Kylla kembali ke rumah setelah mengantar keberangkatan suaminya. Tubuhnya terasa sangat lelah, mungkin karena kegiatan bersama Ethan semalam. Ia bahkan nyaris tak sempat merapikan tas sebelum merebahkan diri di atas ranjang. Sunyi langsung menyergap apartemen besar itu, terasa jauh lebih hampa tanpa keberadaan sang suami. “Sayang, kamu harus tumbuh dengan baik. Papa-mu pasti akan sangat bahagia saat tahu kamu hadir di perut Mama,” bisik Kylla pelan, sambil mengelus perutnya yang masih rata. Matanya terpejam perlahan, namun senyum kecil masih terukir di bibirnya. Dalam benaknya terbayang wajah Ethan yang tadi berpamitan dengan sorot mata penuh perasaan. Kalimat cintanya masih terngiang jelas, membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak karena rindu yang baru saja dimulai. Kylla memirin

