7

1826 Words
Edgar mengunjungi kampus tempat Ben bekerja. Sia juga merupakan mahasiswa dari kampus itu. Ia mengetahui alamatnya dari catatannya ditambah dengan mencari tahu melalui internet. Ia tidak mengerti mengapa ide itu tiba-tiba muncul di dalam kepalanya. Ia mendengarkan semua rekaman ingatannya pagi ini dan menemukan jika Ben telah pergi sejak enam bulan lalu. Dia berpikir lebih baik mencoba bertanya dengan pihak perguruan tinggi mengenai tugas dinas apa yang sedang dilakukan oleh Ben sebenarnya. Anehnya, Edgar merasa tidak asing ketika memasuki area kampus. Tapi ia yakin ini kali pertamanya mendatangi kampus karena tidak ada catatan atau rekaman dari ingatannya yang menyatakan ia pernah berada di sana. Tubuhnya seolah memiliki ingatan tersendiri. Ia melupakan tujuannya untuk mencari kantor bagian informasi dan malah memilih membiarkan kakinya menyusuri jalan yang terasa tidak asing baginya. Ia sampai di depan bangunan tiga tingkat yang terlihat masih dalam penyempurnaan bangunan. Tidak ada lift di dalam bangunan itu, ia membiarkan kaki-kakinya kembali bekerja. "Oh, pagi sekali kau datang?" Edgar berhenti berjalan. Di lorong ia bertemu dengan seorang pemuda berambut keriting dengan kacamata tebal. Edgar terdiam memandang pria itu. "Kau tidak mengingatku?" Tanya pemuda itu melihat Edgar yang hanya terpaku dengan eskpresi bingung. "Daniel... Lan?" Edgar mencoba menebak. Sia pernah mendeskripsikan salah satu mahasiswa bimbingan Ben yang berambut keriting dan berkacamata tebal. Daniel Lan, mahasiswa kedokteran. Pemuda itu menjentikkan jarinya. "Tepat." ujarnya lalu mendekati Edgar. "Syukurlah kau masih ingat kepadaku. Ngomong-ngomong kau benar-benar pikun ya?" Edgar mengerjapkan mata. Cara berbicara pemuda itu yang begitu santai kepadanya menunjukkan bahwa mereka berdua pernah bertemu sebelumnya. Tapi ia tidak menemukan hal itu dari catatan atau pun rekaman suaranya. "Apakah kau sudah siap untuk melihatnya?" Edgar memandang pria itu dengan sorot bingung. Sudah siap? Siap pada hal apa? Melihat apa? Daniel tidak mengamati ekspresi Edgar, ia menoleh ke kiri dan ke kanan. "Sia tidak tahu kan kau di sini?" Edgar menggelengkan kepala. "Bagus. Yuk," ajak Daniel dan mulai berjalan. Edgar segera menyusul. Apakah Daniel sudah berjanji akan memperlihatkannya pada sesuatu? "Boleh aku bertanya?" Edgar mencoba menyetarakan langkah dengan tungkai-tungkai panjang Daniel. "Ya. Apa?" "Apakah kau tahu kemana Ben pergi? Maksudku... Prof Alan." Daniel melemparkan tatapan aneh ke arah Edgar sekilas sebelum kembali berpaling ke depan. "Kan aku sudah jawab. Kau lupa ya? Tidak ada perjalanan dinas," jawabnya. "Tidak ada perjalanan dinas?" Ulang Edgar. "Ya. Prof menghilang untuk melakukan penyelidikan rahasia. Itu menurutku." Jawab Daniel sambil tersenyum menyeringai. "Kau yakin?" Tanya Edgar. Penyelidikan rahasia? Itu kedengaran berbahaya. "Ya," Daniel mengangguk. "Makanya kau harus lihat ini." "Sebenarnya apa yang akan kita lihat?" Tanya Edgar. "Lihat saja nanti. Setelahnya kau mungkin bisa menyimpulkan penyebab menghilangnya Prof. Itu sih menurut dugaanku." Seketika Edgar merasa ini adalah suatu kebetulan yang aneh. Mengapa ia tidak menyimpan ingatan jika ia pernah bertemu dengan Daniel? Pastinya mereka sudah pernah banyak berbicara sebelumnya bahkan berjanji untuk bertemu lagi. Apakah pertemuan mereka berdua terjadi pada hari ulang tahunnya? Sebab hanya hari itu ia tidak menyimpan rekaman dan catatan apa pun. Tapi aneh, apa yang membuatnya sampai ke kampus dan bertemu dengan Daniel? -- Daniel mengajak Edgar memasuki gedung fakultas kedokteran. Tanpa ragu Daniel memasuki area yang bertuliskan peringatan larangan bagi orang-orang tidak berkepentingan. Edgar pun menyusul masuk. Seketika hawa dingin dari suhu rendah ruangan menyentuh permukaan kulit Edgar. "Tempat apa ini?" tanya Edgar. "Ruang penyimpanan Kadaver, mayat, jenazah untuk kelas anatomi." Daniel memasang sarung tangan lateks sambil berjalan mendekati deretan rak stainless. "Aku akan menunjukkan bukti yang kusebut." Edgar mendekati Daniel yang memandangnya dengan sorot serius. "Apakah kau pernah melihat mayat?" Tanya Daniel. Edgar menggelengkan kepala. "Sayang sekali kau harus melihat mayat saat ini," kata Daniel kemudian menarik salah satu rak. Edgar tanpa sadar mundur selangkah. Rupanya ia tidak cukup siap melihat isi dari dalam rak yang dipamerkan Daniel. Mayat seorang pria dengan tubuh pucat kelabu yang membeku, dahinya dipenuhi lubang peluru dan belakang kepalanya hancur. Udara semakin merebakkan bau tidak sedap campuran formalin dari tubuh mayat. "Ini...bukti... yang kau bilang?" Edgar berbicara susah payah, ia menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan. "Oh maaf, aku lupa menawarkan," kata Daniel sambil menyodorkan masker. Edgar segera menerimanya lalu memasangkan masker itu untuk menghalau bau tidak sedap itu. Sementara Daniel tidak terlihat terganggu walau ia tidak mengenakan masker. "Prof yang mendapatkan mayat ini," kata Daniel, ia menyeringai lebar dan sorot antusias yang aneh. Edgar mengerutkan dahi. Apa hubungan penemuan mayat dengan kepergian Ben? Lagi pula mengapa mereka menyimpan mayat di sini dan bukannya dikuburkan dengan layak? "Ini adalah mayat dari seorang jurnalis, namanya Diego. Orang ini dulu adalah salah satu orang yang peduli terhadap Siprus, ia penuntut nomor satu yang meminta perbaikan di kota itu. Hingga akhirnya ia memasuki Siprus pada dua tahun yang lalu." Edgar memberanikan diri mengamati wajah mayat itu sambil mendengarkan penjelasan Daniel. "Setelahnya tak terdengar lagi kabar tentangnya. Diego bukan jurnalis terkenal atau pun yang difavoritkan. Dia juga tidak banyak memiliki relasi dan teman dekat. Dia pun satu-satunya putra dari orangtuanya yang sudah meninggal. Sehingga tidak ada yang mempertanyakan kepergiannya. "Delapan bulan yang lalu, Prof membawa mayat ini secara diam-diam. Dia meminta kami menganalisis mayat ini." "Dia menemukan mayat dan membawanya ke sini?" ulang Edgar. Daniel mengangguk. "Aneh ya? Aku ingat sekali kami bertiga dipanggil pada malam hari ke sini. Dia sudah memesan satu bilik untuk mayatnya di tempat penyimpanan ini. Dia meminta kami untuk memeriksa mayat itu." "Dia mati kena tembak," Edgar menyimpulkan ketika melihat lubang bekas peluru di dahi mayat itu. Tembakan beruntun yang menyebabkan belakang kepala mayat itu hancur. Pasti tembakan itu menyebabkan otak orang ini berhamburan. "Ya. Tembakan yang sangat mengerikan. Lima kali di kepala. Lima kali di jantung. Otak dan jantung hancur lebur. Jijik banget deh waktu aku mengeceknya. Soalnya otak dan jantungnya masih basah sekali sewaktu pertama kali datang." Edgar berusaha tidak membayangkan deskripsi Daniel yang sambil lalu. "Padahal satu kali tembak saja tepat pada jantung atau otak, manusia sudah dapat mati. Tapi mayat ini ditembak berkali-kali dan..." Daniel memasang tampang horor. "... Penyebab kematiannya adalah tembakan terakhir di kepala yang sudah bocor." Edgar mengerutkan dahi mendengarnya. "Tembakan terakhir?" Ulangnya. Daniel mengangguk. "Aneh kan? Orang ini masih hidup pada tembakan pertama di jantungnya. Sampai jantungnya bocor karena ditembak lima kali, dia masih belum mati. Tembakan pun berpindah ke otak. Dan selama itu orang ini masih hidup hingga akhirnya tembakan terakhir berhasil membuatnya mati." "Bagaimana kau bisa yakin?" "Bekas gerakan tubuhnya menyatakan bahwa orang ini terus melawan hingga akhir." "Mengerikan. Apakah dia monster sampai bisa terus bertahan dengan tembakan itu?" "Dia mungkin memang monster," Daniel mengangguk dan tanpa sadar ia menyeringai lebar, seolah ia sudah tidak sabar untuk menunjukkan sesuatu yang lebih mengerikan daripada soal tembakan di kepala dan jantung. "Coba lihat," kata Daniel. Pelan-pelan ia membuka mulut mayat itu. Edgar membelalakan mata melihat pertunjukan berikutnya. Ia menyipitkan sebelah mata karena merasa pedih akibat aroma formalin yang pekat. Ia melihat deretan gigi taring di dalam mulut sang mayat. Tidak ada gigi seri atau pun gigi geraham. Semua gigi itu besar dan runcing. Seperti melihat gigi hewan predator pemangsa. "Semua giginya berubah menjadi taring. Aneh kan?" Tanya Daniel. "Dan usia gigi ini masih muda, tumbuh tak lama dari satu tahun lalu." "Itu mustahil," komentar Edgar. "Aku juga berpikir begitu," kata Daniel. "Tapi orang ini bukan lagi manusia sebelum dibunuh. Mungkin dia benar-benar seorang monster. Karena itu tembakan-tembakan itu terus dilancarkan sampai makhluk ini benar-benar mati." "Apakah dia benar-benar si jurnalis?" Tanya Edgar. "Oh ya. Kami sudah mengeceknya dan segalanya cocok." "Dari mana Ben menemukan mayat ini?" "Prof bilang... Mayat ini ia temukan di Siprus." "Siprus? Sebenarnya tempat apa itu?" "Kau tidak ingat?" Kali ini Daniel mulai ragu memandang Edgar. "Itu adalah nama lokasi yang akan menjadi objek penelitian kami." -- Edgar telah kembali ke ruang pribadi Ben dan ia menemukan tiga berkas yang masing-masingnya tercantum nama dari ketiga mahasiswa bimbingan Ben. Sia, Daniel dan Leo. Ia membuka-buka berkas itu dan menemukan coretan tangannya. Ini artinya dia telah membaca isinya. Namun mengapa ia tidak menyimpan memorinya ketika berkomunikasi dengan para mahasiswa? Ini semua pasti terjadi di hari ulang tahunnya. Ponsel Edgar bergetar, ia melirik layar dan nama Sia menari-nari di sana. -- Ekspresi Sia tampak tidak senang ketika mereka bertemu. Sia tidak menerima tawaran masuk ke dalam rumah, ia lebih memilih duduk di teras. Edgar pun mengikutinya. "Aku melihatmu keluar dari gedung fakultas kedokteran," kata Sia. "Apa yang kau lakukan dengan Daniel di sana?" "Daniel menunjukkan mayat yang ditemukan oleh Ben," jawab Edgar jujur. "Egie...." Panggil Sia heran. "Bukankah sudah kukatakan untuk tidak terlibat?" "Aku tidak ingat," kata Edgar beralasan. "Lagi pula aku ingin tahu kemana Ben. Dia sudah pergi cukup lama." "Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Prof pasti akan kembali!" "Aku sudah dengar semua dari Daniel, kalian akan menuju ke lokasi penelitian kalian di Siprus. Itu artinya kau akan pergi menyusul Ben. Iya kan?" "Kami tidak tahu di mana Prof berada. Mungkin dia memang berada di Siprus. Tapi kami ke sana bukan untuk menyusul Prof. Kami harus menyelesaikan penelitian kami." "Bisa jadi dia berada di sana," kata Edgar, entah mengapa ia merasa yakin. "Mungkin dia sedang dalam masalah." Edgar tidak bisa mengenyahkan rasa khawatirnya. Bagaimana jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada Ben di sana? Satu mayat dengan gigi taring telah menunjukkan jika Siprus adalah kota yang sangat berbahaya. Orang itu monster. Bukan lagi manusia. "Aku ingin pergi bersama kalian ke sana," kata Edgar, ide itu tiba-tiba saja muncul dari dalam dirinya. Jiwa pemberani yang konyol mengingat keterbatasan yang ada pada dirinya. "Tidak mungkin, Egie..." "Kenapa? Aku akan bersikap baik. Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya ingin pergi ke sana dan mengecek apakah Ben berada di sana. Aku akan akan minum obatku tepat waktu. Aku juga akan rajin menyimpan ingatanku. Bukankah kau pernah bilang jika aku terlihat sangat normal?" "Tidak mungkin, Egie... Perjalanan itu berbahaya." Edgar merasa heran karena ia merasa tidak takut mendengar kata 'berbahaya' itu. Seharusnya ia memiliki jiwa pengecut, seorang anak yang selalu tinggal di rumah dan kerepotan menghadapi penyakitnya. "Aku bisa mengatasinya, aku janji." "Tidak. Tidak bisa. SQF mungkin masih mengawasimu." Berikutnya Sia menyadari jika ia telah mengucapkan sesuatu yang fatal. "Oh, aku tidak..." "Apa hubungannya dengan SQF?" Potong Edgar segera, mengerutkan dahi. "Kenapa mereka mengawasiku?" "Astaga..." Sia terlihat bersalah. "Bukan apa-apa..." "Beritahu aku... Apa yang sudah kau sembunyikan." Pinta Edgar. Ia yakin ada sesuatu yang salah. "Tidak... Tidak, Egie. Aku harus pulang." Namun Edgar menahan lengan Sia. "Tolong beritahu aku!" Desaknya. "Mengapa SQF mengawasiku?!" Sia menarik napas. Untuk beberapa saat ia tampak panik dan bingung. "Kau... kau berasal dari SQF." "Hah?" "Satu tahun yang lalu aku menemani Prof mendatangi SQF untuk mengurus sesuatu." Kata Sia ragu. "Dia datang ke sana untuk menjemput seorang pelatihan yang dikeluarkan dari SQF. Yaitu kau." "Aku...? Tidak, aku..." Edgar teringat dengan semua kisah keluarga Ben dan baru menyadari jika seluruh kisah itu hanya tentang Ben dan keluarganya. Ia tidak berperan di dalam cerita itu selain menjadi seorang anak yang selalu sakit. "Siapa namaku dulu?" Tanya Edgar. Sia masih memandang Edgar dengan sorot cemas. "Kau tidak punya nama di sana," jawab Sia. "Kalian hanya punya kode. Dan kodemu adalah... SQ1003."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD