Edgar mengecek rekaman suaranya dan menyadari jika ada satu hari di mana ia tidak menyimpan apa pun. Ia mengerutkan dahi. Hari itu adalah hari ulang tahunnya. Tidak mungkin kan ia sampai lupa menyimpan?
Suara dering telepon rumah membuatnya terpaksa beranjak keluar dari kamar. Ia segera menyambar gagang telepon.
"Halo?" Sapanya.
"Hei, Egie, ini aku. Daniel Lan. Ingat?"
Nama itu kedengaran tidak asing. Tapi ia butuh beberapa waktu untuk menyusun ingatan barunya karena ia baru selesai mendengarkan rekaman suara hariannya.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu." Kata suara di seberang sana yang mengaku bernama Daniel. "Ini berkaitan dengan Prof Alan. Datanglah ke kampus. Kalau bisa jangan beri tahu Sia. Oke?"
Sebelum Edgar sempat memahami semua kata-kata itu, sambungan telah terputus.
Ia memandang gagang telepon yang mengeluarkan suara sambungan terputus dengan ekspresi bingung.
--
Edgar memutuskan untuk mencari tahu dengan memasuki Kantor pribadi Ben. Dan benar saja, ia menemukan nama Daniel Lan sebagai salah satu mahasiswa bimbingan Ben. Itu artinya Sia mengenal Daniel. Selain Sia dan Daniel, ada juga nama anggota ketiga yaitu Leo.
Ia mengambil ponsel dan mencari keterangan pada rekaman hariannya. Pasti ada saat di mana Sia pernah menyebutkan tentang Daniel. Namun perhatiannya teralihkan pada catatan lama yang sepertinya baru-baru ini ia buka. Terlihat dari riwayat terakhir terbukanya catatan itu, yaitu pada tanggal hari ulang tahunnya. Catatan itu berisi : Buku Merah dan api.
Edgar seperti mendapatkan sengatan listrik. Kepalanya masih tidak dapat memaknai arti catatan itu, namun tubuhnya sudah bergerak untuk menjelajahi ruangan. Hingga akhirnya ia berjalan menuju ke deret rak paling belakang. Rak itu adalah rak paling tua di antara yang lain. Ia menemukan buku bersampul merah.
"Eyerish," ia membaca judul buku pada sampulnya. Tulisan hurufnya timbul dan berwarna keemasan sehingga terlihat seperti nyala api. Ia menyentuhnya, mengusap permukaan sampul yang tebal.
Tiba-tiba Rak tua di depannya bergeser sedikit ke kanan, memperlihatkan sebuah pintu dengan kegelapan di baliknya.
Edgar ternganga kaget melihat kemunculan pintu itu. Pintu rahasia?
Ia segera menyalakan lampu di ponselnya, lalu memasuki pintu. Ada tangga menuju ke bawah. Dengan was-was ia mulai menuruni tangga.
Ia sampai pada anak tangga terakhir dan disambut sebuah pintu besi kokoh. Ia mengecek dan menemukan bidang yang berisi layar kecil dan deretan tombol angka dan huruf. Ia membuka penutup bidangnya, pada layar terdapat tulisan peringatan : Tersisa dua kali.
Ia mengerjapkan mata. Agak heran. Apakah seseorang telah mencoba membuka pintu dan salah memasukkan kata kunci? Tapi tidak mungkin Ben melakukan kesalahan itu karena ia pemilik ruangan ini.
Dibutuhkan enam digit gabungan angka dan huruf untuk membuka pintu besi. Dan hanya tersisa dua kesempatan lagi. Ia memikirkan kode yang mungkin akan digunakan oleh Ben. Ia mencoba iseng dan layar menampilkan keterangan dialog peringatan yang berubah menjadi : Tersisa satu kali.
Wah, dia bodoh sekali. Kenapa dia sembarangan mengkombinasikan nama Ben dan tanggal lahir? Mungkin gara-gara Ben pernah menggunakannya sebagai kata kunci untuk komputernya.
Edgar terdiam di tempatnya. Ia hanya punya satu kesempatan lagi. Ia memikirkan masak-masak kesempatan terakhirnya. Ia menyusun semua daftar kata sandi yang pernah digunakan oleh Ben.
Edgar menoleh ke belakang. Lagi-lagi ia membayangkan suara orang memanggilnya dengan sebutan yang aneh. Sebutan itu seperti suatu kode. Kode itu SQ1003.
Kode?
Entah keberanian dari mana ia mencoba memasukkan kode itu. Jika gagal, maka itu artinya ia tidak akan bisa membuka pintu rahasia ini.
Terdengar bunyi klik. Ia terperangah tak percaya kode itu berhasil membuka pintu. Ia pun segera mendorong pintu besi hingga terbuka. Ia menyinari isi ruangan dengan sinar lampu ponsel.
Hanya sebuah ruang kecil yang kosong melompong. Di tengah ruangan terdapat sebuah meja kayu. Ia mendekati meja tersebut. Ada sebuah benda di atasnya. Sebuah kotak hitam.
Ia membuka kotak itu, di dalamnya ada kertas yang terlipat dan dua buah botol kecil berisi cairan. Ia mengambil satu botol, mengangkatnya sejajar dengan matanya, menyinari isinya. Cairan itu berwarna hijau bening. Ia meletakkan kembali botol itu ke dalam kotak, beralih pada kertas yang terlipat. Ia membuka lipatan kertas itu yang rupanya sebuah surat dengan tulisan tangan kecil-kecil yang rapi. Ia pun membacanya.
--
Dear, Ben.
Kau berulah lagi ya? Mama-mu setiap hari mengkhawatirkanmu. Aku tahu kesenanganmu adalah berjelajah. Tapi kau kan baru saja kembali dari dunia lain?
Dari surat terakhir yang kau kirim kepadaku, seandainya ada orang lain yang membaca isinya, mereka pasti mengira kau gila karena isinya aneh sekali.
Dunia apa lagi kali ini? Techneta? Apa yang menarik di sana?
Kau bahkan meminta Mama-mu untuk memperbolehkanmu memasukkan seorang bocah ke dalam silsilah keluarga. Kau mengangkat seorang anak yang tinggal di sana? Kau gila.
Sebenarnya aku tidak suka membantumu. Tapi membaca deskripsi tentang bocah itu di suratmu, aku jadinya khawatir. Kenapa tidak kau bawa saja dia ke sini? Jika pengobatan di sana tidak meyakinkan, cobalah ke sini.
Sebelumnya kau sudah menggunakan pil hijau untuk mempertahankan ingatannya. Tapi kau bilang organisasi aneh itu punya alat yang dapat menghapus seluruh ingatan manusia?
Itu kedengaran mengerikan!
Jadi bocah itu sekarat kan ya?
Untuk sementara, aku hanya bisa menawarkan ramuan sihir itu. Ada dua dosis. Satu yang berwarna hijau adalah dosis kuat. Ramuan ini dapat bertahan selama satu tahun. sementara yang berwarna perak adalah dosis rendah, dan hanya bertahan sekitar 6 bulan. Tergantung pada kondisi pasien. Jika kondisinya lemah, maka ketahanan ramuannya berkurang.
Ini berbahaya. Aku benar-benar serius memintamu membawanya ke sini.
Jadi, pulang lah.
April,
Sepupumu yang sangat mencemaskanmu.
--
Surat itu membingungkan bagi Edgar. Ben... berasal dari dunia lain? Lelucon macam apa ini?
Dan pil hijau...?
Seketika kepala Edgar terasa sakit. Samar-samar ia teringat dengan pil berwarna hijau yang ia telan. Lalu pil berwarna hitam.
Ia merintih. Ia pun meninggalkan ruangan itu, terseok-seok naik kembali ke kantor Ben. Dengan bodohnya ia melewatkan jam minum obatnya. Ia jatuh ketika baru sampai di depan pintu kantor. Kepalanya terasa akan meledak.
"Egie!" Samar-samar ia mendengarkan panggilan.
"Egie! Astaga! Ada apa?!"
"Obat... Obatku..."
"Oh, baik! Tunggu sebentar!"
--
Edgar terengah-engah bersandar di daun pintu kantor Ben yang terbuka. Sia mengawasinya dengan khawatir. Untunglah Sia datang pada waktu yang tepat.
"Sudah baikan?" Tanya Sia.
Edgar mengangguk. "Terima kasih. Untunglah kau datang."
Sia menarik napas. Ia menarik lengan Edgar, memeriksa jam tangannya.
"Jam tanganmu mati," ujarnya. "Pantas saja kau tidak ingat jam minum obatmu."
"Ohya.."
Sia segera melepaskan jam tangan Edgar. "Aku akan mengganti baterainya. Kau punya baterai cadangan?"
"Yeah... Coba cek di laci sebelah sana. Di dalam kantor Ben."
"Oke," Sia segera berdiri. "Mau pindah?" Tawarnya sambil menjulurkan tangan di hadapan Edgar. Edgar mengangguk, lalu menerima uluran tangan Sia. Sia pun memapahnya sampai duduk di sofa.
Edgar berterima kasih lagi dan Sia pergi untuk mengganti baterai jam.
"Sia, aku ingin bertanya." Kata Edgar kemudian.
"Ya? Soal apa?" Tanya Sia.
"Apakah aku pernah bertemu dengan Daniel Lan?" Tanya Edgar. "Dia adalah salah satu mahasiswa bimbingan Ben. Dan temanmu juga kan?"
Sia menoleh kepadanya dengan ekspresi aneh.
"Ya. Daniel adalah temanku. Juga mahasiswa bimbingan Prof."
"Apakah kita pernah bertemu?"
"Ya. Dia pernah datang di hari ulang tahunmu."
"Benarkah?"
"Ya. Aku mengajak mereka ke sini. Daniel dan Leo. Tapi..." Sia kembali mendekati Edgar. Ia duduk di sebelah Edgar kemudian menarik tangan Edgar untuk memasangkan jam tangan yang sudah ia ganti baterainya itu.
"Tapi apa?" Tanya Edgar penasaran.
"Lupakan saja." Kata Sia. "Kau tidak perlu terlibat lebih jauh lagi, Egie. Cukup sampai di sini saja."
Edgar mengerutkan dahi. Ia tidak mengerti apa maksud Sia.
"Ayo, kau punya mata pelajaran lima belas menit lagi." Sia mengingatkan.
Edgar pun mengerang ketika diingatkan. Namun berikutnya ia teringat pada jalan rahasia di balik rak tua. Ia segera melirik ke deret rak tua itu dan melihat pintu rahasia itu telah menghilang.