruh keadaan. Raka tersenyum, tahu betul bahwa sang anak sedang merajuk. "Ayah cuma bercanda sayang, tapi ayah sama bunda kamu enggak pernah melarang kamu berteman dengan siapapun asal dia bisa membawa pengaruh yang baik untuk kamu. Dalam berteman, kita enggak boleh memilih mana yang harus di jadikan teman. Tapi kamu hanya perlu berhati-hati, ada beberapa teman yang ingin dekat karena memang tulus dan ada pula yang ingin menjerumuskan kamu dalam hal yang mungkin bisa merugikan kamu." Rania tertegun sesaat, ucapan ayahnya benar. Mungkin tidak semua teman mempunyai niat buruk, tetapi berhati-hati memang sangat perlu. "Aku enggak punya banyak teman," lirih Rania, selama ini gadis kesayangan keluarganya memang hanya memiliki sedikit teman. "Really?" Rania menghela nafas lalu mengangguk, respon sang anak sungguh membuat Raka terkejut. Anak gadisnya itu cantik, pintar poin plusnya Raka selalu memberikan fasilitas yang cukup saat Rania pergi ke sekolah. Jadi, apa yang membuat Rania tidak memiliki teman? "Kenapa sayang? Kenapa kamu enggak punya teman?" Perasaan khawatir mulai muncul saat mengetahui fakta yang sebenarnya, tidak ada kekurangan dalam diri sang anak tapi kenapa bisa? "Enggak apa-apa, aku lebih nyaman sendiri yah. Mereka baik, banyak yang mau jadi teman Rania. Tapi..." "Tapi apa?" "Tapi mereka enggak bisa berteman sama aku, aku enggak suka punya banyak teman tapi di saat kita butuh mereka tiba tiba menghilang. Aku bisa punya banyak teman sebenarnya, tapi aku enggak mau memanfaatkan keadaan. Teman yang aku pikir emang benar benar tulus ya cuma Fabian, yang lain enggak." Papar Rania, walaupun Fabian sangat menyebalkan tapi tetap saja laki laki itu selalu bersama Rania di setiap situasi. Bahkan, demi bersama Rania selama di sekolah agar selalu masuk kelas unggulan Fabian belajar dengan keras. Jika di tanya, apakah mereka saling mencintai? Jawabannya tidak, kedekatan mereka murni karena pertemanan semata. Mobil yang Raka kemudikan sudah sampai di garasi, keduanya turun bersama sama dari mobil. Mulai besok sepertinya, Raka harus mencari cara agar sang anak mau bergaul dengan teman temannya yang lain. Tidak hanya dengan Fabian saja, walaupun seringkali Rania merasa kesal dengan Fabian tapi nyatanya keduanya malah menjadi teman baik. Rania yang pendiam, dan Fabian yang selalu punya banyak cara untuk membuat gadis itu berbicara banyak. "Langsung mandi ya, nanti kita makan bersama. Bunda udah masak, makanan kesukaan kamu." Rania mengangguk, lalu tanpa mengatakan apapun gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Tentang Arsha, biarlah hanya menjadi cerita di sekolah. Jangan sampai nama anak itu di sebut lagi di rumah. --- "Arsha, kan bunda udah bilang berapa kali sama kamu kalau habis mandi handuk jangan di taruh di atas kasur. Ini juga sepatu kamu kenapa disini?" Arsha menoleh, dan tersenyum tanpa merasa bersalah saat melihat sang bunda merapikan kasur dan menaruh sepatu kamu tadi Arsha gunakan. Sudah menjadi rutinitas sang bunda untuk selalu merapikan kamarnya, tapi Arsha juga selalu mengulang kembali hal yang sudah jelas akan memancing amarah sang bunda. "Arsha lupa Bun, maaf ya." Ucap anak laki laki itu, jika di sekolah selalu menjadi idola gadis gadis di sekolahnya tapi kelakuan Arsha sangat berbanding terbalik jika sedang berada di rumah. Di rumah, Arsha akan sangat manja dan sangat bergantung pada sang bunda. Jiwa Prameswari, ibu kandung Arsha dharma dirgantara itu memijat pelipisnya yang terasa pusing. Arsha sudah besar, tapi sejak dulu kelakuannya sama sekali tidak ada perubahan. Tetap manja. "Lupa kok setiap hari, kamu ini bukan lupa tapi sengaja. Kamu sengaja buat bunda marah? Kamu sengaja, buat bunda punya penyakit darah tinggi ya?" Arsha menggeleng saat sang bunda mencerca dengan banyaknya pertanyaan, sungguh di balik sifat nakalnya anak itu tidak memiliki niat buruk sama sekali. "Bunda kok ngomong gitu, aku enggak sengaja Bun. Aku beneran lupa," Jiwa menghela nafas pelan, sudah bisa di tebak jawaban anak itu akan selalu sama setiap hari. "Kamu sudah besar, seharusnya kamu harus bisa menjaga kebersihan kamar kamu sendiri. Mulai besok, bunda enggak akan masuk ke kamar kamu sebelum kamar kamu rapi." Arsha cukup terkejut mendengar ucapan sang bunda, apa maksudnya? Tidak mungkin jika sang bunda tega membiarkannya membereskan kamarnya sendiri, astaga kamar Arsha sangat luas bisa pingsan jika harus membersihkan kamar sebesar ini sendirian. "Bunda bercanda kan? Bunda enggak nyuruh aku buat, bersih bersih kamar sendiri kan bun?" tanya Arsha khwar6, semoga sang bunda tidak setega itu padanya. "Ide bagus, mulai besok dan seterusnya kamu rapikan kamar kamu sendiri." Arsha terkejut mendengar keputusan sang bunda, ini termasuk hal sepele tapi tentu Arsha sangat keberatan dengan ini semua. Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Arsha harus menghentikan niat sang bunda. "Bunda, jangan ya. Masa Arsha di suruh beresin kamar sendirian. Iya tau kok Arsha salah, janji deh enggak akan mengulang kesalahan yang sama. Arsha janji, enggak akan asal taruh sepatu dan Arsha janji enggak akan taruh handuk basah di kasur lagi. Tapi jangan kasih hukuman seberat ini Bun," rengek Arsha, apa katanya? Hukuman? Bahkan bagi anak anak lain ini adalah sebuah keharusan yang harus di lakukan setiap pagi setelah bangun tidur tapi karena Raga terlalu memanjakan Arsha sejak kecil anak itu selalu ingin di manja sampai sampai merapikan tempat tidurnya saja di anggap sebagai hukuman. Kepala Jiwa semakin pening, kadang merasa bersyukur karena memiliki Arsha yang selalu menjadi anak yang penurut tanpa pernah merasa di kekang tapi disisi lain anak itu terlalu di manja dan sangat tidak baik untuk ke depannya. "Itu bukan hukuman Arsha, itu memang sudah menjadi tugas kamu setiap pagi bahkan setiap hari kamu harus merapikan semuanya sendiri. Kamu itu anak laki laki satu satunya di keluarga ini, jangan manja. Bunda enggak akan manjain kamu lagi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD