Satu tahun kemudian.
Edgar Alan mengamati pemandangan pagi hari melalui jendela kamarnya dengan pasang mata hitamnya yang pekat bagaikan kancing hitam. Ia sudah berada di sana sejak matahari masih berupa berkas sinar setipis pita dalam bumi yang redup. Kini langit telah terang benderang dan ia sampai pada akhir penjelasan salah satu diary yang ia rekam dalam bentuk rekaman suara.
Biasanya ia hanya mendengarkan suara yang ia rekam hari kemarin. Karena rekamannya pada hari sebelumnya adalah petunjuknya dalam menjalankan hari baru. Sebab, dia mengidap penyakit lupa ingatan sesaat. Otaknya kadang melepaskan beberapa ingatan penting sehingga ia perlu menyimpan hal-hal penting tersebut dalam bentuk rekaman suara, dan rekaman suara itu disimpan dalam ponsel pintarnya yang menggunakan case berwarna kuning.
Warna kuning terasa norak, tapi ia merasa warna itu adalah warna yang pas untuk ponselnya. Kadang ia seperti membayangkan sebuah buku berwarna kuning ketika melihat ponselnya sendiri, padahal ia tidak memiliki buku bersampul kuning sama sekali di dalam kamarnya.
Setelah selesai mendengarkan rangkuman kegiatannya pada hari kemarin, ia mulai berdiri dan meninggalkan jendela kamar. Ia keluar dari kamar dan disambut kekosongan rumahnya yang besar dan terasa dingin. Dia menghela napas, lalu melanjutkan langkahnya dengan menuruni tangga.
Seperti yang sudah ia dengar dari rekaman suara hari kemarin, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu yang penting di hari ulang tahunnya. Dan hari ini adalah hari ulang tahunnya yang keenam-belas.
Ia berhenti di depan pesawat telepon, menyadari lampu hijau yang menyala pada perangkatnya, menandakan jika ada pesan suara baru yang masuk.
Ia menekan tombol untuk membuka pesan suara di pesawat telepon.
"Halo, Edgar. Selamat ulang tahun!" suara seorang pria berucap riang. "Maaf ya aku tidak bisa menemuimu di hari penting ini. Aku masih terjebak dalam perjalanan dinas. Nah, sudah dulu. Jadilah anak baik ya."
Edgar kembali menghela napas. Itu adalah pesan dari saudaranya yang bernama Ben. Satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki.
Ia menekan tombol lagi untuk mendengarkan pesan suara berikutnya.
"Hai, Egie, Ini aku, Sia." suara seorang perempuan. "Aku akan datang terlambat. Oh ya, selamat ulang tahun!"
Itu adalah pesan suara terakhir. Edgar memandang ke sekelilingnya. Sia adalah guru privatnya, jika Sia datang terlambat, maka dia memiliki cukup banyak waktu untuk berjelajah. Itu adalah hal penting yang ingin ia lakukan. Menjelajahi isi rumah ini yang terasa menyimpan rahasia darinya.
Ia berjalan meninggalkan pesawat telepon. Ia berhenti di depan sebuah pintu besar berdaun dua dan berbahan kayu Tectona mengilap. Ia mendorong pintu itu walau sudah menduga jika pintu itu terkunci.
Ini adalah pintu ruang kerja saudaranya. Di tengah pintu terdapat tulisan peringatan : DILARANG MASUK.
Ia menyalakan kembali rekaman suaranya di ponsel
"Ben sepertinya menyimpan sesuatu dariku. Terakhir kali aku mencoba masuk ke dalam kantor pribadinya, aku tidak menemukan apa pun tentang diriku di sana, kecuali foto kami berdua, dan foto itu diambil seminggu setelah hari ulang tahunku yang kelimabelas. Tidak ada ingatan apa pun sebelum itu. Sangat aneh. Bagaimana aku bisa kehilangan semua memoriku? Kenapa aku tidak memiliki ingatan apa pun pada hari sebelum foto itu diambil? Apakah aku benar-benar adalah saudara Ben? Dia bilang Ibu dan ayah kami sudah tidak ada, namun menurut rekaman suaraku pada tanggal 10 Agustus, aku mendengarnya sedang menelepon seseorang yang dipanggil Ibu. Ben... sungguh aneh dan misterius."
Pintu yang terkunci tidak membuatnya urung. Ia mengeluarkan dua peniti kemudian ia masukkan ke dalam lubang kunci. Dan tak berapa lama terdengar bunyi klik tanda kunci sudah terbuka. Ya, ia bisa melakukan hal-hal aneh walau ia tidak ingat di mana ia mempelajarinya.
Ia mendorong daun pintu lalu masuk ke dalam.
Ruang kantor pribadi Ben terasa familiar sekaligus asing. Ia sangat jarang berada di sana dan Ben selalu meminta untuk tidak diganggu setiap kali sedang berada di dalam sini. Ia mengamati sekitarnya, lalu berhenti di depan meja kerja. Ada foto mereka berdua di sana. Dia terlihat sangat kaku di dalam foto sementara Ben yang berambut merah ikal dan bermata biru-hijau terlihat sangat riang. Ben sebenarnya lebih muda dari kelihatannya, hanya saja Ben harus terlihat dewasa karena pria itu telah mendapat gelar Profesor di usia yang sangat muda. Dan tidak ada foto lagi.
Kata Ben, sejak kecil Edgar sudah sakit-sakitan sehingga tidak ada satu rekaman pun yang menunjukkan produktifitasnya sebagai anak yang sehat.
Tapi apa benar?
Edgar mulai meragukannya. Ia menoleh dan menemukan cermin di salah satu pintu lemari. Ia mendekati pintu itu, mengamati pantulan dirinya dengan seksama.
Edgar sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan Ben. Ben berambut ikal merah dan bermata biru hijau. Sementara Edgar berambut putih yang dibiarkan memanjang sampai ke bahu, warna matanya hitam pekat dan kulitnya tidak sepucat Ben. Dulu rambut Edgar berwarna hitam pekat seperti warna matanya, namun warna rambutnya berubah disebabkan penyakit otak yang dideritanya.
Tidak ada kemiripan sedikit pun yang biasanya terjadi pada para saudara sedarah.
Ia masih melamun memandang dirinya di depan cermin, dan tiba-tiba saja ia melihat sosoknya yang berbeda terpantul di cermin.
Rambutnya berwarna hitam gelap pendek tersisir rapi. Kulitnya juga terlihat sehat dan ia mengenakan seragam aneh serba putih. Ada lambang biru metalik yang menempel di d**a sebelah kiri pada seragamnya, seperti hurus S dalam lingkaran. Dan sebelah tangannya menggenggam sebuah buku kecil bersampul kuning.
Ia mengerjap kaget lalu mundur ke belakang. Bayangan dirinya yang mengenakan seragam seketika lenyap di cermin atau sebenarnya bayangan itu memang tidak pernah ada.
Lagi-lagi ia mengkhayal.
Edgar meninggalkan cermin. Ia pun mulai mencari-cari. Apa pun itu, ia ingin menemukan jejak dirinya. Satu saja selain foto itu. Apa pun untuk meyakinkan dirinya jika ia dan Ben memang benar bersaudara.
Namun pencariannya sia-sia. Ia tidak menemukan apa pun bahkan akta kelahirannya pun tidak ada.
Ia menghabiskan waktunya lagi dengan mendengar setiap rekaman suara. Ia nyaris putus asa karena tidak menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan. Pasti ia sudah beberapa kali masuk ke dalam kantor pribadi Ben, dia pasti sudah sering merasa ragu dengan hubungan keluarga di antara mereka berdua. Ben jelas sedang menyimpan rahasia darinya.
Ia beralih dengan membuka catatan-catatan kecil. Kadang dia menyimpan hal-hal kecil dalam bentuk catatan. Misal seperti lokasi toilet karena dulu dia bisa lupa ketika akan menuju ke tempat itu.
Ia mengerutkan dahi ketika menemukan satu catatan yang hanya bertuliskan : Buku merah dan api.
Ia segera berdiri dari duduknya. Ia memandang ke sekeliling, dan pasang matanya berhenti pada rak buku yang berada di posisi paling belakang dari rak buku lainnya. Rak itu adalah yang paling tua di antara rak yang lain, terlihat jelas warna rak itu sudah memudar dan cat yang melapisinya sudah mengelupas di beberapa bagian.
Ada satu buku bersampul merah di rak pada bagian atas. Ia berjinjit untuk mengambilnya.
Judul buku itu adalah kata-kata aneh yang tidak pernah ia dengar, Eyerish. Ia menyentuh huruf dari judul itu yang timbul pada sampulnya yang tebal, huruf-hurufnya berwarna keemasan seperti api yang menyala.
Lalu ia menyentuh gambar api di bawah judul buku. Dan ruangan bergetar. Ia membelalak terkejut pada rak tua dihadapannya yang bergerak bergeser ke kanan dengan sendirinya, memperlihatkan sebuah pintu dengan kegelapan di baliknya.
Ia mengerjap kebingungan. Ia tidak menyangka akan menemukan pintu rahasia di kantor pribadi Ben. Tapi apa pun bisa dilakukan Ben mengingat pria itu sangat cerdas.
Edgar meninggalkan buku bersampul merah kembali ke rak. Ragu, namun ia memutuskan memasuki pintu itu. Sebuah tangga menuju ke bawah menyambutnya. Ia menelan ludah melihat kegelapan yang menelan tangga di bawahnya.
Kira-kira apa yang disembunyikan oleh si Profesor di bawah sana?