8

1683 Words
Keraguan itu tidak mengenakkan. Apalagi jika keraguan itu berujung kebenaran. Edgar telah dicekoki kehidupan palsu yang tidak pernah terjadi kepadanya. Fakta jika orang-orang yang seharusnya ia percayai ternyata adalah dalang dari semua kebohongan itu membuatnya gusar. Kenapa? Kenapa Ben membohonginya? Dan kenapa pula Sia bersekongkol dengan Ben? Jarum pendek sudah menunjuk pada angka delapan. Di luar jendela, langit malam begitu pekat. Seharusnya ia mulai membuat rekaman suara untuk menceritakan aktifitasnya pada hari ini, rekaman pengganti ingatan karena esok ia akan lahir kembali tanpa ingatan. Tapi fakta jika ia dan Ben bukan saudara kandung membuatnya ingin mencari tahu lebih. Kenapa Ben begitu bersikeras berbohong kepadanya? Mereka berdua jelas-jelas berbeda. Tidak ada yang sama di antara warna mata, kulit hingga warna rambut. Semua cerita Ben tentang Ayah dan Ibu serta sepupu itu terasa bagaikan dongeng saja. Dia tidak memiliki semua itu dan Ben berusaha memasukkannya ke dalam kehidupannya. Edgar menuliskan kode SQ1003 besar-besar di papan tulis putih. Ia terdiam sejenak mengamati gabungan huruf dan angka itu. Rasanya sama sekali tidak asing baginya. Kode itu begitu akrab seolah memiliki tempat yang lebih penting dalam dirinya dari pada rumah ini. Bayangan mayat jurnalis di laci lemari besi muncul dalam benak Edgar. Mayat itu adalah hasil temuan Ben. Ben pastilah sedang terlibat dalam suatu pekerjaan yang berbahaya. Sesuatu yang berhubungan dengan mayat sudah pasti bukan lah hal yang bagus. Genap enam bulan berlalu dan Ben tak kunjung kembali. Jawaban para mahasiswa jika Ben tidak sedang melakukan perjalanan dinas membuat Edgar khawatir. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Ben? Mengapa Ben menawarkan diri menjadi walinya? Bagaimana Ben mendapatkan mayat dengan gigi bermutasi itu? Dan kemana Ben saat ini? Apakah Ben sudah mati? Terbunuh dan menjadi mayat di suatu tempat sama seperti mayat jurnalis dalam laci pendingin itu? Tak dikenal tanpa sanak keluarga? Edgar menggelengkan kepala. Mengenyahkan dugaan itu. Ia tidak ingin Ben mati sebelum menjelaskan alasan dari kebohongan ini. "Apa ada lagi yang kau rahasiakan?" tanya Edgar kepada ruangan yang hening. Langit-langit dan dinding di sekitarnya balas memandangnya, membisu, bagaikan sekutu Ben yang tidak ingin membeberkan apa pun. Dengan cara yang sama, Edgar kembali ke ruang rahasia yang berada di bawah kantor pribadi Ben. Ia kembali mengunjungi kotak hitam yang tergeletak sendirian di atas meja di tengah ruangan hitam tanpa penerangan itu. Ia menyentuh permukaan kotaknya yang begitu dingin, lalu membukanya. Sesuai dengan rekaman suaranya, di dalam kotak itu benar-benar berisi lipatan surat dan dua botol cairan tak bernama. Ia membuka lipatan surat itu untuk sekadar mengecek. Isi dalam lipatan surat itu sama dengan deskripsi yang ia rekam dalam rekaman hariannya. Ia benar-benar pernah berada di sini dan menemukan rahasia Ben. Edgar mengembalikan lipatan surat itu. Ia beralih mengambil dua botol cairan yang masing-masing isinya berbeda warna. Berdasarkan penjelasan dalam surat, Obat dengan cairan berwarna hijau disebut sebagai obat dosis kuat yang dapat bertahan selama satu tahun, sementara obat dengan cairan berwarna perak adalah obat dengan dosis rendah yang hanya bertahan selama 6 bulan. Ramuan sihir. Begitu obat itu disebut di dalam surat. Tidak ada label yang ditempelkan di botol untuk mendeskripsikan nama, komposisi hingga resepnya. Hanya botol kecil polos bervolume dua puluh lima mililiter. Edgar mendengus. Ia tidak percaya dengan sihir. Segala sesuatu pasti memiliki asal usul serta sebab dan akibat. Selalu akan ada penjelasan bagaimana sesuatu dapat tercipta atau pun terjadi. Ini hanya obat, batin Edgar. Ia tidak tahu bagaimana efek obat itu. Dalam surat dari sepupu Ben menjelaskan jika ramuan ini bisa menyembuhkan kerusakan daya ingat pada otaknya dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Tapi ia ragu karena pengobatan medis saja sudah tidak mampu lagi memperbaiki otaknya. Selama ini caranya bertahan hidup adalah dengan minum obat resep serta menyimpan ingatan dalam perangkat lunak. Tapi ia sudah tidak sanggup lagi membuat rekaman suara yang diawali dengan : "Namaku Edgar Alan. Kau lahir..." Dia sangat ingin dapat mengingat siapa dirinya yang sebenarnya. Sia memberitahunya jika sebelumnya dia adalah pelatihan SQF. Ia dikeluarkan dari organisasi keamanan itu karena kondisi tertentu dan Ben menawarkan diri untuk menjadi walinya. Alasan mengapa ia dikeluarkan adalah karena ia sudah tidak kompeten lagi akibat daya ingatnya yang menurun. Dan setelah keluar dari SQF, otaknya semakin bermasalah pada bagian penyimpanan memori sehingga harus ditopang dengan meminum obat resep dan alternatif menyimpan ingatan. Edgar tidak dapat membohongi dirinya jika ia tergiur ingin mencoba. Ia mengambil salah satu botol, mengamati cairan di dalamnya lekat-lekat. Mungkin tidak ada salahnya jika mencoba. Tapi bagaimana jika ia mati gara-gara mencobanya? Mati? Dengan kondisi tidak utuh seperti ini... sepertinya mati adalah pilihan yang lebih baik. -- Suara batuknya bergaung dalam ruangan. Tenggorokannya begitu kering sehingga benturan di dinding tenggorokannya semakin membuatnya pedih. Cairan ramuan sihir itu telah membakar tenggorokannya sampai ke dasar perut. Tubuhnya membara, mendidih. Seperti ada api yang sedang melahap organ-organ di dalam tubuhnya. Rasa panas itu menjalar dari perutnya hingga sampai ke kepala. Ia tidak dapat bernapas. Paru-parunya seolah tak mampu menarik udara lagi. Kepalanya seperti akan meledak. Dunia pun menghitam dalam pandangannya. -- Edgar mengeluarkan sepeda mahal yang dibelikan oleh Ben untuknya dari garasi. Ia ingat jika Ben pernah mengajaknya berbelanja dan memilihkan sepeda dengan julukan norak, angin kilat. Penjualnya dengan menggebu-gebu memberitahu Ben jika sepeda itu adalah sepeda paling mahal dan yang paling sempurna dalam toko itu. Padahal penampilan sepeda angin kilat itu yang paling norak di mata Edgar. Namun karena ia merasa canggung tiap kali Ben bermurah hati kepadanya, maka dia diam saja membiarkan Ben yang memilih sepeda itu karena sangat ingin memberikan yang terbaik untuknya. Sambil bersepeda membelah jalan menuju kampus, ingatan-ingatannya muncul bergantian. Jika dipikir-pikir, Ben sudah berusaha keras untuk menyembuhkannya. Pasca sesi pembersihan SQF, ia berada sangat lama di rumah sakit karena kepalanya yang terus mengalami pendarahan. Pokoknya kacau sekali. Setelah mengetahui daya ingatnya rusak, Ben pasti kecewa sekali. Sebab, ingatan Edgar lah yang saat itu sangat diharapkan oleh Ben. Pada tengah hari yang terik itu, Edgar menuju ke ruang penelitian yang disewa tiga orang mahasiswa bimbingan Ben. Ia mengetuk pintu. Samar-samar ia mendengar suara obrolan dari dalam. "...dana yang seharusnya..." Daniel yang membuka pintu langsung membisu ketika melihat Edgar. "Ngapain kau ke sini lagi?" Tanyanya dengan mata melotot. "Boleh masuk?" Tanya Edgar. Namun sebelum Daniel sempat menjawab, ia sudah menyelinap masuk. Sia dan Leo tampak terkejut melihat kedatangannya. Daniel menutup pintu. Ia berbalik lalu berdiri di sebelah Edgar. "Bukan aku yang mengundangnya ya." Ujarnya sebelum ada yang menuduhnya. Kegiatan Sia dan Leo terhenti karena kedatangan Edgar. Ada sebuah koper yang terbuka di depan mereka berdua. Sebagian peralatan laboratorium sudah dikemas dan ditaruh di dalam koper dengan hati-hati. "Kalian mau pergi?" Tanya Edgar. "Ke Siprus?" Tebaknya. Ketiga mahasiswa itu saling bertukar pandang. "Apakah Ben berada di sana?" Tanya Edgar kemudian. "Kami tidak tahu di mana Prof berada," Leo yang menjawab sambil melanjutkan kembali kegiatannya. Ia membalut pHmeter dengan busa. "Tapi pastinya dia sudah pernah ke sana karena dia menemukan mayat jurnalis itu." Sia menghela napas. "Aku tahu kau mengkhawatirkan Prof. Tapi tunggulah sebentar lagi. Pasti dia akan segera memberikan kabar." "Aku tidak akan menunggunya lagi," kata Edgar. "Aku sendiri yang akan menemuinya." Sia mengerutkan dahi memandang Edgar. "Apa maksudmu?" Tanya Daniel pada Edgar. "Kalian kekurangan dana kan?" Edgar menoleh pada Daniel. "Aku punya uang. Kalian bisa mengambilnya. Berapa pun yang kalian butuhkan. Aku bisa memberikannya. Tapi dengan syarat..." Kata-kata Edgar membuat ketiga mahasiswa itu terkaget-kaget. "...aku pergi bersama dengan kalian." "Kau sedang bercanda kan?" Dengus Daniel geli. "Kami tidak punya waktu meladeni bocah sepertimu," gerutu Leo. "Pergi lah pulang. Kau pasti lupa minum obat." "Aku sudah tidak perlu obat," kata Edgar kembali menarik perhatian. "Aku sudah sembuh." "Sembuh?" Ulang Sia tidak mengerti. "Aku adalah pelatihan SQF sebelum otakku pada bagian memori bermasalah. Kode namaku adalah SQ1003," kata Edgar. "Ben yang mengetahui tentang adanya pelatihan yang akan dikeluarkan dari SQF mencoba menawarkan diri untuk menjadi wali dari pelatihan itu." "Ya. Aku sudah memberitahumu," kata Sia dengan dahi berkerut. "Kau memang memberitahuku kemarin. Tapi hari ini aku sudah ingat semuanya." "Semuanya...?" Ulang Daniel lambat-lambat. "Bisakah kau mengusir bocah itu?" Leo sudah mulai geram. Edgar merogoh sakunya lalu menyodorkan kartu kredit ke tangan Daniel. Daniel menerimanya dengan ekspresi terperangah. "Aku tahu kalian butuh dana. Kalian bisa mengambil semua uangku asalkan aku pergi bersama kalian ke Siprus. Aku harus menemui Ben." "Egie," Sia akhirnya berdiri, mendekati Edgar. "Kami sedang tidak main-main." "Aku tidak sedang main-main." Sela Edgar segera. "Kau lupa jika aku adalah seorang pelatihan? Sejak usia tujuh tahun kami sudah dicekoki latihan-latihan ekstrim." "Ya, pantas saja kau kelihatan sangat kaku," komentar Daniel. "Coba senyum sedikit. Ekspresimu saat ini menyeramkan sekali loh." Edgar mengabaikan saja komentar Daniel. "Malam tadi aku terjatuh dari tangga," lanjutnya. Ia harus membuat ketiga orang ini mempercayainya. "Kepalaku terbentur." Dustanya. Ia tidak mungkin memberitahu mereka jika ia meminum ramuan sihir yang membuat otaknya pulih dengan sempurna. Ia sudah mencari tahu jika benturan di kepala memiliki potensi dapat memulihkan amnesia, walau kisah itu kedengaran konyol. "Astaga... benarkah?" Sia segera memeriksa kepala Edgar, menyibak rambut peraknya dan menemukan luka di sana. "Ya ampun, Egie!" "Benturan itu membuat ingatanku pulih." Edgar menepis tangan Sia dari kepalanya. "Mustahil!" Seru Daniel tidak percaya. "Kau pikir kami akan mempercayaimu?!" Leo sudah berdiri, melangkah mendatangi Edgar. "Meskipun ingatanmu sudah pulih, memangnya apa urusan kami?" "Kalian akan pergi ke Siprus, dan kemungkinan Ben berada di sana. Iya kan?" "Kami tidak tahu, bocah!" Geram Leo dan Sia buru-buru menahan Leo yang nyaris saja menarik kerah kemeja Edgar. "Tenanglah, Leo..." Peringat Sia khawatir melihat Leo yang semakin geram. "Egie hanya ingin membantu." "Pesan itu..." Kata Edgar, ia sama sekali tidak merasa takut pada Leo yang sepertinya siap akan meninju wajahnya. Coba saja lakukan, ia meramalkan tinjuan itu tidak akan mengenai wajahnya. Gerak-gerik Leo menyatakan jika pemuda itu hampir tidak pernah berkelahi. Sementara Edgar telah beberapa kali patah kaki dan tangan karena ia kalah bertarung dalam praktik pertahanan diri. "...pesan dari Ben yang memintaku menjadi pembimbing kalian. Itu artinya Ben memberiku akses untuk bergabung dengan kalian." "Astaga, dia benar-benar keras kepala!" Seru Leo jengkel. "Tapi kawan kawan," ujar Daniel yang menunjukkan kartu kredit Edgar di tangannya. "Kebetulan kita sedang butuh uang kan? Kita belum melunasi biaya masuk kita ke Siprus." Leo membelalakan mata dan Sia menghela napas. Sementara Edgar tersenyum menyeringai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD