Koraki adalah satu-satunya kota yang berada paling dekat dengan Siprus. Ketika mereka melewati gerbang besi tua berkarat dengan tulisan SELAMAT DATANG DI KORAKI, langit berwarna merah jingga dan matahari telah menelusup masuk ke balik ujung-ujung hutan dikejauhan.
Perubahan dari siang menjadi malam itu terasa dramatis dengan suasana tenang dari perkotaan kecil Koraki.
"Sejujurnya..." Kata Sia, menikmati angin sejuk berembus dari jendela sebelahnya yang terbuka. "Aku tidak pernah menyangka akan pergi sejauh ini. Mengikuti jejak ayahku terasa membuatku semakin dekat dengannya."
"Kita akan berusaha menemukan ayahmu," Leo berkata. Sia menoleh padanya dan mereka saling bertukar senyum.
"Yap, bersemangatlah. Kita sudah semakin dekat dengan Siprus." Kata Daniel juga.
Edgar mengamati pemandangan di luar jendela, di mana kota sudah diliputi kegelapan malam yang sempurna. Sebentar lagi mereka akan sampai dengan kota tujuan mereka. Entah apa yang sedang menanti mereka di Siprus.
--
"Jadi," kata Daniel, memimpin rapat pada saat makan malam di salah satu restoran kecil Koraki. Mereka memilih restoran yang paling dekat dengan penginapan. "Kita akan berangkat satu jam sebelum tengah malam ke sana."
"Tengah malam?" Edgar mengira ia salah dengar. "Maksudnya tengah hari kan?"
"Tidak, tidak. Tengah malam." Daniel mengulang dengan penekanan yang jelas.
"Kenapa harus tengah malam?" Tanya Edgar heran.
"Aku dan Leo sudah bercakap-cakap dengan pemilik penginapan." kata Daniel. "Mithya memberikan arahan agar kita bertanya langsung kepada pemilik penginapan mengenai cara memasuki Siprus. Pemilik penginapan adalah koneksi Mithya rupanya. Awalnya orang itu tidak suka mendengar tujuan kita ke sana. Tapi karena kubilang kita sudah mendapatkan izin dari Mithya, akhirnya dia mau menjelaskan prosedurnya."
"Ada prosedurnya?" Tanya Sia.
"He eh," Daniel mengangguk. Ia menyenggol bahu Leo. "Jelaskan. Aku mau makan dulu." Katanya pada Leo.
Leo yang sedang asyik mengunyah kentang gorengnya pun mengangguk. "Ya," dia menelan makanannya lalu mulai menjelaskan. "Kita harus berangkat satu jam sebelum tengah malam dan tidak boleh membawa senjata. Si pemilik penginapan akan menggeledah kita sebelum berangkat."
Edgar dan Sia mengangguk-angguk.
"Apa alasan yang menyebabkan kita harus berangkat pada waktu itu?" Tanya Sia masih tidak mengerti.
"Katanya," kata Leo setelah meneguk air mineralnya. "Pergi ke Siprus adalah suatu hal yang sangat sensitif bagi warga Koraki. Warga Koraki menganggap Siprus adalah kota yang berbahaya. Ada banyak sebutan kota Siprus dari warga Koraki, salah satu contohnya adalah kota monster."
"Kota monster?" Ulang Sia dengan ekspresi heran.
"Yah," kata Daniel dengan mulut penuh, kemudian menelannya. "Orang-orang di sini terlalu paranoid. Wajar sih, kota ini yang paling dekat dengan Siprus. Warga Koraki pasti menganggap insiden di Koraki adalah sesuatu yang sangat mengerikan."
Beberapa saat kemudian mereka tidak membicarakan apa pun lagi, fokus dengan makan malam masing-masing. Setelah semua makanan tandas masuk ke perut, mereka segera menggeser sisa peralatan makan ketika Daniel mengeluarkan gulungan kertas.
Daniel melebarkan peta kecil di tengah meja.
"Ini Siprus." Daniel menunjuk posisi Siprus di peta. "Dan ini Koraki. Jarak antara kedua kota itu sekitar satu jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Menurut si pemilik penginapan, kita akan lewat hutan sebelah kiri gerbang."
"Kenapa tidak lewat gerbang?" Tanya Sia.
"Akan ada prosedur yang rumit jika kita tetap ngotot lewat gerbang." Jawab Daniel. "Jadi cara paling cepat adalah melewati hutan."
"Apakah pemilik penginapan akan mengantar kita?" Tanya Sia, sepertinya dia agak khawatir dengan perjalanan mereka di malam hari. Bagaimana jika mereka tersesat karena tidak tahu jalan?
"Tidak. Pemilik penginapan yakin kita akan sampai dengan selamat walau tanpa pemandu sekali pun. Mithya akan menjemput kita di sana."
"Jika dia bilang begitu..." Sia menghela napas, mengangguk saja.
"Apakah kita bisa mendapatkan petunjuk di Siprus? Sudah lima puluh tahun berlalu sejak insiden itu terjadi." Leo menopang dagu memandang peta di meja, agak ragu.
"Kalau tidak mencoba kita tidak akan tahu." kata Daniel. "Aku yakin masih ada jejak yang tertinggal."
"Berapa lama kira-kira kita berada di sana?" Tanya Edgar.
"Tiga hari," jawab Leo.
Edgar mengamati peta dengan seksama, mencoba menghapal bagian-bagian Siprus. Sementara para mahasiswa masih terus berdiskusi mengenai kelengkapan alat mereka.
"Ada pulau di sini," tunjuk Edgar pada peta Siprus yang memang berada paling ujung di negara mereka.
"Ya, pulau itu tidak bernama," jawab Daniel, melirik pada objek yang ditunjuk oleh Edgar.
"Ayahku pergi ke sana sepuluh tahun lalu," celetuk Sia yang juga memandangi setiap garis batas kota Siprus dalam peta. "Alamat surat itu sangat jelas berasal dari Siprus."
Leo menepuk bahu Sia, mencoba memberi semangat kepada gadis itu.
"Soal itu," ujar Daniel dan melirik pada Leo. Leo memberikan anggukan untuk Daniel melanjutkan. "Kami juga sudah menanyakan soal Ayahmu. Kami menunjukkan foto ayahmu kepada si pemilik penginapan. Tapi dia yakin tidak pernah melihat ayahmu di sekitar sini. Atau entahlah karena kejadiannya sudah sepuluh tahun lalu."
"Terima kasih sudah mewakilkan aku," ucap Sia, menghargai usaha Daniel.
"Yeah, sama-sama." Balas Daniel.
"Bersabarlah, Sia. Kita akan terus mencari jejak Ayahmu." kata Leo pada Sia. Sia mengangguk dan tersenyum berterima kasih pada Leo.
"Bagaimana dengan Ben? Jika Ben pergi menuju ke Siprus dia pasti lewat kota ini juga kan?" Tanya Edgar.
"Soal itu kami juga sudah tanya." Kali ini giliran Leo yang menjawab. "Tapi si pemilik penginapan juga tidak yakin pernah melihat Prof."
"Apakah dia benar-benar menuju ke Siprus?" Edgar mulai bertanya-tanya ragu. Mengikuti jejak Ben sungguh sulit. Seharusnya Ben mudah akan mudah dikenali dengan rambut ikal merah dan mata biru terang itu.
"Entahlah, ada banyak tempat yang bisa didatangi oleh Prof. Siprus adalah salah satunya." Kata Daniel, mengedarkan pandangan ke sekitarnya.
"Aku masih merasa penasaran," kata Sia. "Bagaimana jika kita mencoba mengajak bicara orang-orang di sekitar sini? Jangan-jangan salah satu dari mereka pernah melihat ayahku atau Prof Alan." Usul Sia. "Kupikir aku bisa melakukannya, mumpung kita berada di sini. Lagi pula kau sudah mengambil langkah pertama dengan menanyai pemilik penginapan. Aku ingin mencobanya juga," kata Sia, meminta izin pada Daniel.
"Hmm, jika kau ingin mencoba, silakan saja. Asal ingat jika kita harus sudah siap satu jam sebelum tengah malam," ujar Daniel.
"Aku akan ikut dengan Sia," kata Leo mengajukan diri.
"Aku juga," kata Edgar.
"Kau sih tidak perlu," kata Daniel sambil merangkul bahu Edgar. "Kau bantu aku berkemas saja!"
"Eh, tapi...!" Edgar memprotes. Dia sangat ingin membantu Sia. Jika ia tidak bisa ikut maka Sia dan Leo akan berduaan saja. Ck, memikirkannya saja sudah membuat Edgar sebal. Leo selalu tahu cara untuk menarik perhatian Sia.
--
Lewat pukul sebelas malam, setelah pemilik penginapan menggeledah pakaian dan bawaan mereka, serta menyita beberapa benda tajam seperti gunting bedah Daniel, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan terakhir mereka.
Awal perjalanan mereka lewatkan dengan obrolan ringan. Daniel mempertanyakan hasil wawancara Sia dan Leo pada orang-orang yang berada di restoran kecil tadi. Sia menjawab dengan perasaan tidak puas, mengatakan kalau jawaban pemilik, karyawan dan pelanggan restoran itu sama tidak yakinnya dengan jawaban si pemilik penginapan.
Akhirnya setelah melintasi jalan aspal yang panjang dengan kanan kiri hanyalah padang rumput kosong liar, mereka memasuki sebuah jalan setapak lebar di antara pepohonan tinggi yang menjulang.
Hutan begitu rapat sehingga kegelapan terasa pekat karena mereka kehilangan langit malam akibat tertutupi daun-daun pepohonan yang membentuk kanopi.
Tanah di bawah mereka pun mulai tidak rata, ada banyak bonggol-bonggol akar yang mencuat, belum lagi lubang-lubang besar bergenangan, membuat mobil bergoncang-goncang pada setiap tarikan.
Satu jam di dalam mobil yang melaju dengan susah payah, akhirnya mereka melihat sumber cahaya di ujung jalan.
Leo yang sudah memberikan segenap kemampuan terbaiknya dalam menyetir demi menghadang jalan tidak rata itu bernapas lega melihat cahaya itu.
"Apa itu?" Bisik Daniel, menyipitkan mata sambil mencondongkan tubuh ke depan.
Mobil mereka berhenti tak jauh di depan cahaya. Ketika mesin dan lampu mobil mati, kegelapan dan kesunyian merayap diikuti embusan udara dingin.
Terdengar gesekan senjata memecah kesunyian. Dan setelah mata mereka dapat membiasakan diri dalam kegelapan, mereka melihat sekelompok sosok berdiri di belakang sumber cahaya.
Berikutnya sosok-sosok itu bergerak cepat mengelilingi mobil, mengepung mereka dengan mengacungkan mulut senapan.
"Perhatian! Keluar segera dari mobil tanpa perlawan!"
Mereka berempat saling bertukar pandang, kaget luar biasa dengan sambutan yang tidak terduga itu.
Mereka berempat ditangkap!