Peristiwa tadi malam terasa bagaikan mimpi bagi Edgar. Sekelompok remaja telah menyusup ke dalam Lapas, dan menyerang para petugas penjaga dengan obat bius. Pun tanpa sengaja Edgar melibatkan diri. Sebenarnya ia tidak bermaksud membuat si penjaga pingsan dengan memukul punggung si penjaga dengan keras, ia hanya tidak bisa menahan diri ketika melihat seorang anak perempuan akan dipukul oleh petugas itu.
"Apakah aku terlalu ikut campur?" Edgar bergumam, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Apakah tidurmu nyenyak?"
Edgar agak kaget ketika Sia menegurnya. Kemudian pipinya memanas ketika mengingat malam tadi Sia dan Leo tidur bersama.
"Yeah..." Jawab Edgar, lalu berpaling.
"Ck, di mana si sepupu?" Daniel berkacak pinggang karena kesal telah menunggu lama.
Mithya tak terlihat keberadaannya padahal mereka sudah menunggu di depan pintu masuk kantor sejak sepuluh menit yang lalu. Ini pertama kalinya Mithya terlambat menemui mereka.
Edgar menyadari keanehan situasi yang terjadi di Lapas. Dan mungkin hanya dirinya yang mengetahui penyebabnya di sini. Beberapa petugas tampak mondar-mandir dengan ekspresi siaga dan jumlah kemunculan para petugas itu terlihat lebih banyak daripada sehari sebelumnya. Pastinya ini disebabkan penyusupan para remaja asing malam tadi.
Edgar menolehkan wajah ke salah satu sudut tembok pembatas Lapas. Malam tadi dengan sangat jelas ia melihat bagian paling bawah tembok itu terbuka dan dilalui oleh para penyusup. Sepertinya belum ada yang menyadari jika tembok mereka yang kokoh itu telah dibolongi oleh sekelompok tikus penyusup.
Tikus penyusup, Edgar tanpa menyadari telah menjuluki kelompok remaja itu.
Tepat lewat lima belas menit, akhirnya Mithya muncul. Wanita itu berjalan menuju ke arah mereka dengan ekspresi yang tampak jelas sedang sangat marah.
"Kenapa kau terlambat?" Daniel mencegat Mithya yang baru sampai.
"Demi Tuhan, aku punya banyak pekerjaan!" Seru Mithya dengan nada membentak. Sukses membuat Daniel seketika terdiam dengan ekspresi ternganga.
"Dia kenapa tiba-tiba berteriak?" Daniel bertanya kepada ketiga temannya dengan berbisik, masih syok.
Sia menggelengkan kepala dan Leo mengangkat bahu. Sementara Edgar yang mengetahui sumber kemarahan Mithya memilih diam saja. Kira-kira apa yang telah dicuri oleh para penyusup sampai membuat Mithya semarah itu?
"Cepat masuk!" Seru Mithya yang masuk ke dalam mobil, diiringi suara debam pintu mobil yang menutup.
Daniel menghela napas jengkel. "Ayo." Katanya sambil menyusul masuk ke dalam mobil.
--
"Apakah kalian mendengar sesuatu tadi malam?" Tanya Mithya ketika mereka sedang dalam perjalanan.
"Tidak," jawab Daniel. "Aku tidur lelap. Tumben sekali aku bisa tidur di dalam ruangan pengap itu."
"Aku juga tidur nyenyak," jawab Leo, mengerling pada Sia, membuat Sia mengangguk.
"Ada apa?" Tanya Sia. "Apakah ada keributan?"
"Yah," Mithya terdengar ragu untuk menjawab. "Ada tahanan kami yang mencoba kabur." Ujarnya. "Tapi tenang saja. Kondisi sudah aman."
Hanya Edgar, satu-satunya orang di dalam mobil itu, yang tahu jika Mithya berbohong.
"Wah, itu mengerikan." Komentar Daniel. "Syukurlah kalau sudah aman. Seram juga tidur dengan sel berisi tahanan di dekat kepalaku."
Edgar memandangi cermin di atas kemudi, dengan jelas ia bisa melihat ekspresi ragu dan cemas dari pantulan wajah Mithya.
"Aku sudah mencari informasi," kata Leo, terdengar ragu. "Mengenai tahanan yang berada di sini. Kebanyakan tahanan berasal dari luar kota."
"Yah, memang benar. Kami menerima beberapa tahanan yang 'agak' serius." Jawab Mithya, terdengar sambil lalu. Tampaknya tidak terlalu ingin membicarakan pekerjannya. "Sekarang kemana tujuan kalian? Oh ya, sebelum kalian bertanya-tanya... Aku akan mengantar kalian ke suatu tempat."
"Tempat apa?" Tanya Daniel penasaran. "Kau bilang kami boleh mendatangi tempat yang sudah kami bayar."
"Yang ini gratis, agar kalian tidak bertanya-tanya." Jelas Mithya. "Kami memiliki sebuah tempat untuk area perawatan anak-anak."
"Oh ya?" Leo tampak tertarik.
"Sejujurnya kami penasaran karena tidak pernah melihat anak-anak kecil di sini." Kata Sia.
"Nah, akan kutunjukkan kepada kalian." Ujar Mithya.
--
Mithya menyebut lokasi itu sebagai Area Perawatan yang berlokasi di sebelah Selatan Siprus. Ia memarkirkan mobil di depan pagar kawat listrik berduri. Setiap beberapa jarak diberikan papan peringatan yang menjelaskan pagar kawat dialiri listrik.
Mereka berempat keluar dari mobil satu-persatu. Lalu bergerak mendekati pagar kawat pada jarak aman. Dan benar saja. Di balik pagar, mereka melihat anak-anak kecil sedang bermain di halaman. Terlihat juga sekelompok Ibu-ibu hamil yang duduk berkelompok, sedang berbincang-bincang di bawah pohon peneduh.
Melihat pemandangan itu entah mengapa terasa lebih normal daripada kota yang sepi dengan bangunan rumah kumuh dan penduduk kota yang berwajah muram.
"Aku hanya melihat anak-anak kecil usia tujuh tahun ke bawah?" Komentar Daniel. "Di mana anak-anak yang lebih tua?"
"Mereka sedang bersekolah," jawab Mithya. "Dan maaf aku tidak bisa membawa kalian masuk ke dalam sana. Ada prosedur tertentu untuk memasuki area steril. Kami berjuang keras dalam menjaga generasi kami."
"Bagus sekali," komentar Daniel. "Padahal kalau boleh aku ingin masuk ke sana."
--
Perjalanan mereka berlanjut menuju arah yang sebaliknya dari Area Perawatan. Kali ini mobil melaju ke arah Timur, menuju area yang telah dipilih oleh para mahasiswa untuk melakukan penyelidikan dan merupakan lokasi terakhir mereka.
"Aku tidak mengerti mengapa kalian tertarik pada tempat itu," Mithya berkomentar sambil mengamati keempat tamunya yang sedang bersiap-siap untuk mulai melakukan penjelajahan mereka. Lokasi area yang dipilih oleh para mahasiswa tidak dapat dilalui dengan mobil sehingga mereka terpaksa akan berjalan kaki melewati hutan.
"Rumah sakit itu sudah terabaikan sejak lima puluh tahun lalu. Kira-kira apa hubungannya dengan kejadian yang terjadi di Siprus?" Mithya bertanya-tanya.
"Kita akan tahu jika sudah mengeceknya," jawab Daniel. "Memang sih kami terlihat seperti membuang-buang waktu. Tapi begitulah penelitian."
"Bagaimana jika tidak ada apa pun di sana?" Tanya Mithya. "Bukankah itu akan sia-sia?"
"Sia-sia itu juga artinya adalah hasil." Daniel tertawa. "Tidak usah cemas. Kami tahu apa yang kami kerjakan."
Pasang bola mata Mithya memutar. "Terserahlah." Katanya. "Aku akan di sini pukul lima, sebelum gelap. Mohon jangan terlambat. Akan sulit bagi kalian melewati hutan setelah gelap. Berhati-hatilah dengan hewan liar."
"Oke, sampai nanti."
Mithya masuk ke dalam mobil, para mahasiswa dan Edgar mengawasi mobil itu bergerak pergi meninggalkan mereka berempat yang masih berdiri di pinggir jalan.
"Bisa jelaskan apa yang kita tuju di dalam sana?" Tanya Edgar, memandang mulut hutan di seberang mereka.
"Sebuah rumah sakit terbengkalai yang dibangun di tengah hutan," jawab Sia.
"Rumah sakit? Di tengah hutan? Kok aneh," komentar Edgar.
"Ya, aneh kan?" Daniel mengangguk setuju. "Penutupan Rumah Sakit ini terjadi tepat seminggu sebelum insiden kematian dan kekacauan di taman kota. Ada kebakaran besar yang terjadi di rumah sakit itu. Namun tidak banyak yang diberitakan bagaiman api itu bisa terjadi dan mengapa rumah sakit langsung ditutup begitu saja. Mencurigakan sekali. Ya kan?"