15

1150 Words
"Apakah sungainya benar-benar tercemar?" Edgar memandang takjub bagaimana sungai itu berwarna putih mengilap dan janggal. "Mari kita pastikan." Leo berjongkok sambil memasang sarung tangannya. Dengan hati-hati ia mengambil sampel air sungai yang dimasukkan ke dalam botol gelap yang sudah ia siapkan. "Hasil penelitian terakhir adalah sepuluh tahun lalu. Akan aku uji coba lagi, siapa tahu ada yang terlewat." Daniel mengangguk. Ia berdiri dengan kedua tangan di pinggang, mengamati sekitar. "Tidak terlihat adanya tanda-tanda hewan di sekitar. Jika bukan karena radiasi, apa kira-kira yang mematikan ekosistem di area ini?" "Tidak ada radiasi yang terbaca," Sia sudah mengeluarkan detektor radiasi. Ia menggerakkan detektor di udara dan layar tetap menampilkan nilai nol pada alat. "Mungkin radiasi itu tidak pernah ada," dengus Daniel. "Jadi apa yang membuat kekacauan pada lima puluh tahun lalu?" tanya Leo. "Ciri-ciri penyakit yang diderita korban, yang diberitakan dalam koran di masa itu sangat jelas merupakan ciri-ciri korban yang terkontaminasi terhadap radiasi tinggi." "Ingat dengan kadaver kesayangan kita?" Daniel bertanya dengan seringainya. "Gigi-gigi runcing itu... Pasti ada penjelasan ilmiah bagaimana perubahan itu terjadi pada seorang manusia. Bentuk perubahannya terlalu rapi jika disebut sebagai suatu kebetulan yang tidak disengaja." "Teman-teman." Edgar menolehkan wajah mendengar panggilan Sia. Sia sudah berada di atas dermaga yang setengah hancur di sisi sungai. Ia berdiri dengan menjulurkan detektor ke udara. Terdengar suara berisik detektor yang mendapatkan sinyal. Edgar, Daniel dan Leo bergerak mendekati dermaga, namun ketiganya tahu jika papan dermaga yang diinjak oleh Sia sudah sangat rapuh. Mereka bertiga tidak mungkin bisa menginjak papan dermaga itu. "Sia, kembalilah," pinta Leo cemas. "Sia, papannya rapuh," Edgar memberitahu walau Sia tentu sudah mengetahui kondisi dermaga sebelum menginjakkan kaki di sana. Sia perlahan berbalik. Leo segera menjulurkan tangannya. Dengan hati-hati Sia berjalan di atas papan yang berderit dan pondasinya bergoyang pada setiap langkahnya. Edgar menelan ludah, memandang khawatir pada aliran air sungai yang tidak bergelombang namun mengalir deras di bawah dermaga. Leo berhasil menangkap tangan Sia, lalu Sia meloncat kembali ke tanah, tepat ketika dermaga ambruk. Pecahan papan jatuh ke air dan pergi terbawa arus. "Jangan lakukan itu lagi," pinta Leo pada Sia, ekspresinya terlihat akan marah. "Maaf, aku tidak menemukan apa-apa di sini. Jadi aku mencoba ke sana," ia menunjuk ke ujung dermaga di mana tadi ia berdiri. "Detektor menangkap sedikit radiasi. Sekitar beberapa nol koma nol milisievert." "Mungkin hanya radiasi alam," kata Leo. "Tidak, nilai segitu cukup tinggi untuk X-ray tubuh," komentar Daniel. "Mungkin karena terbawa oleh angin." ujarnya sambil mengangkat sebelah tangannya untuk merasakan hembusan angin. "Dari arah timur. Ada apa di sana?" "Entahlah. Sepanjang sungai sudah tidak ada habitat selain pepohonan albino." ujar Leo. "Bagaimana jika kita coba menyusuri tepi sungai ini?" "Apakah kita bisa melakukannya?" tanya Sia. Ia dan Leo berbalik menoleh pada Daniel. Daniel menggelengkan kepala. "Ide buruk kurasa. Sedikit sinyal radiasi sudah cukup sebagai bukti bagiku. Kita tidak memiliki pakaian pelindung lengkap untuk menghadapi ledakan radiasi, yah jika memang benar ada sih." Katanya dengan nada meremehkan. "Sepupuku yang galak itu juga pasti akan menentangnya. Lebih baik kita selesaikan pekerjaan di sini. Ambil sampel yang ada." "Baik," sahut Leo. -- Edgar menggigit roti makan siangnya dengan ekspresi tidak bernapsu, begitu juga dengan ketiga temannya. Tentu kota ini tidak memiliki area untuk bercocok tanam dan membangun peternakan yang layak sehingga tidak ada sumber makanan yang diproses alami. "Kami hidup dari memesan bahan baku dari luar," jelas Mithya, ia terlihat bersemangat menggigit rotinya. "Kami hanya punya industri tambang yang bisa menghasilkan uang. Yah... Siprus sudah menjadi kota yang tertinggal. Tapi setidaknya kami masih punya aset alam yang menghidupi kami." "Kenapa keluargamu tidak keluar dari Siprus saja?" Tanya Daniel. "Seperti yang dilakukan oleh Ayah dan Ibuku." Mithya tersenyum menyeringai mendengar pertanyaan Daniel. "Aku dan keluargaku tidak ingin pergi. Di sini lah rumah kami." Daniel hanya mengangkat bahu mendengar jawaban Mithya. "Oh ya, kami menemukan sedikit sinyal radiasi dari arah timur sungai. Apakah ada sesuatu di sana?" Tanya Leo. "Tidak ada apa-apa selain reruntuhan kekacauan lima puluh tahun itu," jawab Mithya. "Wajar kan kalian menemukan sisa radiasi?" "Iya sih," Daniel menggoyang-goyangkan botol mineralnya tanpa sadar. "Tapi membuatku penasaran" "Tidak ada apa pun di sana," Mithya mengulang dengan raut wajah tanpa ekspresi. "Hanya reruntuhan." -- Edgar mengamati Leo yang dengan hati-hati mengecek setiap sampel DNA warga Siprus di dalam boks pendingin. Semua sampel itu adalah hasil kerja keras mereka hari ini dengan mengetuk beberapa pintu rumah atas izin Mithya. "Aneh tidak sih?" Sia sengaja tinggal sebentar di kamar laki-laki untuk membahas pengumpulan sampel hari ini. "Semua rumah yang kita datangi dihuni oleh orang-orang berusia lanjut." "Ya, aneh. Aku baru saja mau bertanya." Daniel mengangguk tidak mengerti. "Di mana semua anak-anak?" "Pernahkah kalian sadari? Kita belum melihat adanya bangunan sekolah untuk anak-anak." Celetuk Sia. "Aku mengamati setiap bangunan yang kita lewati di kota. Dan dapat kusimpulkan jika tidak ada bangunan sekolah satu pun." Edgar mengerutkan dahi. Ia tidak memperhatikan apa pun selama perjalanan mereka. Namun ia juga menyadari adanya kekosongan yang aneh di dalam Siprus. "Bagaimana menurutmu?" Tanya Sia kepada Daniel. "Kau kan berasal dari sini." "Aku kan cuma numpang lahir di sini. Orang tuaku juga tidak suka jika aku membahas tentang Siprus. Ekspresi mereka berubah syok setiap kali aku mencoba mengorek sesuatu dari mereka." Daniel menggelengkan kepala, tak dapat membantu memberikan penjelasan. "Jangan-jangan mereka juga melakukan perdagangan anak," Leo menduga. "Jangan konyol!" Seru Sia tidak suka. "Bisa saja kan?" Leo berspekulasi. "Lagi pula kota ini masih berdiri dengan tanpa hasil pangan yang dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka. Isu radiasi membuat kota ini tidak melakukan sistem agraris. Semua makanan dan minuman mereka impor dari kota lain. Kedengaran konyol tidak sih?" "Mithya bilang mereka mendapat uang dari hasil pertambangan batu bara," kata Edgar mengingatkan. "Berapa sih jumlah penduduk kota ini?" Tanya Sia penasaran. "Apakah Siprus bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan industri batu bara saja?" Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Sia. "Semakin ke sini semakin banyak pertanyaan saja," komentar Daniel. "Lebih baik kita fokus saja dengan penelitian kita terhadap isu pencemaran lingkungan." Sia dan Leo mengangguk setuju meski dengan berat hati menyingkirkan rasa penasaran yang sudah menggantung bebas di dalam kepala masing-masing. "'Met tidur," pamit Sia dan pergi dari kamar laki-laki. "Soal perdagangan anak," rupanya Leo masih bertahan dengan opininya. Ia melirik ke arah Edgar yang mengerutkan dahi. "Jangan-jangan mereka mengirimkan anak-anak Siprus ke SQF." "Wah, dari mana kau bisa berpikiran begitu?" Tanya Daniel, kaget mendengarnya. "Edgar tidak ingat dari mana ia berasal, dan SQF tidak selalu mendapatkan pelatihan sukarela dari Chroma atau pun kota-kota lainnya. Banyak yang masih tidak setuju pelatihan ala militer didapat dari usia dini. Tapi jumlah pelatihan yang memasuki organisasi itu cukup banyak. Kira-kira dari mana semua anak-anak itu?" Nada tanya dari kalimat terakhir Leo seperti mengambang di dalam udara kamar mereka. Karena sudah tidak ada yang ingin membahas, Leo pun meringkuk di atas ranjangnya. Daniel pun juga sudah menutup diri dengan selimutnya. Hanya tinggal Edgar yang masih tak dapat memejamkan mata. Ia memandang langit-langit kamar, masih memikirkan perkiraan Leo. Apakah mungkin ia berasal dari Siprus?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD