16

1106 Words
Edgar baru saja naik ke atas kasurnya ketika mendengar Daniel menggerutu di balik selimut. "Ah, sial... aku benci berada di ruangan tertutup seperti ini!" Daniel menyibakkan selimut dari tubuhnya. "Sungguh menyesakkan!" "Bukankah lebih baik daripada tidur di dalam sel penjara?" tanya Edgar. "Ah, soal itu...! Mithya benar-benar kejam, gara-gara dia semalam aku tidak tidur sama sekali!" Daniel mengomel kesal seolah ia akan terus mengingat kekejaman Mithya seumur hidupnya. "Tapi kudengar kau tidur nyenyak selama di sana," Kata Edgar, tersenyum kecil. "Siapa yang bilang? Sia? Leo? Waktu itu aku hanya berpura-pura tidur untuk mengistirahatkan tubuhku!" Daniel mengelak. "Juga, lihat kamar ini. Kamar ini tidak jauh berbeda dengan sel penjara. Tidak ada jendela. Hanya dinding beton saja. Apa kau tidak merasa sesak?" Edgar mengamati kamar tidur petugas yang dipinjamkan Mithya kepada mereka. Kemudian ia menggelengkan kepala. "Kamar ini tidak jauh berbeda dengan kamarku di SQF," ujarnya. "Di SQF juga menggunakan pintu berjeruji dengan sistem otomatis, yang hanya bisa terbuka sesuai jadwal." "Astaga," Daniel terperangah mendengar cerita Edgar. "Jadi SQF memperlakukan kalian seperti tahanan?!" Ia menyimpulkan dari sudut pandangnya. Edgar mengangkat bahu, sebenarnya ia tidak terlalu merasa seperti tahanan ketika berada di sana. "Oh ya Tuhan, kau polos sekali tanpa tahu jika mereka sudah memperlakukanmu seperti tahanan," keluh Daniel. "Jika usia kalian lebih tua mungkin dapat dimaklumi. Kudengar militer sangat keras dan kejam. Tapi kalian masih anak-anak, aku tidak setuju jika kalian diperlakukan seperti tahanan. Seharusnya ada orang yang berbicara mengenai ketidakadilan di dalam SQF." "Tanggapanmu persis seperti Ben," komentar Edgar. "Tentu saja. Bukan hanya aku dan Prof. Semua orang normal akan berpikiran yang sama." Oceh Daniel. "Ya sudah, kita harus bisa tidur agar besok bisa mulai lagi." "Di mana Leo?" Tanya Edgar karena Leo belum juga masuk ke kamar. "Kau tidak perlu mencarinya," Daniel kembali berbaring lalu menutupi tubuh hingga kepalanya dengan selimut. "Kenapa?" tanya Edgar heran. "Tidak usah tanya," jawab Daniel dari balik selimut. "Hei," panggil Edgar. "Apakah dia masih ngobrol dengan Sia? Memangnya apa lagi yang mereka bahas?" Namun Daniel tidak menjawab. "Hei, Daniel!" Suara dengkuran terdengar dari balik selimut. Edgar menghela napas jengkel. Tidak bisa tidur apanya, sekali berbaring Daniel sudah bisa lelap seperti itu. Edgar masih belum mengantuk. Ia memutuskan untuk pergi keluar, mengecek keberadaan Leo. Entah apa yang sedang dibahas oleh Leo dan Sia. Ini sudah cukup larut bukan? Ia kira rapat mereka sudah selesai. Ia bergerak mendekati pintu kamar Sia yang berada tepat di seberang kamar untuk para laki-laki. Ia mengetuk pintu. "Leo? Kau di dalam?" Tidak ada sahutan. Edgar mengetuk lagi. "Sia?" Masih tidak ada sahutan. Edgar memutuskan untuk membuka pintu. Namun berikutnya ia menyesal telah membuka pintu kamar perempuan tanpa izin. Ia segera menutupnya kembali setelah baru beberapa celah terbuka. Jantungnya sedikit berdebar ketika melihat Leo dan Sia berada di atas ranjang yang sama. Sial... orang-orang dewasa sialan. Ia memaki kesal. Bahkan Sia pun... Argh... Perasaan Edgar mendadak menjadi kacau. Ia tidak berniat untuk kembali masuk ke dalam kamar, malahan ia melangkah menyusuri lorong. Perasaannya berkecamuk Edgar menemukan sebuah balkon, kebetulan sekali. Ia sedang membutuhkan udara segar. Ia menarik pintu balkon dan tentu saja pintu itu terkunci. Ia mengeluarkan peniti yang selalu dibawanya, kemudian merusak kunci pintu tanpa memikirkan akibatnya. Ia membuka pintu balkon, kemudian melangkah melewati pintu. Udara malam hari terasa sangat dingin, untunglah Edgar masih mengenakan jaketnya. Tak berapa lama permukaan kulit tubuhnya sudah menggigil, tapi organ di dalam tubuhnya masih terasa panas. Edgar tidak mengerti mengapa ia merasa kecewa pada Sia. Seolah Sia telah meninggalkannya, sama seperti Ben. Padahal Sia hanya... yah, ia tahu jika Sia dan Leo memiliki hubungan spesial. Tapi tetap saja. Edgar memaki dirinya yang payah. Lagi pula tentu Sia lebih memilih Leo dari pada dirinya yang masih bocah enam belas tahun. Edgar masih membutuhkan waktu untuk berpikir jernih. Ia mengabaikan udara dingin dan pandangannya menyapu pada tembok-tembok tinggi penjara yang menghalanginya untuk dapat melihat kota Siprus yang suram. Tiba-tiba saja Edgar tersentak, ia melihat sepasang mata amber sedang memandanginya dari balik pintu balkon. Dalam sekejap orang itu langsung pergi. Untuk beberapa saat Edgar tidak yakin dengan apa yang baru saja ia lihat. Tapi sosok itu menyerupai seorang remaja. Dan selama berada di sini ia belum pernah melihat satu pun remaja selain dirinya. Edgar segera meninggalkan balkon. Ia mulai berlari menuju ke arah remaja tadi menghilang. Ia terus menyusuri lorong hingga ia sampai ke lantai dasar. Ia berjalan pelan dengan hati-hati ketika menemukan semua petugas yang berjaga telah terkapar di lantai. Ia mengecek salah satu dan petugas itu tampaknya pingsan. Edgar pun menarik sesuatu yang tertangkap dari sorot matanya yang jeli. Ia menarik jarum tipis dari leher salah satu petugas. Mengamatinya, menebak jika pada jarum itu sudah dilumuri obat bius sebelum ditusukkan atau mungkin ditembakkan. Penyusup, pikir Edgar cepat. Ia mendengar suara-suara dalam kesunyian itu. Ia pun bergegas menuju ke arah sumber suara. Edgar memasuki sebuah lorong yang ia yakin adalah sumber dari keributan itu. Ia berlari menyusuri lorong, berikutnya ia mendadak berhenti ketika melihat seorang petugas berbadan besar berdiri tak jauh di depannya. Petugas itu berteriak marah dan terdengar suara jeritan anak-anak. "Lari!" "Berhenti kalian!" Edgar mengejar petugas yang juga sedang mengejar gerombolan orang-orang. "Dapat!" Seru si petugas berbadan besar, meraih seorang anak perempuan. "Pergi!" Seru si anak perempuan kepada teman-temannya. "Kutangkap kau!" Si petugas menyeret si anak perempuan yang terus meronta. Sementara gerombolan anak-anak yang lain telah pergi. Edgar berhenti, menyadari jika ia akan segera terekspos karena si petugas menyeret anak perempuan itu ke arahnya. Tiba-tiba si petugas berteriak lagi lalu mengumpat marah. Anak perempuan itu pasti telah melakukan sesuatu yang membuat si petugas berang. Terdengar suara teriakan si anak perempuan lagi sementara pukulan si petugas tersibak ke udara, meleset sukses. Si anak perempuan bergerak dengan gesit untuk menghindar. Si petugas kembali melancarkan serangan. Dan terdengar bunyi tongkat pemukul yang terlempar jatuh. Tanpa perlu pikir panjang lagi, Edgar berlari maju. Ia memungut tongkat pemukul, lalu meloncat dengan cepat menapaki dinding agar dapat mencapai kepala si penjaga yang bertubuh cukup raksasa itu, lalu ia menghantamkan tongkat pemukul ke kepala si petugas. Edgar mendarat mulus ke lantai, diiringi tubuh si penjaga yang ambruk. Barulah Edgar dapat melihat si anak perempuan yang duduk terpojok. Pasang mata amber gadis itu balas memandang mata Edgar dari dalam temaram lorong, terkejut dengan kehadirannya. Edgar tidak tahu harus berkata apa. Ia baru saja menyelamatkan Penyusup? Bukannya membantu penjaga Mithya? Tanpa terima kasih, si gadis segera berlari pergi. "Tung... Tunggu!" Panggil Edgar, ia mengejar. Edgar mendadak berhenti ketika ia sampai di sebuah pintu yang terbuka lebar, memperlihatkan halaman luas Lapas. Gadis itu berlari di dalam kegelapan malam melintasi halaman, menuju tembok besar yang mengelilingi area Lapas. Edgar menyipitkan mata, melihat gadis itu menghilang di bawah tembok bagaikan seekor tikus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD