Edgar sampai pada anak tangga terakhir. Ia menemukan sebuah pintu besi. Ia mengamati pintu yang terkunci itu. Tidak ada lubang kunci atau pun gembok, tidak ada engsel namun ia menemukan kotak sistem pada pintu.
Edgar menghela napas kecewa karena pintu itu dikunci dengan kata sandi. Ia tidak akan bisa membobolnya seperti yang biasa ia lakukan ketika pada kunci atau gembok biasa.
Kira-kira apa yang disembunyikan oleh Ben di dalam sana?
Emas? Uang? Apa pun itu pasti sesuatu yang berharga.
Hmm, apakah ia coba saja? Kode untuk kata sandi itu terdiri dari enam digit. Mungkin ia bisa mencoba kode paling dasar, misalnya tanggal ulang tahun Ben. Ia menekan tombol untuk merangkai tanggal lahir Ben. Layar abu-abu di atas tombol berubah merah dengan tulisan : tersisa dua kali.
Sial. Ia sudah salah di percobaan pertama, dan kunci ini memiliki batas uji coba hanya sampai tiga kali rupanya. Kira-kira apa yang akan terjadi jika ia menggunakan dua kesempatan itu dan semuanya salah? Apakah akan ada sesuatu yang akan terjadi? Misalnya bom meledak atau semacamnya?
Ponsel Edgar bergetar. Ia segera merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Sia sudah di depan pintu rumah.
--
Edgar berlari cepat sampai ke ruang tengah di mana Sia sudah duduk nyaman di sofa. Sia segera berdiri ketika Edgar mendatanginya, ia lalu menyodorkan sepotong kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala di atasnya.
"Selamat ulang tahun!" Seru Sia sambil tersenyum lebar.
Pasang mata Edgar berbinar melihat kejutan Sia.
"Ayo, tiup lilinnya!" Seru Sia antusias.
"Oh, ayolah...." erang Edgar, tidak menyukai ide tiup lilin yang kedengaran kekanakan itu.
"Ayolah, jangan malu-malu. Menurut mitos, permintaanmu akan dikabulkan jika kau berdoa lalu meniup lilin ulang tahunmu."
"Aku tidak percaya mitos," Edgar memutar bola matanya.
"Oh, ayolah, Egie..." Pinta Sia. "Lakukanlah!" desaknya.
Edgar menghela napas.
"Dan jangan lupa berdoa ya!" Sia mengingatkan.
Namun Edgar tidak berdoa. Ia sama sekali tidak percaya pada mitos. Ia memejamkan mata untuk beberapa saat agar Sia yakin dia sedang berdoa, kemudian meniup lilinnya.
Sia berseru senang lalu meniupkan terompet mainan kecil.
"Selamat telah berusia enam belas tahun, Egie!"
--
Edgar hanya duduk diam mendengarkan Sia berceloteh sambil memakan potongan kue ulang tahunnya. Dia tidak suka sesuatu yang manis sehingga Sia sendiri yang menghabiskan kue itu.
Sia adalah asisten Ben, seorang mahasiswa di perguruan tinggi di mana Ben bekerja, dan juga adalah guru privat Edgar. Meskipun seorang asisten dosen, Sia tidak terlihat formal sama sekali karena gadis itu sangat suka mengenakan jaket kulit, serta rambutnya dicat dengan warna ungu. Sia sangat suka warna ungu dan hitam. Dia sangat eksentrik dan agak konyol karena begitu fanatik terhadap warna ungu dan hitam. Dia bahkan pernah mengenakan sepatu boot karena begitu menyukai warna ungu pada sepatu boot itu. Pokoknya dia tampak seperti wanita nakal daripada seorang mahasiswa berpredikat terbaik favorit Ben.
"Ah, rasanya tidak asik jika kita harus belajar di hari ulang tahunmu." Sia mengeluh setelah kuenya habis.
Edgar hanya mengangkat bahu. Dia biasanya selalu menunggu-nunggu kedatangan Sia, guru privatnya. Tapi hari ini pikirannya teralihkan pada pintu besi di bawah ruang kerja pribadi Ben. Ia sangat ingin bisa membuka pintu itu. Tapi dia membutuhkan kode.
"Apakah kau tahu kapan Ben akan kembali?"
"Prof Alan? Entahlah," Sia mengangkat bahu, selesai menjilati sendok dari sisa krim kue. "Prof sudah pergi selama enam bulan..."
"Yeah..." gumam Edgar.
"Hmm, mumpung hari ini kau ulang tahun... coba sebutkan keinginanmu. Aku akan mewujudkannya untukmu," kata Sia kemudian, mendadak memiliki ide.
"Kau serius?" Tanya Edgar ragu.
"Tentu saja," Sia mengangguk sambil tersenyum untuk meyakinkan.
"Hmm," Edgar berpikir sebentar.
"Ayo katakan," kata Sia tidak sabar.
"Aku ingin makan di luar."
"Oh ya?" Sia mengerutkan dahi. "Hanya itu?" tanyanya lagi.
--
Sia sebenarnya mau menemani Edgar makan di luar namun Sia baru saja ingat jika ia harus rapat dengan tim penelitiannya.
"Tidak masalah. Ajak saja mereka," kata Edgar. Dia sudah mengetahui jika ada dua orang lagi mahasiswa bimbingan Ben selain Sia.
"Kau yakin?" Tanya Sia untuk memastikan. Edgar pun mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita temui mereka di markas."
Sia pun mengendarai skuternya dengan Edgar membonceng di belakang. Mereka memasuki area kampus yang terasa asing begitu Edgar.
Edgar mulai berpikir. Jika ia cukup normal, apakah ia bisa melanjutkan pendidikannya di tempat formal seperti ini?
Skuter diparkir di depan sebuah bangunan tiga tingkat yang tampaknya masih baru didirikan. Mereka berdua pun berjalan memasuki bangunan. Sia menjelaskan jika lift masih belum dapat dioperasikan sehingga mereka terpaksa berjalan kaki menaiki tangga untuk menuju lantai tiga.
"Masuk sini," Sia berjalan lebih dulu lalu menghilang ke balik sebuah pintu.
Edgar dengan ragu menyusul masuk.
Ruangan di dalamnya sumpek, terasa sangat kecil, atau karena ada terlalu banyak benda-benda dan perabotan di dalamnya sehingga segalanya menjadi terasa sempit. Ada tiga meja berjajar dengan perangkat komputer serta kabel berhamburan yang saling terlilit di lantai.
Ketiga meja itu berada di salah satu sisi yang menghadap ke sebuah meja panjang dengan perangkat peralatan pecah belah kimia.
Seorang pria mengenakan jas laboratorium dengan kacamata pelindung menolehkan wajah. "Kau sudah datang?"
"Hai, Leo. Dimana Daniel?" Tanya Sia yang segera menghampiri pria berjas lab itu.
Pemuda yang dipanggil Leo sedang memegang gelas labu yang berisi cairan bening keperakan. Ia tampak fokus pada labu di tangannya, namun ia tetap menjawab pertanyaan Sia. "Kau tidak melihat Lan sedang ngorok di sana?"
Edgar yang sudah berdiri di sebelah Sia ikut menjulurkan leher untuk melihat seorang pemuda yang tertidur pulas di atas kursi kerja dengan kaki terjulur sampai hampir menendang salah satu layar komputer.
"Dia bekerja semalaman untuk menganalisis data yang kita temukan beberapa waktu yang lalu."
"Hm? Bukankah itu sudah dua bulan yang lalu?"
Leo memasukkan cairan keperakan ke dalam tabung reaksi dengan gerakan hati-hati. Lalu Ia menutup tabung reaksi kemudian memasukkan tabung itu ke dalam refrigrator. Ia melepas kacamatanya dan Edgar terkaget-kaget melihat penampilan Leo tanpa kacamata pelindung.
Ini pertama kalinya Edgar bertemu dengan Leo, salah satu mahasiswa bimbingan Ben di fakultas sains kimia. Tubuh pria itu tinggi sekali dengan atletis berbahu lebar, serta memiliki pasang mata tajam seperti mata elang
"Leo, kau ingat jika aku mengajar saudara Prof Alan? Nah, ini Egie yang kuceritakan." Sia segera menarik bahu Edgar ke dalam rangkulannya.
"Halo," sapa Edgar kikuk. "Namaku Edgar."
Leo menatap tajam Edgar dengan mata elangnya "Jadi kau bocah itu."
Itu, kira-kira apa saja yang sudah diketahui oleh Leo tentang dirinya? Apakah Leo sudah tahu jika dia terlahir sebagai manusia yang tidak mampu menyimpan memori?
Tapi Leo tidak mengomentari kedatangan Edgar sama sekali. Ia melepas jas laboratoriumnya kemudian menggantungnya di gantungan. Tanpa jas laboratorium, pemuda itu terlihat semakin besar dengan tubuh tinggi dan lebar yang berotot.
Edgar melirik pada Sia yang tersenyum diam-diam mengamati gerak-gerik Leo. Ia hanya mengerutkan dahi berusaha memahami apa yang disukai Sia dari pemuda itu.
Leo bergerak mendekati meja komputer, lalu memukulkan buku tebal ke kepala pemuda yang sedang tidur itu.
"Bangun!" Seru Leo bersamaan dengan suara keras yang terbentuk akibat pertemuan antara permukaan buku dengan kepala si pemuda. Pemuda itu langsung terperanjat bangun.
"Namanya Daniel Lan," Sia memperkenalkan pemuda yang baru bangun itu. Pemuda itu kebalikan dari Leo, seorang pemuda berambut keriting hitam awut-awutan dengan jambang yang sudah mulai tumbuh di dagunya, ia bertubuh kurus serta berkacamata tebal. "Daniel adalah ketua tim kami."
Edgar mengangguk saja sambil mengamati Daniel menguap. Daniel juga bertubuh setinggi Leo, namun bedanya Daniel bertubuh kurus. Pemuda itu meregangkan tubuh sampai-sampai kedua lengannya yang kurus menyentuh kipas angin di atasnya.
Ruangan ini terlalu kecil untuk kedua pria raksasa ini.
"Oh, Sia..." Daniel menyadari kedatangan Sia. Berbeda dari Leo yang sama sekali tidak menaruh perhatian pada Edgar, Daniel memperbaiki letak kacamata tebalnya untuk mengamati Edgar. "Siapa bocah ini?"
"Saudara Profesor." Jawab Sia segera.
"Oh, akhirnya dia datang ya?"
"Akhirnya?" Ulang Sia dan ia menolehkan wajah pada Edgar. Edgar menggelengkan kepala tidak mengerti.
--
Edgar tidak yakin keputusan mengajak Daniel dan Leo adalah sesuatu yang bagus. Mereka berempat makan siang di restoran yang dipilihkan oleh Sia. Dan Edgar berkali-kali melirik Sia dan Leo yang duduk saling berhadapan di sampingnya. Seketika saja ia merasa tidak suka melihat keduanya yang terlihat akrab. Sementara pasangannya duduk, Daniel, memakan burger ukuran ekstra-nya dengan belepotan.
"Apakah kau menunggu-nunggu kedatangan Edgar?" Tanya Sia pada Daniel.
"Eh?" Daniel sepertinya tidak begitu mendengar pertanyaan Sia karena sedang fokus memakan burger jumbonya.
Sia tersenyum kecil saja, memutuskan untuk tidak bertanya pada saat Daniel sedang makan.
--
"Sering-sering lah kau mentraktir kami," kata Daniel pada Edgar setelah puas menghabisi makan siangnya.
"Ide bagus," sambut Leo.
"Hei, kalian terlihat seperti dua orang dewasa yang sedang memalak anak kecil," peringat Sia dengan eskpresi jengkel.
"Dia kan memang lebih kaya dari kita," ujar Daniel sambil menyeringai.
"Jadi apa tadi maksudmu?" Tanya Sia yang masih belum bisa mengenyahkan rasa penasarannya.
"Yang mana?" Tanya Daniel balik.
"Kau berkata seolah kau sudah menunggu kedatangan Edgar," Leo membantu menjelaskan.
"Nah, itu..." Ujar Daniel. "Aku belum memberitahu kalian tentang surel dari Prof ya."
"Surel?" Ulang Leo.
"Surel apa? Kau tidak pernah cerita apa-apa!" Protes Sia.
"Hei, tidak usah kesal begitu. Aku baru saja mendapatkan surelnya satu bulan lalu..."
"Satu bulan lalu?!" Potong Sia.
"Dengar dulu deh," Daniel segera mengeluarkan lembar kertas cetak dari ranselnya. Ia menyodorkan kertas itu pada Edgar namun Sia merebutnya lebih dulu. Edgar membiarkan Sia dan Leo membaca isinya, ekspresi mereka berubah kaget dan bingung.
Daniel segera memindahkan kertas cetak itu untuk Edgar. Edgar pun membaca isinya.
Secara garis besar isinya - "Aku akan menjadikan Edgar Alan sebagai penggantiku dalam memimpin penelitian kalian selanjutnya."
Edgar selesai membaca, ia lalu memandang Daniel. "Apa maksudnya?" Tanyanya tidak mengerti.
"Tidak bisa dipercaya..." Gerutu Leo.
"Tapi kenapa?" Tanya Sia. "Egie kan..."
"Ya, kenapa?" Leo langsung memotong kata-kata Sia. Ia memicingkan mata ke arah Edgar dengan sorot tajam yang tidak mengenakkan. "Kenapa Prof Alan menunjuk seorang bocah berusia enam belas tahun sebagai wakilnya? Ini tidak masuk akal. Bukankah dia punya penyakit di otaknya?"
"Dia mengidap memori jangka pendek," Sia mencoba meringankan sebutan penyakit Edgar.
"Mungkin ini salah..." Kata Edgar.
"Apanya yang salah?" Daniel malah terlihat riang. "Kau tiba-tiba datang ke ruang penelitian kami dan Prof mengirimkan pesannya. Itu artinya kau sudah siap kan?"
"Eum," Edgar tampak gugup. "Aku sama sekali tidak mengerti. Aku hanya datang untuk mengajak makan siang."
"Mungkin Prof punya maksud tertentu," ujar Sia.
"Pokoknya," kata Daniel yang segera mengambil setumpuk berkas dari dalam ranselnya, lalu ia menaruhnya di depan Edgar. Edgar ternganga melihat tumpukan berkas itu.
"Silakan dikoreksi proposal kami."
"Tapi..." Edgar mencoba meluruskan kesalahpahaman ini. Ben pasti sedang mabuk sampai mengirimkan pesan aneh kepada Daniel untuk menyuruhnya mengoreksi penelitian tim penelitian mahasiswa. Bagaimana pun dia hanyalah seorang bocah yang baru saja berusia enam belas tahun.
"Aku akan pulang dan tidur. Kalian pun juga," Daniel mengabaikan Edgar, ia menunjuk pada Leo dan Sia. "Kau sudah banyak mengekstraksi sampel, Leo. Itu sudah cukup. Dan Sia, kau sudah cukup banyak mengumpulkan informasi. Saatnya kita beristirahat dan menunggu pekerjaan kita selanjutnya dari wakil Prof."
"Kau yakin?" Tanya Leo, masih sulit mempercayai keputusan itu.
"Kenapa tidak yakin? Bukankah ini adalah arahan dari Prof?" Daniel bertanya balik seolah instruksi Ben cukup masuk akal baginya.
Namun situasi ini tidak masuk akal. Bagaimana Edgar bisa mengoreksi proposal penelitian orang yang lebih dewasa darinya?