11

1706 Words
Dia berjalan di lorong gelap, dengan Lampu darurat berwarna hijau yang kadang-kadang menyala redup pada setiap ketukan konstan. Detak sol sepatunya bergaung pada setiap langkahnya. Gelap. Hijau. Gelap. Hijau. Aroma tidak mengenakkan menguar dalam lorong. Aroma yang busuk dan asam, seolah ada tumpukan bangkai yang belum dikuburkan. Samar-samar terdengar suara raungan. Ia terus berjalan menuju suara-suara itu, hingga akhirnya ia menemukan sebuah pintu. Ia merasakan embusan napasnya yang gugup. Tangannya yang gemetar memutar kenop pintu. Pintu berderit terbuka, memperlihatkan isi ruangan yang sama gelapnya, juga sinar hijau darurat yang kadang-kadang menyala. Gelap. Hijau. Gelap. Hijau. Ia masih berdiri di ambang pintu. Setiap lampu darurat menyala, ia menajamkan pandangan. Ia menangkap bayangan hitam bergerak cepat di dalam ruangan. Gelap. Hijau. Gelap. Hijau. Ia terjungkal ke belakang, sesuatu menerkamnya, menindih tubuhnya. Ia merasakan cakar makhluk itu menembus kulit bahunya. Ketika sinar hijau lampu darurat menyala, ia melihat wajah dengan mulut terbuka, memperlihatkan deretan gigi taring. -- Edgar tersentak bangun. Ia menarik napas dan duduk tegak. Mengerjap kebingungan untuk beberapa saat. Tak berapa lama ia pun mengenali tempat keberadaannya. Ia duduk di kursi mobil. Dan Daniel sedang mengemudi di sebelahnya sambil bersenandung. Edgar pun menghela napas lega. Mimpi tadi begitu menyeramkan. Rasanya seolah nyata. Atau mungkin pernah terjadi? Tapi ia tidak mengenali lorong itu. Dan makhluk menyeramkan yang menerkamnya sangat mirip dengan kadaver jurnalis bergigi tajam dalam laci pendingin di ruang penyimpanan mayat. "Bangun juga ya?" Daniel baru menyadari Edgar yang sudah terjaga. "Yeah..." Sahut Edgar, mengusap rambutnya yang berwarna putih dan kepanjangan. Ia masih memikirkan mimpinya namun ujung-ujung rambutnya yang mengganggu matanya telah menarik perhatiannya. "Aku mau cukur rambut." Katanya tiba-tiba. "Hah?" Daniel terlihat agak kaget. "Tiba-tiba...?" -- Leo menguap lebar-lebar lalu meregangkan diri. "Apa-apaan..." Desisnya ketika melihat Daniel dan Edgar. "Kita berhenti mendadak karena bocah itu ingin cukur rambut?!" "Rambut Egie memang sudah terlalu panjang," komentar Sia, menahan senyum geli. "Kau beruntung karena aku kebetulan jago mencukur rambut," Daniel sudah menggelar area untuk memotong rambut Edgar. "Aku sendiri yang memotong rambut adik-adikku. Setidaknya untuk menghemat uang." Keinginan Edgar yang tidak biasa membuat mereka berhenti di tengah perjalanan. Kini ia dan Daniel telah menemukan lokasi yang bagus dengan tanah datar. Daniel sudah mengeluarkan kursi lipatnya agar Edgar dapat duduk, sementara ia menggunting rambut Edgar dengan menggunakan gunting bedahnya. "Kau menggunakan peralatan bedahmu?" Tanya Leo heran ketika melihat gunting bedah di tangan Daniel. "Yup," Daniel hanya tersenyum menyeringai, kemudian ia kembali memotong sedikit demi sedikit ujung rambut Edgar. Sia mendekati mereka berdua, tersenyum mengamati. "Kau seharusnya memberitahuku jika ingin memotong rambut." Ujarnya pada Edgar. "Ya, seharusnya kau melakukan hal itu sebelum berangkat, bocah. Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak merepotkan kamu?" Tanya Leo dengan eskpresi jengkel. Menurutnya berhenti mendadak di tengah perjalanan karena ingin cukur rambut adalah sebuah kekacauan besar. Edgar tidak menanggapi sementara Daniel malah tertawa. "Tidak, ini tidak merepotkan kok," Daniel membela Edgar dengan senang hati. "Yeah, lagi pula tempat ini kelihatan indah. Mari membuat minuman hangat," ajak Sia, mendorong Leo yang masih bersungut-sungut untuk kembali ke dekat mobil. Edgar mengamati Sia dan Leo yang membuka pintu bagasi. Leo yang semula memasang raut jengkel kini terlihat senang ketika berbincang-bincang dengan Sia. Leo mengambilkan termos sementara Sia mengambil gelas plastik serta toples berisi kantong teh. Area yang mereka singgahi masihlah jalan lingkar luar dengan jalan aspal tak berujung dan hutan serta padang-padang rumput liar yang luas. "Nah, kurasa ini sudah rapi," bunyi gunting membebat rambut Edgar telah berhenti. Daniel dengan riang berjalan ke muka Edgar. Ia tersenyum lebar, melebarkan kedua tangan seperti sedang menyambut. "Wah, bocah. Kau terlihat lebih tampan!" Edgar menyengir saja. Ia meraba belakang lehernya yang terasa polos. Tidak ada lagi ujung-ujung rambut yang biasanya menempel di sana. Ia hanya merasakan ujung-ujung tajam rambut pendeknya yang menempel di kepala. "Apakah sudah selesai?" Tanya Sia yang duduk di dekat mobil. Ia dan Leo telah mengeluarkan kursi-kursi lipat dan meja plastik. "Ayo, minum teh!" Daniel mengacungkan jempol pada Sia. Ia kembali beralih pada Edgar. "Ada keluhan?" Tanyanya, persis seperti seorang tukang cukur kepada pelanggannya. "Kurasa tidak," Edgar telah bercermin dengan layar ponselnya. Seketika ia merasa menjadi berbeda hanya karena rambut pendeknya. Dan ini adalah penampilannya ketika masih di SQF, dengan rambut yang selalu pendek. Sayangnya bukan berwarna putih perak yang aneh. "Bagus deh," Daniel menyimpan peralatan bedahnya dengan gerakan hati-hati, seolah benda itu adalah benda paling berharga yang ia miliki. "Yuk, minum teh." Edgar mengangguk. Ia pun segera berdiri lalu melipat kursi. Sambil menenteng kursi lipat, ia berjalan menyusul Daniel yang sudah lebih dulu melangkah. Aroma melati dari kantong teh yang diseduh air panas merebak ke udara. "Nih," Sia menyodorkan gelas plastik berisi cairan teh panas pada Edgar yang baru saja duduk. "Makasih," ucap Edgar, menerima minumannya. "Bagaimana? Bagaimana?" Tanya Daniel setelah mendapatkan teh bagiannya. Menyodorkan kepalanya ke bahu Leo. Leo telah menyalakan laptop, dengan wajah sok serius memandang fokus pada layar laptop. "Apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya Edgar pada Sia, mengamati Daniel dan Leo. "Mereka sedang membaca pesan terakhir dari narasumber kamu yang tinggal di Siprus," jawab Sia sambil menawarkan biskuit cokelat. Edgar pun mengambil satu. "Dari mana kalian mendapat narasumber itu?" Tanya Edgar. "Narasumber itu adalah sepupu Daniel." Jawab Sia. Edgar mengerutkan dahi, lalu menoleh pada Daniel. Agak terkejut. Bagaimana bisa Daniel punya sepupu yang tinggal di Siprus? "Yeah, Daniel lahir di Siprus," Sia yang seolah bisa menebak isi kepala Edgar, membenarkan spekulasi yang memang sedang dipikirkan Edgar. "Sekarang kau bisa melihat keterkaitan di antara kami terhadap Siprus," bisik Sia kepada Edgar, tersenyum kecil. "Salah satunya Daniel. Dia lahir di sana." "Aku hanya numpang lahir di sana," kata Daniel segera. "Setelah itu ayah dan ibuku membawaku pergi. Dan nama sepupuku itu Mithya. Tidak tahu orangnya macam apa. Tapi dia suka sekali mendapat bayaran dari kita. Kayaknya dia mata duitan." Ia mencebik, kemudian ia menepuk bahu Leo di sebelahnya. "Kalau Leo... dia punya saudara, seorang mantan pelatihan SQF dan dikabarkan meninggal dengan hanya menyisakan satu tungkai di Siprus." Edgar membelalakan mata. Dia tidak salah dengar kan? Mantan pelatihan SQF? Meninggal? Tungkai? Leo menunjukkan ekspresi tidak senang mendengarnya. "Dia itu gila," dengus Leo. "Siapa?" Tanya Daniel reflek. "Levi, saudaraku. Dia dikeluarkan dari SQF lalu menjadi gila. Tidak waras. Dia suka berjalan-jalan mengelilingi kota. Sering tersesat. Aneh." Kata Leo dengan nada dingin. Edgar agak tersinggung mendengar penuturan Leo yang tidak memiliki empati. Leo tidak tahu bagaimana rasanya melewati sesi pembersihan yang seperti mengepel bersih semua isi kepala, kemudian setelahnya mereka dipaksa untuk menjalani hidup dengan perasaan seperti tidak pas, timpang, karena otak yang mengalami efek samping. Namun Edgar tidak berniat menjelaskannya kepada Leo. Dia baru tahu jika sebelumnya ada pelatihan yang juga dikeluarkan dari SQF. "Anak sombong itu menelepon sebelum ujian kelulusannya. Dia bilang dia akan lulus dengan nilai sempurna. Dia juga akan mendapatkan posisi bagus di satuan angkatan darat setelah lulus. Tapi setelah itu orangtuaku mendapat kiriman surat keputusan pengeluaran Levi dari SQF karena melakukan pelanggaran. Dia memang anak badung. Tidak heran jika dia dikeluarkan." Leo bercerita dengan ekspresi datar. "Apa alasan dia dikeluarkan?" Tanya Edgar. "Ada narkotika di kamarnya." Jawab Leo. "Memalukan." Edgar mengerutkan dahi. "Apakah kau pernah mendengar nama itu?" Tanya Sia kepada Edgar. "Levi?" Edgar merasa pertanyaan Sia sangat lucu. "Kami tidak memiliki nama di sana," ia mengingatkan Sia. "Oh ya, aku lupa." Ujar Sia, wajahnya memerah. Namun tambahan rona di wajah Sia membuatnya terlihat menarik. Edgar diam-diam tersenyum melihatnya. "Bagaimana saudaramu bisa sampai berada di Siprus?" Tanya Edgar, masih tertarik dengan saudara Leo. Leo mengangkat bahu. "Tidak ada yang tahu. Mungkin tidak ada alasan. Dia hanya gila. Pernah kami menemukannya berjalan-jalan seperti gelandangan di Vanadis. Beruntung Ayah punya saudara di sana dan mengenali Levi." Edgar bertanya-tanya apakah Levi benar-benar tidak waras? Bagaimana bisa seseorang yang tidak waras bisa sampai berada di Siprus? Pastinya sungguh mengejutkan mendengar kabar saudaranya yang suka berjalan-jalan tanpa arah ditemukan meninggal di Siprus dengan hanya menyisakan sepotong tungkai dari bagian tubuhnya. Itu pasti mimpi buruk. "Kalau Sia, dia punya alasan karena kepergian ayahnya," Leo berdehem, tampaknya ingin segera menyingkirkan topik tentang saudaranya yang tidak waras. Edgar menangkap perubahan ekspresi Sia yang menjadi muram. "Ya. Ayahku telah menghilang tanpa kabar sejak sepuluh tahun lalu," Sia mengangguk, beberapa detik ia melamun memandang isi cangkirnya, kemudian mulai bercerita. "Kata orang-orang, ayahku pergi karena memang ingin meninggalkan aku dan ibuku. Ada wanita lain, begitu menurut mereka. Tapi aku yakin tidak begitu." Ia mengedikkan bahu. "Ayahku adalah seorang ilmuwan. Dan dia adalah orang yang setia. Dia tidak mungkin pergi begitu saja karena wanita lain. Dan aku menemukan... sebuah amplop yang beralamatkan dari Siprus dengan nama ayahku sebagai penerimanya. Tidak ada isinya, tapi amplop itu disembunyikan di dalam kotak barang-barang ayah." "Lalu... Apa hubungannya dengan... penelitian kalian di Siprus?" Tanya Edgar, masih tidak mengerti. Ketiga mahasiswa ini menjadikan Siprus sebagai objek dari penelitian mereka. Dan mereka menyebutkan latar belakang pribadi yang tidak masuk akal menurutnya. Daniel yang lahir di Siprus, Leo yang kehilangan saudaranya di Siprus, dan Sia yang juga kehilangan ayahnya. "Masih tidak kelihatan benang merahnya ya?" Tanya Daniel, meluruskan kacamata di hidungnya. "Entah kebetulan atau tidak, tapi kami memiliki ketertarikan terhadap kota itu. Tempat lahirku, kota di mana saudara Leo ditemukan meninggal, dan kota asal amplop yang dikirimkan kepada ayah Sia." "Menurut dugaanku, ayahku pergi ke sana." Kata Sia. "Dia mungkin masih hidup dan tinggal di sana. Mungkin meneliti sesuatu. Ayahku seorang ilmuwan. Dia akan pergi ke tempat-tempat yang menarik perhatiannya. Apalagi Siprus memiliki masalah aneh dan tentu menggelitik para ilmuwan untuk mencari tahu." Seperti Ben, gumam Edgar setuju. "Leo ingin tahu siapa yang membunuh saudaranya," Daniel menyikut Leo yang diam saja. "Dia yakin seseorang telah membunuh Levi di sana." "Aku hanya ingin menemukan sisa mayat Levi," kata Leo, terdengar seperti suatu pembelaan diri. "Setiap hari orangtuaku bersedih karena anak bermasalah itu pergi begitu saja meninggalkan kami." "Karena ketertarikan kami terhadap Siprus, Prof Alan merekrut kami bertiga," Sia melanjutkan penjelasan. "Sebelumnya tidak ada dosen yang menyukai ide kami menjadikan Siprus sebagai objek penelitian. Entah bagaimana Prof mengetahuinya, dia mengumpulkan kami, mempertemukan kami bertiga. Dia mendukung penelitian kami dan senang ada mahasiswa yang mau mengungkit Siprus. Katanya, akan lebih baik jika kami berkerja sama. Karena itulah kami menjadi saling mengenal." Edgar mengangguk mengerti. Ia meneguk tehnya yang sudah dingin, sementara Leo sudah berdiri, mematikan laptop kemudian melipat meja plastik, memberi tanda jika mereka sudah harus melanjutkan perjalanan kembali. Ia pun buru-buru menghabiskan tehnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD