2

1364 Words
Sungguh aneh, listrik padam hampir tidak pernah terjadi di dalam SQF. Lalu sinar hijau menyala di dekatnya, Ben sudah menyalakan lampu dengan arlojinya. "Pemadaman hanya akan berlangsung selama tiga menit," kata Ben. Ekspresi wajahnya terlihat sangat serius. "Apa?" "Aku tidak akan membuang waktu, jadi dengarkan semua kata-kataku dan silahkan memilih." Dia mengerjap bingung. Apa maksudnya? Ada apa dengan orang ini? "Jika kau memilih untuk menjadi anggota keluargaku, kau akan menjadi ahli warisku, dan hidupmu akan terjamin. Aku akan membiayai apa pun yang kau mau. Tapi ada dua syarat." Tawaran itu kedengaran sangat menggiurkan. "Mereka akan menghapus seluruh informasi di dalam kepalamu. Kau akan terlahir kembali bagaikan bayi yang baru lahir. Nah, syarat pertamaku adalah, kau tidak boleh menghapus ingatanmu itu." Ben meletakkan sesuatu di meja, menggeser benda itu ke depannya. Sebuah pil berwarna hijau. "Apa ini?" tanyanya sambil mengambil pil hijau itu. "Itu adalah ramuan sihir yang dapat menjaga ingatanmu dari segala upaya yang dapat menghapus ingatan." "Ra... ramuan sihir?" Dia salah dengar kan? Tapi Ben mengabaikan kebingungan dan keraguannya. "Kau boleh mengambilnya, dan keputusan ada di tanganmu sendiri. Kau bisa menelan pil ini jika menyetujui syaratku, dan jika tidak, kau bisa membuangnya." "Apa syarat kedua?" tanyanya. "Syarat kedua adalah kau harus mengingat kejadian sebelum kau mengalami kecelakaan." Dia mengerutkan dahi. "Apa katamu?" "Kau pasti bisa mengingatnya," kata Ben. "Semuanya bermula dari sana." Dia memandang wajah Ben yang berwarna hijau akibat cahaya lampu jam tangan pria itu. "Kau akan tahu nanti jika memilihku." "Lima detik, Prof." Lapor Sia. "Pikirkan," kata Ben. "Jika kau memilihku, aku akan memberikanmu sebuah nama." Dan setelahnya lampu menyala terang benderang. "Wah, wah," Ben segera berdiri. "Ini akan menambah daftar kritikanku, Sia. Kukira organisasi ini punya sistem kelistrikan yang baik, nyatanya tidak," cemooh pria aneh itu sambil memandang ke arah kamera pengawas yang baru saja menyala. Sementara ia menggenggam pil hijau itu, memandang Ben dengan kikuk, terkejut dengan perubahan aura si pria aneh. "Nah, Nak. Sampai nanti. Semoga kau memilihku!" Ben mengedipkan sebelah mata kepadanya, lalu berbalik. "Ayo, Sia! Mumpung sudah di sini kita harus banyak melihat-lihat!" Sia ternyata sudah siap. Tidak ada lagi barang-barang yang ada di meja, bahkan berkas yang ia berikan kepada atasannya sudah ia simpan dengan baik. Ranselnya juga sudah tersampir di punggung. "Baik, Prof." Dan Kedua orang asing itu pergi meninggalkan dirinya yang masih diliputi rasa bingung. -- Si Wanita - Lady Informan - sudah menjemputnya di depan pintu ruang interogasi, masih sama memandangnya dengan ekspresi jengkel. "Buang-buang waktu," gumam si wanita. "Mentang-mentang orang terkenal dia meminta jadwal ini." "Dia orang terkenal?" Tanyanya pada si wanita. "Ya, baru-baru ini menggegerkan dengan berbagai macam kritisinya. SQF agak malas menerimanya tapi kami tetap harus menunjukkan citra baik. Ngomong-ngomong ini pertama kali dalam setahun listrik kita padam mendadak." Dia juga merasa aneh dengan listrik yang padam tadi. "Orang konyol itu akan mengkritisi sistem kelistrikan kita. Ah, sudahlah." Si wanita melirik arlojinya. "Lima belas menit lagi kau harus masuk ke Ruang Keputusan. Letaknya di ujung lorong." Si wanita menunjuk pintu berwarna merah yang berada di ujung lorong dengan telunjuk yang kuku jarinya dicat warna yang mirip dengan warna pintu itu. "Aku mau ke toilet," katanya. Si wanita menundukkan kepala untuk memandangnya, wanita itu memang bertubuh sangat tinggi untuk ukuran wanita normal. Lady informan memandangnya dengan dahi berkerut. "Di dalam jadwal, sesi keputusan akan menghabiskan waktu tiga jam. Jadi aku tidak mungkin menahan buang air selama itu. Atau kau ingin aku mengompol..." "Toilet di belakang sana," sela wanita itu segera, semakin jengkel. "Pastikan kau masuk ke ruang keputusan tepat waktu. Dan jangan lupa. Aku tidak ingin kerepotan mencarimu." "Apa aku bisa mendapatkan buku baru?" Tanyanya. Wanita itu menghela napas. "Kau tidak perlu itu sekarang." Ujar si wanita lalu menjulurkan tangan ke depan wajahnya. "Berikan bukumu. Kau tidak bisa masuk ke sana dengan buku ini." "Eh? Tapi..." Protesnya. Namun si wanita sudah menggeledahnya, dan menurutnya itu sangat tidak sopan, lalu si wanita menarik buku catatan bersampul kuning-nya yang kecil dari saku pakaian, menunjukkan buku itu dengan senyum kemenangan yang menyebalkan "Kau harus melepaskan segala hal tentang SQF. Termasuk buku catatanmu." Dia ingin melawan dan mengambil kembali buku catatannya, namun pada akhirnya ia memilih diam. Ia membiarkan Lady Informan pergi meninggalkannya. Dia segera berjalan masuk ke dalam toilet, mengerang kesal. Ini tidak adil! Ia ingin berteriak memaki. Lalu ia teringat dengan pil hijau yang ia sembunyikan di saku celananya. Pil itu. Pikirnya. Ia berjalan ke wastafel, memandangi wajahnya di cermin sebentar. Dia benar-benar terlihat sangat kacau. Lalu ia merogoh sakunya dan mengambil pil itu. Sebentar, ia memandang pil itu di telapak tangannya. Ia tahu pria bernama Ben itu sangat mencurigakan. Pria itu pasti sedang memanfaatkannya. Tapi orang itu terkenal, dan mungkin memang punya banyak uang. Ia bisa menjadi ahli waris orang itu dan tidak perlu khawatir dengan masa depannya. Ia bisa melakukan apa saja. Dan mungkin ia bisa menjadi apa saja. Dia merasa heran kenapa dia memilih mempercayai orang aneh berambut merah itu yang baru saja ia temui. Dia mungkin hanya marah karena buku catatannya diambil oleh si Lady Informan. Tapi, syarat kedua yang diberikan Ben kepadanya sangat sulit diwujudkan apalagi tanpa buku catatannya. Apakah Ben tidak tahu jika daya ingatnya bermasalah? Dia menghela napas. Kembali beralih memandang pantulan wajahnya di cermin. Mata hitamnya tampak nanar. -- Jadwal pertama adalah proses pembekalan. Dia masuk melewati pintu merah dan mendapati ruangan luas dengan hanya ada satu meja dan kursi di tengah-tengah ruangan. Ia pun duduk di sana. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan sambil menunggu proses dimulai. Ia beralih ke meja, ada buku dan pensil. Ia seperti akan menghadapi suatu ujian. Sampul buku itu bertuliskan Proses Pembekalan. Lalu layar di depannya menyala. Seorang wanita muncul di layar. Wanita aneh lainnya dengan rambut berwarna jingga terang. "Halo, selamat pagi!" Sapa si wanita, tersenyum ramah. "Namaku Valeska Angel, aku adalah Pemimpin baru dari Super Quality Force Organization." Dia ingat melihat Wanita itu di dalam foto yang di pajang di lobby, tapi rasanya warna rambut wanita itu bukan jingga. "Berdasarkan hukum yang berlaku di SQF, para pelatihan yang tidak dapat melanjutkan pelatihan karena berbagai alasan akan mendapatkan Keputusan. Kriteria tidak dapat melanjutkan yang pertama adalah pelatihan yang tidak dapat menghasilkan nilai memenuhi selama tiga tahun berturut-turut, atau gagal maksimal 20% dari mata pelajaran teori dan praktik. Kriteria kedua adalah memiliki riwayat penyakit yang dapat mengganggu kinerja pelatihan. Nah. Keputusan akan dilakukan dengan tiga tahap proses. Tahap pertama adalah proses pembekalan, tahap kedua adalah proses keputusan, dan tahap terakhir adalah proses pembersihan. Terima kasih atas kerja sama anda, kami sangat menghargai kerja keras anda selama ini. Serta, kami sangat menyayangi anda! Selamat berjuang!" Layar itu berhenti menampilkan sosok wanita berambut jingga itu, digantikan dengan angka-angka. "Proses Pembekalan dimulai." Suara itu menggema di dalam ruangan. Dan angka-angka yang ternyata adalah waktu berjalan itu mulai menghitung mundur. Dia segera membuka buku bersampul biru itu. Proses pembekalan memang seperti ujian. Ia diberikan berbagai macam pertanyaan tentang dunia luar, dan segalanya mudah saja baginya. Meski dia memiliki sindrom hilang ingatan sesaat, kecerdasannya sebelum mengidap sindrom ini sangat membantunya. Ia mengingat semua pelajarannya dengan baik. Hingga ia sampai pada soal terakhir. Ini adalah soal pilihan yang disebut-sebut oleh Ben. Tapi Ben tidak cukup benar, karena hanya ada dua pilihan di sana. Apa yang akan kau pilih setelah melewati pintu biru di depanmu? A. Aku akan menerima Benjamin Alan sebagai anggota keluargaku. Maka aku akan meminum larutan yang berwarna merah. B. Aku tidak memilih apa pun. Maka aku akan meminum larutan yang berwarna hitam. Dia terdiam sesaat. Jantungnya mulai berdegup kencang karena membaca soal terakhir itu. Sebelumnya Ia membayangkan akan ada banyak pilihan. Seperti pilihan untuk masuk ke panti asuhan, tapi usianya tentu sudah terlalu tua untuk diterima di sana. Dan orangtua mana yang mau menerima seorang anak yang memiliki sindrom hilang ingatan sesaat? Tentu tidak akan ada. Sementara pilihan B, ia cukup cerdas untuk memahami jika dia akan dibunuh. Di detik-detik terakhir ia menyadari jika ia tidak ingin dikeluarkan dari tempat itu. Dia pun selesai memilih jawaban. Ia menutup buku biru itu, meletakkan pensil, lalu berdiri dari bangku. Ia berjalan menuju pintu biru. Ia membukanya dan menemukan ruangan kecil. Di dalamnya ada meja dengan dua gelas. Satu gelas berisi larutan berwarna merah, satunya berisi larutan berwarna hitam. Ia mengambil pilihannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD