5

1048 Words
Malamnya, Edgar memasuki kembali kantor pribadi Ben. Ia meletakkan tiga berkas tebal ke atas meja kerja Ben lalu duduk di kursi kerjanya. Ia memutuskan untuk membuka-buka isi proposal penelitian para mahasiswa bimbingan Ben. Ini konyol. Bagaimana mungkin Ben menunjuk dirinya sebagai wakil dalam penelitian? Apa yang sebenarnya sedang dilakukan Ben hingga pergi dinas selama enam bulan? Bisa jadi Ben hanya sedang mabuk dan tak sengaja mengirimkan pesan konyol itu kepada Daniel. Ia pun mulai membaca. Ketika ia membaca judul ketiga berkas itu, barulah ia menyadari jika ketiga mahasiswa itu masing-masing mengerjakan penelitian dengan judul yang berbeda. Daniel Lan adalah mahasiswa dari fakultas kedokteran jurusan Genetika, Leo dari jurusan sains Kimia, dan Sia dari jurusan pendidikan Intelijen. Wah, ketiga-tiganya berasal dari jurusan dan fakultas yang berbeda. Setelah membaca sampai habis, Edgar berhasil menemukan kesamaan dari proposal ketiga penelitian itu. Ketiga proposal itu merujuk pada lokasi yang sama, yaitu sebuah kota bernama Siprus. Daniel Lan merujuk pada dampak genetika pasca radiasi setelah lima puluh tahun di Siprus. Penelitian Leo merujuk pada sisa dampak kerusakan alam yang terjadi di Siprus, sementara penelitian Sia merujuk pada aktifitas sumber daya manusia pasca radiasi. Edgar tidak pernah mendengar Siprus, namun anehnya ia merasa nama kota itu cukup akrab baginya. Ia pun berpindah menggunakan komputer untuk mencaritahu lebih jelas wilayah tersebut. Dari pencarian ia mengetahui jika Siprus adalah wilayah yang pernah mengalami insiden kematian massal akibat paparan radiasi suatu unsur radioaktif pada lima puluh tahun lalu. Sebelumnya Siprus dikenal sebagai kota industri paling besar di Techneta, bahkan lebih adidaya daripada Chroma di jaman itu. Unsur radioaktif telah dibereskan oleh bantuan pemerintahan pusat namun dampaknya terhadap lingkungan di kota tersebut cukup berbekas sehingga kota yang sempat menjadi kota wisata tersukses itu pun ditutup. Dan lambat laun telah menjadi kota terpencil, termiskin, dan terabaikan. Edgar telah membuka peta Techneta di layar komputer, ia memperbesar layar di bagian kota Siprus. Setelah mengamati dan tidak menemukan apa pun yang berarti, perhatiannya teralihkan pada kota bernama Vanadis. Kota itu berada di tengah-tengah antara Chroma dan Siprus. Entah mengapa selain nama Siprus, nama kota Vanadis juga terasa akrab di telinganya. Ia mengeluarkan penampakan peta dan tanpa sengaja memilih salah satu pencarian tentang Vanadis. Artikel itu membahas tentang suatu organisasi keamanan paling terkenal di Vanadis, yaitu SQF - Super Quality Force organization. Nama organisasi itu terasa berdenging di telinga Edgar. "SQF..." Edgar menyebutkan nama organisasi itu lambat-lambat. Sama sekali tidak terasa asing di lidahnya. Pernahkah ia membahas SQF bersama Sia? Seketika kepalanya terasa sakit, ia meringis memegangi kepalanya. Sial. Alarm jam tangan untuk minum obat tidak berbunyi. Ia buru-buru beranjak berdiri, berusaha berjalan untuk mengambil obatnya. Namun rasa sakit itu terus berlanjut. Diikuti bayang-bayang samar di dalam kepalanya. Ia melihat dirinya mengenakan seragam putih dengan lambang biru metalik. Lalu seorang wanita asing muncul di hadapannya dengan wajah dingin. Wanita itu menggerakkan mulut, seperti sedang memanggil namanya. Panggilan itu seperti bunyi dentingan gelas yang nyaring. "...Apa?" Ia berusaha mendengar suara si wanita sementara kepalanya seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum. "...SQ1003!" -- Edgar membuka mata. Ia bangkit duduk, menyadari jika ia sudah terbaring di atas karpet tebal dalam ruang kerja pribadi Ben. Bagaimana ia bisa berada di tempat ini? Ia bangkit berdiri, meringis sedikit karena kepalanya yang berdenyut menyakitkan. Ia mengamati ruang kerja pribadi Ben yang tampak berantakan, seperti ada orang yang mengobrak-abrik isi ruangan. Ya, sudah pasti dia sendiri yang telah mengobrak-abrik ruangan, siapa lagi. Ia segera mengambil ponselnya, lalu membuka folder diary rekaman suaranya. Namun tidak ada rekaman baru. Ia menoleh pada jam dinding dan rupanya saat ini masih pukul 8 malam. Biasanya ia membuat diary rekaman suaranya sekitar pukul 7 hingga 8 malam. "Sial..." Desis Edgar. Ia seharusnya tidak kambuh secepat ini. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat kejadian yang terjadi padanya selama satu hari ini. Namun tidak terlintas satu pun bayangan di dalam kepalanya. Segalanya kosong dan hampa. "Ini hari ulang tahunku," Edgar mencoba menekankan. "Pasti ada sesuatu..." Ia berusaha keras mengingat. Namun sia-sia saja. Ia menghela nafas lalu duduk di kursi kerja milik Ben. Ia mengamati keadaan meja Ben yang berantakan. Ada tiga berkas dengan judul penelitian yang berbeda. Ada nama Sia dalam salah satu berkas itu. Juga dua nama yang tidak ada dalam ingatannya namun tidak terasa asing. Ia mengabaikannya saja. Mungkin itu semua barang milik Ben. Ia beralih pada layar komputer yang masih menyala, menampilkan artikel tentang sebuah organisasi bernama SQF. Ia pun segera mematikan komputer, merapikan meja dan barang-barang yang berantakan. Setelah yakin ruangan itu sudah cukup rapi, ia pun keluar dari sana. -- "Hai, apa kabarmu?" Sia hari itu berpakaian kasual dengan blus berwarna biru tosca dan celana kain yang senada. Rambutnya masih menyisakan warna ungu, ia tidak menambah cat rambutnya dengan alasan sedang bosan dan ingin menumbuhkan rambut hitamnya saja. "Lumayan," jawab Edgar. "Tunggu sebentar, aku lihat dulu jadwalmu." Kata Sia sambil menyalakan laptopnya. "Oh ya, aku sudah melihat-lihat penerimaan pada perguruan tinggi. Kau mau mencobanya?" "Apakah aku bisa melakukannya?" Tanya Edgar ragu. "Dalam kondisi seperti ini?" "Tentu saja, kenapa tidak?" Kata Sia. "Terlepas dari kondisimu, kau kelihatan normal, Egie. Kau pasti bisa. Asalkan kau tidak pernah melewatkan minum obat dan selalu menyimpan memorimu. Benar kan?" Edgar memikirkan tawaran itu. Tentu saja dia sangat ingin mencoba bersekolah secara normal, tidak belajar di dalam rumah seperti ini terus-menerus. "Egie, mengenai permintaan Prof..." Kata Sia kemudian, ia tiba-tiba menyingkirkan laptop di depannya, memandang serius Edgar. "Aku sudah membicarakannya dengan Daniel dan Leo." Edgar mengerutkan dahi. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Sia. "Kami sepakat untuk tidak melibatkanmu." Lanjut Sia, masih tidak berhasil membuat Edgar mengerti. "Maaf sudah membuatmu bingung. Tapi kau tidak perlu menganggap serius surel yang dikirimkan Prof kepada Daniel. Bagaimana menurutmu?" Edgar ingin bertanya, namun ia segera teringat dengan tawaran perguruan tinggi itu. Jika ia ketahuan pernah tidak menyimpan memori satu harinya, tentu Sia akan merasa cemas dan menemukan betapa tidak kompeten dirinya. Itu artinya dia tidak mampu hidup normal. "Yeah," jawab Edgar, mengangguk. "Terserah." Sia tersenyum, tampak lega. "Baguslah." Ia menepuk bahu Edgar. "Lebih baik kau fokus pada penerimaan calon mahasiswa perguruan tinggi. Aku yakin kau bisa lulus. Aku akan membimbingmu sampai kau berhasil." Janjinya. Edgar mengangguk. "Makasih. Kau baik sekali, Sia." Edgar memikirkan apa jadinya dirinya tanpa bimbingan Sia karena Ben tidak pernah ada di sekitarnya. Tapi ia masih memikirkan tentang surel itu yang disebut-sebut Sia. Mereka tidak ingin melibatkannya pada hal apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD